
Foto: Dok. Pribadi
Nitya Astari (34) dan Mohamad Risky Sudjatmoko (35) harus menghadapi kenyataan bahwa putra kedua mereka, Mohammad Altair Nouman Sudjatmoko, divonis kanker jaringan otot yang terletak di kandung kemih. Kondisi ini membuat Altair yang saat itu baru berusia 16 bulan (kini usianya 20 bulan) tak bisa buang air kecil secara normal dan ginjalnya membengkak.
Berkali-kali keduanya harus menegarkan hati melihat tubuh mungil balita mereka berjuang melalui deraan kemoterapi. Rambut, alis, dan bulu matanya rontok, kulitnya menghitam, dan bobotnya susut drastis. Takdir ini hanya menyisakan satu pilihan bagi Nitya dan Mohamad Risky: tegar untuk kedua anak mereka, dan janin yang kini tumbuh di kandungan Nitya. Kepada femina, Nitya membagikan perjuangan mereka.
Mimpi Buruk
Putra kedua saya, Altair, lahir pada 2 Juli 2015, dengan proses normal. Berat badannya 3,820 kilogram dan tinggi 51 sentimeter. Proses kelahiran lancar dan relatif cepat. Segala rasa sakit persalinan seketika hilang ketika Altair diletakkan di dada saya untuk inisiasi menyusui dini (IMD) selama sejam lebih. Setelah itu, proses pemulihan saya pun berjalan lancar, tanpa keluhan berarti.
Seperti saat mengandung kakaknya, Mohammad Rasendrya Aidan Sudjatmoko (6), kehamilan kedua saya benar-benar tanpa keluhan. Saya tidak pernah merasa pusing, mual, atau mengidam. Aktivitas saya sebagai ibu rumah tangga dan wirausaha brand baju anak Playdate berjalan seperti biasa. Saya bahkan sempat melakukan perjalanan jauh ke Oman dan Dubai. Syukurlah, kehamilan saya tetap baik-baik saja.
Setelah lahir, Altair tumbuh sehat, ceria, dan sangat aktif. Ia sudah lancar berjalan pada usia 11 bulan. Makannya pun pintar karena saya menerapkan metode BLW (baby led weaning), yaitu metode MPASI, bayi dibiarkan untuk mengambil sendiri makanannya dan makan sendiri. Hingga kini, saya juga masih menyusuinya. Saya dan suami bahagia melihat kedua putra kami tumbuh dengan baik.
Oktober 2016, kebahagiaan kami mulai diterpa cobaan. Perilaku Altair berubah. Altair yang senang berlari-lari ceria terkadang mendadak berhenti dan mengejan kesakitan seperti hendak buang air besar (BAB). Awalnya kami mengira ia konstipasi. Tetapi, setelah kami periksa, BAB-nya selalu normal. Puncaknya suatu malam ia terbangun, mengejan sambil menangis keras. Kami segera mengecek popoknya dan menemukan darah dalam air seninya!
Tak mau menunggu lama, keesokannya kami langsung memeriksakan Altair ke dokter. Altair dicurigai menderita infeksi saluran kencing dan fimosis, yaitu kulup melekat pada kepala penis dan menutup lubang penis. Akibatnya, urine tidak dapat keluar normal. Dokter lalu mengambil sampel urine dan memberikan Altair antibiotika sambil menunggu hasil kultur urine selama seminggu.
Antibiotika itu ternyata tak mempan. Sedih hati saya melihat Altair selalu menangis dan menjerit-jerit tiap buang air kecil. Ketika hasil kultur urine keluar, ternyata benar ia menderita infeksi saluran kencing. Dokter lalu memberikan jenis antibiotika lain yang lebih tepat untuk mengatasi bakterinya. Keesokannya, atas rujukan dokter, Altair melakukan USG. Dokter menemukan suatu massa atau tumor di kandung kemihnya dan ginjal kirinya terdeteksi mengalami sedikit pembengkakan.
Dari sini, tes demi tes pun harus dijalani Altair. Pada 27 Oktober 2016, Altair menjalani CT scan, thorax rontgent, dan tes darah lengkap pada pagi hari. Sementara sore harinya, dilakukan biopsi dan sirkumsisi dengan prosedur laser untuk mengikis sedikit tumor di kandung kemih yang menyumbat saluran kencing, yang membuatnya sulit buang air kecil.
Selama sepuluh hari, hati saya tak keruan menunggu hasil patologi analisis biopsi Altair. Tak putus-putus saya dan keluarga berdoa agar tumor itu jinak dan tak membahayakan. Selama kurun waktu ini, Altair diberi obat pereda nyeri agar tak terlalu sakit bila berkemih. Pada 7 November 2016, hasil biopsi keluar. Ternyata yang kami takutkan terjadi juga. Dokter memvonis Altair terkena tumor ganas atau kanker jenis rhabdomyosarcoma, kanker jaringan otot lurik yang terletak di kandung kemihnya!
Deg! Degub jantung saya seolah berhenti saat mendengar ini. Air mata saya langsung meleleh. Tak ada kata yang bisa terucap. Bingung, sedih, kalut, semua bercampur jadi satu. Sambil menggendong Altair, saya keluar dari ruang dokter. Air mata saya tak henti-hentinya keluar. Bahkan ketika mengabarkan hal ini pada keluarga, saya masih merasa shock dan tak bisa berhenti menangis. Hati saya sakit, sakit sekali! Sebagai ibu, saya tak mampu membayangkan anak saya yang saat itu masih 16 bulan harus menanggung penyakit berat ini.

Menyelamatkan Ginjal
Keesokan harinya, saya dan suami berusaha berpikir jernih. Kami langsung bergerilya mencari dokter onkologi anak di Jakarta. Selain itu, kami juga mencari-cari informasi pengobatan di Singapura dan Penang, Malaysia.
Dari seorang kawan yang juga penyintas kanker payudara, kami mendapat informasi ada dua dokter yang mumpuni untuk menangani kanker. Pertama, seorang dokter onkologi anak di rumah sakit pemerintah khusus kanker terbesar di Indonesia. Kedua, Prof. Quah Thuan Chong, profesor dokter onkologi anak di National University Hospital (NUH), Singapura.
Kami berusaha menghubungi keduanya. Hanya satu jam setelah mengirim e-mail dan dokumen medis Altair kepada Prof. Quah di Singapura, beliau langsung membalas. Intinya, beliau menjelaskan tahapan-tahapan treatment yang akan dijalani Altair. Yang membuat lega, NUH memiliki dokter spesialis khusus untuk kanker rhabdomyosarcoma, yakni dr. Chetan Dhamne.
Kami juga menemui dokter onkologi di rumah sakit pemerintah yang disarankan kawan kami tadi. Tak disangka, respons beliau sangat terbuka saat kami meminta pendapatnya tentang pengobatan di Singapura. Bahkan, beberapa pasiennya adalah pasien Prof. Quah yang melanjutkan pengobatan di Jakarta, tetapi mengikuti protokol treatment dari NUH.
Setelah berdoa meminta petunjuk Allah dan berdiskusi dengan keluarga, kami memantapkan hati membawa Altair berobat ke Singapura. Senin, 21 November 2016, saya dan suami membawa Altair berangkat menuju Singapura. Altair saat itu sudah tak berdaya. Ia sangat rewel, demam, pilek, tak mau makan, kuyu, hanya mau digendong dan tidur terus. Dari awal terdiagnosis kanker, Altair belum mendapatkan treatment apa pun, hanya diberikan pereda nyeri. Hati saya teriris-iris melihatnya.
Hari kelima di Singapura, Altair langsung menjalani operasi untuk menyelamatkan ginjalnya. Pasalnya, pemeriksaan awal menunjukkan kedua ginjal Altair sudah mengalami pembengkakan dan penurunan fungsi. Ini akibat tumor di kandung kemihnya menghambat saluran kencing sehingga urine tidak bisa keluar melalui air seni. Terjadilah penumpukan cairan di kedua ginjalnya. Ternyata, tumornya berkembang cukup cepat. Operasi pun harus dijalani Altair karena treatment kemoterapi hanya bisa dilakukan bila fungsi ginjalnya normal.
Syukurlah, operasi berjalan normal. Dokter memasang stent (PCN tube) dari pinggang kiri kanan bagian belakang Altair menuju kedua ginjalnya, sehingga pada pinggang belakangnya terpasang semacam selang dan kantong urine. Tujuannya, mengeluarkan cairan yang menumpuk di ginjal dan tak bisa keluar melalui penis. Hingga kini, selang itu masih terpasang dan Altair ke mana-mana membawa kantong urine dalam tas selempang kecil.
(Klik page di bawah untuk lanjutan kisahnya)

Setelah kondisi ginjal Altair pulih, kami bersiap untuk treatment berikutnya, yakni kemoterapi. Sampai saat ini, Altair sudah menjalani 17 siklus kemoterapi. Kemoterapi dilakukan tiap seminggu sekali sesuai protokol dokter. Durasi tiap kemoterapi tergantung dari jenis obatnya. Ada yang hanya 15 menit, seharian dari pagi sampai sore, maupun beberapa jam tapi dilakukan selama 5 hari berturut-turut.
Pada 18 Maret 2017, dokter memberikan jenis obat kemoterapi yang kuat kepada Altair. Obatnya terdiri atas tiga jenis dan diinfuskan selama 48 jam nonstop. Altair harus diopname agar dokter bisa memantau kondisinya. Benar saja, kondisi Altair langsung turun drastis. Ia langsung batuk pilek, demam menggigil sampai 40 derajat, broken skin parah di bokong sehingga menjerit-jerit tiap BAB, rewel, dan tidak mau makan. Yang terparah, neutrophil atau sel darah putihnya yang bertugas melawan penyakit di tubuhnya, turun sampai angka nol.
Terdeteksi pula adanya bakteri pada urine. PCN tube memang meningkatkan risiko tumbuhnya bakteri, apalagi Altair saat itu tidak memiliki sel darah putih lagi. Dokter lalu memblok sementara tube itu dan ternyata Altair bisa buang air kecil sendiri cukup banyak. Namun, tube belum bisa dilepas total karena jumlah cairan yang keluar dari penis belum sebanding dengan yang masuk. Meski begitu, kemoterapi dinilai membuahkan hasil karena Altair mulai bisa berkemih normal.
Lima belas hari setelah menjalani kemoterapi ini, kondisi Altair pun pulih. Ia kembali aktif dan ceria. Selama 4,5 bulan menjalani pengobatan itu, kondisi Altair menunjukkan peningkatan. Tumor di kandung kemihnya perlahan-lahan mengecil, walau masih perlu waktu lagi untuk menciut secara signifikan. Altair masih harus menjalani serangkaian kemoterapi lagi. Kami tetap bersabar dan bersyukur.
Selama Altair menjalani pengobatan di Singapura, saya dan suami senantiasa menemaninya. Kami menyewa apartemen yang terletak dekat dari rumah sakit. Sehari-hari, kami bergantian mengurus Altair. Saya rutin memasak karena Altair harus mengonsumsi makanan buatan sendiri yang segar. Suami juga mengurus pekerjaannya melalui e-mail dan telepon dengan timnya di Jakarta.
Selama hampir lima bulan ini, kami tentu merasakan lelah batin dan fisik. Namun syukurlah, tak sampai stres berat atau depresi. Suami saya bahkan sangat tenang menghadapi ujian ini. Tiap saya bersedih, ia selalu mengingatkan untuk berpikir positif dan tetap tawakal. Saya sadar, masih banyak anak lain yang bernasib lebih pahit dari Altair. Tak sedikit yang kondisinya lebih parah. Sering pula saya mendengar kasus kanker anak lainnya, sementara orang tua si anak tak punya biaya untuk berobat. Dengan melihat ke bawah, saya seperti diingatkan untuk selalu bersyukur atas segala kemudahan yang telah Allah berikan saat mendampingi Altair berjuang.
Penyemangat utama saya adalah Altair sendiri. Ia pejuang kecil kami. Ia kuat dan ceria, seakan penyakit ini tak menghalanginya melakukan apa pun. Semangat hidupnya luar biasa. Kami tak ingin Altair melihat kami sedih karena ia memerlukan dukungan dan cinta dari kami. Jika saya sedih, saya cukup melihat Altair agar kembali bersemangat.
Salah satu cobaan terberat saya adalah berpisah dari Aidan, putra sulung kami. Selama ini, Aidan diasuh oleh eyangnya, orang tua suami. Tiap malam, kami melakukan video call dengan Aidan di Jakarta. Tiap kali ia berkunjung, rasanya patah hati saya ketika ia harus pulang. Syukurlah, walaupun Aidan sering bertanya kapan kami pulang, ia sangat pengertian dan sayang sekali pada adiknya.
Di tengah ujian ini, kami masih diberikan kepercayaan oleh Allah untuk mempunyai anak ketiga. Kehamilan saya kini menginjak trimester akhir dan perkiraan akan melahirkan pada Mei di Singapura. Kami sama sekali tak merencanakannya. Saya sempat panik karena bolak-balik menemani Altair menjalani scan yang mengandung radiasi. Saya baru tenang ketika hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi janin sehat dan normal.
Fokus kami kini terus mendampingi Altair sampai siklus kemoterapi dinyatakan selesai. Ada rencana melakukan operasi pengangkatan tumor, tetapi harus menunggu sampai tumor itu menciut sekecil mungkin. Apa pun, saya yakin rencana Allah adalah yang terbaik untuk keluarga kami. Saya senantiasa bersabar dan bersyukur atas segala kemudahan, bahkan berkah kehamilan tak terduga ini. Segalanya sudah indah saat ini, dan pasti makin indah pada waktunya.(f)