Foto: Instagram/ @marcelsiahaan

Rima Melati Adams (37), Miss Singapore Universe 2001, artis dan model papan atas di Singapura, harus kehilangan banyak pekerjaan dan diboikot komunitasnya karena pernikahannya dengan Marcell Siahaan (40).

“Itu pengorbanan yang tak ternilai,” kata Marcell. Terlalu banyak kebaikan Rima yang membuat Marcell tak henti-hentinya bersyukur atas perkawinannya.

Atas Nama Cinta, Bukan Ego
Kisah cinta mereka adalah kisah cinta penuh perjuangan, khususnya di awal-awal pernikahan.

“Dua tahun pertama sulit. Jurang perbedaan antara kami begitu besar. Secara kultur, Rima berdarah Melayu, Thailand, Australia, Bugis, Cirebon, Skotlandia, dan Jerman. Sedangkan saya sangat Indonesia, keturunan Jawa dan Batak,” kata Marcell.

Perbedaan ‘bahasa’ ini yang membuat kerap terjadi benturan cara pandang ketika menghadapi sesuatu. Rima mengakui bahwa ia apa adanya, langsung, dan berani mengungkapkan keberatannya tanpa ragu. Sikapnya pasti, tegas dan lurus. Apalagi ia dibesarkan dalam lingkungan single parent yang membuatnya belajar untuk tidak ada keragu-raguan saat mengambil sikap dan mengayun langkah.

Rima juga berangkat dari kultur Melayu di mana tuntunan agama, khususnya Islam, menjadi panduan utama dalam kehidupan sehari-hari. Meski Marcell mewarisi ketegasan dalam hal-hal tertentu di keluarganya, tidak sekuat sesuatu yang telah mengurat-akar dan menjadi pembentuk karakter Rima.

“Solusinya hanya satu, komunikasi,” kata Marcell, yang kini telah menikah selama sembilan tahun bersama Rima. Mereka sadar benar bahwa latar belakang mereka begitu berbeda.

Namun, di sisi lain keduanya juga percaya bahwa apa yang akan mereka hadapi di depan sana juga akan selalu berubah, berbeda, dan tidak ada yang konstan. Jadi, harus selalu melakukan eksplorasi pola komunikasi sesuai dengan kebutuhannya.

“Saya fokus pada solusi, meskipun ada godaan besar untuk berkubang pada masalahnya, maksudnya keinginan untuk ada drama, main asumsi, sehingga muncul keributan, tapi pada akhirnya saya dan Marcell kembali memilih fokus pada solusi. Karena, toh, semuanya bisa didiskusikan dan dikomunikasikan,” kata Rima.

Hal penting lainnya adalah bagaimana mereka berdua membuat komitmen bahwa untuk menjaga kemaslahatan keluarga tidak boleh membuat orang-orang yang ada di dalamnya kehilangan rasa nyaman.

“Ini penting, sehingga kita tidak merasa terkungkung dan kehilangan kebebasan. Selama masing-masing bisa memahami dan menjalankan fungsi serta tugasnya, kemudian yang lain bisa menghargai dan memberi dukungan, itu artinya kami telah menjaga keluarga kami dengan cinta, bukan ego,” kata Marcell lagi.

Kalimat yang disambut dengan tatapan mesra dari sang istri, yang kemudian menambahi dengan kalimat singkat, ”Itulah yang dinamakan harmonis.” Wow....
 
 

Yang Terjadi, Terjadilah…
Barangkali, tidak semua pasangan mampu bertahan menghadapi badai perbedaan dan tentangan seperti yang dialami oleh Marcell-Rima. Isu pernikahan mereka bukan sekadar terkait masalah ‘bahasa nan berbeda’, tapi juga isu beda agama dengan implikasi lintas bangsa.

Ternyata, pernikahan keduanya ditentang komunitas Melayu muslim di negara Singapura dan Malaysia karena dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam.

Efeknya luar biasa. Rima yang sebelumnya adalah Miss Singapore Universe 2001, artis dan model papan atas di Singapura, membintangi banyak iklan, menjadi host acara, tiba-tiba kariernya bak diboikot. Ia kehilangan banyak kesempatan dalam pekerjaannya. Bisa dikatakan, Rima jobless sekitar satu tahun.

Hingga akhirnya, wanita cantik ini memilih untuk datang dan berkarier di Indonesia. “Itu pengorbanannya yang tak ternilai,” kata Marcell, yang kemudian memilih menjadi mualaf.

“Terlalu banyak kebaikan-kebaikan yang ia lakukan. Misalnya, saat hari raya, setelah kami menikah, Rima dan anak-anak akan menanti saya keluar dari pintu kamar, berbaris di dekat pintu keluar, untuk sungkem pada saya. Itu dilakukan sebelum sowan pada keluarga dan tetangga lainnya,” kata Marcell yang tak bisa menyembunyikan rasa harunya. ”Saya menangis saat itu,” tambahnya.

Ada satu ritual yang menurut Marcell selalu menguatkan hari-harinya. “Ia selalu mencium tangan ketika saya atau dia pergi meninggalkan rumah. Sesuatu yang perlahan memberi kesadaran pada saya, bahwa kebahagiaan dan semua kebaikan itu berasal dari rumah. Ini seperti menitipkan doa bagi kebaikan semua,” kata Marcell, dengan suara bergetar.
 
 

Memberi Bukti

Pada akhirnya, dengan proses kebersamaan yang mereka alami selama sembilan tahun ini, baik Marcell maupun Rima tak terlalu pusing soal pencitraan yang melekat (atau dilekatkan oleh media dan fans) pada diri selebritas.

“Kami lakukan dengan memperlihatkan bukti, bukan sekadar citra yang tampak dari luar saja. Kami lakukan tanpa rasa takut. Sudah terlalu banyak ketakutan yang dicekokkan ke dalam diri kita sedari kita kecil,” kata Rima.

“Mengenai pernikahan, barangkali mimpi saya dan Rima sama, kami ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi. Menjadi contoh dan bisa menginspirasi, setidaknya untuk anak-anak kami,” kata ayah dari Keenan Avalokita Kirana (13) dari pernikahannya dengan Dewi Lestari, Edga Ian Cook, putra Rima dari Davin James Cook, dan Seth Ananda Siahaan (3).

“Untuk saya sederhana saja, saya ingin tua bersama. Sakit dan senang bersama Marcell,” kata Rima, menambahkan. Sungguh momen-momen cinta yang menguatkan, yang pantas dikenang.

Ditanya tentang apa yang Marcell sukai dari sosok Rima, pria romantis ini menjawab dengan kalimat singkat, “Terima kasih Tuhan, saya dikaruniai rezeki berupa istri yang sangat baik hati.”

Namun, menurut Marcell, sikap baik hati Rima ini pula yang terkadang menjadi kelemahan utama wanita kelahiran Hong Kong ini.

“Ia ingin menyenangkan semua orang sehingga terkadang lupa pada kesehatannya. Ia berkomitmen kuat pada apa yang ia kerjakan, sehingga harus diingatkan untuk sekadar beristirahat. Pernah ia memasak rendang dari jam enam sore hingga jam enam pagi, memasak pakai arang, agar rasanya enak sehingga semua orang merasa senang.

Atau, mengecek masalah pada tower air dengan memanjat naik ke atas rumah di usia kandungan yang sudah enam bulan. Padahal, saya saja ngeri untuk naik ke atas,” kata nominator Piala Vidia 2005 dalam kategori Aktor Pria Terbaik ini.

Nyaris sama seperti Marcell, Rima juga tak bisa mengungkapkan apa yang ia sukai dari Marcell karena baginya sang suami seperti memenuhi semua yang ia idamkan. Mimpi yang menjadi nyata. Speechless.

“Kurangnya, suka menunda sesuatu dan terkadang melakukan last minute decision di mana kami sudah memiliki rencana bersama sebelumnya,” kata Rima, seraya tersenyum. Tapi, itu, sih, bukan perkara besar. (f)

Baca juga:
Irfan dan Jennifer Bachdim: Cinta yang Teruji Perbedaan
Cerita Cinta Nana Mirdad & Andrew White yang Meninggalkan Dunia Hiburan Demi Cinta
Lionel Messi – Antonella Roccuzzo: Dari Cinta Monyet ke Cinta Sejati
Rinni Wulandari - Jevin Julian: Pernikahan untuk Meraih Mimpi Bersama