Sekujur darah di tubuhnya terkesiap menerima foto sosok dan pesan pendek di ponselnya. Hanya sekilas Rina Perdina (41) melihat sosok berlumuran darah itu, tapi ia langsung mengenalinya sebagai Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Budiono, suaminya! Sementara itu, di ruang UGD, tim medis berusaha mengembalikan jantung Budiono yang berhenti memompa. Pria itu banyak kehilangan darah!

Tiga peluru tanpa ampun menembus dada Budiono. Bersitatap dengan maut dalam jarak dekat sama sekali tak ada dalam agenda kerjanya di Kamis 14 Januari 2016 itu. Segala sesuatunya seperti berjalan dalam gerak lambat:  kekacauan yang terjadi, bunyi letusan tembakan, dan sosok teroris yang memandangnya dengan wajah dingin. Kepada femina, Rina dan Budiono mengisahkan sejarah yang menggoreskan trauma dalam kehidupan mereka itu.
 
BERSITATAP DENGAN MAUT
“Bu Rina, ini sepertinya suamimu?” Seorang teman, yang sesama istri polisi, mengirim pesan dan foto lewat jalur What’sApp (WA), Kamis (14/1), menjelang siang. Meski panik, ia langsung menelepon suaminya itu. Hanya nada panggil yang terdengar. Perasaannya makin tidak keruan. Informasi tentang rumah sakit tempat suaminya dibawa pun masih simpang siur.

Meski belum tahu akan menuju ke mana, Rina segera mengemas beberapa baju ganti dan mengajak putra bungsunya, Muhammad Fadillah Akbar (10). Ia pergi dengan diantar mobil tetangganya. Sedih dan panik ia rasakan sepanjang jalan. Tak ada firasat atau perasaan aneh, saat ia melepaskan suaminya berangkat bertugas subuh itu. Kini, ia melihat tubuh pria yang dicintainya sudah berlumuran darah.

Pagi itu, usai salat Subuh, seperti biasa, Rina melepas suaminya untuk bertugas. Paling lambat, pukul 05:15 WIB Budiono telah meninggalkan kawasan rumahnya di Munjul, Jakarta Timur. Sebab, pukul 7 pagi ia harus apel pagi di kantornya di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. “Kebiasaan ini rutin dijalaninya sejak pertama kali bertugas di Polres Jakarta Pusat, sejak 20 tahun silam. Suami berangkat selalu ontime. Karena, lebih dari waktu itu, ia akan terjebak kemacetan. Maklum, rumah kami di paling ujung timur Jakarta,” ujar Rina.

Sesampai di kantor, Budiono menyampaikan kabar kepada istrinya, bahwa hari itu ia bertugas menjadi pasukan cadangan di balai kota DKI Jakarta. Kabarnya, akan ada kerumunan massa di area tersebut. Namun, pada pukul 10:00 WIB, Budiono mendapat info bahwa terjadi ledakan di depan gedung pertokoan Sarinah, Thamrin.

Mengingat posisi yang berdekatan, Budiono bergegas ke tempat kejadian untuk mengecek lokasi sekaligus membantu pengamanan. “Memang sudah tugas kami untuk mengecek lokasi, sekaligus membantu pengamanan,” ujar pria yang telah menekuni profesinya sejak tahun 2000 ini. Saat tiba, ledakan sudah beberapa saat terjadi. Namun, info bahwa pelaku yang bersenjata masih berkeliaran belum tersampaikan. Tanpa curiga, ia memarkir motornya di samping mobil Kepala Biro Operasi Polres Jakarta Pusat yang berhenti di tengah jalan. Kunci motor belum sempat dicabut, dan helm di kepalanya masih menempel ketika seorang pelaku teroris tanpa basa-basi mendekati dirinya dan langsung melontarkan tembakan.

“Meski terhalang helm, saya dan pelaku sempat bertatapan selama beberapa detik. Wajah dan matanya benar-benar dingin,” ujar Budiono. Khawatir momen ini akan membuat teroris memberondongkan peluru lebih lanjut, ia menguatkan tubuhnya yang sebetulnya sudah limbung, berjalan menjauh. Dengan tubuh bercucuran darah dan rasa panas seperti terbakar api, Budiono berhasil menyeret tubuhnya sejauh 100 meter dari lokasi.

“Kira-kira di trotoar depan Hotel Sari Pan Pacific, saya tak kuat lagi. Saya sandarkan tubuh di pohon dekat situ. Di saat inilah ada yang melihat keadaan saya yang tertembak dan berteriak mencarikan pertolongan,” lanjutnya, bercerita. Di saat genting ini tak disangka, mobil Kepala Polres Jakarta Pusat, Komisaris Besar Heru Pandowo, melintas. “Beliau yang langsung mengenali, sehingga saya segera dilarikan ke rumah sakit,” ujar Budiono, tentang kesigapan atasannya di saat genting itu. 

Untungnya Tuhan masih melindungi Budiono. Tak satu pun dari tiga peluru yang dimuntahkan oleh teroris itu yang mengenai organ vitalnya. Namun, mengingat kembali kejadian melalui foto-foto mencekam yang beredar, ia sangat bersyukur mendapat kesempatan kedua dalam hidup. Ia bahkan merasa beruntung ditembak dalam jarak dekat, sehingga peluru langsung menembus tubuh.
“Jika sampai bersarang di badan, bisa dipastikan saya tidak akan selamat. Sebab, pecahan proyektil itu akan menghancurkan dan menginfeksi tubuh,” lanjut Budiono, penuh syukur.
 
 

 
TIGA HARI TIDAK BANGUN
“Nyawa saya seperti melayang saat melihat wajah suami yang sudah sangat pucat. Kesadarannya sudah mulai hilang karena kehilangan darah yang begitu banyak.” tutur Rina. Ia tiba tepat saat suaminya bersiap masuk ke ruang operasi. Ia paham bahwa mendampingi seorang polisi, ia harus siap dengan risiko terburuk seperti ini. Tetapi, baginya, masa-masa itu datang terlalu cepat. Bahkan, mungkin  ia tak akan pernah siap!

“Pada waktu itu saya berusaha mati-matian menahan cucuran air mata. Saya harus tegar di hadapan suami dan anak-anak. Mereka harus dikuatkan,” kenangnya, sambil menatap Budiono yang pada saat wawancara duduk bersisian dengannya.

Operasi yang dilakukan pada tengah hari itu berjalan begitu lambat. “Saat-saat itu menjadi penantian terpanjang dalam hidup saya,” ujar Rina, yang berusaha menepis bayang maut sang suami lewat untaian doa tak putus. Dua peluru menembus bagian kanan perut dan satu peluru menembus dada kanan suaminya. Bisakah suaminya bertahan?

Menjelang magrib, akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Dadanya berdebar kencang saat melihat tim medis berjalan keluar. Selamatkah dia, atau ia harus pulang berkabung duka? “Tenang Ibu. Operasi berjalan lancar.” Ucapan ketua tim dokter dari RSPAD ini berhasil mengangkat ‘sumpalan’ yang menyesaki dada dan tenggorokannya.

Dokter mengatakan bahwa peluru itu sedikit mengenai paru bagian kanan, sehingga bagian dada kanan bawah harus dijahit. Peluru juga menembus usus. Sehingga, tim medis harus melakukan operasi di bagian perut untuk memotong sekitar 4 cm bagian ususnya. “Sejauh ini kondisi Bapak cukup sehat dan kuat. Tapi, kita lihat saja perkembangannya,” ujar dokter itu, menguatkan hati Rina.
Baru kemudian Rina mengetahui, bahwa maut sempat ‘menyapa’ Budiono. Sewaktu tiba di UGD RSPAD, alat monitor detak jantung (elektrokardiografi) yang dipasangkan di tubuh Budiono sempat berubah menjadi garis lurus, diikuti nada tiiiiit panjang. Kondisi tubuh Budiono yang sudah kehilangan banyak darah agaknya jadi pemicu.

Tiga peluru yang berdesing menembus tubuhnya itu meninggalkan tiga lubang yang terus mengucurkan darah. Membuatnya kehilangan kesadaran, hingga jantungnya pun sempat berhenti berdetak. Kondisi ini membuat tim dokter kalang kabut berusaha membangkitkannya lagi dengan alat pacu jantung. Sekali, dua kali  entakan, denyut jantung belum kembali. Dokter terus mencoba. Tepat    ketiga kalinya, monitor denyut jantung kembali menampilkan grafik. Mukjizat ilahi membawa Budiono kembali!

Namun, kegentaran kembali merajai Rina saat suaminya itu tidak kunjung membuka mata setelah operasi. Rupanya, tim dokter RSPAD berkeputusan untuk ‘menidurkan’ Budiono selama beberapa hari sebagai bagian dari upaya pemulihan. “Harapannya, dengan cara ini suami saya bisa beristirahat tanpa gangguan,” terang Rina, tentang keputusan dokter waktu itu.

Peluru memang hanya sedikit mencederai paru-paru kanan Budiono, tapi dada kanannya harus dijahit sepanjang 10 cm untuk menutup lukanya. Sementara itu dokter harus melakukan 18 jahitan untuk menutup luka setelah pemotongan ususnya. Jahitan ini membujur sepanjang 20 cm dari garis perut atas hingga ke bawah. Namun, yang paling dikhawatirkan saat itu adalah trauma penembakan jarak dekat yang akan dialami oleh Budiono. Sehingga, membuat tubuhnya berada dalam ketenangan sangat membantu proses pemulihan.
           
Di hari keempat setelah operasi, tepatnya Minggu, 17 Januari 2016, baru pelan-pelan Budiono dapat membuka matanya. “Bahagia tak terhingga saya bisa kembali melihat wajah istri dan kedua anak saya, Nur Fitri Azzahra (14) dan Fadil. Mereka penyemangat hidup saya. Mereka pula sumber kekuatan saya untuk terus bertahan dalam tugas dan menjalankan amanah sebagai polisi,” ujar Budiono, dengan mata berkaca-kaca.
           
Menurut Rina, masa pemulihan kondisi tubuh suaminya terhitung cepat. Suaminya hanya menjalani rawat inap di rumah sakit selama 12 hari. Setelah itu mereka diminta kontrol seminggu sekali. Luka jahitan menutup dengan cepat tanpa infeksi. Suaminya sempat mengalami kesulitan napas dan batuk yang mengeluarkan darah, tapi tidak mengkhawatirkan. “Darah yang ikut keluar bersama dahak itu merupakan darah sisa operasi. Bukan akibat infeksi,” jelas Rina, mengulang penjelasan dokter.

Dalam masa pemulihan, Rina sering memanjakan suaminya dengan olahan ikan gabus atau ikan patin yang direbus atau dipindang. “Ikan ini disarankan banyak orang karena memiliki lemak baik dan protein yang sangat bagus untuk pemulihan luka. Dan ternyata benar,” ungkap Rina, yang ingin agar pria yang dicintainya itu lekas pulih.
 
 

 
MELANJUTKAN HIDUP
Sudah 1,5 bulan Budiono beristirahat. Tiga lubang di bagian punggung yang ditembus peluru sudah tertutup sempurna. Luka jahitan di perut dan dadanya pun telah mengering. “Saya seperti diberi hidup baru,” ujar Budiono. Musibah ini bahkan membuatnya berhenti merokok. Sebelumnya, ia bisa menghabiskan tiga bungkus rokok sehari.

“Sempat mencoba, tapi asap rokok itu membuat napas saya tidak nyaman. Mudah-mudahan seterusnya saya tidak tergoda lagi merokok,” harapnya, sungguh-sungguh. Tentang bobot tubuh yang melorot nyaris 10 kg, Budiono malah mensyukurinya. “Jadi tidak buncit lagi. Tubuh rasanya lebih ringan. Saya akan berusaha untuk mempertahankannya,” ujarnya senang. Tak hanya itu, mulai dari pimpinan POLRI, tim dokter di RSPAD, hingga teman-teman yang sewaktu ia sekolah dulu lama tak bersua, memberikan perhatian mereka kepada keluarganya.

Komitmen dan keberanian Budiono dalam menjalankan tugas baru-baru ini menuai penghargaan pin emas dan kenaikan pangkat luar biasa dari Kepolisian Republik Indonesia. Dari pangkat semula Aiptu, kini Budiono menjadi Ajun Inspektur Dua (Aipda). “Ini berkah luar biasa bagi keluarga kami. Karena kenaikan pangkat itu tidak mudah,” ujarnya, penuh syukur.

Saat ini, kantornya memberikan cuti tanpa batas untuk proses pemulihan. Namun, pria itu berharap bisa kembali bertugas di bulan Maret. “Saya kangen dengan kesibukan pekerjaan,” ujarnya, tertawa. Bagaimana dengan trauma psikis, apakah kejadian tragis itu membuatnya kapok?

“Tidak,” jawab Budiono, tegas. Sejak pendidikan sebagai bintara Polri di Mojokerto tahun 1993, ia sudah menyadari inilah risiko sebagai penegak hukum. “Risiko dalam bertugas itu tidak ada yang manis. Ibarat berjalan dengan rumah sakit di sisi kanan, dan kuburan di sisi kiri,” ujarnya, bertekad untuk lebih waspada di kemudian hari.
 
 


Ia juga bersyukur bahwa peristiwa itu  tidak membuat keluarganya trauma dan menjadi paranoid akan tugasnya sebagai polisi. Sebaliknya, peristiwa ini malah memacu anak bungsunya, Fadil, yang baru duduk di kelas III SD, untuk menjadi polisi juga. “Saya ingin tangkap penjahat, seperti Bapak,” ujar Budiono, mengulang ucapan putranya yang penuh dengan kebanggaan itu. Sebagai orang tua, ia menyerahkan pilihan karier sepenuhnya kepada anaknya.

Ia pun memilih profesi sebagai polisi juga karena terinspirasi dari sang ayah, yang menjadi polisi di kesatuan Brigade Mobil (Brimob). “Pakaian seragam polisi yang gagah serta sosoknya yang melayani dan mengayomi, membuat saya tertarik,” ujar Budiono, yang merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara.

“Saya ingat ayah saya selalu berpesan: jadilah polisi yang membantu rakyat kecil. Pesan ini yang selalu saya pegang,” katanya, yakin.
Menjadi polisi, ia juga harus bersiap dengan jam kerja yang panjang. Jam kerja pasti lewat dari 8 jam. Juga ada jadwal piket 24 jam yang terbagi dalam 4 shift. Sehingga, libur belum tentu di akhir pekan. Mengingat ritme kesibukannya, tak berlebihan bila sejak menikah pada 6 Januari 2000, ia berharap Rina menjadi ibu rumah tangga. “Bukan karena gaji saya berlebih, tapi saya ingin anak-anak memiliki sosok yang bisa menemani mereka  tiap saat,” katanya.
           
Sebagai istri dari seorang polisi, Rina selalu berusaha untuk mencukupkan diri dengan pendapatan sang suami. Ia tidak malu mengakui bahwa sebagian besar perabot di rumahnya adalah hasil dari mengkredit. Barang termewah adalah dua motor, yang juga hasil dari mengkredit. “Satu dibawa oleh suami, satu lagi untuk mobilitas saya di rumah. Yang satu sudah lunas, sementara yang lain masih kredit,” ujar Rina, yang menerima pesanan kue untuk tambal sulam kebutuhan.

Rina tidak pernah berkecil hati dengan ekonomi keluarganya. Sebagai anak ke-4 dari 5 bersaudara, Rina pun dibesarkan dalam keluarga militer yang sederhana. Bapaknya yang bertugas di TNI AD menanamkan kejujuran dalam bersikap. Dua sikap ini pula yang kemudian membuatnya jatuh cinta pada sosok Budiono, yang tidak pernah bertindak aneh-aneh.

Mendengar ini, Budiono tersenyum. Sejurus kemudian ia berujar. “Saya selalu ingat pesan Bapak. ‘Lihatlah ke atas hanya kepada Tuhan. Jadilah polisi apa adanya,’” tegas Budiono, yang di lingkungan tinggalnya dipercaya sebagai ketua RT. “Kehidupan sederhana justru mendekatkan hubungan saya dan keluarga. Ini yang menjadi harta terbesar saya,” ujarnya, tersenyum. (f)
 

Yuniarti Tanjung