Foto: Freepik

Klaster Keluarga kini mejadi salah satu klaster menyumbang kasus Covid-19 terbanyak. Tujuh persen dari pasien Covid-19 di Wisma Atlet mengaku tidak pernah keluar rumah. Ini berarti ia terinfeksi virus ini dari anggota keluarganya. Salah satunya, adalah keluarga W. Dinar Indriyana, yang kini sudah berhasil melalui masa sulit melawan Klaster Keluarga Covid-19. Dalam live takshow femina bersama Satgas Penanganan COVID-19 yang berlangsung di Facebook Femina Media, bertema Perjuangan Satu keluarga Bebas COVID-19, pada Senin (12/10), Indri dan sang adik, Hesti, berbagi cerita. 

"Saat mengetahui penciuman saya hilang, saya lagsung test PCR"
W. Dinar Indriyana (
Karyawati, Penyitas Covid-19)
 
Jika ditanya bagaimana kami tertular Covid-19, terus terang saya tidak tahu. Namun, cerita ini berawal saat bapak saya sakit dan dirawat di rumah sakit. Kami sekeluarga, saya, adik-adik, dan ibu bergantian mengantar dan menjaga Bapak. Bahkan kami sempat pindah rumah sakit. Dari ruang rawat inap biasa hingga ICU. Akhirnya, Bapak berpulang. Dinyatakan meninggal bukan karena Covid-19, banyak kerabat dan teman yang melayat, bahkan ikut menguburkan di tempat peristirahatan terakhir Bapak.

Setelah proses pemakaman berakhir, badan pun mulai terasa ‘rontok’. Rasanya seperti gejala typus. Saat itu, tidak ada pikiran kalau saya terkena Covid-19.
Yang membuat keluarga agak was-was adalah ketika salah satu adik ipar saya menjadi suspect Covid-19, karena demam tinggi dan sempat dirawat dan diisolasi. 

Jujur, waktu itu saya tidak ngeh kalau sudah terinveksi virus Covid-19. Hingga suatu hari saya memecahkan telur yang ternyata isinya busuk. Anehnya, saya tidak mencium bau sama sekali. Saat itulah saya mulai curiga terinveksi COVID-19 dan memutuskan untuk tes PCR. Tidak hanya saya, suami, ibu saya dan anggota keluarga lainnya juga melakukan test. 

Hasil tes keluar setelah tiga hari. Saya dan suami dinyatakan positif, begitu juga ibu yang tinggal beda rumah. Ibu tinggal bersama adik saya, Hesti. Syukur, hasil tes Hesti negatif. Saat itu juga saya langsung melakukan tes PCR untuk kedua anak saya Alisha Nabila (11 tahun) dan Audrey Nadhira (7 tahun). Tapi sayang, waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui hasilnya cukup lama, tujuh hari. Sedangkan saat itu, saya suami dan ibu harus mengisolasi diri di Wisma Atlet. Dengan berat hati, saya menitipkan kedua anak saya kepada Hesti.

Selama mengisolasi diri di Wisma Atlet, saya dan ibu menempati ruangan yang sama. Bersyukur, selama menjalani isolasi di Wisma Atlet, gejala yang saya alami tidak berat, bahkan penciuman saya berangsur membaik. Saya pun bisa menjalankan aktivitas normal selama di Wisma Atlet. Sebagai standar pemeriksaan, setiap pagi dan sore tekanan darah dan oksigen kami selalu dicek, begitu juga suhu tubuh. Ada lima jenis obat yang harus saya minum. Sisanya, kami harus berjemur dan olah raga.

Jika ditanya apakah saya merasa sakit, terus terang rasa itu akhirnya tidak terpikirkan. Pikiran saya lebih tersita pada kondisi suami yang lebih parah karena penyakit asma yang dideritanya. Bahkan, ia sempat dirawat di ruang HCU. Saat itu, saya hanya bisa memikirkan suami dan anak-anak yang ada di rumah. 

Tidak manusiawi kalau saya tidak mengalami stres. Terlebih lagi jika memikirkan anak saya yang berada di rumah ibu bersama Hesti. Beda dengan si kakak yang sudah lebih mengerti, cukup challenging ketika harus menjelaskan kepada si bungsu tentang keadaan saat ini. Kenapa orangtuanya harus berpisah sementara dengannya, dan mengapa sekarang ia tidak bisa bebas bermain di luar seperti dulu.

Kondisi ini juga sempat membuat si bungsu sedih dan sedikit drop hingga tidak mau melakukan sekolah di rumah atau school from home. Ada suatu saat dia minta saya berjanji “Bunda janji, Bunda jangan meninggal”.  Padahal, saat itu dia pun dinyatakan positif Covid-19.

Berada bersama Ibu di Wisma Atlet, kami saling menguatkan. Kami mencari kesibukan apapun yang menyenangkan hati untuk mengalihkan pikiran cemas. Kami semakin mendekatkan diri dengan ibadah dan kontemplasi diri. Untuk mengalihkan pikiran dan membunuh waktu, saya bersih-bersih kamar di Wisma Atlet, hingga nonton film di laptop. 

Bersyukur kondisi saya dan ibu berangsur membaik. Setelah 11 hari manjalani isolasi, saya dan Ibu dinyatakan negatif. Di hari itu juga, kami langsung diminta meninggalkan Wisma Atlet. Namun, suami masih harus menjalani perawatan hingga hari ke 14. Alhamdulillah, saat ini saya, suami, dan Ibu bisa berkumpul kembali dengan anak-anak dan Hesti dalam keadaan sehat.

Di situasi yang menyulitkan saperti ini, dukungan keluarga sangat penting. Akan sangat berarti jika lingkungan sekitar juga mendukung, dan tidak menjauhi. Mungkin informasi ini yang perlu lebih dipahami oleh masyarakat.

Walau tidak mendapat support dari lingkungan rumah, untung ada bantuan dari saudara-saudara, teman-teman kantor dan sekolah anak-anak yang peduli. Semoga keluarga lain yang mengalami Klaster Keluarga seperti saya dapat bertahan dan melewatinya.

Baca Selanjutnya: "Butuh support dari keluarga dan lingkungan"
 

Foto: Freepik
 

"Butuh support dari keluarga dan lingkungan"
 Hesti Dwi Aristiyani, Pegawai Negeri Sipil, Keluarga Penyitas Covid-19
 
Rasa sedih langsung menusuk ketika mendengar kabar kakak saya Indri, kakak ipar dan Ibu dinyatakan positif Covid-19. Terlebih lagi, kami masih dalam keadaan berduka setelah ditinggal Bapak. Sempat bertanya kepada Tuhan, “kenapa cobaan ini datang bertubi-tubi?“ 

Kekhawatiran pertama saya adalah pada Ibu. Walau ia tidak menunjukkan gejala, tapi saya tidak tahu apa nanti yang akan terjadi di Wisma Atlet. Yang kedua, adalah anak-anak kakak bagaimana? Mau tak mau, anak-anak Indri akan saya rawat. Tapi, karena saya belum berkeluarga, saya tidak memiliki pengalaman dan kurang paham merawat anak-anak dalam jangka waktu yang cukup lama.

Sambil menunggu hasil test PCR anak-anak, kami bertiga melakukan isolasi mandiri di rumah. Walau keponakan dalam status orang tanpa gejala (OTG), saya beranggapan bahwa kami bertiga negatif Covid-19.

Setelah hasilnya keluar, dan si bungsu dinyatakan positif. Saya dan Indri langsung mengedukasi mereka. Dimulai dari tidur harus terpisah. Sebelumnya kami bertiga tidur satu kamar. Yang sedikit membuat sedih adalah si adik yang tidak mau dipisah dari kakaknya. Akhirnya, jalan keluarnya adalah tidur satu kamar tapi tidak boleh satu tempat tidur. Saat bermain harus menggunakan masker. Tidak boleh tukar menukar makanan beserta peralatannya. Pertanyaan dari keponakan akhirnya muncul “kenapa harus begitu?”. 

Indri dan saya memang sepakat untuk tidak memberi tahu anak-anak, siapa diantara mereka yang positif Covid-19. Saya hanya mengatakan bahwa salah satu dari mereka ada yang terinfeksi, sehingga aturan ini harus dilakukan untuk menjaga kesehatan kita semua. Yang namanya anak kecil memang agak susah diberi tahu. Terkadang saya masih melihat mereka tidak pakai masker saat bermain. Saat itu, saya memang harus lebih sering dan sabar mengingatkan mereka.

Selama isaolasi mandiri, saya hanya keluar rumah untuk keperluan tertentu seperti berbelanja. Sangat disayangkan, saat itu lingkungan sekitar rumah kurang supportive pada keadaan kami. Bahkan saya cenderung merasa dikucilkan. Sama sekali tidak ada yang membatu untuk memberi makanan atau yang lainnya. Tapi, bersyukur ada adik saya yang paling kecil, tante, dan keluarga lainnya dari pihak Ibu dan Bapak yang suka mengirimkan makanan.

Memang sedikit stres. Tapi saya tetap berusaha terlihat senang di depan kedua keponakan agar mereka tidak khawatir. Berusaha memotovasi diri dan tetap berpikiran positif, Tuhan pasti pasti akan memberikan jalan keluar dari semua masalah-masalah ini.

Saat Indri dan Ibu selesai melakukan isolasi di Wisma Atlet, keponakan-keponakan juga dinyatakan negatif Covid-19. Senang sekali rasanya bisa melihat Ibu kembali dengan sehat, dan kakak dapat berkumpul kembali bersama keluarganya. Setelah melewati semua kepayahan itu, kini saya menjadi lebih peduli dan men-support jika ada teman atau rekan kerja yang terkena Covid-19.

Selama vaksin belum ditemukan, kebiasaan #3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan) adalah obat yang paling ampuh saat ini. Terutama buat kita yang berpergian keluar rumah. Sebab, ada keluarga di rumah yang juga menanggung risikonya. (f)


Baca Juga: 
Prof Wiku: Masyarakat Perlu Informasi yang Tepat Tentang Vaksin COVID-19
Hari Cuci Tangan Sedunia Moment Pengingat Perilaku Sehat
5 Langkah Hindari Penularan dalam Klaster Keluarga Saran dr. Reisa Brotoasmoro