Foto: Unsplash
 
Siapa sih yang mau dianggap enggak update? Zaman sekarang, saat percepatan informasi ada di mana-mana, masa iya kita ketinggalan informasi? Apalagi jika berita tersebut  sulit didapat (eksklusif), mampu memancing reaksi banyak orang, ataupun terkait dengan bencana yang sedang terjadi. Tidak peduli berupa informasi simpang siur, cerita dramatis, atau dalam tingkatan paling tinggi, foto-foto korban.

Boleh dong bertanya, apa sih yang sebenarnya dicari? Mungkin cerita dari saya berikut, bisa memberi sedikit perspektif untuk teman-teman.

Agustus 2 tahun lalu, Ayah saya terkena serangan jantung dan meninggal dunia di parkiran kantor temannya. Karena saat kejadian hari sudah beranjak malam (sekitar jam 7), Ayah pun baru diketemukan subuh oleh petugas keamanan yang tengah berpatroli. Tangis kami sekeluarga sontak pecah setelah mengetahui kabar tersebut di pagi hari. Di tengah situasi yang mengagetkan tersebut, di kepala saya tiba-tiba terlintas pikiran  "duh, apa yang kira-kira ditulis oleh media-media di luar sana".

Bekerja di bidang media, membuat saya kurang lebih paham dengan bentuk kejadian ataupun cerita yang nikmat untuk 'digoreng'. Saat satu kejadian yang belum terkuak seluruhnya muncul di permukaan, berbagai berita berbumbu spekulasi dibalut judul nan catchy, pasti sedap untuk mendapatkan hits

Kondisi Ayah yang saat itu ditemukan terjatuh di area parkiran dengan uang berhamburan disekitarnya, menjadi salah satu berita yang mengundang penasaran banyak orang. Kondisi yang empuk untuk para reporter atau jurnalis membuat ragam artikel dengan tipe clickbait. Padahal sebagai keluarga, kami tahu betul jika Ayah memang terbiasa menyimpan uang tunai dalam jumlah besar di sakunya (beliau beralasan untuk jaga-jaga jika ada apa-apa).

Benar saja, kurang dari 1 jam kabar tersebut saya terima dan kami tengah menuju RS Cipto Mangunkusumo, di beberapa media online sudah terpasang olah TKP Ayah, lengkap dengan foto-foto beliau sedang diidentifikasi. Saya seketika menjerit dan menangis, karena kondisi Ayah yang terlihat mengenaskan dalam berita-berita tersebut. Background Ayah sebagai tentara juga turut disangkut pautkan dengan judul bombastis. 

Karena masuk sebagai berita yang di-highlight di salah satu media pula, beberapa teman pun turut menanyakan kebenaran kabar tersebut sembari mengirimkan link berita yang didalamnya tentu saja memuat, foto-foto Ayah saya. Muak dan sedih pelan-pelan menjalar, sepanjang perjalanan hari itu. 

Setiba di rumah sakit, saya bergegas lari dan sudah mempersiapkan diri dengan segala visual buruk yang saya lihat sebelumnya di beberapa media. Tangis saya kembali pecah, namun bercampur lega. Puji Tuhan, Ayah tertangani dengan baik dan tidak seheboh seperti yang divisualisasikan atau digambarkan di media-media. Saya pun mulai berfokus pada hal lain, yakni pemakaman.

Sayangnya, kadang beberapa orang tidak tahu kapan mereka harus berhenti. Saat disemayamkan di rumah duka misalnya, terdapat crew stasiun TV yang langsung menaruh tripod dan kamera di depan peti jenazah untuk mengambil footage. Walaupun saat itu, sang reporter sudah mendapatkan jawaban jika keluarga keberatan dan menyatakan bahwa Ayah berpulang karena sakit adanya. Tak berhenti di situ, dengan gigih mereka tetap datang ke pemakaman Ayah. Entah apa yang dicari.
 
 


Foto: Unsplash
 
Setelah Ayah dimakamkan pun, hal ini tidak semerta-merta berhenti. Kami diinterogasi berbagai macam pihak karena terdapat spekulasi yang berkembang di sana-sini dari hasil luasnya pemberitaan di media. Di tengah keadaan kaget dan berduka, kelelahan yang kami rasakan seolah berlipat ganda. Untungnya, kami masih dapat berpikir jernih dan menjelaskan dengan baik keadaan sebenarnya kepada pihak yang memang betul-betul membutuhkan klarifikasi dari pihak keluarga kami.

Beberapa minggu setelah kejadian tersebut, mengetik nama Ayah di kolom pencari, dan memencet tombol refresh beberapa media yang sengaja saya bookmark, menjadi lekat dengan keseharian saya. Setiap gambar perlahan-lahan mulai muncul, saya hanya bisa berdoa sembari memicingkan mata supaya foto-foto proses TKP Ayah bukanlah hal yang akan pertama saya lihat. Saya juga maju untuk menegur beberapa media yang masih bandel, demi menjaga perasaan keluarga terkhusus Ibu.

Beberapa media yang sempat vulgar memasang foto Ayah, perlahan-lahan mulai mencopot gambar tersebut. Entah karena insaf, ditegur, atau mungkin berita tersebut tidak memiliki nilai jual lagi, saya tidak tahu. 

Kami pun perlahan-lahan pulih. Namun hingga saat ini, potongan proses gambar identifikasi TKP Ayah saya terus membayangi. Sesak dan berat saat gambaran itu tiba-tiba muncul. Walaupun mungkin saya sering mengalihkan dengan melihat hal-hal lain mengenai Ayah, tidak dipungkiri perasaan tertusuk begitu membekas di hati saya sebagai keluarga beliau. 

Karena itu teman-teman yang baik, mengetahui lebih banyak atau lebih dulu, bukan berarti menjadikan kita paling terdepan. Bijaklah terlebih saat kita ingin memberitakan, atau meneruskan keadaan yang menyangkut bencana. Terlebih dokumentasi yang sensitif untuk keluarga korban. Tidak ada yang hebat dari membagikan kondisi terakhir seseorang yang terkena bencana, dalam keadaan naas.

Berempatilah terhadap korban dan keluarganya, dengan tidak menyebar luaskan informasi yang tidak kita ketahui benar adanya. Ini merupakan bukti nyata kepeduliaan kita, sekaligus juga menunjukkan bahwa kita cerdas menggunakan media sosial. (f)