Foto: Dok. Pribadi

Komunitas pelari Indonesia mengenal Eni Rosita (38) sebagai wanita pelari ultra marathon dengan sederet pencapaian yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Tak ada yang menyangka, kecintaannya yang besar di cabang olahraga ini harus melalui perjalanan tragis.
 
Lima belas persen wajah dan kedua kakinya terbakar akibat siraman air keras yang dilakukan oleh orang tak dikenal, tepat saat ia sedang berlaga. Namun, Eni berhasil membalik tragedi ini menjadi lecutan untuk terus mencetak prestasi dan menginspirasi.
 
Awal April 2017 lalu, ia menjadi pemenang pertama lomba lari 320 kilometer Lintas Sumbawa. Kepada femina, ia membagikan kisah perjuangannya untuk bangkit.
 
Korban Iseng?
Peristiwa yang terjadi pada 8 Oktober 2016 itu akan terus melekat dalam sejarah hidup Eni. Hari itu, ia mengikuti lomba lari ultra trail marathon Mesastila Peak Challenge 2016 di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Setelah berlari melintasi trek Gunung Merapi dan menanjak melalui Gunung Merbabu, ia tiba di Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah.
 
Malam itu desa disiram gerimis usai hujan deras. Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Ia berlari seorang diri, usai melewati pos panitia yang berjarak sekitar 3 km. Ia telah menempuh rute lari sekitar 60 km dalam guyuran hujan disertai badai, tubuhnya sangat kelelahan.
 
Tiba-tiba seorang pengendara sepeda motor tak dikenal menyiramkan sesuatu ke tubuhnya. Eni tak berpikiran macam-macam. Ia anggap hanya guyuran air biasa. Namun, segalanya berubah menjadi kengerian saat semenit kemudian Eni merasakan perih dan sakit di sekujur tubuhnya.
 
Rupanya, cairan yang ternyata air keras itu mulai bereaksi dan meluluhkan tas ransel serta pakaian yang dikenakannya. Dalam kepanikan, ia berteriak minta tolong. Tapi, tak ada yang mendengar. “Saya memaksakan diri berlari untuk mencari pertolongan,” ujarnya.
 
Beruntung, sekitar 500 meter kemudian ia menemukan rumah penduduk dan minta pertolongan. Secepat itu pula ia membuka atribut dan perlengkapan lari, seperti tas dan sepatu. Namun, di saat yang sama kulitnya mulai melepuh. Dengan bantuan pemilik rumah, ia diantar dengan mobil menuju pos panitia terdekat. Ia sempat dibawa ke puskesmas terdekat. Tapi, karena perlengkapan medis tidak memadai, ia akhirnya dibawa ke RSU Pandanaran, Boyolali, Jawa Tengah.
 
Jarak dari pos panitia menuju rumah sakit yang mencapai 25 km baru bisa ditempuh selama dua jam. Waktu penanganan yang lumayan lama membuat luka di tubuh Eni cukup parah. Cairan air keras itu telah menembus jaringan otot, membuat tubuhnya melepuh dan menghitam di beberapa tempat. “Saya memang masih bisa jalan, tapi sakitnya luar biasa,” katanya, ngeri.
 
Sebagian cairan tersebut telah masuk ke dalam jaringan lemah. Luka terparah berada di kaki kiri bagian belakang atau tengkuk. “Seingat saya, cairan mengenai punggung dan kaki. Namun, punggung tidak mengalami luka karena saya memakai backpack dan jaket. Hanya, tas saya hancur,” ungkap wanita yang kemudian memutuskan kembali ke Jakarta dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, Banten.
 
Banyak spekulasi dan kecurigaan yang melatari peristiwa nahas itu. Bahkan, hingga tulisan ini dibuat, pihak berwajib belum berhasil mengungkap identitas dan latar belakang pasti dari peristiwa penyiraman air keras tersebut.
 
“Mungkin pelaku adalah orang iseng yang tidak senang pada penyelenggaraan lomba lari yang saya ikuti,” pikir Eni, mencoba menyimpulkan.
 
 
 

Foto: Dok. Pribadi
 
Sempat ‘Ditolak’ Anak
Diagnosis dokter mengungkap bahwa luka bakar yang ia derita sudah mencapai stadium 3. Otot yang sudah terkena cairan harus diangkat melalui dua kali operasi agar cairan yang tersisa tidak menyebar. Tidak hanya itu, untuk menutupi luka melepuh dan mengganti jaringan yang rusak di kakinya, Eni harus melalui operasi skin grafting.
 
Dalam operasi ini dokter mengambil kulit dan jaringan otot di kedua pahanya untuk menutup luka dan menggantikan jaringan otot kakinya yang hancur terbakar. Bila tindakan medis ini tidak dilakukan, bekas luka di kakinya akan meninggalkan lubang-lubang. Jaringan otot di kaki kirinya yang rusak juga akan membuat gerak kaki kirinya tidak seimbang dengan kaki kanan.
 
“Sempat bimbang untuk menjalani operasi ini. Namun, setelah berdiskusi dengan teman-teman dokter yang biasa melakukan operasi plastik, saya jadi yakin dan berani,” ungkapnya, pasrah.
 
Namun, luka fisik dan perjuangannya melawan rasa sakit ini tidak seberapa dibanding dengan ujian batinnya sebagai seorang ibu. Ia harus menahan sedih saat kedua putranya, Theo (12) dan Ale (7), tidak mau menemuinya selama tiga minggu awal, saat ia dirawat di rumah sakit. Bukan karena tidak sayang, tapi serangan trauma membuat kedua anaknya tidak berani melihat kondisi Eni.
 
“Mereka tahu kondisi saya lewat media massa online dan juga YouTube,” ujarnya, sedih. Bagaimanapun, Eni berusaha tetap memperhatikan kedua anaknya dengan menjalin komunikasi lewat telepon. Meski di saat yang sama, putranya yang bungsu belum berani berbicara dengannya. Tak ada pilihan lain, Eni harus bisa tegar melewati masa trauma yang juga harus dialami anak-anaknya.
 
Ketegaran hatinya ini terlihat jelas lewat paras wajahnya yang tak pernah menunjukkan kesedihan. Terutama saat menyambut rekan-rekannya sesama pelari atau teman-teman kerja yang datang menjenguk. “Saya mencoba untuk selalu tersenyum dan melayani teman-teman yang ingin foto bareng. Itu adalah cara saya untuk meyakinkan anak-anak bahwa saya baik-baik saja,” jelasnya.
 
Barulah di minggu terakhir perawatan di rumah sakit kedua anaknya berani menjenguk. Itu pun mereka tidak berani masuk ke ruang perawatan. “Padahal, saya kangen banget, ingin memeluk mereka, tapi mereka masih belum berani mendekat,” ceritanya, dengan mata berkaca-kaca.
 
 
 

Foto: Dok. Pribadi
 
Hujan Dukungan
Butuh waktu sekitar satu hingga dua tahun untuk memulihkan bekas luka akibat zat kimia yang dialaminya. Saat ini, pemulihan baru mencapai 80%. Pemulihan yang lumayan cepat itu karena ia aktif bergerak. Ia tidak lagi harus rutin bertemu dokter, kecuali bila ia punya keluhan yang benar-benar serius.
 
Namun, beberapa bekas sayatan di pahanya tumbuh menjadi keloid. Keloid ini hingga kini terasa nyeri, sakit, dan gatal tiap hari selama 24 jam penuh. Rasa gatal keloid sungguh sangat menyiksa. Bahkan, ketika digaruk malah makin gatal.
 
Untuk mengatasi pertumbuhan keloid itu makin berkembang, ia sempat menjalani 3 kali terapi penyuntikan. Namun, ia tidak mau lagi melakukan penyuntikan, karena memiliki efek samping pada hormon yang membuat menstruasinya terganggu.
 
“Saya pernah mengalami menstruasi berkepanjangan selama sebulan penuh pada bulan Januari, efek dari obat yang disuntikkan,” katanya. Apalagi, proses menyuntikannya sangat sakit, walau sudah dibius. Sebagai pengganti, ia memilih untuk memakai pressure garment. Bentuknya seperti stocking yang mampu menghambat pertumbuhan keloid.
 
Dukungan keluarga, teman sesama pelari, dan teman kerja membuat Eni mampu bangkit melewati masa sulit. Bahkan, ia optimistis sembuh dan bisa lari lagi. “Bukan sekadar untuk berlari lagi, tapi saya harus sembuh demi anak-anak saya,” tekad wanita yang jatuh cinta pada dunia lari sejak tahun 2014 ini.
 
Biaya pengobatan yang harus ia keluarkan tidak sedikit. Eni mengungkapkan, biaya pengobatannya sekitar Rp200 juta. Ia senang karena pihak penyelenggara membantu dana biaya pengobatan. “Saya tidak menyalahkan mereka, karena peristiwa yang saya alami bukan kesalahan mereka. Di mana pun, lomba trail run tidak ada prosedur pengawalan, beda dengan road run yang dikawal mulai dari start sampai finish,” katanya.
 
Sepulang dari rumah sakit, selama November- Desember 2016 Eni memang tidak berlari. Ia merasa sedih melihat teman-teman yang lain mengikuti berbagai lomba lari. Sebab, ia sudah mendaftar di beberapa lomba, tapi tidak bisa ikut karena kondisinya tidak memungkinkan.
 
“Selama tidak bisa ikut lari, saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya,” tutur Eni, yang mengalihkan pikiran negatif dan rasa sakitnya dengan beragam aktivitas, seperti membaca buku dan menggambar.
 
Dengan energi positif, Eni mengikuti nasihat dokter untuk banyak bergerak agar jaringan baru yang dicangkokkan ke kakinya tumbuh dan pulih. Sejak Januari 2017, ia mulai melakukan latihan ringan. Kemajuan yang sedikit demi sedikit diraihnya membuatnya tertantang untuk kembali berlari mengikut lomba trail run di Yogyakarta, pada Februari 2017, jarak 25 km. Disusul dengan lomba di Penang, Malaysia, jarak 50 km, pada Maret 2017, dan lomba lari Lintas Sumbawa 2017.
 
Di lomba lari Lintas Sumbawa inilah ia meraih kembali jalur prestasinya. “Saya mengikuti lomba itu dengan keikhlasan, sebab tahun lalu saya gagal mencapai garis finish. Apalagi dengan kondisi saya saat ini,” tuturnya. Hebatnya, walau masih dalam masa pemulihan, ia berhasil menjadi Pemenang I, mengalahkan 26 peserta lainnya. Peristiwa penyiraman air keras di tengah lomba lari yang dulu menimpanya tidak menyisakan rasa takut. Namun, ia jadi lebih siaga dan berhati-hati.
 
“Saya menganggapnya sebagai musibah yang bisa dialami siapa saja dan di mana saja. Peristiwa itu justru memotivasi saya untuk tidak kapok berlari,” tutur Eni, yang telah memaafkan pelaku. Wanita kelahiran Pemalang, 16 Oktober 1978, ini juga mendapat dukungan dari perusahaan konsultan arsitektur tempatnya bekerja.

Selain itu, teman-teman pelari menggalang dana untuk membantu biaya pengobatan Eni dengan menyelenggarakan Run for Eni. Dari penggalangan dana itu, hampir 50% dari total biaya pengobatan tertutupi. “Saya terharu oleh solidaritas teman-teman dari komunitas pelari,” ujar Eni.
 
Meski mengaku tidak pahit hati mengingat kejadian itu, ia sangat menyayangkan masih banyak masyarakat Indonesia yang belum peduli pada penyelenggaraan lomba lari. Akibatnya, sering terjadi gangguan keamanan dan kenyamanan di lintasan lari. Padahal, penyelenggaraan lomba lari memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.
 
“Saya berharap, penegak hukum kita bisa lebih bekerja keras untuk mengontrol penjualan zat kimia mematikan, sehingga tidak lagi menimbulkan korban lain ke depannya,” harap Eni. (f)


Baca juga:
Perjuangan Muhammad Fahri Assidiq Kecil Bertahan Hidup dengan Penyakit Kelainan Tulang
Hidup Vicky Antony Sugiarta dengan Autisme dan Pergulatannya Menyongsong Masa Depan
Mengawal Mohammad Altair Nouman Sudjatmoko Kecil Melawan Kanker