Mengedit respons kamu di media sosial bisa jadi latihan mindfulness sekaligus belajar lebih peka. Foto ilustrasi: Pexels/Ivan S


Belakangan, mindfulness sering dikaitkan dengan kemampuan untuk lebih present atau ada di masa sekarang, tidak mudah terbawa emosi, dan memberi jeda sebelum bereaksi. 

Sederhananya, mengutip American Psychological Association, mindfulness adalah kesadaran terhadap apa yang sedang terjadi—termasuk pikiran, emosi, dan lingkungan sekitar—tanpa buru-buru menghakimi atau bereaksi. 

Tapi ada satu hal yang juga penting: Bersikap mindful bukan berarti hanya sadar terhadap diri sendiri. Kita juga perlu sadar bahwa ada orang lain dan ada situasi tertentu yang sedang terjadi di sekitar kita.

Kita tentu berhak menjaga energi, mengatakan tidak, mengambil waktu untuk diri sendiri, atau mengekspresikan pendapat. 

Namun, cara melakukannya tetap perlu mempertimbangkan konteks dan dampaknya terhadap orang lain.

Jadi, bagaimana tetap mindful tanpa menjadi tone-deaf atau tidak peka?

1/ Kasih jeda sebelum bereaksi
Chat bikin kesal? Komentar seseorang terasa menyebalkan? Sebelum langsung membalas saat emosi sedang tinggi, coba berhenti sebentar. 

Mindfulness membantu kita memperhatikan emosi tanpa harus otomatis mengikutinya. Merasa marah adalah satu hal; melampiaskannya kepada orang lain adalah hal yang berbeda.

2/ Boleh menjaga batasan, tapi komunikasikan dengan jelas
Kalau sedang membutuhkan waktu sendiri, mengambil jarak adalah hal yang wajar. Yang perlu diperhatikan adalah caranya. 

Mengatakan baik-baik kamu sedang butuh waktu menyendiri tentunya lebih oke ketimbang sengaja menghilang lalu membiarkan orang lain menebak-nebak.

3/ Sebelum bicara, lihat sikon
Bercanda dengan teman dekat tentu berbeda dengan bercanda di ruang publik. Begitu juga dengan mengunggah sesuatu di media sosial. 

Sebelum posting, terutama ketika sedang ada peristiwa yang sensitif, coba ambil jeda sebentar; Apa konteksnya? Siapa yang mungkin terdampak? Apakah sekarang waktu yang tepat?

Bukan berarti setiap unggahan harus dibuat serius. Ini lebih kepada memahami bahwa self-expression juga hadir di ruang yang dihuni banyak orang dengan pengalaman berbeda.

4/ Dengarkan dulu, jangan langsung defensif
Namanya manusia, salah membaca situasi bisa terjadi. Kita bisa saja menganggap sebuah candaan biasa, sementara orang lain merasa tidak nyaman. 

Ketika mendapat masukan, kamu tidak harus langsung menganggap diri sebagai orang paling salah. Dengarkan dulu. Bisa jadi ada konteks yang memang belum kita lihat.

Hal yang sama berlaku ketika kita melihat orang lain melakukan sesuatu yang dianggap tone-deaf. Memberi tahu alasan sebuah tindakan terasa kurang tepat biasanya lebih berguna daripada langsung memberikan label.

5/ Jangan jadikan self-care alasan
Menjaga diri memang penting, tetapi self-care bukan pembenaran untuk jadi tone-deaf, bersikap kasar, merendahkan orang lain, atau melampiaskan emosi sesuka hati. Mindfulness justru mengajak kita memperhatikan hubungan antara perasaan, tindakan, dan konsekuensinya.

Dan mindfulness tidak harus selalu berupa meditasi panjang. Kita bisa melatihnya ketika sedang makan, bekerja, ngobrol, scrolling media sosial, atau saat menyadari emosi mulai naik. 

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara mindfulness dan perilaku prososial, termasuk empati dan compassion, meski hasil penelitian tidak berarti bahwa orang yang menerapkan mindfulness otomatis akan selalu lebih berempati. 

Yang lebih penting adalah punya kebiasaan sederhana untuk berhenti sebentar, membaca situasi, mendengarkan, lalu memilih respons. Menjaga ketenangan diri seharusnya tidak mengharuskan orang lain menanggung dampaknya, sekecil apa pun itu. (f)