Dok. Shaina Bareno




Dulu, Dewi Hughes pernah bersahabat dengan pain killer untuk mengatasi masalah persendian yang diakibatkan oleh berat badannya. Bahkan, ia sampai harus berbaring di kasur karena pain killer tak lagi bisa membantunya. 

“Di umur 45 tahun, dengan kondisi seperti ini, bisa saja saya kena stroke. Enough is enough. Saya tidak bisa lagi cuek dan bilang bahwa saya baik-baik saja, sementara keadaan yang terjadi justru sebaliknya,” kenang Hughes.

Dari atas kasur tempatnya berbaring setelah terkapar selama seminggu, ia mulai mencari informasi di internet tentang orang-orang yang hidup di
blue zone, seperti Okinawa di Jepang dan Ikaria di Yunani. Blue zone adalah daerah-daerah di dunia yang penduduk usianya di atas 90 tahun. 

Setelah dicari tahu lebih dalam, ternyata orang-orang yang tinggal di blue zone menerapkan gaya hidup yang hanya mengonsumsi real food (makanan alami yang tidak diolah berlebihan). Lebih dari itu, ini bukan hanya soal apa yang mereka makan, tapi juga cara mereka berpikir dan dalam memandang kehidupan. 

“Kemudian saya ingat, dulu kan saya pernah ambil master untuk hypnotherapy. Kok, ya, tidak terpikirkan? Kenapa saya tidak memanfaatkan ilmu yang saya miliki untuk menghipnotis diri sendiri?” kenang Hughes. 

Dari situlah ia mulai mengutak-atik ilmu hypnotherapy yang ia pelajari. Bagaimana agar seseorang bisa bahagia terlebih dahulu dengan kekuatan pikiran dan mengatur pernapasan, sambil  mengubah gaya hidup dengan mengonsumsi real food. Ia pun menamai metodenya tersebut dengan sebutan Diet Kenyang. 

Diet ini memperbolehkan kita untuk makan dua jam sekali. Namun, makanan yang dikonsumsi adalah real food dengan memperbanyak makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak kandungan nutrisinya.

Namun, bukan berarti diet ini tidak boleh makan produk hewani, karena sesungguhnya Hughes masih mengonsumsi daging, ikan, dan ayam yang tidak diproses dengan cara digoreng. 

Kebayang kan senangnya kalau bisa makan  tiap dua jam? Dan saya pun jadi happy,” katanya. 



(Lanjut ke halaman berikutnya)




BACA JUGA :
Rofifah Juniandar, Tetap Produktif di Tengah Keterbatasan Fisik
Perjuangan Patricia Ayu Menepis Keterbatasan Akibat Penyakit Autoimun yang Dialami
Ketegaran Ririn Ekawati Menghadapi Kanker yang Merenggut Sang Suami Ketika Belum Genap Dua Tahun Berumah Tangga



 

 

 



Dok. Shaina Bareno




Hal lain yang dilakukan oleh Hughes adalah dengan tidak mengonsumsi nasi dan menggantinya dengan sumber karbohidrat lain, seperti kentang dan ubi. Aturan lainnya adalah rajin minum air putih, tidak mengonsumsi makanan kemasan, sarapan dengan buah dan sayur, hingga minum air kelapa hijau untuk detoksifikasi.

Tak dinyana, setelah mempraktikkan temuan metode hypnotherapy tersebut, dalam seminggu Hughes sudah bisa turun dari tempat tidur untuk membuat jus. Minggu berikutnya ia sudah bisa pergi ke supermarket untuk membeli buah-buahan kebutuhan makannya sehari-hari. Dalam sebulan ia sudah bisa jalan-jalan di mal. Dan ternyata, setelah sebulan, Hughes sudah turun hingga 11 kilogram. 

Satu hal yang sangat ditekankan oleh Hughes mengenai kesuksesan Diet Kenyang ini yaitu melakukannya dengan niat ingin sehat, bukan ingin kurus.

“Kalau niat dietnya hanya untuk kurus, itu sangat dangkal. Pada akhirnya, ketika tujuan berat badannya tercapai, dia tidak akan melanjutkan. Sementara, kalau ingin sehat, kita akan terus melakukannya secara konsisten dan bonusnya adalah tubuh jadi langsing,” ujar Hughes, mengingatkan. 

Tak ingin sukses seorang diri, Hughes pun mulai membagikan perjalanannya dalam mempraktikkan #DietKenyang melalui
vlog sederhana yang ternyata ditonton dan diikuti oleh banyak orang. Jika awalnya hal ini ia lakukan untuk iseng-iseng belaka, Hughes pun  makin niat untuk menginspirasi orang lain dan membantu mereka dalam menurunkan berat badan dengan cara yang penuh kebahagiaan. 

Kini Hughes sudah mengeluarkan empat buku, beberapa di antaranya adalah 99+ Wonderful Mind, #DietKenyang, hingga yang paling baru dirilis adalah Ngemil Yuk!. Selain itu, Hughes juga sibuk menggelar workshop di berbagai kota hingga melayani sesi hypnotherapy melalui panggilan telepon dari berbagai negara.

Selama 4 tahun lebih telah menurunkan berat badan, Hughes akhirnya memahami bahwa apa pun jenis dietnya, jika pola pikirnya tidak benar, maka kita tidak akan menemukan jawaban yang diinginkan.

“Karena kunci tubuh yang sehat adalah hati yang gembira. Kalau tidak damai dengan diri sendiri dan pikiran, badannya juga tidak mungkin sehat,” ujarnya.  

Sekarang, dengan tubuhnya yang terlihat  makin ideal, Hughes tak pernah tahu berapa berat badannya. Sejauh yang ia ingat, ia sudah menurunkan lebih dari 90 kilogram.

Ia meninggalkan timbangan untuk tak lagi diintip-intipnya. Karena menurutnya, yang penting bukanlah soal angka dua digit yang terpampang di timbangan, melainkan ukuran kebahagiaanlah yang jadi prioritas.

Talk to your body, bukan ke timbangan. Yang perlu ditimbang adalah keseimbangan kehidupan kita saja, apakah kita bahagia? Karena saya percaya, jiwa yang bahagia akan berdampak pada tubuh yang sehat juga,” tutupnya. (f)



BACA JUGA :

Rofifah Juniandar, Tetap Produktif di Tengah Keterbatasan Fisik
Perjuangan Patricia Ayu Menepis Keterbatasan Akibat Penyakit Autoimun yang Dialami
Ketegaran Ririn Ekawati Menghadapi Kanker yang Merenggut Sang Suami Ketika Belum Genap Dua Tahun Berumah Tangga