
Foto: 123RF
Hanya dengan membayar 50 dolar AS, atau sekitar Rp650.000, wanita di Vietnam sudah bisa melakukan aborsi, dan tidak dilakukan diam-diam. Memang, karena legal, aborsi menjadi hal yang lazim dilakukan di Vietnam. Tiap tahun terjadi sekitar 1 juta praktik aborsi di negara berpenduduk 84 juta jiwa itu. Umumnya, bayi hasil aborsi dibuang sembarangan, dianggap sebagai limbah medis. Kenyataan inilah yang menggerakkan hati Tong Phuoc Phuc (45) untuk mengubur bayi-bayi yang tak diinginkan itu dengan layak. Tanpa pamrih, sejak tahun 2001, ia telah mengubur sekitar 10.000 bayi. Femina merangkum kisahnya dari berbagai sumber.
Sudah 10.000 Bayi
Tong Phuoc Phuc yang tinggal di Kota Nha Trang, Vietnam, sama seperti pria pada umumnya. Perawakannya sedang dengan wajah kebapakan. Dari wajahnya tersirat bahwa hidup yang ia jalani tidak mudah. Sehari-hari, Tong adalah buruh konstruksi.
Namun, perbuatannya yang sungguh mulia membuatnya berbeda dari pria mana pun di dunia ini. Ya, sejak tahun 2001 lalu, Tong dengan sukarela menguburkan bayi-bayi hasil aborsi atau yang meninggal saat dilahirkan. Hingga kini, ia telah mengubur sekitar 10.000 bayi.
Semua itu berawal ketika ia mengantarkan istrinya, Nguyen Thi Le Yen, ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan. Tiap kali mengantar sang istri, ia mengamati banyak wanita hamil yang keluar dari ruangan klinik, tanpa membawa bayi.
Butuh waktu beberapa lama bagi Tong untuk menyadari bahwa wanita-wanita hamil itu keluar dari klinik tanpa membawa bayi karena telah melakukan aborsi. Dengan diliputi rasa kecewa dan sedih, ia pun berjanji, jika persalinan istrinya yang memang sulit hamil itu berhasil, maka ia akan melakukan sesuatu: menguburkan bayi-bayi hasil aborsi.
“Di kala saya mengharapkan kelahiran seorang anak, wanita lain malah menggugurkannya. Mungkin mereka tidak sadar bahwa anak adalah anugerah yang paling berharga dari Tuhan,” tuturnya.
Setelah anak mereka lahir, tanpa malu Tong pun mengunjungi beberapa rumah sakit dan klinik bersalin. Ia menawarkan diri untuk mengubur bayi-bayi yang tidak sempat menghirup udara di dunia ini.
Makin lama, jumlah bayi yang harus dikubur pun makin banyak, seakan tak terbendung, sementara lahan sangat terbatas. Halaman belakang rumahnya yang ia jadikan sebagai kuburan, tidak sanggup lagi menampung.
Beberapa tahun kemudian, Tong membeli tanah seluas 11.000 meter persegi di dataran tinggi Hon Thom, Nha Trang, Provinsi Khanh Hoa. Uang sebesar 45 juta dong Vietnam (sekitar Rp26 juta) untuk pembelian tanah itu adalah hasil simpanannya.
Perluasan lahan pemakaman itu mesti ia lakukan, sebab ia melakukan penguburan tidak asal-asalan. Tiap bayi yang ia kubur mendapat batu nisan sendiri. “Pada tahun 2006-2007, saya menerima sekitar 30 janin hasil aborsi per hari,” ujarnya, sedih.
Tindakan Tong ini sempat dianggap aneh oleh beberapa pihak, bahkan istrinya sendiri. Apalagi, karena ia harus membeli tanah dan mengorbankan puluhan juta uang miliknya. “Mereka mengatakan saya gila, tapi saya tidak menyerah. Yang saya lakukan ini layak didapat oleh bayi-bayi yang tak berdaya itu,” katanya.
Di tanah berpemandangan indah itu Tong menyusun kuburan dengan rapi sehingga terlihat menawan, layaknya seperti sebuah taman. Didominasi oleh warna merah, pink, dan kuning. Suasananya teduh, sama seperti Tong yang tenang, menyejukkan hati. “Setidaknya mereka bisa mendapat tempat peristirahatan yang layak dan dapat didoakan banyak orang,” ujarnya.
Tong berharap, dengan adanya kuburan itu para wanita di Vietnam tersentuh hatinya untuk tidak melakukan aborsi secara sembarangan, sesulit apa pun keadaan yang dihadapi.
(Klik page di bawah untuk cerita selanjutnya)

Foto: Dok. Zing.Vn
Dirikan Panti Asuhan
Perbuatan baik Tong tersebar di seluruh penjuru Kota Nha Trang. Para wanita yang merasa telah melakukan aborsi pun kerap berkunjung di pemakaman yang dibuatnya. Mereka datang untuk memanjatkan doa.
Tak sedikit pula para wanita hamil datang kepadanya untuk berkonsultasi tentang kehamilan. Sebagian dari mereka dipaksa oleh orang tua atau mertua mereka untuk melakukan aborsi. Pada tahun 2004, Tong mulai menampung sejumlah wanita yang tidak mau melakukan aborsi di rumahnya. Tujuannya, agar dapat melahirkan anak mereka tanpa diganggu oleh keluarga.
Selain itu, sejumlah ibu datang kepadanya. Mereka meminta bantuan dan menitipkan bayi yang baru mereka lahirkan, sebab mereka tidak memiliki biaya untuk merawatnya. Tidak jarang pula ia datang menemui sejumlah wanita yang mengantre untuk melakukan aborsi di rumah sakit atau klinik.
“Saya membujuk mereka agar tidak melakukan aborsi. Beberapa dari mereka mendengar, dan saya ajak untuk tinggal di rumah saya,” ujarnya.
Sejak saat itu, Tong tidak hanya sebagai penggali kubur, tetapi ia menjadi seorang pahlawan bagi puluhan anak-anak yang ia adopsi. “Dengan segala kemampuan, saya ingin menyelamatkan nyawa mereka. Saya tidak ingin mengubur bayi-bayi tak bernyawa lebih banyak lagi,” katanya, tegas.
Tong mendirikan tempat penampungan khusus yang ia sebut Tong Phuoc Phuc Orphanage. Di panti asuhan ini, Tong membuka pintu kepada siapa pun wanita yang ingin menitipkan anaknya, atau tidak ingin melakukan aborsi.
Sebelum mengadopsi bayi, Tong mengajukan syarat kepada orang tua bayi. Yaitu, bila keuangan dan kondisi ekonomi orang tua bayi sudah lebih baik, maka mereka harus kembali mengambil sang buah hati dari asuhan Tong.
Uniknya, agar lebih mudah mengingat identitas tiap anak, nama pertama untuk tiap bayi lak-laki adalah Vinh yang berarti kehormatan, sedangkan untuk anak perempuan adalah Tam yang berarti hati. Disusul oleh nama ibu kandung tiap anak.
Hingga kini, Tong mengasuh sekitar 50 orang anak. Sebelumnya pernah mencapai 100 orang, tapi sebagian di antaranya sudah diambil kembali oleh orang tua mereka. "Tiap kali menguburkan bayi, terbayang oleh saya begitu indahnya bila mereka diberi kesempatan untuk lahir dan hidup di dunia ini. Mereka pasti bahagia, bermain dan pergi ke sekolah,” ungkapnya.
Merawat dan membesarkan puluhan anak tentu saja bukan hal mudah. Butuh biaya yang besar untuk menghidupi mereka. Dalam sebulan saja, ia membutuhkan uang sebesar 100 juta dong Vietnam (sekitar Rp50 juta) untuk membiayai wanita hamil dan anak-anak telantar.
Namun, Tong tidak menyerah. Ia cukup terbantu dengan banyaknya donasi sejumlah orang dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat. Tak selalu mengharapkan donasi, ia juga melakukan usaha lain untuk mendapatkan uang. Ia beternak babi dan ayam untuk menambah penghasilan dari pekerjaan sebagai buruh konstruksi.
Ia pun mendapat bantuan tenaga dari para wanita yang baru melahirkan dan juga wanita yang sedang hamil. Merekalah yang membantu Tong untuk mencuci, memasak, dan juga menjaga anak-anak atau bayi-bayi yang diadopsinya. Sebelumnya, ia pernah menampung sebanyak 35 wanita yang memilih untuk merawat anaknya di panti asuhan milik Tong.
Sejumlah relawan datang silih berganti untuk mengajari anak-anak usia TK, sedangkan yang lebih tua telah mendapatkan pendidikan yang layak di sekolah formal. Tidak hanya saat menjadi penggali kubur, saat mulai menampung wanita hamil dan anak-anak telantar pun ia mendapat cemooh dari masyarakat. Namun, karena niatnya baik, semangatnya tidak pernah surut. “Saya melihat cinta dan rasa syukur di mata anak-anak itu,” kata Tong, senang.
Pujian yang disampaikan oleh Presiden Vietnam (2006-2011), Nguyen Minh Triet, cukup membuat hati Tong senang. Nguyen mengatakan bahwa Tong adalah pria sejati. Di tengah ekonomi yang begitu sulit pun, Tong tetap menampung anak-anak dan juga tetap melakukan penguburan pada bayi hasil aborsi.
“Saya senang pada kegigihan yang dilakukan oleh Tong. Walau hanya sebagai buruh konstruksi, Tong melakukan kepedulian dengan pengorbanan yang besar,” puji Nguyen.
Walau Tong mengasuh puluhan anak, ia tidak membeda-bedakan kasih sayang dan cinta kepada mereka. Semua ia perlakukan seperti anaknya sendiri. Jalan-jalan ke pusat permainan anak, taman, dan ke gereja untuk beribadah adalah hal-hal yang ia lakukan bersama anak-anak asuhnya.
Pengorbanan yang dilakukan oleh Tong mendapat pengakuan dari jutaan orang dari penjuru dunia. Ia bahkan disamakan dengan Bunda Teresa, seorang biarawati Katolik Roma, pendiri Missionaries of Charity di Kalkuta, India. Semasa hidupnya, Bunda Teresa memang dikenal sebagai ‘malaikat’. Ia membantu orang-orang miskin, sakit, dan yatim piatu.
Tong telah bertekad, akan terus melakukan pekerjaan ini sampai napas terakhirnya. "Saya akan mendorong anak-anak saya untuk melanjutkan perbuatan yang sudah saya mulai untuk membantu orang kurang mampu,” katanya. Sungguh mulia hati dan perbuatan Tong! (f)