Foto: Lucas Jackson (Reuters), SBS.com.au 


September 2016 lalu, Reshma Qureshi (19) dari India membuka pergelaran busana untuk desainer Archana Kochhar di ajang New York Fashion Week (NYFW). Ia berjalan di catwalk dengan penuh percaya diri. Siapa sangka, dua tahun sebelumnya ia tak berani bertemu orang karena wajahnya rusak parah akibat siraman air keras. Reshma kehilangan satu mata dan separuh wajahnya melepuh karena peristiwa itu. Ia pernah berada di titik terendah hingga terpikir untuk bunuh diri. Kini, sebagai duta Make Love Not Scars, Reshma menemukan tujuan hidup baru yang memberdayakan.
 
DENDAM KAKAK IPAR
Peristiwa nahas yang menimpa Reshma terjadi pada 19 Mei 2014. Saat itu Reshma dan kakak perempuannya, Gulshan, menaiki kereta dari tempat tinggal mereka di Mumbai menuju Allahabad di Uttar Pradesh. Reshma akan menjalani ujian studi komprehensif Alquran. Sesampainya di stasiun, tiga laki-laki mencegat mereka. Salah satunya, suami Gulshan yang kerap melayangkan kekerasan fisik pada istrinya.

Tak tahan lagi menerima siksaan suaminya, setahun lalu Gulshan memilih untuk meninggalkan pria bengis itu dengan membawa serta putri mereka yang masih berusia dua tahun. Sementara putra sulung mereka, terpaksa tinggal karena tidak diperbolehkan oleh suaminya. Tak ingin kedua anaknya tumbuh dalam bayang trauma dan ketakutan akibat tindakan kekerasan suaminya, Gulshan mengajukan permohonan cerai ke pengadilan. Hal ini memicu api kemarahan dan dendam di hati suaminya.

Melihat botol di tangan sang suami, Gulshan langsung menyadari bahaya yang mengincar dirinya dan sang adik. Ia pun berusaha merebut botol berisi cairan air  keras itu dari tangan sang suami, hingga muncratan air keras mengenai tangan dan punggung Gulshan. Di tengah rasa kesakitan itu Reshma masih mendengar kakaknya menyuruhnya berlari menyelamatkan diri.

Namun, upaya itu dicegah oleh dua laki-laki teman kakak iparnya. Dengan kuat mereka menarik rambut panjangnya, mendorongnya hingga jatuh, dan menyiramkan air keras ke wajah Reshma, sebelum akhirnya kabur. Tinggallah Reshma dengan separuh wajah melepuh, berteriak kesakitan oleh sengatan panas air keras yang membakar kulit dan daging di wajahnya.

“Saat itu saya tak paham apa yang terjadi. Yang saya tahu, sakitnya sungguh tak tertahankan sampai ingin mati saja. Saya dan kakak berteriak-teriak minta tolong. Banyak orang melihat peristiwa itu, tapi tak satu pun yang tergerak membantu. Mereka hanya diam memandangi kami,” kenang Reshma, pahit.

Rasanya waktu berlalu begitu lama sampai akhirnya seorang pria datang dan mengantarkan kakak beradik itu dengan motornya. Luka bakar Reshma baru ditangani berjam-jam setelah kejadian. Ia diperiksa dahulu oleh dokter lokal, baru dibawa ke rumah sakit  besar. Ia juga harus meladeni pertanyaan-pertanyaan dari polisi.

“Saya gemetar kesakitan. Di rumah sakit, wajah saya sudah membengkak. Saya kehilangan mata kiri. Berhari-hari saya tidak bisa tidur. Kelopak mata kanan saya tertarik kencang hingga saya tak bisa memejamkan mata. Inilah hari-hari terburuk yang menghantui saya begitu lama,” cerita Reshma, membuka trauma lamanya.
 
WAJAH BARU
Reshma Banoo Qureshi adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya seorang sopir taksi. Reshma adalah kesayangan keluarga. Ia ceria dan ceriwis. Sejak dulu, ia gemar berdandan. Sebelum tragedi air keras ini menimpa Reshma, ia baru saja meluruskan rambut dan membeli kosmetik karena tak lama lagi ia ingin menghadiri pesta perkawinan kerabatnya.

Namun, kenyataannya jauh berbeda. Bukannya bersenang-senang di pesta, Reshma harus terbaring di rumah sakit selama dua bulan. Ia juga menjalani serangkaian operasi, termasuk pengangkatan kelopak mata kiri yang meleleh dan perbaikan struktur mulut. Bukan hanya Reshma yang tersiksa, keluarganya juga amat terpukul. Ibunya pingsan ketika pertama kali melihat wajah Reshma yang rusak.

“Bangsal luka bakar di rumah sakit itu bagai neraka dunia. Tiap saat, penderita luka bakar dibawa masuk dan keluar. Tempat itu tidak cocok untuk gadis belia seperti Reshma,” tutur sang ibu. Kakak laki-lakinya berkomentar, “Mantan ipar saya yang melakukan hal ini tahu bahwa Reshma adalah kesayangan keluarga. Ia sadar, menyakiti Reshma berarti mematahkan hati seluruh keluarga kami.”

Belum selesai mengelola rasa duka, keluarga sederhana yang mengandalkan pemasukan dari sopir taksi itu harus menghadapi biaya pengobatan yang membengkak. Sebenarnya, pemerintah India memiliki peraturan untuk memberikan kompensasi pada penyintas penyiraman air keras sebesar Rs 3 Lakh atau sekitar Rp60.000.000. Namun, kompensasi yang dituntut keluarga Reshma tak kunjung turun. Mereka terpaksa berutang ke sana kemari untuk membayar biaya rumah sakit  dan operasi.

Jumlah kasus penyiraman air keras di India memang tinggi. Menurut Kementerian Dalam Negeri India, sejumlah 309 kasus dilaporkan pada tahun 2014. Namun, angka ini diperkirakan masih jauh dari sebenarnya, yakni sekitar 1.000-1.500 kasus per tahun. Pelakunya rata-rata pria, sementara targetnya wanita. Dari urusan cinta ditolak, suami yang merasa diabaikan, sampai perselisihan antarkeluarga, wanita kerap menjadi sasaran kemarahan dan balas dendam.

Wajah wanita menjadi incaran karena, walaupun mungkin kerusakannya tidak mematikan, wajah yang rusak adalah pukulan berat bagi wanita. Tujuan utama para pelaku adalah menghancurkan kepercayaan diri targetnya sehingga tak berani bersosialisasi dan membuat keluarganya ikut menanggung beban serta malu.  

Reshma yang menghabiskan waktu lama di rumah sakit, menjalani operasi berkali-kali dan mengetahui keluarganya tak punya biaya untuk membayar, berada di titik terendah hidupnya. Ia depresi berat. “Saya merasa ingin mati. Emosi saya saat itu benar-benar parah. Saya benci pada semua orang,” ungkapnya. Berkali-kali ia bertanya, “Tuhan, mengapa hal ini terjadi pada saya?”

Merasa hidupnya tak lagi berguna, ia sempat beberapa kali melakukan usaha bunuh diri. Kedua orang tuanya harus berjaga sepanjang malam untuk memastikan bahwa putri kesayangan mereka itu tidak melukai diri sendiri. Di saat inilah, Reshma berkenalan dengan Ria Sharma, pendiri NGO Make Love Not Scars, yang memelopori gerakan #EndAcidSale di India.

Dari Ria, ia belajar bahwa organisasi ini berjuang mendesak pemerintah untuk menghentikan penjualan bebas air keras. Hingga kasus yang menimpa Reshma tidak terulang lagi pada wanita-wanita India lainnya. Di saat yang sama, Ria juga mengadakan penggalangan dana untuk biaya rumah sakit Reshma serta mencarikannya pengacara.

“Sebelum mengalami tragedi ini, saya tak pernah mendengar soal kasus penyerangan dengan air keras,” ujar Reshma. Kepadanya, Ria menunjukkan foto-foto para penyintas lainnya dengan kondisi yang lebih parah darinya. Melihat ini, kesadaran diri Reshma tersentak. Saat itu juga ia memutuskan untuk berjuang dan melakukan sesuatu bagi mereka.

“Hidup ini terlalu indah, karena itu jangan menyerah,” tutur Reshma, mengulangi kata-kata Ria yang berhasil membangkitkan semangatnya. “Saya setuju dengannya,” tegas  Reshma, yang secara perlahan mulai membangun lagi kepercayaan dan konsep dirinya yang sempat luluh lantak.
 
 
 
 
MENJEJAK NEW YORK
Dorongan spirit dari Ria menjadi titik balik kehidupan Reshma. Bila sebelumnya ia tak berani keluar rumah –kecuali untuk memeriksakan diri ke dokter—kini ia menemukan keberanian lagi. Dulu, ia menutupi wajahnya karena takut akan pandangan orang lain. Sekarang ia tak takut atau malu lagi. Si pelaku kejahatan yang seharusnya malu, bukan Reshma.
Reshma juga dijadikan duta untuk kampanye #EndAcidSale untuk meningkatkan kesadaran publik. Uniknya, kampanye ini menggunakan iklan layanan masyarakat berupa video pendek kiat kecantikan. Pada satu episode, Reshma mengajarkan cara memulas lipstik, lalu berkata, “Memakai lipstik memang mudah, semudah membeli air keras. Karena itu, tiap hari ada satu korban penyerangan air keras.”

Di episode lain, Reshma memberikan kiat mengaplikaskan eye liner, lalu berkata, “Eye liner bisa dibeli dengan harga 100 rupee, tetapi air keras hanya 30 rupee.” Melalui semua tayangan ini Reshma mengajak penonton untuk menandatangani petisi yang menghentikan penjualan bebas air keras.

Video-video  ini menjadi viral, ditonton jutaan orang dan bahkan mendapat penghargaan Glass Lion dan dua Grand Prix di ajang Cannes Lions International Festival of Creativity 2016 di Prancis. Namun, highlight perjuangan Reshma adalah saat ia berjalan di runway New York Fashion Week. Ia sangat girang! Seumur-umur, ia tak pernah bermimpi untuk datang ke Amerika dan berjalan sebagai model di panggung besar fashion dunia!

Meski tak pernah memiliki latar belakang peragawati,  hari itu Reshma melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri di atas gelaran karpet New York Fashion Week. Sepanggung dengan para model kenamaan dunia dan terlihat bersinar dalam gaun rancangan desainer asal India, Archana Kochhar. Tepuk tangan dan apresiasi para tamu ikut membuat semangatnya membara. Baginya,  tiap langkah mewakili perjuangan besarnya menaklukkan rasa takut dan traumanya untuk melanjutkan hidup.

“Kesempatan ini sangat berarti karena banyak sekali gadis penyintas seperti saya. Saya harap, kemunculan saya di atas panggung bisa menginspirasi serta membangkitkan harapan, keberanian dan kepercayaan diri mereka,” doa Reshma bagi para penyintas yang lain. Seperti dirinya, ia berharap   mereka juga bisa melanjutkan hidup, meraih masa depan dengan lebih optimistis.

Kemunculan Reshma tentu menarik perhatian pers. Wajah dan cerita Reshma pun muncul di berbagai media internasional. Menjadi inspirasi hidup bagi banyak orang untuk menghentikan segala bentuk kekerasan, dan mulai menebarkan kasih bagi sesama. “Saya menyadari bahwa kecantikan bukan sekadar apa yang terlihat di cermin. Lebih utama lagi, kecantikan adalah apa yang memancar dari hati. Kita seharusnya melihat semua orang melalui ‘mata’ yang sama,” tutur Reshma.

Kini, Reshma masih terus menjalani hidupnya sebagai penyintas dan aktivis #EndAcidSale. Masih banyak sekali pekerjaan yang harus mereka lakukan. Kasus Reshma sendiri belum selesai. Mantan iparnya sudah ditahan, tetapi dua pelaku lainnya masih buron. Persidangannya pun tertunda-tunda terus, walau Reshma sudah diwakili oleh seorang pengacara. Reshma ingin ketiga pelaku dihukum seberat-beratnya.

Meskipun kasusnya masih belum tuntas,  Reshma hari ini telah berbeda jauh dari dua tahun lalu. Ia tak lagi meratapi nasib dan bahkan berani bermimpi. Impian besarnya sekarang adalah menjadi seperti mentornya, Ria Sharma. “Saya ingin bekerja seperti Ria. Saya ingin berjuang demi penyintas serangan air keras lainnya dan menyemangati mereka agar pantang menyerah.”

Reshma paham,  tidak mudah menjadi sosok yang berjuang di tengah budaya patriarkat yang masih melanggengkan kekerasan pada wanita, seperti di negaranya. Namun, tekadnya sudah bulat dan ia yakin bahwa bersama-sama dengan para wanita dan pria lainnya yang sevisi, mereka bisa melakukannya. “Kita semua bisa menemukan kebahagiaan. Bagi saya, kebahagiaan sejati baru didapat bila kita berbuat sesuatu untuk orang lain,” tegasnya.(f)
 
Eyi Puspita (Kontributor – Jakarta)