Foto: Denny Herliyanso
 

Enam tahun sudah pasangan news anchor dan presenter Michael Tjandra (36) dan Jeniffer Natapura (35) mengarungi bahtera rumah tangga. Gelombang dan ombak masalah justru menguatkan komitmen yang terbangun sejak enam tahun mereka berpacaran. Seperti apa tahun-tahun pernikahan mematangkan mereka berdua?

MENEMUKAN TAMBATAN HATI

Kisah Michael dan Jeniffer berawal jauh sebelum wajah pria berkacamata ini akrab menyapa pemirsa TV. Apakah itu lewat update berita terkini di layar RCTI (2005-2015), atau saat ia membawakan acaranya sendiri, Michael Tjandra Luar Biasa, di RTV (2016). Kala itu,  tahun 2004, Michael dan Jeniffer masih berkarier sebagai tenaga marketing di bank swasta yang sama, tapi berbeda cabang. Michael di Jakarta Barat, sementara Jeniffer di Jakarta Utara. 

“Kami dikenalkan oleh teman dekat saya di perusahaan sebelumnya saat kami hangout bareng. Dia satu kantor dengan Jeniffer,” cerita pria penerima penghargaan sebagai Pembawa Berita Terbaik dalam ajang Panasonic Gobel Awards 2013 dan 2015 ini.

Pertemuan pertama itu cukup mengesankan bagi Michael. Wajah Jeniffer yang mirip wajah wanita Korea atau Jepang membuatnya langsung terpikat. “Saya suka rahangnya, mirip rahang idola saya, Kate Beckinsale dan Meg Ryan. Senyumnya manis. Supel dan asyik diajak ngobrol. Dia sangat menawan hati,” kenang Michael, tertawa. Lulusan arsitektur dari Universitas Trisakti Jakarta itu sempat bekerja di dua bank berbeda setelah keluar dari biro arsitek interior.

Rupanya, Jeniffer menyimpan rasa yang sama. Ia kagum pada ketampanan, cara berbicara, dan sikap Michael. “Walau ganteng, dia tidak sombong. Komunikasi kami langsung nyambung,” ungkap Jeniffer, malu-malu. Jeniffer sempat mencoba berkencan dengan pria lain, tapi hatinya tak bisa beralih dari kesan kuat yang ditinggalkan Michael di pertemuan pertama mereka.

 “Saya sebenarnya tahu Michael sudah mendapatkan nomor HP saya dari seorang teman. Hati saya penuh harap, tapi Michael tak kunjung menghubungi. Dalam hati saya berkata, ‘Kalau jodoh, tak ke mana,’” ujar Jeniffer. Benar, telepon yang ditunggu-tunggu itu pun datang, sebulan setelah pertemuan mereka. Sejak saat itu pula, tanpa ragu ia menyambut  tiap tawaran kencan Michael dengan hati berbunga-bunga.

Keduanya sepakat untuk merahasiakan kedekatan mereka dari teman-teman. Biasanya, agar tidak terlalu mencolok, mereka akan nongkrong ramai-ramai dahulu. Caranya, dengan pulang lebih awal, dengan alasan masing-masing dari mereka hendak bertemu dengan teman yang lain. “Padahal, sebenarnya, setelah itu kami bertemu dan menghabiskan waktu bersama,” cerita Michael, tentang akal-akalannya. 

Beberapa bulan setelah pendekatan, Michael yang kala itu mulai bekerja sebagai reporter di RCTI, memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kepada Jeniffer. Namun, bukan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ yang diterimanya, Jeniffer justru balik melontarkan pertanyaan. “Kenapa harus saya?”

Dengan tegas dan penuh keyakinan, Michael mengatakan bahwa Jeniffer adalah sosok wanita yang selalu hadir di hatinya. Keesokannya, 6 September 2005, Jeniffer mengiyakan ‘pinangannya’. Mereka pun resmi sebagai sepasang kekasih.

“Saya katakan kepadanya, saya siap menjalin hubungan pacaran, tapi dengan catatan harus serius hingga ke pernikahan,” ungkap Jeniffer. Syarat Jeniffer ini disambut positif oleh Michael. “Saya bilang ke dia, saya memang serius! Saya bukan pria yang mudah menyatakan cinta kepada wanita,” tegas Michael saat itu.

 

MENJADI SATU

Jalinan kasih mereka pun tidak imun dari pertengkaran-pertengkaran tentang dua pribadi yang berbeda. Jeniffer mengatakan, salah satu tantangan baginya adalah soal adaptasi. Ia terlahir sebagai sulung, sementara Michael adalah anak bungsu. Perbedaan ini saja sudah menjadi ‘sumbu’ yang siap menyala jika ‘dibakar’.

Begitu juga dari segi budaya. Walau sama-sama keturunan Tionghoa,  Jeniffer merasa berbeda. Michael terlahir dari ibu keturunan Cina asal Ambon, sementara ayahnya Cina-Surabaya. “Kombinasi itu membuat intonasi suaranya cukup tinggi. Saya pikir dia marah-marah, padahal sebenarnya tidak,” ujar Jeniffer, yang ayah dan ibunya keturunan Cina asal Padang, Sumatra Barat.

Kalau sudah bertengkar, biasanya keduanya akan sama-sama mogok bicara. Sumber keributan biasanya adalah perbedaan pendapat ketika mereka saling mengeluarkan pendapat atau prinsip soal masa depan. Misalnya, ketika membicarakan bagaimana kelak mereka memperlakukan orang tua.

Untungnya, masa-masa saling mengambek ini tidak pernah berlangsung lama. Selalu ada masa-masa saling mengalah. Kesepakatannya: semua masalah dan kemarahan harus dipadamkan sebelum matahari terbit.  “Jam dua pagi sekalipun, salah satu di antara kami pasti telepon. Menyelesaikan masalah dan saling memaafkan,” tutur Michael, serius. Prinsip ini mereka terapkan hingga mereka sudah menjadi sepasang suami-istri.

Michael sudah sangat yakin bahwa Jeniffer adalah belahan jiwanya yang tepat, sebagai pasangan hidupnya, sejak ia menyatakan cinta. Ia bahkan sudah tahu ke mana mereka harus membawa hubungan itu. Sebab, selama pendekatan, pria kelahiran Surabaya ini telah mengevaluasi dan menilai Jeniffer. 

“Komunikasi kami nyambung. Dia tahu apa goal dalam hidupnya dan cara mendapatkannya. Tegas dan tidak pernah ada keraguan dalam tutur katanya,” ujarnya. Jeniffer mampu melengkapi kekurangannya. 

Tepatnya, pada 15 Agustus 2009, di sebuah acara gereja yang mereka hadiri bersama, Michael memberanikan diri untuk melamar Jeniffer. Lamaran yang disambut penuh sukacita oleh Jeniffer. Sejak saat itu pula mereka sepakat untuk menabung bersama sebagai biaya pernikahan. Mereka tidak ingin membebani orang tua masing-masing. Mengambil konsep lounge RnB, Michael dan Jeniffer menikah pada 12 November 2011.

Bagi mereka, pernikahan adalah sekali seumur hidup. Selalu ada saat suka atau duka, kaya atau miskin,  sehat atau sakit. Merajut mimpi bersama-sama, dan  saling melengkapi baik saat susah maupun senang.  “Semoga pernikahan kami ini bisa menjadi berkat bagi orang lain. Menjadi contoh bagi pasangan lain,” kata Jeniffer berharap.

 

SALING MENDUKUNG

Michael mengatakan, menjalani masa pacaran selama 6 tahun  bukanlah hal yang sia-sia. Mereka mengisinya dengan saling mengenal dan mengasah diri lewat pembicaraan-pembicaraan yang berkualitas. Mereka juga menggunakannya untuk saling mendukung karier masing-masing. Dukungan Jeniffer pada karier Michael di dunia pertelevisian ini bahkan telah ditunjukkannya sejak mereka masih menjadi sepasang kekasih.

“Dari dia, saya tahu bahwa pekerjaan sebagai reporter tidak begitu menjanjikan. Waktu bekerja pun tak beraturan. Namun, saya tetap menyemangati dia,” ujar Jeniffer. Tak jarang Jeniffer ikut Michael ketika sedang melakukan liputan di malam hari. Tujuannya, selain ingin melepas kangen, ia juga ingin memahami dunia kerja Michael. Jadi, ia paham saat secara tiba-tiba ada rencana mereka yang harus dikalahkan oleh komitmen kariernya sebagai jurnalis TV.

“Bila ada ribuan atau jutaan fans-nya, saya adalah fans yang berada di urutan pertama. Ketika pertama kali dipercaya membawakan live report, di tengah kesibukan di kantor, saya bela-belain untuk menontonnya. Kemudian, ketika sudah dipercaya untuk membacakan berita di pagi hari, saya juga menontonnya. Saya memberikan saran kepada dia dari sudut pandang penonton,” tutur Jeniffer.

Begitu pula Michael, ia menyemangati Jeniffer ketika pada tahun 2009 memilih berkarier di perusahaan asuransi, yang kala itu terbilang masih kecil. “Sekecil apa pun pekerjaan, tetaplah setia. Kelak kita mendapatkan sesuatu yang besar dari perjuangan itu. Begitulah saya menyemangati Jeniffer,” ucap Michael. Kata-kata inilah yang menjadi penghiburan dan penyemangat baginya.

Jeniffer juga bukan tipe wanita pencemburu, meski dalam keseharian kerjanya Michael dikelilingi wanita cantik sesama presenter atau news anchor. “Saya tahu Michael bukan pria genit,” katanya, tertawa. Begitu pula sebaliknya, Michael sangat percaya pasangannya tidak akan mungkin mengkhianatinya. “Bagi sebagian orang, mungkin kecemburuan itu adalah tanda cinta, tapi bagi saya bukan. Saya percaya, dia bisa menjaga hati dan diri untuk saya,” tutur Michael.

Jeniffer mengaku bangga memiliki Michael sebagai pasangan hidup. Ia bangga karena Michael tetap setia dan bersabar menjalani semua proses. Menurutnya, Michael selalu sadar dari mana dia berasal, yaitu berasal dari bawah. Bahkan, setelah mendapat penghargaan sebagai Presenter Berita Terbaik dalam ajang Panasonic Gobel Award 2013 dan 2015, dia tetap rendah hati. “Ia menghormati semua orang, terutama orang-orang yang dekat dengannya selama proses memulai karier dari bawah,” kata Jeniffer. Air mata haru meleleh di pipinya.

Michael juga bangga terhadap kemandirian Jeniffer. Dia tahu apa yang dia kejar dan tahu bagaimana mendapatkannya. “Dia selalu melihat segala sesuatu dari segi positif, sehingga itu juga ikut mengubah mindset saya. Tidak pernah melupakan tugasnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak, sesibuk apa pun pekerjaannya di kantor,” tutur Michael, salut.

Pahit manis, tangis tawa, mereka jalani bersama. Sesibuk apa pun jadwal kegiatan mereka, baik Michael maupun Jeniffer telah berkomitmen untuk meluangkan waktu berdua. Kini, mereka terbantu dengan jam kerja Michael yang berlangsung reguler, masuk pukul 09.00 WIB dan pulang sore, sehingga  ia punya waktu yang cukup banyak untuk keluarga.

“Tiap berangkat pagi, kecuali ada liputan luar kota, saya dan Jeniffer selalu berangkat bareng dari Bintaro ke kantor di daerah Kuningan, Jakarta. Kebetulan kantor kami berdekatan,” katanya. Kadangkala, pulang pun mereka bareng. Selama perjalanan pergi atau pulang itulah mereka manfaatkan untuk saling berbagi informasi tentang pekerjaan dan kendala yang dihadapi di kantor masing-masing.

Teknologi smartphone membantu mereka untuk saling memperhatikan, meski hanya mengingatkan untuk makan. Bila sedang kangen, mereka saling berkabar untuk memantau kedua anak mereka, Matthew James Tjandra (4,5) dan Marc Jameson Tjandra (11 bulan), dari smartphone yang terhubung dengan CCTV di rumah. Sebagai orang tua, Jeniffer dan Michael memberikan kebebasan penuh pada kedua putra mereka untuk mengejar mimpi sesuai passion mereka masing-masing. “Sama seperti kami berdua, yang juga sama-sama menghidupi passion,” tutup Michael.(f)