Foto: Fotosearch


Sejak setahun terakhir saya jadi pengguna setia ojek online. Mungkin alasannya sama seperti orang lain: harga terjangkau dan bebas macet. Nggak perlu lagi, deh, heboh tawar menawar yang berakhir sakit hati dengan tukang ojek pengkolan, he he he.

Paling happy kalau ada promo (biasanya teman saya langsung berbagi info) karena tarifnya ekstra hemat. Saya sendiri punya tiga aplikasi ojek online untuk dipakai sesuai kebutuhan. Saat ojek online A menawarkan tarif 'goceng', selama seminggu lebih pasti saya manfaatkan. Begitu ojek online B yang ngasih diskon pada jam tertentu, saya juga nggak mau ketinggalan. Aplikasi C saya pakai saat memberikan free ride setelah mengunduhnya. Intinya cari yang paling menguntungkan, dong.

Namun... keseruan pakai ojek online bukan hanya tarif hematnya. Kelakuan pengemudinya juga menghibur. Ada yang superramah, sopan plus senang basa-basi, cuek banget, bahkan cenderung posesif.

Pengalaman paling berkesan, sih, waktu saya pulang dari Plaza Senayan sehabis ketemuan sahabat saya. Waktu itu kebetulan kondisi gerimis sehabis hujan lebat. Pukul 21.30 saya order dan langsung ditelepon oleh pengemudinya. Saya tanya, "Bawa jas hujan nggak mas?" Ia menyahut, "Bawa mbak, saya sudah persiapan." Saya pun langsung menuju posisi yang disepakati.

Begitu melihat saya, sang pengemudi menghampiri dan menyapa saya dengan ramah. Ia turun dari motor dan memberikan saya jas hujan two pieces (atasan dan celana). Wah, saya pikir bakal ribet pakai celananya sehingga saya memutuskan cuma memakai jas hujannya saja. Eh, si pengemudi spontan bilang, "Mbak, dipakai sekalian celananya. Nanti basah kecipratan. Pulang naik kereta masuk angin, lho!"

Ya sudah, saya akhirnya mencoba memakai celananya juga. Ternyata ribet karena tangan saya yang satu memegang tas, sementara yang lain berusaha memegang motor untuk menjaga keseimbangan. Tiba-tiba sang pengemudi berjongkok di hadapan saya. "Maaf ya mbak, mari saya bantu..,"katanya sambil memegang celana tersebut sehingga saya tinggal melangkah ke dalamnya. Aih.... so sweet banget mas yang satu ini, ha ha ha.

Singkat cerita saya sampai dengan selamat di stasiun tujuan. Saat turun dari motornya saya otomatis membuka helm yang memakan waktu agak lama. Melihat keribetan saya, sekali lagi sang pengemudi turun tangan. "Saya bantu bukakan ya mbak," ucapnya santai. Kebaikan pengemudi itu saya balas dengan memberikan lima bintang dan komentar: pengemudi sangat ramah dan sopan. Ehemm...

Ya... pernah juga dapat pengemudi yang kepo. Baik, sih, tapi banyak nanya! Tahu sendiri, kan, susahnya ngobrol kalau dibonceng motor. Apalagi kalau sama-sama pakai helm, makin terredam suara masing-masing. Ada, tuh, pengemudi yang curhat soal hidupnya panjang-lebar, duh.. ini yang paling ribet. Kalau si pengemudi nekat ngobrol, paling saya tanggapi: "Iya, ya..." "Hmmmm...." "Oh gitu..." sambil berharap cepat sampai di tujuan.

Pengalaman lain yang sulit terlupakan adalah saat saya naik motor yang salah. Jadi ceritanya saya turun ke pelataran parkir kantor tempat ojek online biasa menunggu. Saya tanya, "Ke Tebet mas?" dan dijawab, "Bukit duri, sih, mbak tulisannya." Lalu dia memberikan helm dan saya pakai kemudian naik ke atas motornya.

Sepuluh menit jalan, sang pengemudi ditelepon. Saya curiga begitu dia teriak, "Terus siapa yang saya bawa ini?" Waduh... jangan-jangan salah pengemudi. Saya langsung mengecek ponsel, ternyata ada missed call lima kali. Positif, deh, saya salah naik!

Akhirnya saya tanya gimana enaknya, si mas mengusulkan agar kembali ke kantor lagi. Saya bilang saja supaya pengemudi saya bawa penumpangnya ke tempat kami berhenti. Toh.. ojek online-nya satu perusahaan.

Kami pun menunggu di pinggir jalan. Sesekali si mas mengarahkan pengemudi saya yang asli ke arah kami. "Duduk saja mbak nanti pegal," tawarnya ramah. Ya kali mas... masa motor nggak jalan kami tetap boncengan di pinggir jalan? Romantis benerrrr....

Untungnya 15 menit kemudian motor yang harusnya saya naiki sampai. Setelah saling mengecek dan minta maaf, masing-masing melanjutkan perjalanan. Seumur hidup saya baru kali itu salah naik ojek orang lain, he he he. Pelajarannya: Jangan malas nanya plat nomor yang kita pesan daripada rugi waktu.

Keseruan lain memakai ojek online, tuh, seperti menunggu jodoh. Kalau sedang beruntung bisa cepat dapatnya, kalau sedang sial bisa di-cancel sepihak dan harus sabar menunggu agak lama. Bikin galau banget! Bahkan perburuan di antara sesama rekan kerja setelah jam kantor sangat menegangkan. Yah, mirip main Pokemon GO yang lagi booming itu ;)