Bagian 4 (Tamat)
 
Kisah sebelumnya:
Delapan bulan hendak menikah dengan Parulian, Rian bertemu lagi dengan Tigor, pria yang ia cintai sejak masa SMA. Namun, ketika Rian mantap memilih tetap bersama Parulian,   tunangannya itu malah memilih menikahi wanita lain. Justru adik Parulian, Mario, yang kemudian mendekatinya. Tapi, ketika Rian memutuskan untuk memilih Tigor, hatinya kembali gamang ketika Parulian kembali menghubunginya.
 
Begitu telepon genggamku aktif kembali, seluruh pesan  pendek masuk menyerbu.
Tapi, dari deretan pesan teman-teman dan keluarga, ada satu SMS lagi. “Rian, aku sangat merindukanmu. Kapan kita bisa bertemu?”

Kepalaku langsung berdenyut-denyut. Parulian. Aku telah menyalakan api, dan sekarang api itu mulai membakarku. Aku mulai ketakutan sekarang, bagaimana cara memadamkan api itu?

Teleponku berdering nyaring. Aku nyaris kena serangan jantung saat melihat nomor di layar. Angkat tidak, angkat tidak, angkat….
“Kapan kita bisa bertemu lagi? Aku rindu sekali.”
Aku gemetar.
“Parulian, maafkan aku. Aku tidak bisa bertemu denganmu.”
“Apa maksudmu?!” Kudengar dia mengamuk. “Kau yang mendahului mencariku. Dan sekarang aku meladenimu, kau malah mempermainkanku.”
Aku panik sekarang.
“Parulian, aku mengaku, aku salah. Kemarin aku sedang kalut. Aku tidak sadar apa yang kulakukan. Sekarang aku menyesal.”
“Jadi menurutmu, pelukan kita kemarin itu terjadi di luar kesadaranmu, begitu?! Apa menurutmu aku mengguna-gunaimu, sehingga kau memutuskan memelukku lebih dulu, begitu?!!”  Dia makin kalap. 
Aku menangis kalut. Aku tidak bisa menjawab apa-apa lagi.
“Rian, tolong berikan aku kesempatan lagi. Aku masih mencintaimu.”
Aku menangis makin keras. Dia meminta kesempatan kedua. Apakah dia akan meninggalkan istrinya demi diriku? Jika itu sampai terjadi,  masih beranikah aku berjalan dengan menegakkan kepala?
Kupaksakan diriku berbicara di sela tangisku.
“Lian, aku sungguh-sungguh menyesali peristiwa kemarin. Aku tidak mau berselingkuh denganmu. Aku juga tidak mau kau meninggalkan istrimu demi aku.”
“Rian, aku mencintaimu. Aku tidak mungkin bersatu denganmu, kecuali aku meninggalkan istriku. Aku tidak akan menjadikanmu selingkuhanku. Kau terlalu baik untuk menjadi selingkuhan.”
Aku terpukul luar biasa mendengar jawabannya.
“Kalau sampai kau meninggalkan istrimu, seumur hidupku aku tak akan pernah memaafkanmu. Ingat itu! Juga seperti katamu, aku terlalu baik untuk menjadi selingkuhan, apalagi untuk menjadi alasanmu meninggalkan istrimu.”
Dengan kata-kata itu, kusudahi percakapan kami.
 
 

Hujan deras sekali.
Pohon kembang sepatuku mengangguk-angguk pasrah dipermainkan angin. Aku melihat hujan memukul-mukul bunga dan daun-daunnya, seolah-olah cemburu pada warnanya yang semarak.
Sekarang jam lima sore. Hujan baru mulai turun.
Biasanya Tigor datang jam enaman. Apa dia akan datang kalau hujan sederas ini?
Aku gelisah. Meski aku tak tahu, aku gelisah karena dia akan datang, atau karena dia tak akan datang. Sebab, kedua hal tersebut punya sebab yang bisa membuatku gelisah.
Jika dia datang, mungkin kami akan melanjutkan pembicaraan yang terputus beberapa hari lalu. Dan itu akan membuatku gugup. Jika dia tak datang, berarti paling cepat hari Minggu malam baru bisa bertemu dengannya. Padahal, aku benar-benar merindukan dia.
“Aduhh, mondar-mandir di depan TV,” adikku mengomel.
Aku bengong. Aku baru sadar bahwa dari tadi aku sudah beberapa kali bolak-balik di depan TV.
Hujan terus turun. Di depan pagar, sebuah motor berhenti. Tigor memasuki teras berbalut mantel kuning.
Adikku tersenyum dengan wajah ‘tak menyangka’, melihat Tigor datang menembus hujan sederas itu. Aku sendiri bangga luar biasa. Dia rela berhujan-hujan demi menemuiku. Begitu dia membuka helm, senyumnya langsung  mengembang lebar.
Tiga gelas teh panas segera tersaji di meja kecil. Tigor terlihat agak kedinginan. Kuambil selimut tipis dari lemari. Dia menyambut dengan senang.
“Luar biasa, hujan sederas ini ‘diseruduk’ juga. Beruntung sekali kakakku mendapatkan Pak Pendeta,” kata adikku,  sambil tersenyum-senyum.
Mukaku merah bagai kepiting rebus mendengar godaannya. Tigor juga terlihat merah wajahnya, tapi dia segera tersenyum.
“Sudah merasa lebih hangat?” tanyaku.
“Ya. Selimut, teh panas, dan kau di dekatku, membuatku merasa hangat luar dalam.”
Aku tertawa mendengar jawabannya. Dia bisa menggombal juga.
Dia memandangku mesra dengan tatapan matanya yang lembut. Aku membalas tatapannya dengan senang. Dalam hati aku berjanji, tak akan merusak kemesraan ini.
“Apa kau sudah lebih tenang sekarang?” tanyanya lembut, sambil menyentuh pipiku sebentar.
Aku ingin mengangguk. Aku memang mengangguk, tapi setelahnya, mulutku malah menyemburkan kata-katanya sendiri.
“Kemarin dia meneleponku lagi.”
Dia tertegun, menantiku meneruskan bicara.
Ragu-ragu, dengan suara tertahan, kuteruskan kalimatku.
“Katanya dia mau meninggalkan istrinya demi aku.”
Tigor terlihat terperanjat. Wajahnya memucat. Sepertinya dia marah.
“Bagaimana bisa begitu? Apa sebelumnya kalian membicarakan sesuatu? Mungkin waktu kalian bertemu kemarin?” tanyanya pelan, tapi bernada menuntut.
Pandangannya tetap lembut, tapi bagai memakuku. Aku berjuang mengalihkan pandang, tapi dia malah berpindah duduk tepat ke sebelahku, membuatku tak bisa berkelit. Aku merasa sesak napas. Aku mencari cara untuk lepas dari cengkeraman keingintahuannya.
“Aku… kami… berpelukan.” Suaraku lemah dan pasrah. Lagi-lagi, aku menangis.
Kudengar hela napasnya menyentak keras. Kulihat wajahnya geram. Aku ketakutan. Ini pertama kalinya kulihat dia begitu. Aku menggigil. Aku menyesal telah melukai hatinya.
 “Tigor, aku menyesal. Aku  minta maaf.” Suaraku gemetar.
Dia diam saja, tak bersuara, tak bergerak, tapi ada air di sudut matanya.
Aku malu telah membuatnya menangis karena pengkhianatanku.
“Tak kusangka kau sanggup berbuat begitu. Kau kejam sekali padaku,” ujarnya, dengan suara terluka.
Air mataku  makin deras mengalir. Aku mulai tersedu-sedu. Kusandarkan kepalaku di atas kedua tangannya yang bertumpu di paha. Aku menangis untuk menyatakan penyesalanku kepadanya. Sayangnya, dia tetap tak bergerak. Tangannya tetap kaku, mulutnya tetap membisu.
Tiba-tiba kakinya bergerak. Aku kaget dan langsung menegakkan kepala.
“Aku mau pulang.” Dia langsung berdiri, menyambar mantel dan helmnya, tergesa-gesa mengenakan keduanya, lalu berjalan cepat tanpa pamit lagi menuju motornya di bawah hujan.
Aku melihatnya dari teras. Aku yakin, dia tahu aku di situ. Tapi, tak sebentar pun dia berpaling. Begitu motornya hidup, dia langsung berlalu.
Semalaman aku menangis di kamarku.
Sampai berhari-hari setelah itu, tak sekali pun dia menghubungiku.
 
 

Senja di tempat ini, sama saja dengan di tempat lain.
Kadang-kadang berwarna merah jingga, tapi lebih sering berwarna kuning saja. Bersinar berkilau-kilau, menimpa petak-petak tanah yang ditanami sawi, bayam, dan daun singkong.
Ketika baru datang ke sini, aku tak berani memakan sayur itu. Sebab, yang menanamnya para pengidap kusta. Meski kukatakan aku hendak membaktikan diri di tengah mereka,   tak berarti aku berani terkena kusta. Kawan yang mengajakku ke sini memang berkata bahwa kusta tak menular dengan cara segampang itu. Tapi, aku susah percaya, sampai kemudian aku membaca sendiri buku-buku tentang penyakit itu. Perlahan-lahan aku mulai berani.

Lagi pula, sayur-sayuran itu memang enak dan segar. Menolak memakannya berarti jarang memakan sayur, sebab sayuran dibeli dari luar, hanya kalau hasil panen sendiri tidak ada. 


Tak terasa, sudah lebih setahun aku di sini.

Seorang pelarian. Seorang yang tak mengerti cara bertanggung jawab, untuk memadamkan api yang dikobarkannya sendiri.
Malam itu, setelah Tigor menerobos hujan untuk meninggalkanku, aku merasa sangat tertolak dan tak berharga. Dua hari kemudian, kuputuskan untuk bertemu dengan Parulian. Mengatakan lagi kepadanya, aku merindukannya.
Namun, hatiku tetap merasa hampa dan kesepian. Aku bahkan mulai merasa berdosa dan ketakutan setengah mati, membayangkan bahwa bisa jadi Parulian mulai bersiap-siap untuk meninggalkan istrinya. Dan aku tak mau itu, sebab aku sadar, aku mencarinya untuk melampiaskan kesedihanku  karena ditinggal Tigor.   

Tiba-tiba seorang kawan lamaku  menelepon dan bercerita tentang pekerjaannya. Aku yang putus asa, merasa menemukan tempat untuk melarikan diri dari semua masalahku. Tanpa jauh berpikir, aku langsung memohon agar aku bisa bekerja bersamanya. Aku tak peduli pada gaji yang sangat kecil, atau risiko bahwa aku bisa saja tertular penyakit.

Meski adikku mati-matian merayuku agar tidak pergi, aku tetap mengabaikannya. Ibuku juga turut membujuk melalui telepon, tetapi aku tetap teguh memilih untuk pergi.  Sehari sebelum meninggalkan Jakarta, kuberanikan diri menelepon Tigor. Siapa tahu jika aku yang menelepon lebih dahulu, hatinya akan luluh. Tapi, sampai tiga kali kutelepon, dia tak mengangkat panggilanku. Aku menangis putus asa. Ternyata, bagi dirinya, hubungan kami selesai sudah.

Di tempat kerjaku yang baru, tak ada yang tahu masalahku. Meskipun pada bulan-bulan pertama aku masih sering menangis karena merindukan Tigor, akhirnya aku mulai pulih dari patah hatiku. Bekerja di antara penderita kusta membuatku malu jika harus terus-menerus meratapi masalahku yang tak ada nilainya, dibandingkan dengan penderitaan yang dialami mereka.
 
 

Adikku akan menikah. Dia terus-menerus merengek memintaku datang.
Maka, aku akhirnya datang dan tiba di Jakarta, sehari sebelum pernikahannya. Dia masih tinggal di rumah yang kami sewa dulu, sekarang bersama dua orang sepupu kami.
Mamak sudah datang dari kampung, bersama dengan bapa tua dan seorang namboru kami. Pernikahannya memang dilangsungkan di tanah rantau ini, sebab adikku menikah dengan orang sesuku kami, yang sudah lahir dan dibesarkan di sini.
“Di gereja mana pemberkatan nikahmu?”
Adikku menjawab dengan menyebut nama gereja itu. Aku tidak tahu di mana itu.
Dia menyebut nama jalannya. Aku mengangguk-angguk, meski tak tahu itu di mana. Tidak apa-apa, yang penting bukan gereja tempat Tigor menjadi pendeta.
Pagi sebelum pernikahan adalah waktu paling sibuk. Adikku bangun jam empat pagi, dirias secantik yang bisa diusahakan oleh sang juru rias. Sanggulnya diberati melati yang menjuntai sampai hampir mencapai pinggangnya. Bunga tangannya mawar merah kecil-kecil, yang muncul satu-satu di antara lili putih dan rangkaian melati. Pendek kata, seluruh bagian rumah dipenuhi oleh harumnya bunga-bunga.
Aku juga turut dalam antrean untuk dirias. Senang juga melihat diriku didandani begitu, riasan berwarna lembut dengan sanggul mungil berhias tusuk konde manik-manik. Sambil mematut diri di cermin, aku merasa senang karena adikku pandai memilihkan model kebaya untukku.
Jam delapan pagi, semua sudah siap berangkat ke gereja.
Ada acara menjemput pengantin, sekaligus makan bersama. Acara itu dilangsungkan di aula milik gereja.
Dari tempatku duduk, sambil menanti pengantin memasuki ruangan gereja, aku mencari-cari seorang teman sekampung kami. Kemarin dia menelepon, mengatakan hendak menghadiri acara pemberkatan nikah adikku. Tapi, sampai sekarang aku belum melihatnya. Bisa jadi dia duduk di belakang.
Aku melihat ke bangku di sebelah kanan, menyisir dengan pandang deretan itu mulai dari belakang. Ketika melihat ke deretan tengah, jantungku hampir melompat ke luar. Seseorang yang kukenal sedang duduk di sana.
Dia juga melihatku. Kami bertatap-tatapan. Aku hampir pingsan rasanya.
Kulihat dia tersenyum. Buru-buru kubuang pandang dan langsung terduduk lemas.
Bagaimana dia bisa ada di sini? Mengapa adikku mengundangnya?
Aku terserang panik.
Kupaksa diriku untuk tenang. Aku menekan-nekan kepalaku yang mulai berdenyut. Tiba-tiba aku merasa kepanasan, ruangan ini juga terasa pengap. Aku mulai merasa sesak. 
Lagi-lagi jantungku hampir copot, ketika musik tiba-tiba berbunyi. Ternyata pengantin mulai memasuki ruangan.
Aku tak turut berdiri menghadap ke lorong di antara bangku gereja  yang akan dilalui pengantin. Kalau aku menghadap ke sana, aku akan melihat dia lagi. Dia juga akan melihat aku lagi. Aku tak mau pingsan di sini.
Pengantin tiba di dekat altar. Musik berhenti dialunkan.
 
 

Pendeta mulai mengajak semua bernyanyi. Aku tak turut bernyanyi. Aku kepanasan, aku sesak napas. Aku butuh udara segar.
Tapi, kalau aku keluar, dia mungkin akan keluar juga menyusulku.
Kalau aku tak keluar, aku takut  akan pingsan dan merusak acara ini. 
Aku keluar.
Setengah berlari aku menuju toilet. Sebab sekarang aku merasa ingin muntah. Tapi, tak ada yang dimuntahkan, sebab aku tak sedang sakit. Aku hanya sedang panik.
Di samping kantor gereja aku berhenti sebentar untuk menenangkan diri. Ada bangku di situ, jadi aku duduk saja.
“Apa kabar, Rian?”
Aku terlonjak dari kursiku karena terlalu terkejut. Suara itu datang dari arah pilar di sebelah kananku. Begitu melihat sumber suara itu, aku bersandar lemas ke dinding. Akhirnya aku harus menghadapinya juga.
Aku diam saja. Tak bertenaga untuk menjawab sapaannya.
“Sepertinya pelarianmu tak banyak gunanya,” dia berbicara lagi.
Aku tetap tak bersuara.
“Sampai kapan kau akan lari?” sambungnya.
Kukumpulkan kekuatan untuk menjawabnya.
“Siapa bilang aku lari? Atau, kau berpikir begitu karena kau mengejarku?”
“Aku memang mengejarmu. Tapi, kau jelas-jelas lari bukan karena aku, tapi karena dirimu sendiri.”
“Ya, kau benar. Aku pergi untuk menghukum diriku sendiri. Apa kau puas mendengar itu?” Kuucapkan kalimat itu sedatar mungkin. Aku capek terus-menerus menangis di depannya. Lagi pula, setahun lebih sudah berlalu.
“Bisakah kau merasa puas, ketika orang yang kau cintai malah pergi meninggalkanmu?” Suaranya melembut.
“Kau carilah sendiri jawabannya. Aku tak punya urusan dengan itu. Satu lagi, jangan terus mengungkit masa lalu. Aku ke sini hanya untuk menghadiri pernikahan adikku,” sahutku gusar.
Dia memandangku tajam.
“Kalau kau merasa tak ada yang salah di masa lalu, mengapa kau takut bertemu denganku? Mengapa kau harus melarang adikmu memberi tahu alamat dan teleponmu?” Suaranya ringan sekali, seolah kekasaranku tak memengaruhinya sedikit pun.
“Apa kau pikir hanya kesalahan yang bisa membuat orang tak suka mengingat masa lalunya?” sambutku marah.
“Apa kau pikir, dalam kasusmu ini, kau punya sebab lain yang lebih masuk akal? Sebab, jika kau memang tidak menganggap dirimu bersalah, mengapa kau harus menghukum dirimu sendiri?” Dia terus menantangku. Wajahku merah padam, dia memakai kata-kataku untuk menjadi senjata melawanku.
“Menurutmu, apa kesalahanku yang harus kuakui padamu, supaya kau bisa membiarkan aku tenang?” Suaraku melemah. Dari dulu aku tak suka bersoal jawab seperti ini. Jika dengan melunak, aku bisa membuatnya berhenti mencecarku, akan kulakukan.
“Kau tahu, kau masih berutang padaku.” Matanya bersinar-sinar sambil mengucapkan itu. Mungkin dia senang melihatku menyerah.
“Aku berutang apa padamu?! Oh, apa kau lupa bahwa aku sudah minta maaf padamu soal Parulian? Apa kau ingin aku mengulanginya lagi? Baik, aku akan mengulanginya,” kataku getir. Aku teringat malam berhujan deras itu, ketika dia pergi begitu saja dan berhenti menghubungiku.
“Aku memang sangat marah waktu itu. Tapi, apa tidak pantas kalau aku marah? Dua kali aku ingin bicara serius tentang pernikahan denganmu, tapi semuanya rusak karena Parulian. Laki-laki mana yang bisa tenang saja melihat perempuan yang ingin dinikahinya  malah terus-menerus sibuk menangisi bekas pacarnya?” 
Ucapannya barusan akhirnya membuatku bergetar. Aku ingat, dulu aku adalah perempuan yang ingin dinikahinya….
“Karena itu kau tak pernah menghubungiku lagi, juga tidak mengangkat teleponku,” aku mengenang dengan air mata yang mulai menetes.
 
 

“Aku ingin menenangkan diri dulu. Itu sebabnya, aku tak menghubungimu. Aku memang sempat ingin melepaskanmu, tapi ternyata aku tidak bisa. Dua bulan setelah itu baru aku menghubungimu lagi, tapi teleponmu tak aktif. Aku ke rumahmu dan kudengar dari adikmu, kau sudah pergi. Kau juga melarang adikmu memberi tahu telepon dan alamatmu. Aku sangat sedih waktu itu. Kuhibur diriku dengan mengatakan, kalau kau memang jodohku, kau pasti akan kembali padaku. Tak peduli sejauh apa pun kau pergi,” panjang lebar dia menjelaskan. Selama itu, air mataku terus-menerus berguguran.
“Rian, aku ingin meminta maaf, sebab di saat kau membutuhkan dukungan,  aku malah meninggalkanmu,” ucapnya, sambil menghampiriku. Dia duduk di sampingku. Menghapus lembut jejak-jejak air mataku dengan sapu tangannya.
Ucapannya sungguh menghiburku. Tapi, alangkah indahnya, jika itu dikatakannya setahun yang lalu. 
Dengan lembut kutepiskan tangannya yang sibuk menghapus air mataku. 
“Tigor, terima kasih karena kau memaafkanku. Aku pun sudah memaafkanmu. Tapi, kalau kau bermaksud untuk menyambung kembali hubungan kita, aku minta maaf. Aku tak bisa,” aku berbicara sambil memberanikan diri menatap lurus ke arah matanya.
Kulihat dia sangat terkejut. Perlahan-lahan, wajahnya dipenuhi kekecewaan dan kesedihan. Aku membuang pandang. Aku tak ingin hatiku luluh  hanya karena melihat dia bersedih seperti itu.
“Apa sudah ada orang lain?” dia bertanya lemah.
“Bukan karena orang lain. Aku hanya merasa semuanya sudah berakhir,” kataku dengan suara gemetar.
“Tapi aku hanya sekali salah, mengapa kau langsung menutup hatimu seperti itu? Tadi katamu, kau sudah memaafkanku,” dia bertanya dengan kesal.
Aku jadi merasa sedih. Tigor merengkuh bahuku, dan menghapus air mataku dengan tangan kirinya.
“Aku dulu hanya cemburu, karena aku ingin dicintai seperti engkau mencintai Parulian. Aku hanya marah, karena aku ingin cintamu hanya untukku, bukan untuk orang lain lagi.”
Pengakuannya justru membuat air mataku mengalir  deras. Aku sangat terharu, karena Tigor mencintaiku dan memaafkanku.
Tigor bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya untuk meraih tanganku.  Aku menengadah memandang wajahnya, wajah lelaki yang sudah kucintai sejak  kelas satu SMA. Lelaki yang kucari selama sepuluh tahun, dan kerap muncul dalam doa-doaku. Kali ini, apakah aku akan kembali menampik uluran cintanya?
“Apa kau tak mau menerima tanganku?” suara Tigor memecah lamunanku.
Aku gemetar mengangkat tanganku, menyambut tangannya yang terulur.  Tigor tersenyum lebar dan membantuku berdiri.
Sambil menghapus air mataku yang masih terus mengalir, dia berkata, “Mulai sekarang, aku akan membantumu agar tidak menangis lagi. Sebab, kulihat stok air matamu banyak sekali. Aku khawatir, kalau kita punya rumah nanti, kita tidak perlu langganan air untuk mengisi bak mandi.”
Aku yang menangis jadi terbahak dibuatnya. Dia ikut tertawa bersamaku.
“Kuanggap tawamu itu sebagai ‘ya’ untuk lamaranku barusan,” katanya, sambil memandangiku dengan mata bersinar-sinar.
Aku malu mendengar ucapannya.
“Aku tak mendengar kalau kau melamar. Yang ada hanya kalimat soal bak mandi.”
Dia tersenyum kecil.
“Aku belajar dari pengalaman. Dua kali mencoba serius untuk melamarmu, keduanya gagal total. Malah berakhir dengan kemarahan. Untuk yang ketiga ini, aku tak ingin salah lagi.”
Aku memandangnya dengan cinta dan juga gemas.
Dia tertawa senang sambil menatapku. Berdua kami berjalan dengan hati bahagia. Aku membalas memegang tangannya yang erat merengkuh jemariku. Dalam hati aku berdoa, agar perjalanan yang baru kami mulai kembali ini, menjadi perjalanan menuju kehidupan yang indah. Dan rengkuhan tangan kami ini, tetap terasa hangat dan penuh cinta, serta hanya dapat terlepas ketika kematian memisahkan kami.  (Tamat)

Baca juga:
Cerber: Intan yang Kucari [1]
Cerber: Intan yang Kucari [2]
Cerber: Intan yang Kucari [3]

.****
 
Rewinta Tampubolon
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/