Akting Reza Rahadian sebagai Biru Laut dalam Laut Bercerita, mahasiswa aktivis yang diculik dan disiksa rezim. Foto: Pal8 Pictures



Di peta sinema Asia, Busan International Film Festival (BIFF) jadi salah satu festival film paling bergengsi.

Banyak film yang diputar di sini masuk pertimbangan utama untuk Academy Awards. Selain itu, BIFF jadi industry hub penting yang menghubungkan sinema Asia, baik komersial maupun independent, dengan pasar internasional.

Mendapat kesempatan ditayangkan di BIFF adalah sebuah kehormatan, dan tahun ini BIFF bakal memutar empat film karya sineas Indonesia, pada 6-15 Oktober 2026.

Keempat film tersebut adalah Ibuku (My Mother) karya Eddie Cahyono, Laut Bercerita (The Sea Speaks His Name) garapan Yosep Anggi Noen, Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java) arahan Kamila Andini, serta film pendek αLPα karya Dhiwangkara Seta.

Dua dari empat film di atas diputar di program Competition atau Kompetisi Utama BIFF 2026, sementara dua lainnya hadir melalui program A Window on Asian Cinema dan Wide Angle – Asian Short Film Competition

Serunya, semua film feature dibintangi oleh aktris senior, Christine Hakim. Cek sinopsis film-filmnya, dan semoga bulan depan Indonesia memetik kemenangan di BIFF 2026.

1/ Ibuku
Tayang di bioskop: 24 September 2026


Film yang dibintangi oleh Christine Hakim dan Ayushita itu berkisah tentang Sumiati, yang berusaha menemui putrinya, Sri, yang berada di Arab Saudi dan menghadapi hukuman mati setelah dituduh membunuh majikannya.

Christine Hakim sebagai ibu dengan putri seorang pekerja imigran yang menghadapi hukuman mati. Foto: Memorieslight Pictures

Perjalanan Sumiati untuk bertemu anaknya bukan sekadar perjalanan fisik. Hubungan ibu dan anak yang telah lama menyimpan persoalan perlahan kembali terbuka. Di balik kisah personal tersebut, Ibuku turut membawa isu mengenai buruh migran, perempuan, serta hak asasi manusia.

Film ini menjadi salah satu dari 14 judul yang berkompetisi dalam program utama BIFF 2026.

2/ Laut Bercerita
Tayang di bioskop: 29 Oktober 2026


Film Indonesia kedua yang masuk Kompetisi Utama ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Leila S. Chudori, dibintangi antara lain oleh Reza Rahadian, Yunita SiregarDian Sastrowardoyo, Eva Celia, dan Christine Hakim.

Ceritanya mengikuti Biru Laut, seorang mahasiswa di Yogyakarta yang jadi aktivitas untuk memperjuangkan kebebasan berekspresi sekaligus menghadapi tekanan politik.

Film dari kisah nyata ini kemudian membawa penonton pada kisah tentang aktivisme mahasiswa, penculikan, kehilangan, serta dampak perjuangan tersebut terhadap keluarga yang ditinggalkan.

3/ Empat Musim Pertiwi
Tayang di bioskop: 8 Oktober 2026


Film yang dibintangi Putri Marino dan Arya Saloka ini terpilih dalam program A Window on Asian Cinema, yang khusus menampilkan karya-karya sinema kontemporer Asia.

Putri Marino kembali berduet dengan Arya Saloka di bawah arahan Kamila Andini, setelah miniseri Gadis Kretek. Foto: Forka Films

Film ini menceritakan kehidupan Pertiwi ketika kembali ke kampung halamannya setelah sekitar 20 tahun meninggalkan tempat tersebut karena dipenjara.

Kepulangan Pertiwi justru membuatnya kembali berhadapan dengan berbagai kenangan dan persoalan masa lalu. Ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa sahabatnya kini menikah dengan mantan kekasihnya.

4/ αLPα
Film pendek ini masuk program Wide Angle – Asian Short Film Competition, dan membawa pendekatan yang lebih eksperimental melalui kisah tentang pemberontakan, sistem yang membatasi kebebasan individu, serta usaha seseorang untuk melepaskan diri dari masa lalu.

Antara musik punk dan masa lalu yang kembali mengusik. Foto: Qun Films

Banyu (Elang El Gibran), vokalis band punk yang dikirim ke sebuah pusat rehabilitasi moral, bertemu dengan sosok dari masa lalunya, Deri (Whani Darmawan). Pertemuan tersebut membuat Banyu harus menghadapi kembali berbagai persoalan yang selama ini berusaha ia tinggalkan.

Selain keempat film di atas, dua film produksi bersama yang melibatkan perusahaan film asal Indonesia juga hadir di BIFF 2026, yaitu 9 Temples to Heaven karya Sompot Chidgasornpongse (produksi 7 negara), serta Hearing karya Le Bao (produksi 3 negara). Keduanya masuk program A Window on Asian Cinema

Kehadiran total enam film tersebut menunjukkan semakin luasnya ruang bagi sineas dan industri film Indonesia untuk memperkenalkan cerita, perspektif, serta karakter sinema Tanah Air kepada penonton internasional. 

Yuk, nonton film-film tersebut kalau sudah tayang di bioskop! (f)

Baca juga: 
Film Pendek Suara Dara, Legasi Mimpi Perempuan Lintas Generasi dalam Eksplorasi AI Beretika
Meneruskan Cerita Kebaya Warisan dalam Film Pendek Jalan Pulang
Potensi Bisnis Besar Film Dokumenter di Indonesia