Melalui workshop kaum urban diajak menyelami khasiat bahan lokal
“Kuanggap tawamu itu sebagai ‘ya’ untuk lamaranku barusan....”
Aku tak sanggup tertawa. Daeng Unru sedang membicarakan mimpiku yang kandas.
Bagaimana bisa aku berpikir seolah-olah aku ini istrinya.
Aku tahu, Sipon sepertinya sudah bertekad hidup dan mati di kampung halaman ini.
Aku dipaksa menerima lamaran Holong, Bens mengempaskanku, dan Lado sakit keras.
Bagus adalah pria yang dingin, keras, dan tidak pernah bisa bersikap manis.