Foto: Honda Tranggono
 
Suara penonton yang memenuhi Pedopokan Pencak Silat, TMII Jakarta Timur pada Senin, 27 Agustus 2018, lalu begitu riuh. Hari itu memang sedang berlangsung pertandingan final cabang olahraga pencak silat Asian Games 2018. Indonesia berhasil menyumbangkan delapan medali emas. Dua di antaranya dipersembahkan oleh pasangan Iqbal Candra Pratama (22) dan Sarah Tria Monita (23).
 
Iqbal dan Sarah merupakan pasangan suami-istri yang baru saja menikah pada Maret 2018. Sama-sama berprofesi sebagai atlet di cabang olahraga yang sama membuat mereka bisa lebih saling memahami dan semangat untuk mengejar prestasi bersama.

Bagaimana pasangan ini bertemu dan berhasil mengawinkan medali emas? Lanjutkan membaca ke halaman berikut.
 
 


 
Semangat Berlipat

Bila membandingkan prestasi perolehan medali, Sarah memang lebih unggul dari Iqbal. Pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat 2016 di Bali, Sarah meraih emas, sedangkan Iqbal meraih perak. Begitu pula saat Belgium Open 2017, Sarah meraih emas, sedangkan Iqbal hanya meraih perunggu.
 
Keunggulan yang dimiliki itu ternyata tidak mengintimidasi Iqbal, meski keduanya menekuni bidang yang sama. “Terlebih sebagai pasangan suami-istri, sebagai sesama atlet, kami terpanggil untuk memberikan dukungan satu sama lain. Tidak masalah nantinya siapa yang akan lebih berprestasi,” tutur Sarah.
 
Keduanya juga saling menopang ketika salah satu dari mereka terlihat sudah menurun staminanya saat bertanding. Masing-masing akan setia berteriak dari tepi lapangan untuk memberi semangat. Dalam mengatasi persoalan rumah tangga yang masih seumur jagung ini pun mereka punya kiat tersendiri.

“Kadang-kadang kami capek setelah latihan. Kalau sudah begitu, jadi mudah marah kepada pasangan. Biasanya kami saling mendiamkan. Tapi, enggak lama sudah baikan lagi, kok,” ujar Sarah, sambil menatap sayang suaminya.
 
Dalam beberapa hal, Sarah juga mengerti bahwa sebagai istri ia perlu memberikan dukungan kepada suami dalam kariernya. Salah satu hal terbesar yang dilakukannya adalah ketika ia menuruti permintaan suaminya untuk pindah dan menetap di Samarinda, Kalimantan Timur, setelah menikah Maret 2018 lalu. Padahal, saat itu ia masih tercatat sebagai mahasiswa semester akhir di STIE Urip Sumoharjo, Surabaya.
 
“Memang tidak mudah untuk mengambil keputusan ini, apalagi saya juga tetap harus menyelesaikan studi saya. Konsekuensinya, saya usahakan mencuri waktu untuk mengerjakan skripsi di masa rehat sebelum kembali ke pemusatan latihan nasional (pelatnas),” kata Sarah.
 
Perjuangan Sarah dan Iqbal dalam merajut cinta memang tidak sia-sia. Mendapatkan teman hidup untuk saling berbagi dan mendukung membuat pasangan ini berhasil menorehkan sejarah dalam perolehan emas di perhelatan Asian Games 2018 lalu.
 
“Saya justru lebih bersemangat untuk berlatih setelah menikah. Intensitas latihan untuk Asian Games 3 kali lebih tinggi dari biasanya bisa kami jalani berdua,” ungkap Sarah, semangat.
 
Harapan mereka untuk mengawinkan medali emas berhasil diwujudkan seperti pasangan pemain bulu tangkis Susi Susanti dan Alan Budikusuma yang berhasil mengawinkan medali emas di Olimpiade Barcelona 1992.
 
Iqbal yang bertanding pada kelas Dputra 60- 65 kg lebih dulu meraih medali emas, kemudian disusul oleh Sarah yang bertanding pada kelas C 55-60 kg setelah mengalahkan pesilat asal Laos, Nong Oy Vongphakdy.
 
Perjuangan mereka di ajang Asian Games 2018 lalu memang berbuah manis. Bonus uang yang diberikan pemerintah yang mereka terima masing-masing sebesar Rp1,5 miliar akan mereka jadikan sebagai modal usaha serta biaya untuk membangun beberapa petak rumah kontrakan.
 
Alhamdulillah. Tak hanya itu, kami juga mendapat tawaran untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) yang akan kami ambil demi bisa menjamin masa depan lebih baik,” tutur Sarah, bersyukur.
 
Asian Games 2018 bukanlah akhir dari misi Iqbal dan Sarah. Mereka masih ingin mengukir prestasi di ajang lain seperti beberapa kejuaraan dunia pencak silat, SEAGames Filipina 2019, dan lain-lain.
 
 
 

Merajut Prestasi Bersama

Iqbal dan Sarah masih remaja ketika pertama kali bertemu di Makassar pada tahun 2012 lalu. Iqbal bertanding mewakiliki daerahnya Kalimantan Timur, sedangkan Sarah mewakili Jawa Timur dalam ajang kejuaraan Pekan Olahraga Wilayah (POLWIL) untuk cabang pencak silat.
 
Seperti remaja pada umumnya yang sudah mulai tertarik pada lawan jenis, begitu pula yang dialami oleh Iqbal. Ia tertarik pada sosok Sarah yang terlihat begitu menawan di matanya.
 
Ketika ajang kejuaraan tersebut berakhir, tidak demikian halnya dengan hubungan mereka. Meski terpisah kota, komunikasi keduanya makin intens yang bermuara pada jalinan pacaran jarak jauh. Sayangnya, hubungan mereka yang sempat terjalin selama satu tahun sempat kandas karena jauhnya jarak.
 
Namun jalan hidup kembali mempertemukan mereka lewat ajang pertandingan lainnya. Tiga tahun setelah hubungan pacaran mereka berakhir, keduanya kembali bertemu dan kerap bersama dalam waktu yang cukup lama. Sebab, Sarah dan Iqbal terpilih dari 28 atlet pencak silat yang diseleksi oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) untuk menjalani pelatnas di Jakarta sebagai persiapan menghadapi Kejuaraan Dunia Pencak Silat 2016 di Bali, SEAGames 2017 di Malaysia, serta Asian Games 2018.
 
Benih-benih cinta di antara mereka pun kembali bersemi. Iqbal akhirnya meminta Sarah agar kembali menjadi kekasihnya. Diakui Sarah, sikap perhatian dan kedewasaan yang dimiliki Iqbal membuat hati wanita cantik berhijab ini tak bisa berpaling. Meski Iqbal lebih muda 2 tahun.
 
Dua tahun mereka memupuk cinta, Iqbal pun memberanikan diri untuk melamar Sarah. Sebagai atlet, ia juga meminta izin dan restu dari kepala pelatih pelatnas, Ronny Syafullah.
 
“Bersyukur, kepala pelatih sangat mendukung niat kami untuk membangun rumah tangga. Tim pelatih ingin melihat kami mengawinkan medali emas di Asian Games 2018,” kata Iqbal, senang.
 
Niat Iqbal menikahi Sarah bukan semata-mata disebabkan tantangan dan ambisi untuk mengawinkan medali, tapi karena ia yakin bahwa Sarah adalah belahan jiwanya.
 
“Selain sudah dekat sejak tahun 2012, kami juga sama-sama mengerti seperti apa rasanya sebagai atlet pencak silat. Itulah beberapa hal yang membuat saya merasa cocok dan pas untuk menikahi Sarah,” ujar Iqbal.
 
Di tengah kesibukan berlatih, mereka pun melangsungkan pernikahan di Jawa Timur, pada 23 Maret 2018, tepat lima bulan sebelum perhelatan Asian Games 2018.
 
Memang tidak sedikit yang meragukan niat mereka untuk menikah, karena dikhawatirkan akan mengganggu latihan dan berujung tidak bisa maksimal saat bertanding. Namun, Sarah dan Iqbal telah berkomitmen, hubungan pernikahan tidak akan mengganggu latihan dan juga target mereka untuk meraih prestasi.
 
“Masih banyak target prestasi yang ingin kami capai. Rencananya, saya baru akan pensiun di tahun 2020 untuk memulai program kehamilan. Sedangkan Iqbal akan terus bertanding sampai batas usia yang telah ditentukan,” kata Sarah.
 
Sarah menambahkan, kelak bila sudah memiliki anak, mereka tidak akan memaksakan kehendak bagi anak-anak.
 
“Bila mereka ingin merintis karier di bidang olahraga atau di bidang lain, boleh saja. Yang terpenting, apa pun yang dikerjakan harus dengan totalitas dan cinta,” pungkasnya, sambil tersenyum manis. (f)

Baca Juga:

Dua Dekade Pasangan Emas Susi Susanti - Alan Budikusuma
Achmad Zacky & Diajeng Lestari, Merawat Cinta dan Membesarkan e-commerce Bersama
Atalia Praratya, Mengimbangi Langkah Gesit dan Cepat Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil