Foto: Instagram/ @QandeelBalochQuebee

Akhir Pekan yang Mencekam
Setelah kerap menerima ancaman pembunuhan, bintang media sosial Pakistan, Qandeel Baloch (26) akhirnya menemui ajalnya di tangan saudara kandungnya, Waseem Azeem pada Jumat (15/7) lalu.

Qandeel dicekik saat sedang tidur di rumahnya di Multan, dan orang tua mereka juga sedang berada di rumah itu. Malam itu, Waseem membius Qandeel sebelum membunuhnya. “Tak ada penyesalan,” kata Waseem kepada media dalam konferensi pers setelah ia ditangkap oleh polisi Minggu (17/7) lalu. Ia mengaku membunuh Qandeel sendirian, karena menurutnya, perilaku gadis itu sudah tidak bisa ditolerir lagi.

Pemicu kemarahan Waseem adalah foto dan video-video provokatif yang diunggah oleh Qandeel, terutama di Facebooknya. Sebagai bintang di media sosial, Qandeel memiliki lebih dari 800 ribu fans di Facebook dan 40 ribu pengikut di Twitter.  Ia dengan gamblang menantang publik Pakistan yang masih konservatif dengan berbagai pose yang dianggap vulgar. Tapi tak semua mencibir, sebagian warga Pakistan mengagumi keberanian dan kemandiriannya.

Hasan Zaidi, sineas dan kritikus media di Pakistan mengatakan pada Al Jazeera, Qandeel mungkin adalah selebritas internet wanita pertama di Pakistan. Nama Qandeel kerap disebut-sebut sebagai Kim Kardashian-nya Pakistan. “Masih banyak masyarakat Pakistan yang belum bisa menerima sosok seorang wanita yang berani menampilkan seksualitasnya di depan publik,” kata Zaidi.

Dalam sebuah foto yang dilansir oleh AFP, tampak ibunda Qandeel sedang menangisi jenazah putrinya. Duka keluarga itu juga disampaikan oleh sang ayah, Mohammad Azeem. “Qandeel adalah tulang punggung keluarga kami, ia menafkahi keluarga ini, termasuk putra saya yang membunuhnya.” Sang ayah juga menyatakan, ia ingin putranya dihukum atas perbuatannya.

Banyak orang di Pakistan menyalahkan kematian Qandeel akibat perilakunya yang provokatif, namun salah satu aktivis Aurat Foundation, Benazir Jatoi berpendapat lain, “Gaya hidup Qandeel adalah persoalan pribadinya, itu tidak relevan. Kasus Qandeel adalah gambaran kehidupan ribuan wanita Pakistan lainnya yang dibunuh karena masyarakat telah memberikan kekuasaan kepada pria,” katanya pada AFP. Menurut Benazir, bukan hanya hukum yang harus diperkuat, tapi juga perilaku sosial masyarakat Pakistan harus dievaluasi ulang.

Selanjutnya: Fauzia, Si Gadis Pemimpi
 
 


Fauzia, Si Gadis Pemimpi
Qandeel lahir dari keluarga pekerja miskin yang konservatif di Punjab dengan nama Fauzia Azeem. Ia mengaku pergi dari rumah untuk mengejar impiannya menjadi bintang. Gagal menembus industri hiburan di Pakistan, ia beralih mencari perhatian publik lewat media sosial. Dalam wawancara dengan BBC, ia mengatakan dirinya sadar telah melewati batas perilaku yang bisa diterima di Pakistan. “Saya tahu telah mengeksploitasi kebebasan yang diberikan oleh orang tua saya, tapi sekarang sudah terlambat.”

Sebelum ia wafat, gadis ambisius itu terus-menerus menarik perhatian publik. Juni lalu, Qandeel mengunggah foto dirinya bersama ulama terkenal Mufti Abdul Qavi di akun instagramnya dan membuat heboh media sosial. Skandal foto itu menyebabkan Mufti dipecat dari jabatannya sebagai anggota komite sidang isbat penentuan puasa jelang bulan Ramadan lalu.

Setelah itu, sebuah media lokal melaporkan skandal Qandeel dengan pria yang mengaku sebagai mantan suaminya dan memiliki satu putra. Mereka bercerai karena pria itu tak bisa memenuhi permintaannya untuk memberikan rumah dan mobil mewah. Qandeel hanya merespons berita itu dengan mengatakan, dirinya adalah korban kekerasan dalam rumah tangga.

Dalam salah satu tweetnya, Qandeel menulis: “Saya akan berjuang dan takkan menyerah. Saya akan meraih mimpi dan tidak ada yang bisa menghentikan saya.”

Berita wafatnya Qandeel memicu kemarahan publik Pakistan yang mengutuk pembunuhan keji tersebut. Tidak sedikit yang memujinya atas keberaniannya mendobrak batasan demi meraih impiannya.

Selanjutnya: Pembunuh yang Kebal Hukum
 
 


Pembunuh yang Kebal Hukum
Kematian Qandeel membuat Pakistan kembali disorot. Pembunuhan atas nama kehormatan atau honor killing terjadi setiap tahun terhadap ratusan wanita Pakistan. Mereka tewas di tangan anggota keluarga yang berang atas perilaku yang dianggap merusak reputasi keluarga.

Perdana Menteri Nawaz Sharif berjanji akan memperkuat hukum untuk mencegah pembunuhan dengan alasan kehormatan keluarga itu. Namun, hingga saat ini sepertinya belum ada langkah konkret yang diambil pemerintah Pakistan.

Menurut Syeda Sughra Imam, mantan senator dari Punjab yang mendorong peraturan untuk melawan praktik itu, dalam banyak kasus, honor killing terjadi dalam lingkup keluarga. Orang yang mengadukan kasus dan si tertuduh pembunuh berasal dari keluarga yang sama dan mereka saling memaafkan. “Tidak ada pelaku pembunuhan yang diproses secara hukum,” kata Syeda.

Yang lebih mengerikan, belum lagi pulih dari trauma, para penyintas honor killing kerap masih harus menghadapi paksaan untuk memaafkan keluarga mereka atas upaya pembunuhan atau ditekan untuk bersaksi sesuai keinginan keluarga.

Syeda mengajukan penghapusan ‘klausa pemaafan’ yang ada dalam hukum Pakistan. Klausa itu memberikan kesempatan pada keluarga yang melakukan honor killing untuk melakukan kesepakatan finansial atau jika korbannya selamat, ia akan diminta memaafkan anggota keluarga yang berusaha membunuhnya. Aturan itu muncul pada tahun 1990, dua tahun setelah kematian Presiden Zia Ul Haq, pemerintah Pakistan memperkenalkan Qisas (uang darah) dan Diyat (retribusi) yang memungkinkan pembunuh lepas dari ancaman hukuman penjara dengan meminta maaf dari keluarga korban. Aturan yang kerap dimanfaatkan dalam kasus honor killing.

 “Pembunuhan yang pelakunya mendapat kekebalan hukum ini harus dihentikan,” kata Syeda seperti yang dilansir oleh AFP.

“Sedikit sekali pelaku honor killing yang berhasil diseret ke meja hijau, terlalu banyak tekanan dari kepala suku dan bahkan dari internal keluarga itu sendiri. Paling hanya satu dari selusin kasus yang berhasil sampai ke pengadilan,” kata Farida Hashmat, seorang pengacara kepada The New York Times.

Aktivis hak asasi manusia di Pakistan masih terus berjuang menekan pemerintah untuk menghentikan upaya honor killing yang banyak terjadi pada wanita yang melarikan diri dari pernikahan atau memiliki hubungan di luar nikah. Namun, jumlah korban honor killing terus meningkat. Tahun 2014, ada lebih dari 700 wanita tewas karena honor killing menurut catatan Aurat Foundation, sebuah kelompok advokasi hak-hak wanita di Pakistan. Sedangkan Kementerian Hukum Pakistan mencatat ada 933 kasus di 2015.

Pola kejahatan pembunuhan demi kehormatan itu berakar dari norma-norma sosial suku yang tersebar di Asia Selatan dan korbannya kebanyakan wanita.  Di daerah pedesaan di Pakistan, masih ada tradisi karo kari, para tuan tanah dan kepala suku berkumpul jika ada pasangan yang melarikan diri atau ditemukan memiliki hubungan rahasia. Rapat itu akan memutuskan pasangan tersebut akan dihukum mati. Pasangan tadi akan diburu dan dibunuh. Para kepala suku itu memiliki pengaruh politik yang sangat luas dan biasanya lepas dari jerat hukum.

Namun, praktik pembunuhan yang mengerikan itu tidak terbatas di daerah pedesaan atau pelosok. Salah satu kasus honor killing yang terkenal di Pakistan adalah kasus Samia Sarwar di tahun 1999. Samia berasal dari keluarga terhormat dan ingin menceraikan suaminya. Ia tewas ditembak di kantor pengacaranya, Hina Jilani,di Lahore.

Tragedi honor killing sempat menjadi sorotan dunia, saat sineas Pakistan, Sharmeen Obaid Chinoy, mengangkatnya dalam film dokumenter A Girl in The River yang memenangi Piala Oscar. “Para pelaku pembunuhan ini harus mendapat sanksi berat. Mudah sekali menghilangkan nyawa wanita di negara ini—dan pelakunya bisa melenggang santai tanpa beban,” tutur Sharmeen sedih. (f)