Foto : 123RF

Emilia
 
Aku berusia tiga belas tahun ketika bendera merah putih turun di Timor Timur, dan bendera merah hitam bergambar bintang putih berkibar di langit Timor Leste. Tetapi, saat itu aku sudah menyadari, berjalan ke barat atau menetap di timur, separuh hidupku sama saja tetap hilang.

Konon, merah putih yang selalu aku beri hormat tiap upacara hari Senin itu turun dalam sunyi. Bahkan tanpa kehadiran Xanana. Referendum 99 adalah peristiwa yang akan mengendap lama dalam ingatan jangka panjang seseorang yang mengalaminya. Pada akhirnya tertulis dalam sejarah, bahwa sebagai provinsi yang termuda saat itu, Lorosae mandiri untuk membangun tanahnya sendiri.

“Ini bukan tentang bendera yang kita kibarkan, tapi tentang tanah, di mana dari sana Tuhan memberi kita makan. Kehidupan.” Aku mendengar itu dari Papa.

“Tidak. Ini tentang bagaimana caraku menghormati leluhurku, yang menjadi perantara aku ada.” Pendapat berbeda terlontar dari Mama.

Sejak kabar referendum diembuskan, keluarga kami telah melalui malam-malam untuk menentukan pilihan, hingga akhirnya terbelah menjadi dua kubu. Pihak Mama, yang didukung oleh Antoni dan Carolin, sementara aku berada di pihak Papa.

Sebenarnya, waktu itu aku juga ingin bersama Antoni dan Carolin mengikuti Mama. Namun, entah bagaimana, aku seperti merasakan sorot luka di sepasang mata Papa. Maka, pilihanku saat itu sama sekali bukan perihal di negara mana aku tinggal, tapi bersama siapa aku akan melalui pagi, siang, dan malam-malam.

“Ini hanya sementara, ‘kan?” waktu itu aku bertanya penuh harap. Namun, lagi-lagi aku menangkap dua pasang mata milik Papa dan Mama saling bertukar pandang.

Mulanya, aku mengira perpisahan keluarga kami memang karena pilihan yang berbeda saat jajak pendapat itu. Namun, ketika Papa tak pernah mengajakku menengok Mama, aku tahu bahwa semua tak lagi soal di bawah bendera mana keluarga kami berdiri.

“Kami tak bisa bersama-sama sebagai suami-istri lagi, Emili,” begitu kata Papa, ketika aku mengajak pergi ke perbatasan Atambua untuk berjumpa dengan Mama dan saudaraku. “Mamamu minta menyembunyikan ini dari kalian.”

“Tapi, Antoni dan Carolin tetap anak Papa, ‘kan?” aku bertanya tentang hal lain. Pikiran kanak-kanakku tidak menuntut diberi alasan saat itu. “Sebagaimana aku tetap anak Mama? Tidakkah Papa ingin bertemu mereka?”

Aku mengingat dengan samar, saat itu rahang Papa mengeras, sebelum akhirnya kami berjalan ke perbatasan, menuju jembatan air mata di Atambua.
 
 


Papa memberiku tape recorder hitam kecil lengkap dengan baterai dan kaset kosong.

“Untuk merekam perbincangan nanti,” kata Papa. “Agar bisa diputar ulang kalau kau rindu mereka kelak.”
Tapi, kaset itu tetap tak merekam pembicaraan apa pun. Tak ada pertemuan. Aku bahkan menjadi orang terakhir yang meninggalkan jembatan air mata itu.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya, aku memilih untuk tidak pergi. Aku hanya menitipkan kaset berisi ungkapan rindu pada Mama, Antoni, dan Carolin lewat Abilio, sahabat sekaligus tetanggaku yang juga sama-sama menghadapi kenyataan harus berpisah dari keluarga.

Bedanya, Abilio bisa bertemu dan melepas rindu dengan mereka, sementara dengan raut sedih dia menyerahkan kembali kaset yang kutitipkan.

Dan hari ini, enam belas tahun dari waktu itu, aku meninggalkan Dili. Tentu kepergianku sudah melalui pertimbangan yang lama. Aku telah siap dengan segala risiko. Bahkan jika nanti tidak bertemu dengan mereka.

Enam belas tahun. Aku membingkai wajah Mama, Antoni, dan Carolin dengan perasaan rindu. Bagaimana tanggapan mereka ketika nanti melihat kedatanganku? Apakah aku akan mendapat sambutan rindu yang sama besar seperti rindu yang aku bawa?

“Aku pernah berada di posisimu, Emili,” ucap Abilio, yang sejak tadi diam. Beberapa tahun lalu, lelaki itu juga menemukan keluarga besarnya: paman, bibi dan kakaknya lewat media sosial, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan sesungguhnya.

Saat itu aku ikut membuat akun di media sosial juga.

“Percayalah, ini akan menjadi salah satu jalanmu. Biar Antoni atau Carolin mudah kalau mencarimu.”

“Yaa… ya.” Aku tidak menutupi rasa putus asa.

Kenyataannya, setelah mempunyai akun media sosial pun, tak semudah itu menemukan keluargaku. Tidak Carolin, tidak juga Antoni. Apalagi Mama.

Berkali-kali aku memasukkan nama-nama itu di kotak pencari. Begitu banyak nama sama yang muncul, tapi tak satu pun itu milik dari salah satu keluargaku.

Lalu, beberapa bulan yang lalu, Abilio membawa kabar yang membuatku seperti tak menginjak bumi. Ada tulisan kecil di bawah gambar itu: “Antoni dan Carolin, perintis taman baca bagi anak-anak permukiman trans.”

“Aku yakin ini Antoni kita. Dan Carolin, dia banyak berubah, tapi senyum dan lesung pipi itu tetap miliknya.”

Gambar itu mengabur seiring mataku yang perih.

“Mereka di Sambas, Kalimantan Barat,” ucap Abilio. “Ini lokasi transmigrasi.”

Aku membuka peta. Kucari letak Sambas, Kalimantan Barat. Kabupaten yang berbatasan dengan Malaysia.

“Tapi, ini foto setahun lalu. Diambil seorang relawan dari Indonesia Mengabdi.”

Jelas sudah, bukan Antoni ataupun Carolin yang mem-posting foto mereka ke media, tapi orang lain.
 
Harapanku kembali ciut. “Aku sudah menghubungi pemilik blog, dan minta alamat tempat itu.”

Abilio adalah sahabat yang baik. Dia tidak pernah setengah-setengah ketika menolong. Tidak hanya pada diriku, tapi juga pada orang lain. Jadi, ketika aku memutuskan untuk pergi mencari mereka, lelaki itu adalah orang pertama yang mendukungku.

“Batas-batas negara hanya pertanda wilayah yang dibangun manusia. Pada dasarnya Tuhan menciptakan bumi untuk kita semua. Bendera tak bisa mengubah darah yang telah mengalir dalam diri kita, bukan?”

Sementara Papa, yang aku khawatirkan mencegahku, justru membuatku tertegun. “Pergilah. Dia tetap mamamu. Orang yang bisa mendiamkan tangismu saat kecil. Satu-satunya orang yang bisa memahamimu saat kau merajuk.”

“Papa tidak ingin bertemu Mama?” aku memancing. 

“Keadaan tidak lagi sama, Emili.”

“Tapi, Papa tak pernah mencari pengganti Mama?”

“Itu bukan tujuan hidup Papa.”

“Papa masih mencintai Mama, bukan?”

“Untuk apa mempertahankan orang yang kita cintai, kalau ia tak bahagia bersama kita?”
 
Diam-diam aku merekam perbincangan itu. Berkali-kali aku memastikan bahwa suara Papa kelak bisa didengarkan oleh Mama. Aku berharap ucapan itu akan menyentuh hati Mama, dan mereka bisa kembali berkumpul sebagai satu keluarga. Tetapi, ternyata diam-diam Papa telah menyiapkan rekaman tersendiri untuk Mama.
 
 
Jadi aku berharap itu adalah sinyal yang baik. Seperti harapan yang aku langitkan dalam doa-doa. Jika Papa dan Mama masih saling mencintai, tidak ada salahnya bukan mereka menghabiskan hari tua bersama-sama?

Pikiranku buyar seiring dering telepon dari ponsel Abilio. “Mendadak sekali?” kata lelaki itu bicara di telepon. “Tidak bisakah diundur sehari lagi? Tolonglah!”

Aku menatap raut cemas sahabatku. “Iyalah sehari saja. Ok. Kuusahakan.” Lelaki itu mengakhiri teleponnya. “Syuting dimajukan, apa-apaan….”

Abilio memang bukan artis, tapi dia lolos seleksi menjadi salah satu pemeran film The Great Thriller, sebuah film bersambung yang bagian pertamanya sudah tayang pertengahan tahun ini.

Seorang sutradara dari Portugal yang menggagas film tersebut. “Aku tidak apa-apa pergi sendiri.”

“Ini bukan masalah,” Abilio menggeleng. “Aku sudah janji sama papa kamu untuk mengantarkan sampai
tujuan.” “Film itu?”

“Begitu kau bertemu mereka, aku akan kembali ke Dili. Setelah syuting selesai, aku akan menjemputmu.”
 
“Ya, Tuhan. Aku bukan anak kecil yang harus diantar jemput, Bil. Aku bisa pulang sendiri. Bahkan
saat ini pun aku bisa berangkat sendiri. Aku sudah pelajari baik-baik rutenya.” Aku menyerongkan badan ke arah Abilio.

“Ini bukan pelajaran membaca peta, Bu Guru. Ini sesuatu yang besar. Kau tidak tahu kapan butuh
orang lain.” Seperti biasa, lelaki itu tidak mau dibantah.

Aku kembali membuang muka ke luar jendela mobil. Menatap jejeran gedung-gedung yang sedang dibangun, batang-batang Madrecacau yang seakan berlari berlawanan dengan arah mobil. Lalu bayangan samar, yang makin lama bertambah jelas muncul dalam lamunanku.
 
 


Seorang wanita dengan rambut yang selalu diikat tinggi. Baju terusan bunga-bunga berlengan pendek. “Mama hanya ingin kebaikan untukmu. Seorang gadis tak hanya pintar di dapur, tapi juga harus mahir melindungi diri.”
 
Saat itu Mama mengajak ke belakang rumah, untuk berlatih bela diri. “Papa atau Mama tidak selamanya ada di samping kamu. Ada saatnya kau harus berjalan sendiri dan bertanggung jawab pada dirimu,” kata Mama, saat aku bertanya kenapa harus susah payah belajar berbagai gerakan. “Mama tidak mengajarimu untuk main pukul, ‘kan?”

Mama marah, saat kedua orang tua teman sekolahku mendatanginya. Aku memukul dahi anaknya hingga mengalir darah yang banyak. “Tapi, dia mau menciumku, Mama!” Aku tidak bohong.

“Baiklah, Mama menerima alasanmu. Ciuman adalah hadiah berharga untuk orang yang benar-benar kau cintai dan mencintaimu kelak. Itu pun setelah ia benar-benar mengikrarkan janji dan sah menjadi suamimu.”

Potongan-potongan kenangan bersama Mama sebagian besar seperti kepingan-kepingan pesan yang mengendap lama dalam pikiranku. Aku tak pernah menduga sebelumnya, itu adalah percakapan berharga yang tak pernah terulang.

Mama pergi. Benar-benar pergi dari kehidupan kami. Aku memang sering kali mendengar Mama dan Papa bertengkar di kamar. Namun, karena suaranya terlalu lirih, aku tak tahu pasti apa penyebab keributan itu.

Papa juga hanya menjawab, tak ada lagi yang bisa menjembatani perbedaan pandang mereka.

“Tidak juga cinta?” pertanyaan itu kulontarkan saat SMA.

“Cinta tidak selalu menjadi segalanya dalam pernikahan.” Jawaban Papa tak berlanjut. Sering kali lelaki itu tampak enggan membahas hal-hal yang berhubungan dengan perpisahan. Dulu aku berpikir, kenapa Papa begitu tega membiarkan Mama pergi bersama Antoni dan Carolin. Mungkin benar gosip samar yang kudengar: Papa punya wanita idaman lain, sehingga Mama yang memilih pergi.

Tetapi, setelah musim-musim berlalu, dia tak pernah mengenalkan aku kepada seseorang yang barangkali akan menggantikan posisi Mama. Lantas, kehidupan Mama, masihkah wanita itu sendirian atau sudah ada orang lain yang menggantikan posisi Papa?

Di foto itu tak ada wajah Mama. Hanya Antoni dan Carolin. “Turun,” Abilio menepuk bahuku. Taksi yang kami tumpangi berhenti di parkir bandara. Ketika melihat pesawat di landasan, aku tak bisa menahan degup jantung yang dua kali lebih kencang. Aku masih ingat, ketika Papa mengajakku mengikuti gelombang rakyat Timtim untuk mendengar pidato Xanana.

“Kita bertemu dalam situasi yang penuh penderitaan.” Begitulah Xanana membuka pidatonya. “Kita masih
mencari saudara-saudara kita yang hilang. Kita akan memanggil saudara-saudara kita yang masih jauh untuk membangun sesuatu yang baru.”

Aku berusia tiga belas tahun saat itu. Namun aku tahu, apa yang dikatakan Xanana untuk memanggil saudara yang masih jauh itu tak akan pernah terjadi pada diriku. Ketika orang-orang di lapangan saling berpelukan dan terisak-isak, aku pun berkali-kali mengusap air mata dengan lengan bajuku. Sementara tangan kananku berkeringat dalam genggaman tangan Papa.

Saat itu, ingin rasanya aku terbang dan menyusul di mana Mama dan saudaraku berada. Bahkan, ketika orang orang membakar semangat dengan meneriakkan, “Viva Timor Leste!” aku hanya terpaku. Aku tidak mengerti apa yang akan terjadi setelah itu. Barangkali selamanya aku akan hidup bersama Papa dan benar-benar tak pernah lagi bertemu Mama.

“Heh!” Abilio menyikut lenganku.

Kenangan itu pecah, dan hilang begitu saja dari lamunan.

“Ya, Tuhan… kau melamun terus.” Abilio membuka permen dan mengangsurkan kepadaku. “Biar tidak
kerasukan.” Aku tertawa tanpa suara, meraih permen di telapak tangan Abilio.

Ketika pesawat mulai lepas landas meninggalkan bumi Lorosae, semangatku seakan ikut meninggi. Sekarang aku hanya tinggal menghitung mundur jarak saja, untuk bertemu dengan orang-orang yang sudah bertahun-tahun pergi dari hidupku. Dulu, aku sering bermimpi perihal Mama, Carolin, dan Antoni. Kadang, mereka seakan berkumpul bersama di tengah ladang, memetik biji-biji kopi.

Tapi, begitu karung-karung terisi, Mama dan kedua saudaraku mendadak lenyap. Aku sendirian di tengah ladang. Lalu pohon-pohon pelindung seakan menjulur, menutup semua langkahku. Aku berteriak-teriak memanggil Mama, Antoni, dan Carolin. Tapi, yang muncul kemudian adalah Papa sambil membawa segelas air putih.

“Kau lupa berdoa.”Biasanya, baru keesokan harinya aku bercerita dengan Papa perihal mimpiku. 

“Mungkin kalian saling merindukan. Tuhan memberikan pertemuan lewat mimpi.”

“Tapi, kenapa mereka selalu menghilang? Apakah itu pertanda buruk?”

“Kamu harus percaya mimpi-mimpi yang baik. Kepercayaanmu akan menjadi harapan.”

Selalu, selalu begitu kalimat Papa, tiap aku cerita perihal mimpi-mimpi yang sama.
 
 


Tahun-tahun berikutnya, seiring Timor Leste yang mulai bangkit dan tumbuh, perkembangan kopi di negeri ini memberi harapan besar pada masyarakat sekitar. Mereka yang bertahan merawat kebun kopi setelah suasana perekonomian yang tidak menentu, akhirnya mulai memetik hasil.

Papa memang tidak bekerja di kebun kopi. Dia menjalani peran sebagai pengepul dari petani. Mencari pembeli yang bisa menawar dengan harga bagus. Hasil kerja itulah yang kemudian membawa kehidupan kami membaik. Aku bisa sekolah hingga ke perguruan tinggi.

Tetapi, pertanyaan-pertanyaan perihal mamaku tak pernah berubah. Makin dewasa, aku makin ingin tahu, apa sebab yang membuat Mama begitu keras meninggalkan Papa. Lelaki yang begitu sempurna menjalankan peran sebagai ayah sekaligus sebagai ibu. Sesungguhnya, aku tak pernah mendapati cela dari lelaki itu.

Sebab itulah, dulu waktu kuliah, aku pernah diam-diam pergi ke Atambua, ke tepi Sungai Talau tempat mukim para pengungsi eks Timor Timur. Aku menemui pengurus di sana untuk mencari apakah ada daftar nama keluargaku. Namun, aku tidak menemukannya. Tidak pernah ada nama mereka. Kenyataan itu memberi pukulan menyakitkan.

Jadi, ketika saat ini kesempatan datang, aku tak mau menyia-nyiakan.

“Sebenarnya, kau tidak perlu mengantarku sejauh ini,” kataku kepada Abilio, begitu kami sampai di Pontianak.

Sebelumnya kami berhenti di Bali untuk berganti pesawat. Matahari sudah tenggelam ketika kami sampai di hotel. Seperti beberapa informasi yang aku kumpulkan, perjalanan ini tak bisa ditempuh dalam sehari penuh, bahkan tidak dalam dua hari. Kami harus menginap dan menyambung perjalanan dengan bus menuju Sambas.

“Oh, jadi aku sangat mengganggumu?”

“Bil. Maksudku bukan begitu.”

“Aku tidak mengerti, sepanjang jalan, itu terus yang kau katakan.”

“Aku juga tidak mengerti.”

“Aku pastikan tidak akan ada yang cemburu, ok?”

Aku tertawa. Ya, Abilio baru saja putus dari pacarnya yang cemburuan. Tetapi, bukan itu alasanku. Main film adalah salah satu mimpinya. Setelah dia lolos casting, justru dia pergi bersamaku. Tentu hal wajar kalau aku khawatir ini akan sedikit menghambat persiapannya.

“Ok. Selamat istirahat.”

Kami berjalan menuju kamar masing-masing. Baiklah, aku memang harus mengakui bahwa keberadaan Abilio bersamaku cukup membantu. Aku belum pernah pergi sejauh ini sendirian. Tetapi, ya, tetap saja rasanya begitu berutang ketika ada seseorang mengorbankan waktu dan tenaga hanya untuk kepentingan pribadi kita, ‘kan? Tentu saja itu tak kuucapkan pada Abilio. Karena lelaki itu pasti akan marah, kalau semua kebaikan selalu ingin dibalas kebaikan.

“Memangnya kau akan melakukan kebaikan hanya jika orang lain melakukannya padamu? Dan tidak akan melakukan, jika orang itu tidak melakukan hal yang kau anggap menguntungkan dan baik untukmu?”

Aku tersenyum membayangkan dia mengomel. Sambil mengunci pintu kamar, aku mengakhiri pikiran perihal Abilio. Aku membersihkan diri, kemudian berbaring di ranjang, menatap langit-langit kamar. Sekarang aku berada di tanah ini. Makin dekat jarak antara aku dan keluargaku.

Kuraih guling dan mendekapkan di dada. Ada desir desir halus dari dalam sana. Sesuatu yang terasa sebagai kekhawatiran, ketakutan, sekaligus harapan. Berapa mil jarak antara Sambas dan Dili? Aku menelepon Papa, mengabari bahwa perjalanan lancar. Papa menyuruhku hati-hati. Aku mengakhiri pembicaraan setelah mengucapkan selamat tidur.
 
 


Dahulu, tiap pagi, setelah menyiapkan sarapan dan makan siang, Mama akan pergi ke pasar. Di sana ada kios kecil tempat wanita itu menjahit. Dari menerima bahan untuk dijadikan baju, atau sekadar memotong dan mengecilkan pakaian, hingga jahitan-jahitan kecil, seperti pemasangan identitas sekolah ataupun celana sobek. Aku menyukai tempat itu.

Potongan ingatanku menyimpan keakraban penuh. Bahkan, hingga aku dewasa, tiap kali memasuki pasar,
seakan bisa mencium aroma kebersamaan dengan Mama. Dulu, biasanya, dengan bekal makan dan minum
yang cukup, Mama selalu mengajakku ke tempat kerja. Menyisakan ruang di antara kain-kain untuk tempat aku tidur, jika lelah dan mengantuk. Bahkan, sepulang sekolah aku memilih menyusul Mama ke pasar.

“Begini caranya.” Mama pernah mengajariku bagaimana membuat tali rambut dari kain sisa. Bentuk sederhana yang kukuasai adalah menjahit kain kecil panjang, kemudian dibalik setelah semua terjahit, sehingga bekas jahitannya berada di dalam, lalu dimasukkan karet ke dalamnya. Sederhana. Tidak perlu mesin. Tapi selalu membuat teman-teman memujaku. 

Ada juga bentuk yang lebih rumit. Kain-kain kecil dijahit sendiri-sendiri hingga banyak, setelah itu dironce dengan karet. “Asal kau lebih sabar, hasilnya akan cantik.”

Setelah referendum, yang tersisa hanya satu pita kecil yang mengikat rambutku. Itu pun hilang saat pelajaran olahraga. Tali rambut yang kini kupakai kubeli di toko suvernir milik temanku.

Pukul 5 pagi, aku sudah berada di dalam bus, menempuh perjalanan panjang dari Pontianak menuju Sambas. Saat memasuki terminal matahari telah di atas kepala.

“Benar-benar harus menginap lagi di sini,” kata Abilio, setelah bertanya kepada sopir bus. “Memang, ‘kan.” Aku tidak kaget. Informasi yang aku baca masih butuh waktu sekitar 5 jam untuk sampai di Aruk. Tentu saja, kalau memaksakan perjalanan, kami akan kemalaman sampai di perbatasan. Lagi pula, kami
masih harus menempuh perjalanan lagi menuju lokasi transmigrasi itu.

Aku dan Abilio menghabiskan sisa hari dengan jalan-jalan dan mencari makan. Kami ke hotel menjelang malam. Dan pagi harinya, kami melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum.
 
 


Kota Sambas-Galing-Sasak-Tanjung-Kaliau-Aruk. Aku membuka catatan rute yang kami tempuh. Terguncangguncang dalam angkutan menyusuri jalan yang semula mulus, lalu memasuki jalan aspal mengelupas, melewati ruas jalan dengan pengerasan, dan kendaraan merayap di punggung Bukit Piantus.
Perjalanan ini mengingatkan aku pada jalur panjang antara Atambua-Dili. Sekali lagi, aku disengat pertanyaan, demi apa Mama pergi dari Lorosae, meninggalkan kami, untuk segala yang tidak pasti di tempat seperti ini?

Tetapi, bahkan perjalanan yang kutempuh kali ini juga untuk sesuatu yang tidak pasti. Karena tiada jaminan, apa aku nanti bisa bertemu mereka atau tidak. Dulu, aku pernah bertanya kepada Papa perihal ketidakmengertianku akan keputusan Mama. Bagaimanapun aku ingin memahami, tetap saja bagiku ada sesuatu yang ganjil dalam perpisahan keluarga kami.

“Kadang-kadang kupikir Mama terlalu egoistis, Pa.”

“Tidak, Emili. Mamamu sangat baik. Lagi pula, tiap orang berhak memilih. Dan kau juga tahu, bukan hanya kita yang mengalami perpisahan seperti ini.”

Memang, banyak keluarga yang berpisah karena peristiwa referendum itu. Tetapi, keputusan Mama memisahkan diri rasanya berbeda dari yang lain. Mama sama sekali tidak punya keluarga di Indonesia. Wanita itu lahir di Lorosae.

Sekolah dan besar hingga menikah tanpa pernah sekali pun meninggalkan tanah itu. Oh iya, konon memang ada neneknya Mama di Kupang, tapi sudah lama tiada. Jadi, ketika tiba-tiba Mama memilih pergi, apalagi pada akhirnya kuketahui pergi ke tempat sejauh ini, hal itu seakan membawa utang penjelasan yang entah mengapa ingin aku tagih.

“Suatu hari kau akan mengerti, Emili. Jika Tuhan mengizinkan, kita pasti akan kembali dipertemukan. Percayalah.”

Aku percaya, ingin selalu percaya. Itu sebabnya, aku tak henti berdoa. Tetapi, begitu Mama dan kakak adikku berjalan ke barat, mereka seperti hilang di tempat matahari tenggelam. Rupanya, di pulau inilah tujuan mereka.

Sebelumnya, aku memang cukup lama menekuri peta dan rute perjalanan. Ada beberapa lokasi transmigrasi di provinsi ini. Dan dari informasi yang aku dapat, tempat yang kutuju berada di tengah perkebunan sawit.

“Luar biasa.” Abilio memasukkan kepala ke dalam lubang kausnya, saat kendaraan terguncang-guncang, menerobos gulungan debu yang ditinggalkan truk pengangkut material di depan kami. Untunglah angkutan yang kami tumpangi bisa menyalip, sehingga tidak terus-menerus dihujani debu. Angkutan beberapa kali menaikkan dan menurunkan penumpang. Kami istirahat di Pasar Galing untuk makan siang.

Jalur selanjutnya lebih ekstrem lagi. Selain debu, jalan juga naik turun, hingga perbatasan. Beberapa situs perjalanan mengatakan, jalur yang aku tempuh sekarang adalah jalur pantura yang akan berakhir di PPLB Aruk. Katanya lagi, memang relatif sepi jika dibandingkan dengan perbatasan Entikong - Sanggau.

“Akhirnya!” Perjalanan selama lebih dari 80 km berakhir juga, setelah selama lima jam kami terguncang-guncang dalam angkutan. Kami turun di Sajingan. Aku menghidupkan ponsel. Tidak ada sinyal.

“Langsung?” tanya Abilio.

Aku mengusulkan untuk mencari minum dan… tiba-tiba baru terpikir oleh-oleh apa yang sebaiknya aku bawa. Aku cukup lama di depan toko sebelum memutuskan membeli dua kaleng biskuit rasa durian dan kelapa. Entahlah, bingung.

Abilio sudah mendapatkan dua motor ojek. Sepertinya dia sudah selesai menawar harga. Kami masing-masing naik ke boncengan. Meninggalkan Kecamatan Sajingan. Kami memasuki jalan kecil, kemudian berbelok ke jalan tanah yang membelah perkebunan sawit. Hampir satu jam kemudian, pada akhirnya aku memasuki sebuah perkampungan dengan rumah-rumah menyebar di area miring di tengah lahan gersang.

Aku menyerahkan helm kepada tukang ojek. Nanar kutatap sekitar. Di depanku, sebuah bangunan sepi dengan tulisan kantor KUPT. Aku mengaitkan kedua tangan yang berkeringat.

“Sepertinya itu bangunan sekolah.” Abilio menunjuk bangunan lain, memanjang berbentuk rumah panggung.

Ada bendera merah putih yang berkibar di tengah lapangan.

Lanjutkan  ke : Novelet : Esperansa (2)

Shabrina WS