Aku memandangnya takjub. Apalagi ketika bibir mungil itu merekah, membentuk bulan sabit yang indah di wajah putihnya yang kemerah-merahan.
Akibat rasa khawatir yang berlebihan, mungkin cenderung waswas, banyak peralatan atau perabot di rumah yang jadi rusak karena ulahnya. Bagaimana bisa?
Tak dapat kupercaya aku bisa merasa bahagia jika ada muridku yang berhasil menjawab soal dengan benar.
Aku gembira, ternyata Ibu tak bisa melihat sayap di punggungku, pun Bapak dan adikku.
Entah kenapa pagi ini dia cerewet sekali. Pasti, mumpung ada mamak, puas-puasinlah curhat, pasti begitu pikirnya. Dasar anak kecil.
Mereka adalah keluarga, orang-orang yang tidak pernah kupilih, tapi akan selalu menjadi bagian dariku.
Satu hal yang aku suka dari dalang tersebut, dia tidak pernah menduakanku dengan ponselnya tiap kali kami pergi bersama.
Mengapa aku harus merasa sedih kehilangan seorang tetangga yang hampir tak kukenal dan hampir tak pernah bercakap-cakap?
Aku harus belajar memaafkan, belajar menyayangi, belajar melupakan yang sudah terjadi....