Dok. Femina Media / Nicky Gunawan




Nyaris satu dekade Happy Salma (39) menghabiskan hari-harinya bersama Tjokorda Bagus Dwi Santana Kertayasa (38). Ada banyak warna yang bercampur dalam spektrum kehidupan setelah pernikahan. Terlebih lagi ketika keduanya menjadi sorotan publik dan menjadi panutan, bukan hanya karena Happy seorang aktris tapi juga Tjok Gus yang merupakan pangeran Kerajaan Ubud. Memberikan pelajaran kehidupan yang berarti bagi keduanya.

“Pada pertemuan pertama, saya melihat sepertinya dia baik sekali, anak kekinian. Sementara saya merasa sangat
old school. Sepertinya dia bukan tipe saya,” kenang Happy tentang pertemuan pertamanya dengan pria yang akrab dipanggil Tjok Gus pada tahun 2006, yang dikenalkan oleh seorang temannya ketika berlibur ke Bali. 

Namun ternyata penilaian Happy terhadap Tjok Gus hanyalah di permukaan. Setelah saling bertukar pikiran dan menyelami perbincangan lebih dalam, kesan Happy pun berubah.

“Dia tak sedangkal yang saya pikirkan. Dia punya pandangan yang besar pada filsafat hidup, keberagaman, dan ternyata dia punya pandangan yang sama dengan saya,” ceritanya. 

Kecocokan pun membawa mereka pada fase ‘sepasang kekasih’, kendatipun keduanya harus hidup berjauhan. Happy di Jakarta, sementara Tjok Gus di Bali. Tantangan juga hadir ketika keduanya memiliki karakteristik yang sangat berbeda.

“Ketika dia sibuk dengan papan
surfing-nya, saya ngantuk. Ketika saya sedang asyik baca buku, dia yang ngantuk,” celetuk wanita kelahiran 4 Januari 1980 ini. 

Termasuk pula soal cara menjalani hidup. Tjok Gus yang terlihat sangat tenang dan tak banyak bicara mengaku menjalani hidup dengan konsep
‘go with the flow’. Di kutub yang berlawanan, Happy justru cenderung sangat terencana dan detail dalam melakukan berbagai macam hal.

“Yang namanya hidup ada yin dan yang. Kita saling melengkapi saja. Kalau terlalu sama, justru menurut saya akan lebih sering terjadi konflik, sementara kita justru jarang bertengkar. Kuncinya saling menerima dan mengerti sifat masing-masing saja” tutur Tjok Gus yang juga diamini Happy. 

Kendati menjalin kasih yang terpaut jarak dan karakteristik yang berbeda, diakui Happy tak ada drama pada masa pacaran dengan Tjok Gus selama kurang lebih 3 tahun. Semuanya mengalir dengan lancar. 

Diam-diam, Tjok Gus sudah menyiapkan cincin. Bahkan batu yang tersemat pada cincinnya tersebut sudah disiapkannnya sejak masa-masa awal pacaran. Yang dibutuhkan tinggalah nyali dan momen yang tepat untuk melangkah ke fase kehidupan yang berikutnya, pernikahan.

“Menunggunya memang agak lama, tapi saya menanti panggilan hati saja. Ketika itu saya sendiri dan saya pikir dia cocok sebagai pasangan hidup,
yah sudah saya siap,” kenang pria yang juga akrab dipanggil Max.

Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk akhirnya secara resmi menyandang gelar suami istri. Kendati berbeda budaya, ibunda Happy,
Alm. Iis Rohaeni, memberikan restunya untuk mereka berdua. Akhirnya, dengan diberlangsungkan di tiga tempat berbeda, Bali, Jakarta dan Sydney, Australia, Happy dan Tjok Gus pun mengikat janji sehidup semati pada Oktober 2010.


(Baca ke halaman selanjutnya)



BACA JUGA :
Kawan Tulola untuk Nusantara
Tjokorda Sri Maya Kerthyasa, Penjaga Resep Warisan Para Leluhur
11 Tahun Perjalanan Bisnis Happy Salma, Sri Luce-Rusna, dan Franka Franklin-Makarim

 


Dok. Femina Media / Nicky Gunawan




Setelah pernikahan, Happy dan Tjok Gus pun tinggal di Bali. Masuk ke dalam sebuah lingkup keluarga yang baru membuat Happy sempat terkejut. Ia tahu jika Tjok Gus berasal dari keluarga berkasta di Bali, tapi ia tak pernah menyangka bahwa pengaruhnya akan sangat kuat di Ubud.

“Saya pikir pada prakteknya tidak akan terlalu kuat, tapi ketika menikah saya melihat bagaimana warga sangat menghormati keluarga Tjok Gus dan bagaimana Puri Ubud punya peranan yang besar pada masyarakat di sekitarnya. Di budaya Sunda kan tidak ada seperti itu,” kenang Happy.

Sebagai keluarga bangsawan, keluarga
Tjokorda Raka Kerthyasa (Tjok Ibah) dan Jero Asri Kerthyasa (Jane Gilliespie), orang tua Tjok Gus, memang dipandang terhormat oleh warga Ubud. Sang ayah adalah Bendesa Adat Ubud (yang dimaknai sebagai pemimpin Ubud) dan juga merupakan anak bungsu dari Raja Ubud. 

Tak heran jika adat istiadat dan tradisi Bali yang kuat masih dijalani oleh keluarga Tjok Gus. Dan secara resmi masuk ke dalam lingkup ini diakui Happy sempat membuatnya sulit beradaptasi. Budaya dan teman baru serta berada jauh dari keluarganya menjadi tantangan yang harus dihadapinya. 

Adaptasi nyatanya tak hanya dialami oleh Happy, Tjok Gus yang tumbuh besar di Sydney, Australia, semasa kecilnya juga meniti jalan yang sama dengan sang istri.

“Ini proses karena saya sendiri masih belajar tentang tradisi dan adat Bali. Saya hanya tahu beberapa saja. Pada akhirnya kita sama-sama belajar sambil menjalani pernikahan,” tutur Tjok Gus.

Menjadi bagian dalam keluarga bangsawan, mau tak mau membuat Happy harus menjalani sejumlah tradisi dan adat yang kerap dilakukan di Bali. Kerap mengenakan kebaya, bertutur bahasa halus hingga turut hadir mengikuti rentetan ritual adat yang panjang. Awalnya Happy bertanya-tanya, mengapa ada begitu banyak acara adat dan libur karena jalanan ditutup? 

Namun pada akhirnya ia sadar, bahwa ini adalah cara menghormati dan merawat budaya. Mereka yang rela berkorban waktu, tenaga dan uang untuk merawat budaya ini adalah para pejuang bangsa yang melestarikan warisan dari leluhur dengan terus menghidupkannya. 

“Bapak mertua saya bilang, apa artinya menjadi orang yang berkasta kalau dia tidak punya manfaat bagi sekitar. Manfaatnya adalah terus melanggengkan warisan budaya yang telah dilestarikan secara turun temurun,” papar Happy.

Tak heran jika di tengah serbuan budaya dari berbagai negara yang datang ke Pulau Dewata ini, Bali tetap dikenal sebagai salah satu daerah yang memegang teguh tradisi dan menjalankan adatnya dengan kuat.

Menjadi bagian dalam keluarga kerajaan sempat membuat Happy keluar dari ‘radar’ popularitas. Bukan tanpa alasan, keluarganya yang kini berdomisili di Bali membuatnya harus mengurasikan pekerjaan-pekerjaannya sebagai seorang seniman aktif selama satu dekade terakhir. Ia pun memperlambat ritmenya. 

Kehidupannya di Bali juga memberikannya tantangan dalam menemukan kreativitas. Ia awalnya berpikir tinggal di Ubud akan memberikannya lebih banyak waktu dan kemudahan dalam menulis, tapi ternyata tidak. Happy mengaku bahwa ia baru bisa menulis justru di tempat-tempat yang ramai seperti Jakarta. Sementara ketika di Bali dengan tempatnya yang sunyi dan tenang, sensitivitas dalam menulis justru tidak muncul.

“Namun pada akhirnya justru melatih saya untuk lebih kreatif, dan membuka ruang baru. Seperti saya memproduseri sebuah seni pertunjukkan,” tuturnya. 

Happy pun mengaku, sang suami punya peranan yang besar dalam mendukungnya untuk tetap bebas berekspresi sebagai seorang seniman. Tjok Gus pun paham betul bahwa salah satu sumber kebahagiaan sang istri adalah dengan terus berkarya.

“Kalau dia tidak berkarya, dia juga akan bingung. Dia kan orang kreatif, kalau tidak berkarya pasti dia tidak bahagia,” tutur Tjok Gus yang memberikan dukungan pada Happy dengan cara memberikan pendapat yang jujur pada setiap karya-karyanya.




(Baca ke halaman selanjutnya)
 

BACA JUGA :
Kawan Tulola untuk Nusantara
Tjokorda Sri Maya Kerthyasa, Penjaga Resep Warisan Para Leluhur
11 Tahun Perjalanan Bisnis Happy Salma, Sri Luce-Rusna, dan Franka Franklin-Makarim

 
 


Dok. Femina Media / Nicky Gunawan




Setelah pernikahan, butuh waktu setidaknya 2.5 tahun bagi Happy dan Tjok Gus untuk akhirnya memutuskan bahwa mereka siap memiliki anak. Maklum saja, selama berpacaran mereka jarang bertemu, sehingga momen pacaran yang sesungguhnya justru terjadi setelah keduanya menikah. Lebih dari itu, menunda untuk memiliki anak juga berdasarkan pertimbangan keduanya untuk mengikuti ritme adaptasi dengan budaya yang baru keluarga Kerajaan Ubud. 

“Setelah seimbang, saya sebagai perempuan sudah merasa lebih kuat, dan kita lebih stabil dalam menjalin hubungan, akhirnya kita memutuskan siap punya anak,” cerita Happy.

Tepat pada 2 April 2015, putri pertama mereka lahir ke dunia. Gadis kecil ini pun disematkan nama
Tjokorda Sri Kinandari Kerthyasa. Kinandari dimaknai sebagai cahaya berkah kehidupan. 

Tiga tahun berselang, tepatnya di tanggal 2 September 2018, sang adik bungsu pun menyusul. Putra kedua Happy dan Tjok Gus ini diberi nama
Tjokorda Ngurah Rayidaru Kerthyasa. Dalam proses melahirkan anak keduanya ini, menjadi momen yang emosional bagi Happy. Pasalnya, ia menggunakan kain batik penyelimut sang bayi, yang juga digunakannya untuk mengantarkan almarhumah ibunda saat meninggal dunia.

“Dengan batik ini alm. mama dihantarkan dan dengan batik ini pula Rayidaru terlahir,” tulisnya pada laman media sosial sesaat setelah Happy melahirkan.

Kehadiran Kinan dan Rayi menghadirkan warna yang berbeda dalam kehidupan keluarga Happy dan Tjok Gus. Bahkan diakui keduanya, anak-anak kerap jadi Persatuan Bangsa Bangsa dalam keluarga, yang kerap jadi pendamai ketika tengah bersitegang. 

“Kalau sudah ada anak, kita jadi
males bertengkar di depan mereka,” tutur Tjok Gus. Diamini oleh Happy yang mengaku bahwa melihat tingkah lucu kedua putra putrinya membuat mereka lupa jika mereka sedang bertengkar.

Senyuman Kinan dan wajah menggemaskan Rayi kerap mewarnai lini masa media sosial Tjok Gus. Pria yang pernah bekerja sebagai fotografer di Sydney, Australia dan kini beralih sebagai pebisnis kuliner ini seakan tak mau kehilangan momen indah kedua putra putrinya begitu saja, sehingga mengabadikannya dengan rapi di Instagram. 

Tak heran jika sang istri menyebut Tjok Gus adalah pria yang sangat memrioritaskan keluarga. “Tjok Gus adalah seorang
family man,” tutur Happy dengan tegas dan pasti.

"Saya merasa beruntung karena punya pasangan yang bisa diajak bekerja sama dalam mengurus anak. Ia tak pernah segan untuk turun tangan langsung menjaga Kinan dan Rayi saat saya sedang sibuk bekerja. Ayah yang bisa diandalkan untuk anak-anaknya,” tambahnya.

Menjadi bagian dalam keluarga Kerajaan Ubud, tentu memberikan tugas yang penting bagi Happy dan Tjok Gus untuk meneruskan warisan adat dan budaya Bali pada putra putrinya. Sedari kecil, Kinan sudah diperkenalkan dengan tari Bali dan aktif mengikuti rangkaian acara adat.

“Itu juga saya lakukan dulu. Walau tumbuh besar di Australia, setiap pulang kampung saya akan belajar tari Bali. Tak jago, tapi bisa,” cerita Tjok Gus yang juga mengaku bisa bermain gamelan. Ia pun mengaku akan meneruskan ini kelak pada putranya, Rayi.

Terlepas dari fakta bahwa kelak Kinan dan Rayi akan menjadi penerus keluarga Kerajaan Ubud yang taat pada tradisi dan budaya, baik Happy maupun Tjok Gus setuju bahwa kedua putra putrinya ini tetap bisa bebas berekspresi menuntaskan apapun impian hidupnya.

“Dengan sendirinya, anak-anak tahu bahwa mereka punya tugas melanggengkan apa yang menjadi warisan leluhurnya. Walaupun mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan, tapi jangan lantas lupa juga tugasnya, jangan lupa akarnya,” pesan Happy.(f)




BACA JUGA :

Kawan Tulola untuk Nusantara
Tjokorda Sri Maya Kerthyasa, Penjaga Resep Warisan Para Leluhur
11 Tahun Perjalanan Bisnis Happy Salma, Sri Luce-Rusna, dan Franka Franklin-Makarim