Foto : 123RF

Mira
 
Aku baru saja mengikat benang, ketika dari luar kudengar suara teriakan.

“Mamaa? Lihat siapa yang bersamaku.” Kutaruh kain di atas mesin jahit, lalu melangkah ke beranda. Dua orang asing membungkuk melepas sepatunya. Begitu mereka menegakkan badan, aku langsung membungkam mulut.

“Mamaaa?”

“Ya, Tuhan.” Apakah ini benar-benar nyata?

“Aku Emili.”

Entah siapa yang mulai, kami sudah saling berpelukan. Sangat lama. Aku merasakan tubuhnya terguncangguncang. Air matanya hangat menempel di pipiku. “Emili….”

Enam belas tahun, sejak aku meninggalkannya. Kini, dia tumbuh menjadi perempuan dewasa yang matang. Sangat cantik.

Garis-garis wajah Faustino mengalir penuh di wajahnya. Alisnya, matanya, bibirnya. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana malam-malam kegalauan saat ia menangis kencang. Dia tidak mau diam dalam gendongan Faustino.

Aku menyusuinya tanpa air, hanya untuk memberinya ketenangan dan kehangatan. Aku abaikan sakit hatiku. Nyatanya, naluriku sebagai seorang ibu tetap saja lebih besar daripada rasa marah seorang wanita yang diduakan. Emilia bukan bayiku. Faustino membawanya saat usia tiga bulan. Suatu malam. Di bawah guyuran hujan yang tak henti-henti.

“Tolong, dia menangis terus sepanjang perjalanan.”

Kau tahu bagaimana rasanya dikhianati? Tetapi, bisakah kau bayangkan saat buah pengkhianatan dibawa ke hadapanmu, dan kau harus mendekapnya? Aku masih muda waktu mengalaminya. Rasanya ingin kucekik saja bayi yang terus menangis itu.

“Tolonglah, Mira, demi kemanusiaan?” Lalu ke mana rasa kemanusiaannya saat berkhianat hingga lahir bayi itu? Aku seperti disiram lilin panas. Diriku mematung. Bahkan menangis saja tak bisa. Sekuat apa pun aku menjauh dari masa lalu, peristiwa malam itu tetap saja terputar detail dalam ingatanku.

“Aku tidak mohon ampunanmu. Aku pantas disiksa. Tapi aku mohon, beri sedikit kehangatan pada bayi tak berdosa ini.” Pundak Faustino terguncang-guncang saat memeluk kakiku. Aku benci dia memohon. Kenapa bayi itu dibawa kepadaku? Apakah dia tidak memikirkan, tiap aku menatap sosok kecil itu artinya aku selalu mengingat pengkhianatannya? Lalu tinggal bersama?

Menyaksikan sosok itu tumbuh, sama saja aku memelihara dendam dari luka yang dia tanam. Tetapi, naluri kecil jauh dalam hatiku menjerit. Ketika ada anjing liar saja aku beri minum, ini jelas-jelas bayi sekarat, masihkah aku menutup mata dengan egoku? Setelah pergolakan batin hebat, aku meraih bayi itu.

Kulitnya seperti es. Seketika aku seakan memukul genderang perang, melawan rasa sakitku. Mula-mula ragu, aku mendekap tubuh ringkih dalam selimut itu. Tangisnya reda. Dia menghabiskan sebotol susu sebelum terlelap. Tak ada lagi wajah cemas.

Besoknya, besoknya, dan besoknya lagi, aku merawat bayi itu sebagaimana aku merawat anakku sendiri.
 
 

Tetapi, entah berapa lama, aku tak bicara pada Faustino. Lelaki itu harus tahu, ketika aku mau merawat anaknya, bukan berarti aku menerima pengkhianatannya. Sama sekali tidak. Bahkan, meskipun tiap hari Faustino meminta maaf. Kesalahan tetap saja ada hukumannya, bukan?

“Ini kesalahanku. Membawanya tidak hanya berarti mengingatkan aku pada dosaku padamu. Tetapi, aku juga tahu bahwa ini juga menyakitimu. Tapi, aku tak punya pilihan. Karena bagiku, hanya kamu tempat aku pulang.”

Karena bagiku, hanya kamu tempat aku pulang. Harusnya itu kalimat yang menyejukkan. Tetapi, saat itu justru membuatku mual. Faustino perayu ulung. Dia tidak hanya pintar menyusun kata-kata manis, tapi juga memperlakukan orang lain dengan manis. Dia membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mencuci pakaian kotor, tidak hanya popok Emilia, namun semuanya. Tetapi, dia mengkhianati janji suci pernikahan kami.

Itu yang tidak bisa kuterima.

Dan, meskipun aku tidak menanggapi kata katanya, Faustino tetap menjelaskan kenapa dia membawa pulang Emilia ke rumah kami. Aku ingin menyuruhnya diam, tetapi aku malah mendengarkan. Katanya, yang terjadi dengan wanita yang tidak ingin kuketahui siapa namanya itu adalah kesalahan tak sengaja.

Jadi, karena wanita yang tidak ingin kuketahui siapa namanya itu akan melanjutkan pendidikan, dia tidak mau merawat Emilia. Dia akan menaruh Emilia di panti asuhan. Faustino tidak ingin bayi malang itu menanggung derita akibat dari dosa kedua orang tuanya. Setidaknya, meskipun ibunya tak mau merawatnya, Faustino tidak ingin menambah dosa dengan menelantarkan.

Faustino ingin bertanggung jawab, membesarkan dengan layak. Sekarang bayi itu ada di sini, dalam dekapanku. Setelah enam belas tahun lalu aku membuat keputusan besar meninggalkan mereka.

“Mama…,” Emilia menatapku dengan pipi basah. “Bertahun-tahun aku rindu pertemuan ini. Aku sering mimpi kita sama-sama, tapi Mama selalu menghilang.”

Tenggorokanku terasa sakit. Bagaimanapun juga, waktu menumbuhkan rasa cintaku kepadanya. Aku memberinya kasih sayang sama besar, seperti aku menyayangi Antoni dan Carolin.

“Mama juga merindukanmu.”

Aku mengusap pipinya yang basah.

“Kami sering bercerita tentangmu,” Carolin menyahut. “Bagaimana kabar Papa?”
 
 

Pertanyaan itu seperti menyengatku.

“Papa baik. Menitip salam untuk kalian.” Emilia mengusap pipinya. “Antoni mana?” “Kakak kerja. Malam biasanya baru datang. Kerja di perkebunan sawit.” “Aku membawa berkarung-karung pertanyaan sejak dulu,” kata Emilia. “Tetapi, menemukan kalian nyata di hadapanku, pertanyaan-pertanyaan itu lenyap.”

Dia memandang kami bergantian. “Rasanya lega luar biasa. Oh, Carol.”

Sekarang air mataku tak terbendung. Aku melihat gerakan tulus penuh kerinduan dari Emilia saat memeluk kami. Apakah itu artinya Faustino tidak menceritakan siapa dirinya?

Mama. Tahun-tahun tanpamu begitu berat....“ Emilia menekan ujung matanya. “Tapi aku tidak pernah menangis. Sekarang, bertemu kalian air mataku malah tumpah.”

Aku tidak menampik, kami juga melalui hari-hari berat setelah jajak pendapat itu. Membawa Carolin dalam gendonganku, dan menggandeng Antoni. Saking ketakutan, aku bahkan mengikat pergelangan tangan Antoni dengan kain yang kuikat di pinggangku.

Di barak pengungsian Atambua, aku tidak berhenti lama. Begitu ada rombongan menuju Kupang, aku mengajak anak-anak bergabung bersama mereka. Kami naik kapal menuju Jawa. Aku memang pergi tidak untuk menjadi pengungsi sementara yang kemudian kembali pulang. Aku berjalan ke barat karena harus melanjutkan kehidupan. Bagiku, cukup sudah takdir kebersamaan dengan Faustino dan Emilia. Aku tahu segala risiko yang harus kutanggung.

Membesarkan Antoni dan Carolin. Ketika orang-orang memilih integrasi karena tetap ingin bergabung di bawah NKRI, aku memilih integrasi karena ingin merdeka dari tekanan batin yang dilakukan Faustino kepadaku. Aku memutuskan berhenti di Surabaya.

Kusewa kamar kecil tak jauh dari Pasar Turi. Aku melapor kepada pemilik kos dan RT setempat siapa diriku. Bukan meminta belas kasihan, aku hanya ingin menjadi warga yang baik. Semua itu sudah kupikirkan masak-masak sebelumnya. Dengan begitu, kuharap Antoni dan Carolin bisa mendapat hak pendidikan yang sama sebagaimana anak-anak Indonesia.

Benar saja, mereka menerimaku dengan ramah. Carolin diterima di SD negeri tak jauh dari tempat kos. Tapi, Antoni tidak mau sekolah lagi. Dia bersikeras ingin membantuku. Ada masa di mana tiap hari aku berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kerja.

Apa saja kulakukan. Dari membantu di warung, tukang sapu, mencuci setrika dari rumah ke rumah, bahkan menjadi pemulung. Hingga akhirnya aku menetap menjadi pembantu rumah tangga dengan waktu kerja dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Antoni kuminta menjaga adiknya di tempat kos sekaligus mengantar jemput sekolah.
 
 


Kubilang kepadanya, itu tugasmulia. Memang benar seperti itu, bagiku Antoni adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaga kami. Bahkan, hingga hari ini Antoni masih betah melajang. Karena baginya, yang nomor satu dalam hidupnya adalah aku dan adiknya.

Pernah kubilang kepadanya, dia berhak bahagia. Menyuruhnya jatuh cinta dan membangun masa depan. Tapi jawabnya, “Kebahagiaanku saat ini Mama dan Carol. Aku tak perlu memaksakan hidup bersama orang lain dan berpura-pura bahagia.”

Kadang-kadang aku merasa bersalah kepada Antoni karena tak bisa mengantarkan ke jenjang pendidikan yang tinggi. Tapi aku percaya, perjalanan kami telah mendidiknya menjadi lelaki dewasa yang bertanggung jawab. Dia juga yang mengusulkan agar kami ikut program transmigrasi demi masa depan Carolin. Barangkali memang garis takdir, atau balasan kasih sayang yang diberikan Tuhan atas usaha dan doa kami.

Di tempat ini, kami punya rumah yang menjadi milik kami seutuhnya. Memiliki pekarangan setengah hektare dan satu setengah hektare lahan garapan. Carolin langsung diterima menjadi guru. Sebelumnya dia telah menyelesaikan pendidikan di Unesa. Sedangkan Antoni bekerja keras menggarap lahan. Dia begitu bangga menjadi petani katanya. Sebenarnya, menggarap lahan mentah bukan hal mudah.

Semua warga mengeluhkan itu. Tahun pertama benar benar ujian. Hingga penghujung tahun kami belum
mendapat hasil panen apa pun. Banyak warga trans yang pulang kampung karena merasa putus asa. Tapi bagi kami, di sini rumah terakhir.

“Wow! Mama masih menjahit?” Emilia menunjuk mesin jahit di dekat jendela. “Untuk melatih mata tua.” Aku tertawa. Kami sudah duduk di ruang tamu dan melanjutkan cerita. Ya, di masa-masa sulit itu, Antoni bekerja di lahan sawit dengan gaji yang sangat rendah.

Aku memasang pelang di depan rumah untuk jasa menjahit. Namun, karena kami semua berada di musim paceklik, tak ada seorang pun datang untuk menjahit baju.
 
 

Baru dua tahun ini mulai ramai. Aku melayani pesanan menjahit sekaligus menyediakan bahan. Pelangganku bisa memilih modelnya, dan aku akan mencarikan kain ke Pasar Mundu Malaysia.

“Wow, cantik-cantik.” Emilia melihat baju-baju di gantungan. Saat itu aku baru sadar ada orang lain di antara kami. “Oh, maaf, sampai lupa, kau…?”

“Abilio, Tante.” Kami berjabat tangan. “Oh, Tuhan, aku pangling.” “Beda ya, Ma? Main film dia.” Emilia kembali duduk di sampingku. Lalu dia bercerita tentang suasana di pengungsian, dan bagaimana dia memaksa papanya ke Atambua untuk mencariku.

“Ada titipan dari Papa.” Emilia membuka tasnya. Dadaku berdenyut. Aku tidak mengharapkan apa pun dari Faustino. Hidupku baik-baik saja tanpa lelaki itu.

“Ada kaset di dalam.” Emilia menyodorkan tape recorder kecil. “Tapi, sebelum Mama memutarnya, aku ingin tunjukkan sesuatu dulu. Bil, bisakah kau meninggalkan kami sebentar?”

“Tentu. Aku sudah tidak sabar ingin memotret pemandangan luar.”

Emilia tertawa.

"Bawakan aku foto yang banyak.”

Kami duduk berdua setelah kepergian Abilio. Carolin sibuk di dapur. Emilia mengambil ponsel, menyentuh layarnya, dan membiarkan di telapak tangannya.

“Pergilah. Dia tetap mamamu. Orang yang bisa mendiamkan tangismu saat kecil. Satu-satunya orang yang bisa memahamimu saat kau merajuk.”

Sekujur tubuhku kaku. Meski enam belas tahun tak mendengarnya, tetap saja aku mengenalinya. “Papa tidak ingin bertemu Mama?” “Keadaan tidak lagi sama, Emili.”

“Tapi, selama ini Papa tak pernah mencari pengganti Mama?”

“Itu bukan tujuan hidup Papa.”

Suara itu terdengar jelas dalam keheningan kami. “Papa masih mencintai Mama, bukan?” Aku menahan napas. “Untuk apa mempertahankan orang yang kita cintai, kalau ia tak bahagia bersama kita?”

Tanpa kuminta gulungan masa lalu menghantam ingatanku. Cinta. Bahagia. Lukaku memang sembuh seiring waktu. Kami melalui masa sulit untuk merekatkan retakan-retakan biduk rumah tangga. Saat layar kembali terkembang, aku hamil. Tuhan menghadiahi kami Carolin.

Hingga bertahun-tahun hidup kami kembali normal. Tetapi aku lupa bahwa waktu bisa membawa kembali
yang telah terjadi. Suatu malam, di tengah suasana Timor Timur yang tak menentu, Faustino mengatakan bahwa wanita yang tak ingin keketahui siapa namanya itu, ingin bertemu dengan Emilia.

Awalnya aku tidak masalah saat mengetahui mereka kembali bertemu dan menjalin komunikasi. Tidak masalah juga kalau Emilia bertemu dengan ibu kandungnya. Tetapi, kalimat Faustino yang mengatakan bahwa kami harus berlaku adil, bahwa selama ini kami telah memisahkan wanita itu dengan putrinya, bahwa Emilia berhak punya kehidupan yang normal, aku sungguh-sungguh tidak terima.

Apa maksudnya? Bagaimana yang terjadi sesungguhnya? Faustino yang membawa bayi itu, atau ibunya yang tak ingin merawatnya? Dan, tentang kehidupannya yang menderita karena tak bisa bersama putrinya, apakah Faustino pikir aku bahagia menerima semuanya?

Jadi, saat itu aku curiga, pertemuan mereka lebih dari sekadar pertemuan biasa. Tetapi, bisa jadi mereka mengulang masa lalu yang sama, dan aku tidak mau mendapat luka yang sama. Aku pun memilih pergi.

“Mama….” Emilia menyentuh lenganku. Aku tersenyum, meski pipiku terasa kaku. “Aku memahami rasa kehilangan Papa atas kepergian Mama. Papa bahkan meninggalkanmu dalam hidupnya. Berkali-kali kukatakan, aku siap jika dia menikah lagi. Tetapi, berkali-kali pula dia menolak.”

Emilia meremas tanganku.

“Karena cintaku pada Mama dan Papa sama besarnya, itu sebabnya aku mencari Mama. Juga Antoni dan Carolin.”

“Mama minta maaf. Karena keputusanku, kalian jadi terpisah satu sama lain.”

“Kita semua korban sejarah, Ma. Banyak juga yang mengalami nasib seperti kita. Terpisah karena pilihan. Bill juga, belum lama bertemu dengan keluarganya yang di Bandung.”
 
 

Gestur Emilia berubah santai. Tapi, aku masih terus bertanya-tanya, benarkah Faustino tak pernah cerita kenyataan yang sesungguhnya kepada Emilia? “Tapi, lihatlah, Ma. Betapa kompaknya aku dan Carolin. Kami sama-sama menjadi guru. Itu cita-cita kami waktu kecil.”

“Kalian memang anak-anak hebat yang membanggakan.”

“Papa dan Mama yang telah mendidik kami dengan hebat.”

Aku menelan ludah, tidak tahu harus senang atau sedih. “Jadi, apakah Mama tidak ingin dengar pesan Papa di kaset itu? Aku sangat penasaran, kalau boleh tahu.”

“Oh, tentu saja boleh.” Tapi, aku tidak tahu apa yang dikatakan Faustino dalam rekamannya. Apakah akan ada hubungannya dengan Emilia atau tidak. Dan aku sungguh sungguh tidak percaya, kalau sampai detik ini Emilia belum tahu siapa ibu kandungnya.

“Emili.” Aku menyentuh lengannya. “Waktu telah membuat kau tumbuh dewasa, dan kami para orang tua
menua.” Aku bingung menemukan kalimat yang tepat.

"Aku tidak tahu apa yang dikatakan papamu, dan apa pun itu, aku ingin kita menyikapinya secara dewasa.” Aku menangkap raut cemas di matanya.

“Tentu,” ucapnya, terdengar gugup. “Ayo, putarlah.” Emilia menekan tombol play. Jari-jari kami bertaut dalam suasana sunyi. Aku bisa mendengar gesekan pita berputar. “Mira,” suara berat itu memecah hening. Kami sama-sama memandang tape recorder, seakan-akan pemilik suara ada di sana.

Aku menahan napas menunggu lanjutan kata Faustino. “Apa kabar?” Sesaat jeda. “Aku minta maaf, Mira.” Kembali hening. “Aku tahu, kesalahanku pantas untuk tidak dimaafkan. Kepergianmu menyadarkan betapa aku ini lelaki bodoh. Aku tak bisa membedakan mana cinta dan nafsu.

Aku menerima rasa sakit dan kehilangan sebagai hukuman. Sering kali aku disergap kecemasan yang membuatku menjadi lelaki pengecut. Ayah yang pengecut. Aku tidak bisa membayangkan, setelah kehilangan kalian lalu harus kehilangan Emili.”

Aku dan Emilia saling berpandangan. “Sekali lagi kukatakan, Mira, bahwa dia hanya datang ingin membawa Emili. Tetapi, dalam situasi yang tidak menentu seperti itu aku harus mengambil keputusan yang adil untuk putriku. Tak bijak rasanya menyerahkan Emili kepada orang yang selama ini asing dalam hidupnya. Dia dalam suasana duka karena kepergian kalian. Aku pun tidak sanggup harus menjelaskan semuanya kepada Emili. Aku tidak sanggup melukainya. Sebab, itu sama saja melukai diriku sendiri.”

Tangan Emilia dingin, dia melepaskan genggamanku. “Kau tahu, aku mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada Emili. Dia begitu memujaku, hingga ketika kau pergi, dia dengan sukarela memilih bersamaku. Aku tak sanggup melihatnya terluka karena orang yang dia percaya adalah pendosa. Aku mohon, Mira, katakan semua kepadanya. Bagaimanapun, dia telah dewasa. Dia berhak tahu siapa sebenarnya dirinya.”

“Ap-ap, apa ini?”
 
 


Aku menatap Emilia yang gemetar. Genangan air di matanya siap tumpah. Aku meraih tangannya. “Emili.” Demi Tuhan, rasanya aku pun ikut membeku. Aku sama sekali tidak menyangka kalau Faustino sebegitu pengecut hingga menyerahkan hal besar ini kepadaku. Berkali-kali aku menghela napas. Mungkin benar aku telah berdamai dengan masa lalu.

Aku menyebutnya, telah selesai dengan diriku sendiri. Bagaimanapun juga, aku menerimanya sebagai ujian yang harus aku jalani, yang pada akhirnya aku merasa kuat dan lapang saat semua kupasrahkan kepada Tuhan. Tetapi mungkin, ketika Faustino benar-benar menyadari kekeliruannya, tentu tidak mudah bagi lelaki itu melupakan begitu saja. Karena sudah pasti, perasaan bersalah akan tersandang di punggungnya. Ya, aku tahu dia berada di posisi sulit. Tetapi, saat ini tentu Emilia pihak yang paling merasakan sakit.

“Aku kira papamu sudah menceritakan semuanya,” kataku, hati-hati.

“Rahasia besar macam apa ini?” Tatapan Emilia menuntut jawaban.

“Ini yang kubilang bahwa kita harus menghadapinya dengan dewasa.”

Aku menggenggam tangannya. Lalu kuceritakan ketika pertama dia datang malam itu. Aku tidak mau menutupi apa pun, bahkan sakit hatiku. Meski pada akhirnya aku mencintainya. Menyayanginya seperti darah dagingku sendiri. Tetapi, semua belum usai, hingga sakit kedua yang menjadi sebab utama aku pergi.

Sebab, jika yang dimaksud Faustino kehidupan sempurna Emilia adalah saat dia tinggal dengan kedua orang tuanya, maka saat yang sama memang aku yang harus pergi. Kukatakan juga kepada Emilia bahwa aku sungguh sungguh tidak tahu siapa ibu kandungnya. Bahkan namanya.

Aku memang tidak ingin tahu dan tidak mau mencari tahu, sebab aku tak siap membenci. Cukup aku menerima Emilia hadir sebagai takdir yang aku sayangi. Ya, aku mengatakan semuanya, karena Emilia berhak tahu. Sebenarnya, kepada Antoni dan Carolin aku juga cerita.

Bukan aku ingin membagi sakit hati. Sekali lagi, anak anak berhak tahu, kenapa orang tua mengambil jalan
yang mungkin membuat mereka bertanya-tanya. Aku katakan kepada mereka bahwa aku tidak harus mendapat pembenaran atau simpati dari kisahku. Tentu saja aku tidak mengajak melakukan penghakiman.
Tetapi, aku ingin mereka mengambil pelajaran, bahwa dalam hidup ini, hal-hal tertentu, kekeliruan dari kesenangan sesaat yang diambil seseorang, bisa jadi membuat banyak orang terluka.

“Oh, Tuhan….” Air mata Emilia jatuh di punggung tanganku. Aku menyekanya. Tidak seperti saat datang,
bagaimana dia memancarkan kecantikan dan percaya diri. Kini, aku bisa dengan jelas melihat luka dari matanya. “Aku berharap ini mimpi.” Emilia membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangan.

Kami saling diam. Bermenit-menit aku tak mengatakan apa pun. Bukan aku tidak mau menghibur dan menguatkan Emilia, tetapi menurutku seseorang yang baru saja menerima hal besar dalam hidupnya butuh waktu untuk mencerna. Aku yakin, cepat atau lambat Emilia akan memahaminya. Dia pasti tahu langkah apa yang akan diambil.

Lanjutkan membaca  Novelet : Esperansa (3)