
Foto: Dok. Pribadi
Tak sedikit dari pasien virus corona, yang tidak menyadari bahwa mereka sudah terjangkit virus COVID-19 ketika mereka sudah mulai merasakan gejala penyakit. Begitu pun dengan Albertina Fransisca Mailoa (34), The Best Acting Wajah Femina 2010 yang sejak tahun 2018 menetap di Makassar, Sulawesi Selatan bersama orang tuanya ini.
Lewat sambungan telepon, wanita yang akrab disapa Chika ini mengisahkan kepada femina bahwa pada 17 Maret 2020, ia mulai demam tinggi dan pusing yang tidak karuan, disertai batuk kering kadang berdahak selama empat hari hingga 21 Maret 2020. Sebelumnya, pada 14 Maret 2020 ibunya sudah merasakan gejala seperti demam, meriang, sakit kepala yang hebat, dan diare.
“Sampai 21 Maret, saya masih belum menyadari kalau itu gejala COVID-19. Karena saya dan keluarga tidak ada yang berasal atau melakukan perjalanan dari luar Makassar sebelumnya,” katanya.
Walau sudah minum vitamin untuk meningkatkan stamina tubuh, gejala justru semakin memburuk. Chika mulai merasakan gangguan penciuman dan tidak bisa merasakan makanan. Setelah berkomunikasi dengan rekannya seorang dokter lewat telepon, ia, ibu, dan ayahnya yang sudah mulai merasa lemas memutuskan untuk datang ke rumah sakit Stella Maris, Makassar untuk melakukan foto thorax pada 25 Maret 2020.
Dokter menvonis bahwa Chika dan ibunya pneumonia (paru-paru basah) dan langsung menjalani perawatan. Saat ke rumah sakit, kondisi Chika sebenarnya sudah membaik. Tapi karena ia mengurus perawatan ibu dan ayahnya, ditambah lagi hasil foto thorax, serta sistem imun tubuh yang menurun, ia pun memutuskan untuk rawat inap bersama kedua orang tuanya di rumah sakit.
Sehari setelah menjalani rawat inap, Chika dan sang ibu menjalani swab test. Pada tanggal 30 Maret 2020, hasil swab test menyatakan keduanya positif COVID-19. Khawatir telah terpapar virus, pada 2 April 2020, giliran sang ayah yang menjalani swab test. “Hasilnya, ayah dinyatakan negatif, padahal ia menderita diabetes, hipertensi, dan pernah stroke, kondisi kesehatan yang bisa saja memperburuk kesehatan bila terjangkit COVID-19,” ungkapnya.
Selama di rumah sakit, pemilik sekolah modeling Runway by Chika Mailoa dan kedua orang tuanya ini dirawat di gedung khusus. Mereka bertiga ditempatkan di dalam ruangan yang sama. Chika mengungkapkan bahwa ia tertular COVID-19 dari ibunya, sementara sang ibu terjangkit virus ini dari jemaat satu gereja yang baru pulang dari Palu, Sulawesi Tengah. Belakangan diketahui bahwa jemaat tersebut meninggal dunia karena COVID-19.
Baca halaman selanjutnya

Foto: Dok. Pribadi
Pulang Naik Ambulance
Dua minggu lebih menjalani rawat inap, pada 9 April 2020, Chika dan orang tuanya kembali menjalani swab test, hasilnya negatif. Begitupula hasil swab test kedua hasilnya negatif. Kini mereka tengah menunggu hasil swab yang ketiga. “Bila test yang ketiga negatif, maka kami dinyatakan sembuh total,” katanya.
Walau hasil test ketiga belum keluar, tapi dengan kondisi kesehatan yang terus emmbaik, pada 13 April 2020 kemarin, Chika dan keluarga diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokter.
“Ketika pulang dari rumah sakit, kami memilih waktu di malam hari agar tidak menarik perhatian tetangga. Kami naik ambulance rumah sakit untuk mengurangi risiko menularkan kepada kepada orang lain,” kata Chika, yang kini memilih untuk isolasi mandiri bersama keluarga di rumah.
Chika mengungkapkan bahwa kunci kesembuhan utama mereka adalah manajemen stres. Sebisa mungkin, selama dirawat, ia berusaha berpikir positif. Support dari orang-orang di sekitar juga menjadi salah satu yang membuat mereka cepat pulih.
Selama dirawat, ia dan kedua orang tuanya mendapat perhatian dari para perawat dan tenaga medis. Mereka diajak ngobrol, bercanda, dan dihibur. Walau mengaku masih memegang gadget, namun Chika menghindari melihat berita-berita tentang COVID-19. Ia juga memilih keluar dari beberapa WhatsApp group.
Setelah divonis sebagai pasien COVID-19, Chika sempat merasa tidak enak kepada orang-orang di sekitarnya. Sebab salah satu teman ibunya terjangkit virus dari ibunya. Begitu pun dengan para tenaga medis yang menangani mereka saat pertama masuk rumah sakit, mereka tidak memakai alat pelindung diri (APD) yang memadai. Sebab rumah sakit yang ia datangi sebenarnya, bukan rumah sakit rujukan perawatan pasien COVID-19.
Chika merasa sangat beruntung karena para tetangga di lingkungan mereka sebagian adalah dokter yang memang memiliki pemahaman yang baik tentang COVID-19 ini. Mereka juga mendapat perhatian dari RT/RW, dan dinas kesehatan setempat. Mereka selalu dipantau, dan rumah mereka disemprotkan cairan disinfektan.
“Sampai saat ini, belum ada perlakuan kurang menyenangkan dari para tetangga. Saya harap, kami tidak dikucilkan sampai wabah ini benar-benar hilang,” katanya.
Kini, Chika pun sudah bisa berkumpul dengan kedua anaknya, walau belum bisa terlalu dekat. Dimana ia dan anak-anak tidur di kamar terpisah. “Saya masih belum bisa peluk dan cium mereka,” ujarnya, sedih. (f)
Baca Juga:
Siklus Tidur Berubah Saat Isolasi Mandiri Di Rumah? Ini Cara agar Lebih Mudah Tidur
Peneliti Temukan Tiga Variasi Virus Corona
Aplikasi Zoom Meeting Rentan Diretas, Ini Cara Gunakan Aplikasi Video Conferencing secara Aman