Foto: @4hour.kairosworks Wardrobe: Shannuel& Nicholas (@gingersnapindo)
 
 
Cinta Pandangan Pertama
 
Tidak butuh waktu lama bagi pria yang akrab dipanggil Justin ini untuk yakin bahwa wanita yang tergabung dalam manajemen artis yang sama dengannya itu adalah ‘the one’. “Cinta pada pandangan pertama,” katanya bangga, seraya tersenyum semringah mengenang pertemuan pertama mereka tahun 2011.
 
Lucunya, ternyata tidak bagi Tiffany, wanita bertubuh mungil jebolan Indonesian Idol yang juga MC ini. Ia tidak tahu siapa Justin, yang kala itu baru memulai karier sebagai seorang presenter.
 
Foto-foto keluarga kecil penuh senyum dan tawa meramaikan lini masa Instagram @jevierjustin dan @tiff.justin milik presenter Jevier Justin (31) dan istrinya, Tiffany Orie (29). Deretan foto itu membuat semua orang yang melihatnya ikut senang melihat kebahagiaan yang dipancarkan keluarga mungil tersebut.
 
Namun, siapa sangka, di balik senyum lebar dari keluarga kecil yang menjadi panutan banyak keluarga ini tersimpan begitu besar tantangan yang harus dihadapi. Shannuel Fevory Justin (2), anak sulung mereka, mengidap cerebral palsy.
 
Belum tuntas mencurahkan perhatian untuk kesembuhan sang putri, hadir si bungsu pencuri perhatian, Nicholas Justin (1). Walau diakui keduanya tak mudah menghadapi tantangan ini, mereka yakin bahwa kedua anak mereka adalah hadiah paling indah yang diberikan Tuhan.

Tak ada kesan menarik, kendati mereka beberapa kali saling bertukar tatap tanpa sapa.
 
“Bahkan, awalnya saya tidak mau terlalu dekat dengan dia, walau saya sadar dia berusaha beberapa kali mendekati saya,” cerita Tiffany.
 
Beberapa kali Justin mengajak Tiffany untuk bertemu, yang selalu berujung gagal karena berbagai macam alasan. “Saya bohongin terus. Saya bilang enggak bisa karena ada kuliah, atau karena ada kegiatan kampus, dan lain sebagainya,” ujar Tiffany terkekeh, mengingat masa lalunya.
 
Namun, yang namanya cinta tentu ada saja jalan terbuka yang membuat Justin terus berusaha mengambil hati pujaan hatinya tersebut. Berbagai cara dilakukan pria jangkung ini untuk mendekatkan diri dengan Tiffany.
 
“Sampai-sampai saya enggak bisa bohong lagi untuk menolak bertemu dia,” ujar Tiffany.
 
Lewat pesan singkat ia setuju untuk bertemu dengan Justin. Tapi, Tiffany memberikan alamat rumah yang tidak lengkap. Ia juga mengatakan, di rumahnya ada ayah, ibu, dan adik-adiknya, dengan harapan, Justin akan segan menghampiri dan menggagalkan niat untuk bertemu.
 
Namun, siapa sangka, dalam waktu satu jam saja Justin sudah tiba di depan rumah Tiffany.
 
“Dengan sopan dan rapinya, ia sampai di rumah. Bertemu dengan orang tua saya sambil membawa ‘sogokan’ buah-buahan, dan pamit untuk ajak saya ke luar rumah,” papar Tiffany.
 
Hal yang lebih mengejutkan lagi, pertama kali keduanya bertemu, Justin langsung membawa wanita yang ditaksirnya itu ke rumah dan mengenalkan kepada ibundanya. Padahal, diakui Tiffany, dalam perjalanan di mobil, keduanya tak banyak bicara dan belum dekat.
 
“Apa yang dia lakukan saat itu seperti bypass semua proses pendekatan dalam membangun hubungan yang biasanya butuh waktu. Saya langsung tahu, dia tidak main-main. Apalagi, zaman sekarang mana ada, sih, pria yang pertama kali ketemu mau langsung mempertemukan dengan orang tuanya?” ujar Tiffany.
 
Ketika ditanya mengapa Justin punya keberanian untuk langsung memperkenalkan Tiffany kepada ibunya, ia menjawabnya serius. “Dari awal saya tahu bahwa she’s the one. Dan saya tidak mau lama-lama, karena saat itu saya sudah membayangkan bahwa dia akan jadi istri saya,” tutur Justin.
 
 


 
Anak Istimewa Jadi Penguat
 

Tiga tahun pacaran, Justin dan Tiffany akhirnya berjanji sehidup semati dalam suka dan duka di atas mimbar pernikahan pada Februari 2015 lalu. Hanya berselang tiga bulan setelah menikah, Tiffany langsung menyadari bahwa dirinya tengah hamil anak pertama mereka. Di momen inilah jalan hidup pasangan ini berubah.

Putri pertama yang lahir pada 9 Januari 2016 dan diberi nama Shannuel Fevory Justin ini didiagnosis mengidap cerebral palsy, gangguan pada gerakan, otot, dan saraf yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak. Paling sering terjadi sebelum kelahiran.
 
“Saat itu perasaan kami campur aduk. Apalagi Shane adalah anak pertama dan di keluarga kami berdua ia juga adalah cucu pertama,” ujar Justin.  
 
Sementara di sisi lain, Tiffany sebagai seorang ibu sempat terjebak dalam perasaan bersalah. Menganggap bahwa apa yang terjadi pada Shane disebabkan oleh dirinya, walau sebenarnya tak ada pihak yang menuduhnya.
 
Namun, tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk bangkit dari perasaan terpuruk karena kondisi yang menimpa putri kesayangan mereka tersebut. Keduanya percaya bahwa Tuhan tak akan memberikan cobaan yang tak bisa ditangani oleh umat-Nya. Beruntung pula keduanya dikelilingi oleh keluarga yang sangat suportif, yang membuat mereka menjadi orang yang kuat.
 
“Bahkan bisa dibilang, kehadiran Shane sontak membuat kami menjadi orang tua yang lebih bijaksana. Shannuel mengajarkan kami banyak hal, salah satunya untuk lebih bijak. Shane adalah penguat kami berdua,” papar Tiffany, bangga. Apalagi setelah hadirnya anak kedua, Nicholas Jedder Justin, 2 tahun kemudin, membuat Justin dan Tiffany harus makin sabar dan kompak dalam bekerja sama.
 
Inilah mengapa dalam rumah tangga keduanya tak ada pembagian peran yang kaku. Di rumah, mengurus kebutuhan makan, main bersama anak, hingga ganti popok dilakukan bersama-sama. Bahkan, menurut Tiffany, Justin selalu siap begadang, jika anak mereka terbangun di malam hari.
 
Bentuk kerja sama lainnya juga terlihat dari cara bagaimana mereka menangani gesekan dalam hubungan mereka. Keduanya punya cara kerja sama yang unik. “Jika sedang bertengkar, maka yang meminta maaf duluan adalah Justin, dan tugas saya adalah harus memaafkannya. Terlepas siapa yang benar atau salah, kami ketemunya di tengah. Hahaha…,” tutur Tiffany, terkekeh.
 
Menurut Justin, ketika masuk ke fase pernikahan, ego bukan lagi hal yang penting. “Karena, semarah-marahnya saya dengan Tiffany, dia bukan musuh saya. Dia istri saya. Kami harus bekerja sama, sekaligus saling introspeksi diri agar masalah yang terjadi tidak terulang lagi,” papar Justin.
 
Kehadiran dua anak dalam rumah tangga tak lantas membuat Justin dan Tiffany lupa menikmati hubungan percintaan mereka. Tetap penuh romansa, kehangatan, dan sukacita, seperti ketika mereka masih pacaran.
 
Keduanya tentu mengasihi Shane dan Nicho, tapi yang selalu jadi prioritas adalah hubungan mereka terlebih dahulu. Karena mereka percaya, jika hubungan ayah dan ibunya baik, maka kebaikan itu bisa diturunkan kepada anak-anak.

Maka, dalam keseharian, Justin dan Tiffany tak pernah mengenyampingkan quality time berdua. Mereka kerap menitipkan Shane dan Nicho kepada orang tua agar mereka bisa hangout bersama, menonton ke bioskop di tengah malam, atau makan malam berdua saja.
 
“Ini penting bagi kami. Anak jangan sampai membuat kami berdua tidak bisa menikmati hubungan kami lagi. Karena menurut saya, kasih sayang itu harus dari orang tuanya dulu. Kalau suami mengasihi istrinya dengan sepenuh hati, baru dia bisa mengasihi anak-anaknya,” cerita Justin, berharap ia dan Tiffany bisa menjadi panutan bagi kedua anaknya tentang bagaimana seharusnya mereka mengasihi pasangannya kelak. (f)

Baca Juga:

Iqbal Candra Pratama & Sarah Tria Monita. Mengawinkan Emas Asian Games 2018

Dua Dekade Pasangan Emas Susi Susanti - Alan Budikusuma

Atalia Praratya, Mengimbangi Langkah Gesit dan Cepat Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil