Foto-foto: Antaranews.com
 
Masyarakat Indonesia bersemangat sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Euforia awal terbangun saat Upacara Pembukaan Asian Games XVIII pada 18 Agustus 2018 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, ketika  pertunjukan kolosal menjadi bukti kepada dunia bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang besar dan mampu menyelenggarakan sebuah event berskala Internasional. Nuansa alam dan budaya Indonesia menginspirasi pertujukan itu.

Euforia masyarakat Indonesia berikutnya adalah capaian pretasi para atletnya yang menorehkan pengumpulan medali terbanyak sepanjang keikutsertaannya dalam ajang Asian Games. Hingga hari ini, Kamis (30/8/2018), sudah meraih 30 medali emas. Sejauh ini Indonesia telah menempati peringkat empat klasmen negera-negara peraih medali, di bawah prestasi Cina, Jepang dan Korea Selatan, yang memang selalu mendominasi pengumpulan medali dalam perhelatan Asian Games.

Apakah euforia itu akan terus dapat berlangsung pada perhelatan Asian Games berikutnya?  Bahkan apakah kita makin mampu unjuk prestasi pada perhelatan yang lebih tinggi, yakni Olimpiade? Kita tetap optimistis! Bagaimana optimisme itu tetap bergaung? Antropologi biologis menyediakan jawaban dan syarat-syaratnya.
 

Benarkah Indonesia Akan Sulit Menjadi Juara Sepak Bola? Lanjutkan ke halaman berikut.
 
 

Secara singkat, antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia, baik yang menyangkut aspek  biologis maupun kulturalnya. Di sini tidak perlu heran bahwa semua  hal yang menyangkut biologi dan aktivitas manusia bisa dianggap sebagai antropologi. Kondisi itu membawa konsekuensi, yakni apapun kajian tentang aspek-aspek manusia, maka antropologi dapat hadir.

Antropologi mempelajari manusia mulai dari tingkat genetis sampai morfologis bahkan aktivitasnya; dan dari masa lampaunya, bahkan pra-manusia, sampai variasinya saat ini.

Dalam tulisan pendek ini, saya akan mengajak pembaca untuk berkonsentrasi terhadap antropologi yang terkait dengan biologi manusia, walau di sana-sini tidak bisa mengabaikan secara tegas dengan antropologi yang terkait dengan kultural. Sebagai antropologi yang terkait dengan biologi manusia, maka yang dipelajari mulai dari asal-usul manusia, sejarah persebaran manusia di beragam wilayah bumi dan variasinya. Salah satu di antara subdisiplin antropologi biologis adalah antropologi olahraga.
 
Beberapa alinea berikut merupakan cuplikan di sana-sini dari tulisan saya, yang saya tulis untuk melengkapi buku biografi guru saya, Prof. Josef Glinka, SVD, yakni Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD: Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia. Antropologi olahraga adalah cabang atau subdisiplin dari antropologi biologis yang terkait upaya memahami aktivitas gerak atau olahraga dari variasi biologis manusia.

Prestasi olahraga dapat dicapai jika kita berpedoman bahwa badan manusia adalah sentralnya. Ukuran badan dan variabilitasnya memegang peran penting dalam aktivitas olahraga. Jadi sebenarnya menerapkan data antropometris (ukuran-ukuran badan manusia atau bagian-bagiannya) untuk olah raga. Pada badan itu dapat diperhatikan postur, mobilitas, kekuatan dan kelenturannya.

Ada olahraga yang mengutamakan kekuatan badan, misalnya angkat berat. Ada olahraga yang mengutamakan kecepatan mobilitas, misalnya lari. Ada olahraga yang mengutamakan kelenturan, misalnya senam. Bahkan boleh jadi ada olahraga yang mengutamakan postur, misalnya beberapa olahraga dalam kelompok olahraga permainan. Seringkali adalah semua itu dibutuhkan oleh atlet untuk mencapai prestasi sesuai dengan proporsi jenis pilihan cabang olahraganya.

Apa hubungan olahraga dengan jenis kelamin? Lanjutkan ke halaman berikut.
 
 

Apakah Anda pernah berpikir mengapa dalam setiap cabang olahraga dipisah berdasarkan jenis kelamin? Mengapa dalam perhelatan akbar olahraga, misalnya Asian Games dan Olimpiade, tidak dibedakan kelas umurnya?

Semua terkait dengan variasi biologis manusia itu.
 

 
Secara genetis, individu laki-laki dan perempuan berbeda; oleh karena itu manifestasi fenotipe atau morfologisnya tentu berbeda. Mereka berbeda pertumbuhan dan perkembangannya. Perbedaan itu dikenal sebagai dimorfisme seksual; yakni perbedaan individu laki-laki dan perempuan yang tidak terkait langsung dengan fungsi reproduksinya.

Jika satu cabang olahraga dilombakan tanpa memedulikan jenis kelamin para peserta, bahkan menghadapkan atlet laki-laki dan perempuan dalam satu cabang olahraga, maka itu adalah olahraga yang tidak memahami kodrat alamiah. Memang ada perkembangan dalam sejarah olahraga kita untuk mengkombinasikan atlet laki-laki dan perempuan dalam satu cabang olahraga resmi, misalnya ganda campuran pada cabang olahraga tenis dan bulutangkis.

Pada pertandingan cabang olahraga, misalnya perhelatan Asian Games dan Olimpiade, maka semua atlet yang bertanding dianggap senior. Jadi di sana tidak ada cabang olahraga yang dilombakan dalam kelompok umur. Para atlet dianggap sudah melampaui masa pertumbuhan dan perkembangan kanak-kanaknya; di mana karakteristik seksual sekunder sudah merujuk ke arah dewasa. Rata-rata atlet yang berlomba adalah usia remaja sampai dewasa.
 
Singkatnya ini adalah ajang kompetisi para individu dewasa (walau perkecualian ada beberapa atlet tua dalam kompetisi itu, misalnya menembak, memanah dan bridge, yang memang tidak perlu memforsir tenaga besar).  

Dari olahraga apa orang Indonesia mampu mendulang prestasi? Lanjutkan ke halaman berikut.
 
 

 
 
Antropologi olahraga juga membutuhkan biotipologi dan somatometri sebagai bagian disiplin dalam antropologi biologis, yakni berperan untuk menilai perawakan atlet seperti apa yang paling cocok untuk olah raga tertentu atau posisi tertentu dalam satu cabang olahraga agar dapat berprestasi optimal.

Kita dapat perkirakan perawakan pemain sepak bola seperti apa yang seharusnya sebagai penjaga gawang, pemain bertahan, gelandang dan penyerang. Penjaga gawang dengan perawakan mungil memang lebih lincah, tapi mampukah menggapai bola yang relatif lebih jauh dari badannya dalam sasaran gawangnya?

Mungkin untuk menangkap bola yang relatif jauh dari badannya harus memerlukan beberapa langkah, dan itu sudah memboroskan energi dan waktunya. Beberapa contoh perawakan atlet terkait posisinya dalam olahraga permainan kelompok dapat disaksikan pada bola volley, basket, hokey dst.

 
Perawakan sulit terlepas dari variasi rasial manusia. Perawakan yang penting untuk olahraga itu dipengaruhi genetis. Walaupun ilmu pengetahuan dan metode keolahragaan semakin canggih untuk mencoba mengeliminir kelemahan berdasar variasi rasial, sepertinya capaiannya sangat lamban atau kecil.

Orang awam pun bisa menyaksikan dan bertanya: “Mengapa pemain-pemain terhebat bola basket itu Negro (baca Negroid)?” “Mengapa pelari-pelari sprint dan jarak jauh juga mereka?” Barangkali orang Indonesia pernah berpikir: “Mungkinkah kita bisa menjadi juara dunia sepak bola? Juara dunia bola basket? Juara dunia bola volley?
 

 
Saya kira optimisme itu cuma bergelayut di benak, bukan realita. Penduduk Indonesia itu mayoritas populasi Mongoloid dan Australomelanesoid yang memang perawakannya lebih mungil dibandingkan mayoritas populasi Kaukasoid dan Negroid.

Jadi Indonesia hanya pesimistis mendulang prestasi dalam prestasi olahraga internasional? Tentu saja tidak! Berdasarkan pengetahuan antropologi biologis, Indonesia jika ingin mempunyai prestasi internasional, maka harus menggenjot para generasi muda untuk memilih cabang-cabang olahraga, di mana postur semua atletnya nyaris seimbang, yakni olahraga yang mendasarkan berat badan untuk kategorinya, misalnya tinju, karate, gulat, pencak silat dst., atau olahraga yang mengutamakan ketangkasan, misalnya bulu tangkis, tenis meja dst.
 
 
 

Pentingnya Kelengkapan Penunjang

Kadangkala dalam olahraga modern, tidak hanya cukup bermodal badan, namun penunjang terkait kelengkapan untuk olahraga itu yang paling sesuai dengan badannya menjadi sangat penting. Pakaian dan peralatan olahraga harus dipilih yang paling sesuai dengan badan atlet atau amatir yang sekedar untuk kesenangan dan  kebugaran badannya.
 
Pakaian dan peralatan itu dapat mengoptimalkan prestasi atlit dengan beragam agumentasi hasil penelitian antropologi teknik(engineering anthropology) dengan menerapkan data antropometris, dan tentu juga sumbangan beragam disiplin lain di luar antropologi biologis. Ukuran, bentuk dan bahan sepatu dan pakaian yang tepat untuk badan akan memberikan rasa nyaman, mengeliminir terjadinya cedera dan mengurangi hambatan oleh faktor ekternal.

Kita dapat saksikan dalam perkembangan teknologi untuk menghasilkan pakaian renang, yang bukan saja nyaman bagi si perenang, namun juga mengurangi hambatan laju di permukaan dan di dalam air.
 
Produsen peralatan olahraga berlomba-lomba untuk memberikan produk barunya kepada para atlet dengan klaim bahwa produknya bisa membantu meningkatkan prestasi olahraganya. Produsen sepatu butuh riset antropologi kaki agar produknya nyaman untuk semua kaki populasi dunia.

Sebagai ilustrasi, produsen sepatu terkenalakan berpikir ekonomis untuk menjual produk ukuran sepatu para pemain basket NBA kepada para mahasiswa peminat bola basket di universitas di Indonesia; oleh karena itu sepatu-sepatu yang dijual kepada mereka adalah yang ukurannya sesuai dengan antropologi kaki orang Indonesia.
 
 

Para atlet internasional akan menjalani tes ketat sebelum dapat bergabung dengan klub olahraga profesional. Semakin kaya dan terkenal klub olahraga profesional itu, makin ketat pula seleksinya. Dalam seleksi itu tentu saja juga menggunakan data antropometris atlet untuk mengetahui potensi dan prospeknya. Klub profesional tidak mau rugi besar atas kecerobohan dalam memilih atlet yang akan dikontraknya. Di sini, antropologi dapat hadir dalam pengembangan dan bisnis olahraga. (f)

Penulis:
Rusyad Adi Suriyanto
Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada