Foto: Fotosearch

Sejak tahun 2006, kanker seperti melekat dalam hidup Wanda Ponika (37). Bukan karena ia yang menjadi penderita, tapi karena selama 7 tahun ia menjadi pendamping untuk adik, tante, dan suaminya yang silih berganti menderita kanker.  Ia menjadi saksi nyata bagaimana kanker datang dan menyiksa orang-orang tercintanya itu hingga berkali-kali.

“Pepatah mengatakan, ‘Lebih berat ditinggalkan daripada meninggalkan.’ Itu benar sekali. Sungguh menakutkan kehilangan orang-orang tercinta yang dekat dan berharga dalam hidup saya,” ujar Wanda. Namun, ia terus berusaha tegar. Kepada femina, Wanda menuturkan perjalanannya mendampingi ketiga orang yang ia kasihi itu berjuang melawan kanker.
 
SUKA BERGANTI DUKA
Tahun 2006  itu harusnya menjadi tahun kebahagiaan bagi adik bungsu saya, Cahyadi Wanda, yang waktu itu berusia 22 tahun, dan juga bagi seluruh keluarga kami. Ia diterima di program S-2 di Greenwich University, London. Sebagai kakak, tentu saya turut bangga dan berbahagia. Terutama karena untuk bisa kuliah di universitas bergengsi ini, adik saya harus melampaui beberapa tes yang cukup ketat.
           
Tes kesehatan adalah salah satunya. Ia harus menyerahkan hasil rontgen dada untuk menunjukkan tingkat kesehatan paru-parunya. Saat itu, perawakan adik yang terlihat jauh lebih kurus dari biasanya membuat internis sekaligus dokter keluarga kami, Prof. Dr. Herdiman T. Pohan, Sp.PD, KPTI, DTMH, menyarankan untuk melakukan pemeriksaan secara keseluruhan.

Kami menyetujui permintaan ini. Apalagi, akhir-akhir ini adik mengeluhkan keluar keringat yang lebih banyak dari biasanya. Sempat pula ia mengeluhkan sakit di bagian punggung belakang, sampai ia dibawa ke dokter tulang dan melakukan fisioterapi. Nafsu makannya pun menurun drastis. Dan beberapa kali ia terkena demam dan batuk. Sama sekali tidak terpikir ia akan menderita penyakit yang parah.

Back pain yang dideritanya itu kami pikir hanyalah cedera yang ia peroleh ketika bermain basket. Batuk dan demam hanyalah serangan virus belaka. Dan mungkin diam-diam ia merasa stres karena harus tinggal di London tanpa keluarga dalam waktu yang cukup lama sehingga nafsu makannya berkurang. Selalu ada logika pembenaran yang membuat kami tak pernah terpikir bahwa ini semua merupakan gejala kanker!

Prof. Herdiman tidak serta-merta menyebutkan kanker. Ia hanya mengatakan di dada adik ada tumor. Namun, beliau meminta agar kami segera melakukan biopsi  untuk memeriksa lebih lanjut tumor tersebut. Menuruti saran beliau, saya bersama adik dan Ayah segera ke RS Mt Elizabeth, Singapura.

Keesokan harinya kami semua dikagetkan oleh hasil pemeriksaan dokter. Adik bungsu yang kami kira terlihat sehat secara umum, ternyata terkena kanker. Tak tanggung-tanggung, kankernya di stadium 3B. Walau termasuk jenis kanker yang dapat diobati, kanker ini masuk stadium lanjut dan menunjukkan tanda penyebaran.

Padahal, tidak ada riwayat kanker dalam garis keluarga kami. Ibu dan ayah kami  juga tergolong sehat. Dan, adik saya pun termasuk orang yang menjalankan gaya hidup sehat. Ia rajin berolahraga, bukan penggemar gaya hidup hura-hura, bahkan bukan peminum alkohol.

Berdua bersama adik saya, kami menjadi orang pertama yang mendengar vonis dokter ini. Ingin rasanya saya menangis sejadi-jadinya. Tapi, tak bisa saya lakukan. Saya harus tegar di hadapan adik yang pastinya sangat terpukul. Kanker tidak hanya mengacaukan rencana masa depan yang telah disusunnya, tapi kematian seolah-olah mengintai hari-harinya.

Saya harus tegar dan pandai memilih kata-kata untuk menyampaikan kepada Mama, Sinta Kirana Wanda (59), yang pastinya sangat sedih mendengar sakit yang diderita anak tercintanya. Di tengah perasaan yang bercampur aduk itu saya harus mampu berpikir jernih. Saya harus segera menentukan langkah selanjutnya untuk kesembuhan adik. Makin ditunda, sel-sel kanker itu akan makin menjalar ke mana-mana. Kami berpacu dengan waktu!
           
Syukurlah, selama kemoterapi adik saya sangat kooperatif. Ia cukup tegar menerima kanker di tubuhnya. Bahkan, ia berusaha tetap bugar dengan berolahraga di gym.  Mungkin ia ingin membuktikan bahwa kanker tidak mematahkan semangatnya. Senang sekali, ketika 5 bulan kemudian pengobatan adik sudah selesai.
           
Sayang, kelegaan keluarga kami tidak berlangsung lama. Tak sampai setahun sejak pengobatan, tiba-tiba adik mengeluh perutnya serasa ditarik-tarik. Meski ia tidak mau membesar-besarkan hal ini, saya tidak bisa tinggal diam. Biarlah disebut paranoid, pokoknya harus segera diperiksa serius. Saya tak mau kecolongan lagi. Meski demikian, kami sekeluarga sangat berharap ini sakit biasa atau efek samping saja dari pengobatan kanker sebelumnya.
 
 

Apa mau dikata, ternyata itu pertanda kanker adik kambuh lagi. Lagi-lagi saya menjadi pihak yang menyampaikan berita buruk ini kepada orang tua. Kembali saya menjadi tim inti mendampingi adik. Ia langsung ditangani oleh dr. Ang Peng Tiam dari RS Mt Elizabeth yang memberinya kemoterapi dosis tinggi, atau 8 kali lebih keras dibanding kemoterapi regular.

Efek kemoterapi ini membuat adik menjadi sangat lemas. Bahkan, hanya untuk membalik halaman buku saja rasanya sulit. Rambutnya mulai rontok. Meski hati saya seperti disayat,  saya harus terus membesarkan hatinya. Sesulit apa pun itu, saya selalu berusaha menyanggupi apa yang menjadi keinginannya, seperti makanan atau minuman tertentu. Meski sulit, saya akan berusaha mencarinya. 

Dari adik, saya yang sehat justru belajar banyak tentang ketabahan dan semangat hidup. Bahkan, di tengah rasa sakit dan keterbatasan fisiknya, ia tetap berusaha untuk aktif. Ia memilih untuk magang di perusahaan perhiasan milik saudara ipar saya sembari menjalani radioterapi yang memakan waktu beberapa bulan. Hingga  akhirnya ia mampu melewati paket pengobatan ini dengan sempurna. Cukup sudah. Kami sekeluarga berharap inilah pengobatannya yang terakhir.

Kenyataannya, kegembiraan kami kembali terampas. Setelah beberapa bulan, kanker itu datang kembali. Terngiang di telinga saya perkataan dokter, apabila terjadi relaps pertama, masih ada langkah yang bisa ditempuh dengan kemoterapi dosis tinggi. Tetapi, apabila cara itu gagal juga, maka kami harus berserah kepada Tuhan.

Di saat yang bersamaan, beban saya juga  makin bertambah ketika salah satu anak saya masuk rumah sakit. Sebagai ibu, saya ingin berada dekat dengan anak saya. Tapi, adik saya juga membutuhkan saya. Untunglah, dalam keadaan ini suami saya, Budi Tanu, memberikan pengertian besar. Ia meminta saya fokus merawat adik, sementara ia akan mendampingi anak kami. Hati saya seketika tenang.

Kali ini, obat untuk mengatasi kekambuhan ini tidak disuntik melalui tangan, tapi dimasukkan lewat dada adik yang dilubangi. Agar tetap steril, lubang harus sering dibersihkan. Tugas inilah yang saya ambil. Jujur, saya sebenarnya takut sekali pada luka dan darah.

Saya pikir tak akan kuat menghadapinya. Tapi, ketakutan saya ini dikalahkan oleh semangat hidup yang saya lihat begitu melimpah mengalir dari dalam diri adik saya. Makanya, saya luar biasa bersyukur kepada Tuhan, karena obat ini ternyata memberikan reaksi positif kepada adik. Beban yang mengimpit dada saya langsung terangkat.
 
 

 
GILIRAN SUAMI TERCINTA
Tahun 2008 menjadi tahun sukacita bagi keluarga kami. Setelah lama dirundung kesedihan akibat kanker yang mendera adik berkali-kali, ia masih diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan. Di tahun ini pula saya bersama suami mulai merintis usaha sendiri, setelah sebelumnya kami bekerja di sebuah perusahaan perhiasan bereputasi internasional.

Saya ingin menyalurkan kreativitas dalam mendesain perhiasan. Sementara suami memang dari dulu jagonya menangani pembukuan usaha. Tim yang lengkap dan kompak. Dalam waktu singkat usaha kami sudah menunjukkan kemajuan yang cukup berarti. Namun, memasuki tahun 2009, cobaan itu datang lagi. Kanker kembali menghantui kehidupan saya.

Siapa sangka, kali ini suami saya tercintalah yang harus menghadapi penyakit itu. Seperti adik, kanker suami tidak menunjukkan gejala spesifik, bahkan jauh dari kentara. Suami  hanya mengeluhkan telinganya seperti kemasukan air, yang setelah diobati sembuh dalam waktu dua minggu.

Namun, kesembuhan ini diikuti dengan kemunculan bintil berisi air. Meski telah diobati dan dipecahkan oleh dokter, bintil itu timbul lagi. Hingga akhirnya hasil biopsi mengungkap bahwa bintil tersebut pertanda kanker nasofaring pada stadium 3A.

Kali ini jiwa saya benar-benar goyah! Sewaktu adik saya sakit, saya punya tempat untuk bersandar. Saya bisa menangis dan mencurahkan kesedihan di hadapan suami. Dia pun menjadi sandaran untuk perekonomian selama saya bolak-balik menemani adik berobat. Tapi, kalau suami sakit, lantas bagaimana hidup saya? Bagaimana nasib anak-anak kami, padahal mereka masih kecil-kecil?

Saya sungguh tak siap dengan kenyataan ini. Saya tahu terapi kanker memakan biaya yang tidak sedikit. Sementara dalam kondisi baru memulai usaha, ekonomi kami belum kuat. Saya juga tidak mau menyusahkan orang tua dalam hal pembiayaan. Sewaktu adik sakit saja mereka sudah mengeluarkan biaya begitu besar. Dan, adik masih perlu biaya untuk cek rutin ke dokter.

Kemarahan mulai berkecamuk di pikiran saya. Saya merasa Tuhan tak adil. Apa salah kami, sehingga kanker selalu membayangi kehidupan saya dan keluarga. Sempat terlintas dalam pikiran saya, mengapa kami yang selalu menjalani hidup sehat malah terkena kanker, sedangkan banyak orang lain di luar sana yang gaya hidupnya buruk, tapi sehat-sehat saja.

Saking putus asanya, ucapan ngawur meluncur dari bibir saya, “Lebih baik suami saya selingkuh asalkan sehat, daripada melihat dia sakit.” Malu rasanya jika mengingat pernah bicara seperti itu kepada kakak ipar sendiri.
 
 


Ketika suami sakit, selain terbebani memberi tahu orang tua saya dan orang tua suami, saya pun harus menyampaikan kepada anak-anak. Ini hal paling berat. Sulit sekali menahan tangis di depan mereka, tapi harus saya tahan.

Kepada si bungsu yang masih TK, saya berujar, “Bella, Daddy sedang sakit. Bella selalu berdoa, ya, kepada Tuhan agar Daddy sehat dan bisa selamanya bersama kita sampai Daddy tua. Walaupun Daddy sakit, jangan khawatir, Mommy dan Daddy akan menjaga Bella dan kakak-kakak.” Kepada si sulung, Brandon, saya dan ayahnya berbicara terbuka. Sebagai gifted child, ia bisa merasakan terjadi sesuatu pada ayahnya. Bahkan, ia meminta ikut dan turut bertanya kepada dokter. Padahal, saat itu ia baru berusia 10 tahun.
           
RS Mt Elizabeth, Singapura, kembali menjadi tujuan kami. Belakangan saya menjadi dikenal di rumah sakit ini karena nyaris lebih dari 7 tahun saya bolak-balik di  sini  untuk mengurusi masalah kanker. Namun, berbeda dengan adik yang cukup sabar menanti di Singapura untuk jarak terapi yang berdekatan, suami saya tidak. Hari Senin pagi berobat,   Senin malam  minta pulang. Suami hanya mau menginap, jika esok hari ada terapi.
Suami harus menjalani kemoterapi dan radioterapi. Kemoterapi memberi efek mual bagi suami. Ketika mual itu datang, suami layaknya ibu hamil yang mengalami efek morning sick. Paling berat adalah melihat efek radioterapi. Suami terkena seriawan hebat dari bagian bibir hingga ke tenggorokan. Bibirnya sampai memutih karena seriawan yang meluas. Ia tak mampu makan kecuali makanan yang sangat cair. Itu pun harus ditelan dengan susah payah.

Selama ini saya sulit tidur nyenyak. Mimpi buruk sering kali hadir. Saya kerap kali tidak bisa membendung tangis. Saya berhenti bersosialisasi. Padahal, kegiatan bersosialisasi seperti ini penting diikuti karena core bisnis saya adalah perhiasan premium yang menyasar pasar   kelas ekonomi tertentu. Saya seperti tidak peduli lagi terhadap bisnis perhiasan ini.

Berbeda dengan saya, suami justru lebih bisa menguasai perasaannya. Seperti adik, ia tidak banyak mengeluhkan penyakitnya. Ia berusaha untuk tetap aktif bekerja. Ketika rasa mualnya hilang, maka ia mengecek toko perhiasan kami yang kebetulan berlokasi di sebuah mal yang berada di satu area dengan apartemen kami.

Akibat kanker, dalam waktu singkat bobot suami menurun drastis. Dari baju berukuran L, ‘menciut’ menjadi ukuran XS. Lama-kelamaan keluhannya pun muncul. Untuk membesarkan hatinya, saya selalu berujar, “Kita mesti bersyukur, karena  masih bisa berobat, bahkan di tempat berobat yang  termasuk terbaik.”


Kesadaran bahwa kami lebih beruntung ini makin jelas ketika saya diminta menemani sepupu Mama dari  Bali untuk berobat kanker di Jakarta. Ia datang ketika suami baru menyelesaikan paket pengobatan kankernya. Lagi-lagi saya yang diminta bantuan untuk mengurusnya. Mungkin, karena saya dianggap pengalaman dalam membantu adik dan suami melewati masa-masa terberat dalam pengobatan kanker.

Tante saya berobat di RS Dharmais. Ia pun tinggal di rumah saya selama pengobatan. Saya tidak keberatan, karena saya merasakan bahwa bantuan sekecil apa pun yang bisa saya berikan, akan sangat berarti bagi mereka. Di RS Dharmais ini saya bisa menyaksikan betapa penyakit ini sudah meluas ke segala kalangan, dan segala usia. Hati saya paling tak tahan melihat anak-anak penderita kanker. Terbayang betapa beratnya beban orang tua mereka.
           
 
 
 

Foto: dok.pribadi

JANJI DI HADAPAN TUHAN
Seiring dengan pemulihan suami, saya mulai membenahi kehidupan kami secara perlahan-lahan. Saya mulai bergaul lagi, membuat show dan mengadakan ekshibisi untuk bisnis perhiasan kami. Penjualan mulai meningkat. Namun, harapan baru ini seolah kembali ke titik nol ketika kanker suami kambuh. Yang menyedihkan lagi, berita pahit itu saya terima menjelang ulang tahun saya. Benar-benar kado yang teramat pahit!

Namun, kegetiran ini tidak bisa saya umbar. Di hadapan suami, saya harus optimistis. “It’s okay. Ini hanya akan menjadi 5 bulan yang menyiksamu,” kata saya mencoba meringankannya. Suami kembali mengalami rasa mual, muntah, serta siksaan seriawan. Tapi, ia berusaha tabah. Pergi ke toko juga tetap dilakukannya. Hati saya kembali berbesar melihat semangat suami.

Kami kira, perjuangan hadapi kanker sudah berhenti hingga di sini. Tak tahunya, dokter mewaspadai satu titik yang tidak merespons pengobatan kanker. Ini mencurigakan, sehingga suami diminta kemo lagi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini tak ada tangis atas vonis itu. Saya cuma bilang, “Oke Dokter, kapan suami saya harus terapi. Besokkah?”

 Dokter suami sampai terheran-heran. Anehnya, suami sepertinya punya pemikiran yang sama. Begitu keluar dari ruang dokter, ia berkata, “Mom, bukannya tadi kamu mau beli kosmetik? Yuk, kita beli.” Jadilah seharian itu kami belanja, jalan-jalan, dan makan di resto favorit. Tak ada pembicaraan sedikit pun soal relaps suami.

Besoknya suami mulai menjalani terapi. Bersamaan dengan itu, ada dorongan kuat yang membuat saya ingin mengunjungi vihara.  Dalam doa kali ini, saya memberanikan diri untuk membuat kesepakatan dengan-Nya.

“Tuhan, saya bertekad bahwa terapi kanker kali ini akan berbeda dari sebelumnya. Tak akan ada air mata.  Saya akan menjalankan bisnis seperti biasa. Saya tidak akan menarik diri dari pergaulan. Saya akan tetap berkarya. Kehidupan keluarga harus berjalan seperi biasa. Anak-anak tetap harus gembira,” ungkap saya dalam doa.
 
 


Anehnya, sejak mengucapkan doa itu, saya menghadapi jadwal kemoterapi suami tak ubahnya menjalankan jadwal imunisasi untuk bayi. Jalankan saja sesuai waktunya, tidak perlu heboh. Itu sebabnya, pada kekambuhan kanker suami untuk kedua kalinya, selain keluarga dekat, nyaris tak ada yang tahu.

Saya hanya menangis sekali, yaitu ketika suami mual hebat sepulang kemoterapi. Suara suami yang berusaha memuntahkan isi perutnya ini menggema di seantero rumah. Saya jadi trauma pada saat-saat ia pertama kali menjalani kemoterapi. Pada saat ini saya akan masuk mobil, pergi ke vihara, dan menangis sejadi-jadinya selama perjalanan. Begitu sampai rumah, saya akan menyegarkan diri, mencuci rambut, seolah tidak terjadi apa-apa.

Adik saya kini sudah bisa disebut survivor. Sudah lebih dari 5 tahun kankernya tak kambuh. Cita-cita mengambil pascasarjana diurungkan. Orang tua khawatir jika berjauhan terjadi sesuatu terhadap dirinya. Ia sempat bekerja bersama saya, sebelum membangun kariernya sendiri. Kini, ia telah menjadi International Vice President Mahaka Sports Entertainment. Ia pun sudah menikah.

Terima kasih kepada Tuhan, juga telah membimbing kami mengikuti anjuran dokter untuk menyimpan sperma adik di bank sperma, sebelum terapi dimulai. Karena, kemoterapi dan radioterapi sedikit banyak dapat memengaruhi kondisi adik untuk memiliki keturunan di kemudian hari.
           
Tiga bulan yang lalu, suami saya juga selesai terapi untuk kekambuhan kedua kali. Ia sudah beraktivitas seperti biasa. Badannya mulai berisi dan bugar. Tapi, dari pemeriksaan terakhir, ternyata masih ada titik kecil kanker di tubuhnya. Kali ini saya tak mau terlalu ambil pusing. Asalkan tidak mengganggu dan membuat suami sakit, biarkan saja ‘dia’ di sana.  Suami juga berpikir sama. Yang penting, kami tetap cek rutin dan menuruti semua saran dokter.

Kini  saya bisa berkata,  seluruh rangkaian hidup saya bersama kanker merupakan bagian the best part of my life. Kanker telah mengubah keluarga kami. Hubungan kami menjadi lebih erat. Rasanya rugi jika bertengkar untuk perbedaan yang tidak prinsipil. Bukan hanya saya dan suami, anak-anak pun menjadi lebih sensitif terhadap penderitaan orang lain. Anak-anak senang berbagi bersama anak-anak penderita kanker di RS Dharmais, bahkan mengantarkannya sendiri.

Berdamai dengan kanker membuat hidup saya lebih enteng. Tak ada lagi rasa kesal dan dendam terhadap kanker yang berkali-kali menyiksa keluarga kami. Kedamaian inilah yang membuat hidup saya lebih tenang. Kini pikiran saya pun bisa lebih lepas dan kreatif. Bahkan, sakit maag akut yang saya derita sejak 15 tahun   lalu juga ikut sirna! Puji dan syukur kepada Tuhan!
 
 
Yuniarti Tanjung