Foto: Desiyusman Mendrofa

Ririn Ekawati (34) tidak pernah tahu bahwa sang suami, Ferry Wijaya (33), mengidap penyakit leukemia, sampai rahasia ini terkuak empat bulan setelah mereka resmi menjadi kekasih. Bukannya meninggalkan Ferry, aktris dan alumnus Wajah Femina 2000 ini memutuskan untuk tetap memilihnya sebagai pasangan hidup. Tujuannya satu, bisa menciptakan kenangan indah bersama hingga maut memisahkan mereka.
 
Kepada femina, Ririn membagikan kenangan manis dan rencana perjalanan hidup yang akan ditempuhnya bersama buah hati mereka, Abigail Cattleya Putri (8 bulan) dan Puti Jasmine Salsabila Abeng (13) dari pernikahan pertamanya.
 
JATUH CINTA LAGI
Delapan tahun Ririn bertahan untuk tidak menjalin hubungan percintaan dengan pria mana pun setelah perceraiannya dengan mantan suami, Edwin Abeng. Namun, perjumpaannya dengan Ferry kembali menumbuhkan benih-benih cinta. Ia jatuh cinta lagi!
 
Pebisnis garmen berperawakan tinggi yang dikenalnya dari seorang teman ini kembali membuat hari-harinya ceria. Namun, kesempurnaan ini tiba-tiba menguakkan kenyataan lain yang menguji komitmen hatinya. Semua ini berawal dari pengakuan Ferry, empat bulan setelah mereka menjadi sepasang kekasih. “Ferry menyampaikan bahwa sebenarnya ia menderita penyakit leukemia sejak dua tahun lalu. Rasanya seperti disambar petir,” kenang Ririn, sendu.
 
Rasanya tidak sanggup membayangkan bahwa jalinan kasih mereka akan berujung pada permainan takdir maut yang dibawa oleh kanker. “Sebab, selama itu Ferry terlihat sehat-sehat saja. Aktif berkegiatan, sangat santai dan tidak terlihat seperti orang sakit yang lesu atau pucat,” lanjut Ririn.
 
Usut punya usut, leukemia yang diderita Ferry merupakan faktor genetis dari ibunya, yang juga meninggal dunia karena penyakit yang sama. Dengan maksud tak ingin menyusahkan orang lain, Ferry tidak pernah memberitahukan siapa pun perihal penyakitnya tersebut.
 
Mengetahui fakta pahit tersebut, biasanya orang akan mundur dan memilih berpisah. Namun, tidak untuk Ririn. Pengakuan itu justru membuatnya mantap untuk menikah dengan Ferry. “Rasanya tak adil, ketika pasangan berada di titik terendah, kita justru meninggalkannya,” ujar Ririn.
 
Apalagi, ia dan Ferry memiliki latar belakang yang sama. Mereka sama-sama pernah gagal membangun rumah tangga. Ririn memiliki satu putri, Puti Jasmine Salsabila Abeng, dari pernikahan pertamanya, sementara Ferry memiliki tiga anak. Keputusan untuk menikah adalah sebuah keputusan yang serius.
 
“Kami tidak ingin berpisah lagi. Jadi, saat menikah saya sudah memikirkan untuk menerimanya dengan seluruh konsekuensinya,” ujar Ririn, yang sungguh-sungguh mencintai Ferry. Sebab, tidak sedikit kabar miring yang mengatakan bahwa ia tetap menikahi Ferry karena ingin menguasai bisnis besar yang ditinggalkan Ferry.
 
Keputusan hatinya ini sempat dipertanyakan oleh keluarga dan sahabatnya yang berusaha mengubah pikirannya. “Ketika kita sudah sayang pada  seseorang, hal itu jadi prioritas nomor kesekian. Yang penting saya bisa menemaninya,” ujar Ririn, yang melangsungkan pernikahan dengan Ferry pada 30 September 2015.
 
 

Foto: Dok. Pribadi

NYARIS MENYERAH
Benar saja. Sejak awal menikah, tantangan demi tantangan datang menguji kesungguhan ikrar setianya kepada sang suami. Butuh kesabaran dan kegigihan untuk mendorong Ferry mau berobat ke dokter. Ferry sangat keras kepala. Ia selalu berdalih bahwa pada akhirnya semua orang akan berpulang. Ini yang membuatnya enggan berobat.
 
Sel-sel kanker itu terus menggerogoti tubuh Ferry. Ia mulai merasakan mual-mual, demam, lemas, dan tulang-tulangnya terasa ngilu. Dengan kekerasan kepalanya, Ferry hanya menganggap semua gejala itu sebagai hal yang biasa. “Katanya, itu hanya karena kecapekan. Dia tidak peduli dengan keadaannya. Padahal, sel darah putih dalam tubuhnya tinggi sekali,” jelas Ririn.
 
Sampai suatu ketika, Ferry mengalami demam tinggi dan muntah-muntah hebat. Ririn merasa gejala yang dialami suaminya makin tak wajar dan harus segera dibawa ke dokter. Dari yang awalnya menolak, hati Ferry luluh saat Ririn mengingatkan calon buah hati mereka dan tiga anak Ferry, membutuhkan kehadiran ayah.
 
“Saat itu saya sedang hamil Cattleya 4 bulan. Ini menjadi alasan yang kuat untuk mendorong dia agar mau berobat. Saya katakan kepadanya, jika ia ingin melihat Cattleya dan tiga anaknya tumbuh besar, ia juga harus sehat,” tutur Ririn.
 
Selama lebih dari dua tahun menderita leukemia, Ferry tak pernah tahu penyakitnya itu sudah masuk stadium berapa. Setelah Ririn memaksanya untuk menemui dokter, barulah tahu bahwa Ferry mengidap kanker jenis chronic myeloid leukemia (CML).
 
Menurut ahli hematologi onkologi medik Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Hilman Tadjoedin Sp.PD, KHOM, kanker CML atau leukemia granulositik kronis ini adalah jenis kanker darah yang tergolong langka. Perbandingan kasus yang terjadi di Indonesia sekitar 1,7 : 100.000 orang per tahunnya.
 
CML merupakan jenis kanker darah yang membuat tubuh menghasilkan sel darah putih berlebihan. Jenis kanker ini sebenarnya tumbuh relatif lambat dan butuh waktu bertahun-tahun untuk berkembang. Sehingga, si penderita harusnya mengonsumsi obat khusus secara teratur selama minimal 12 bulan dan tidak boleh putus sejak awal diagnosis. Sayang, ketika Ferry didiagnosis awal menderita leukemia pada tahun 2013, ia tidak melakukan pemeriksaan lanjutan atau mengonsumsi obat apa pun. Ini membuat kankernya menjadi akut.
 
Walau terlambat memulai pengobatan, Ririn tak pernah putus asa mengharapkan kesembuhan suaminya. Ia pun tak pernah absen menemani Ferry berobat ke rumah sakit atau mendorongnya menjalani kemoterapi. “Apalagi Ferry tipe yang manja. Maunya apa-apa dengan saya. Ditemani
mandi, ganti baju, makan, dan lainnya harus dengan saya,” kenang Ririn.
 
Pernah suatu kali kondisi suaminya sangat drop. Ririn harus membopong pria bertinggi tubuh 180 cm dan berbobot 80 kg itu seorang diri. Padahal, di saat yang sama ia sedang hamil lima bulan. “Tapi, luar biasa kuasa Tuhan. meski sedang hamil besar, saya bisa mengangkat tubuh Ferry yang berat,” ucapnya, bersyukur.
 
Kondisi tubuh Ferry terus menurun. Tiba-tiba tubuhnya lumpuh dan menggigil hebat karena kadar sel darah putihnya terlalu tinggi. Limpanya membengkak dan membuat tubuhnya sulit bergerak, tidak bisa makan dan kerap mengaduh kesakitan jika tersentuh sedikit saja.
 
Ririn tengah hamil 7 bulan, ketika dokter mengatakan bahwa limpa Ferry harus dioperasi. Di satu sisi, operasi limpa akan menjadi berbahaya. Ferry akan kekurangan banyak darah dan tidak bisa menyaring darah dan racun. Sehingga, kondisi Ferry bisa memburuk.
 
“Saya stres berat. Di satu sisi saya iba menyaksikan Ferry yang terus-menerus kesakitan karena limpanya membengkak. Di sisi lain, ada risiko yang lebih berat ketika operasi dilakukan,” cerita Ririn. Pada akhirnya dokter mengurungkan rencana operasi.
 
Dalam kondisi hamil besar, tempaan ujian berat membuat hatinya menjerit. Ririn kerap menangis seorang diri di pojok ruangan. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan, agar isaknya tak terdengar Ferry. Ia tak ingin suaminya khawatir dan memperburuk kondisinya.
 
Dalam tangisnya, Ririn kerap mempertanyakan pada diri sendiri, apa yang harus ia lakukan menghadapi situasi seperti ini. Apakah ia harus menyerah, atau terus melanjutkan perjuangan hingga darah penghabisan? “Ini titik terendah saya. Rasanya sudah tidak kuat lagi,” kenang Ririn, yang didukung keluarganya membantu menguatkan dirinya untuk bertahan.
 
Kendati merasa hidupnya sangat berat, Ririn tetap berupaya tidak terlalu stres agar jabang bayi di rahimnya tidak terdampak oleh impitan beban hidup yang ia rasakan. Ia rajin memeriksakan diri ke dokter kandungan, hingga pada 20 Desember 2016, Cattleya lahir, sebagai bayi sehat yang
cantik dan menggemaskan.
 
 
Ririn bersyukur, Jasmine putri pertamanya yang sedang memasuki usia remaja dan butuh banyak  erhatian, sangat memahami posisinya. “Jasmine sangat mengerti dengan keadaan ini dan mengizinkan saya untuk sibuk bolak-balik rumah sakit demi mengurus Ferry. Ia justru jadi lebih terbuka dan menceritakan banyak hal kepada saya,” katanya, tersenyum.
 
 


Foto: Dok. Pribadi
 
MENYIAPKAN DIRI
Cattleya masih berusia enam bulan saat Ririn memutuskan untuk menjalankan ikhtiar mendoakan kesembuhan Ferry dengan melakukan ibadah umrah. Rencananya itu didukung Ferry. Sebenarnya Ferry sempat menyatakan ingin ikut, tapi akhirnya batal karena ia tak mau menyusahkan orang lain jika kondisinya memburuk. Ferry juga masih harus menjalani kemoterapi di hari keberangkatan umrah.
 
Alasan yang membuat Ririn sempat ingin membatalkan kepergiannya untuk berumrah. “Saat Ferry tahu saya ingin membatalkan umrah, ia marah sekali, sampai melepaskan selang oksigennya dari hidung untuk membuktikan bahwa ia baik-baik saja,” papar Ririn, yang pada 5 Juni 2016 berangkat ke Tanah Suci Mekah. Selama kepergiannya, pengasuhan Cattleya ia percayakan kepada tante dan adik perempuannya, Rini Yulianti.
 
Pada hari keberangkatannya, Ferry mengantar Ririn ke bandara. Kepada Ririn, ia berpesan untuk mendoakan yang terbaik, dan agar keduanya lebih kuat menghadapi cobaan. Ririn tak merasakan ada yang janggal dari pesan-pesan sang suami.
 
“Selama umrah, komunikasi kami melalui videocall berjalan lancar dan ia kelihatan sehat. Ini membuat saya lebih fokus berdoa agar penyakitnya diangkat,” kenangnya. Namun begitu, ada yang sempat mengganjal pikiran Ririn kala itu. Tiap kali berkomunikasi lewat chat atau videocall, Ferry selalu meminta maaf kepadanya.
 
“Ia mengatakan, ‘Maaf, selama pernikahan, saya lebih sering menyusahkan kamu. Saya sudah jarang melihat tawa-tawa lepas kamu yang dulu, seperti saat pacaran. Saya minta maaf,’” tutur Ririn, menirukan perkataan sang suami. Air matanya bergulir.
 
Empat hari setelah menjalani kemoterapi, Ferry menyampaikan keinginannya lewat pesan singkat bahwa ia ingin menemui Cattleya di rumah dan mengajak ketiga anaknya berlibur ke Puncak, Bogor. “Saya izinkan. Buat dia, berlibur itu salah satu treatment yang bisa membuatnya senang dan sehat,” ujar Ririn, yang percaya bahwa bahagia adalah obat untuk segala jenis penyakit.
 
Ternyata, sehari sepulang berlibur dari Puncak, kondisi Ferry memburuk dan harus masuk rumah sakit. Ririn yang masih di Tanah Suci Mekah memantau kesehatan suaminya lewat videocall dari ponsel adiknya, Rini, yang ikut menjaga Ferry di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
 
Masih lekat dalam ingatan Ririn detik-detik videocall terakhirnya dengan Ferry. Komunikasi itu terjadi sesaat sebelum dokter memasangkan selang oksigen ke tenggorokannya karena Ferry kesulitan bernapas. “Ia mengacungkan jempolnya. Menandakan bahwa ia baik-baik saja dan masih kuat. Saya masih ingat betul senyum di wajahnya,” kisah Ririn sambil terisak.
 
Dalam kondisi kritis, Ferry harus dilarikan ke RS Pertamina Indonesia, karena ruang ICU di RSCM penuh. Dalam perjalanan itulah, Ferry menyerah pada kanker darah yang makin ganas menggerogoti tubuhnya. Ferry mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu, 11 Juni 2017, pukul 00.15 WIB.
 
Padahal, di saat yang sama, Ririn telah menyusun berbagai rencana untuk mengupayakan kesembuhan sang suami. Mulai dari mencari donor sumsung tulang belakang ke rumah sakit di Jepang atau Belanda, sampai ingin menjalani kemoterapi di Singapura.
 
Namun, takdir Tuhan berkata lain. Meski ibadah umrahnya belum selesai, Ririn segera pulang ke tanah air dan sempat melihat wajah almarhum suaminya sebelum dimakamkan di San Diego Hill, Jawa Barat, di hari yang sama, selepas waktu magrib.
 
Sejak sang suami sakit, Ririn dan Ferry sepakat untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun, kecuali keluarga dan sahabat terdekat. Mereka enggan berkeluh kesah kepada orang lain atau curhat di media sosial. “Ferry sangat tidak suka dikasihani orang lain. Lagi pula, kami berpikir, lebih baik berbagi kebahagiaan saja di media sosial, supaya orang yang melihatnya juga senang,” imbuh Ririn, seraya tersenyum.
 
Namun, keputusan ini justru memanen berbagai komentar miring di media sosial. Misalnya, ketika ia mengunggah foto dirinya tersenyum bersama teman-temannya, ada saja yang mengatakan, “Suaminya baru meninggal, bisa-bisanya hangout sama teman-teman.” Atau, ketika Ririn berusaha menghilangkan kesedihan anak-anaknya dengan berlibur bersama, ada saja haters yang berkomentar, “Suami baru meninggal, sudah bisa ketawa-ketawa dan senang-senang di luar negeri.”
 
“Mereka tidak tahu kehidupan saya seperti apa. Mereka tidak tahu saat saya sedang terpuruk dan sedih. Masa iya saya harus menunjukkan drama itu di media sosial dan meminta belas kasihan?” tutur Ririn, yang sempat stres menghadapi hujatan di media sosial, hingga berat badannya turun 7 kg.
 
Tak pernah sekali pun Ririn mempertanyakan kepada Tuhan mengapa harus dirinya yang melewati cobaan pahit. “Siapa saya, berani tanya kepada Tuhan, ‘Mengapa saya?’ Inilah takdir hidup yang harus saya jalani. Saya percaya, Tuhan memberi cobaan ini karena saya kuat dan mampu,” ujarnya, tegar.

Ririn mengaku belajar menjadi pribadi yang tegar karena perjalanan hidupnya yang naik-turun. Orang tuanya bercerai saat ia masih sangat muda. Pernikahan pertamanya pun harus kandas. “Pengalaman adalah pelajaran hidup terbaik,” ungkapnya.
 
Walau hanya diberikan waktu kurang dari dua tahun menjalani bahtera rumah tangga bersama Ferry, baginya waktu yang diberikan Tuhan itu sudah cukup indah untuk dikenang. Kini tugasnya berjuang memberikan kehidupan yang terbaik bagi putrinya, Jasmine dan Cattleya.
 
“Saya harus tetap semangat mengusahakan masa depan bagi kedua putri saya,” tekad Ririn, yang tengah fokus memajukan bisnis floris yang sudah ia rintis sejak beberapa tahun lalu.(f)

Baca juga: