
Foto: 123RF
Kecelakaan mobil telah membuat Eustokia Maria Magdalena (33) kehilangan nyaris seluruh kemampuan fisiknya. Ia pernah begitu putus asa, hingga ingin mengakhiri hidup. Namun, proses panjang telah mengubahnya menjadi manusia baru yang lebih kuat. Manusia yang tak lagi meratapi diri sendiri, tetapi bangkit dan bahkan mengulurkan tangan untuk orang lain.
LIBURAN MAUT
Juli 1999, Airin, begitu ia disapa, hendak menghabiskan liburan kenaikan kelas ke Jakarta bersama keluarga (mantan) kekasihnya dengan mengendarai dua mobil. Saat itu ia berusia 16 tahun dan semester depan akan duduk di kelas dua SMA di Jambi, tempat tinggalnya bersama keluarga. Kekasih Airin, yang lebih tua lima tahun darinya, tengah merampungkan kuliahnya di Jakarta. Jadi, liburan kali itu, ia hendak menengok tempat kekasihnya itu menimba ilmu.
Tidak ada yang menyangka, liburan yang membahagiakan itu berujung pada tragedi yang mengubah seluruh jalan hidup Airin. Dalam perjalanan pulang ke Jambi, ia dan kekasihnya berada di mobil kedua yang dikendarai sopir. Airin yang sedang mual dan muntah-muntah karena penyakit maag-nya kumat, duduk di jok tengah, sedangkan kekasihnya duduk di depan, di samping sopir.
Hari itu, 20 Juli 1999, sekitar 15 menit sebelum memasuki Kota Jambi, tepatnya di Kampung Tempino, tiba-tiba mobil melaju dengan sangat cepat. Mungkin karena mengantuk, sopir tidak sadar menginjak gas terlalu dalam, hingga mobil melaju dengan kecepatan 140 kilometer per jam dan menabrak sebuah truk di depannya. Tepatnya, mobil yang dinaiki Airin dan kekasihnya itu menghantam ujung kiri belakang truk. Sopir kaget, lalu membuang setir ke kiri dan menabrak tiang listrik.
“Sebelum dan selama kecelakaan, saya dalam keadaan tertidur. Saya sama sekali tak sadar telah mengalami kecelakaan. Ketika saya digendong orang keluar dari mobil, saya sempat membuka mata, tapi kembali tak sadarkan diri,” kenang Airin. Mereka melarikan para korban ke rumah sakit. Sang sopir meninggal dunia, kekasihnya hanya luka-luka ringan, sementara Airin sempat tak sadarkan diri selama dua hari. Ia demam tinggi dan kerap mengigau. Cederanya masih tak terdeteksi karena fasilitas rumah sakit yang teramat minim.
Berdasarkan rujukan dokter, Airin segera diterbangkan ke ibu kota dan ditangani oleh salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Dari hasil rontgen terungkap bahwa kecelakaan nahas itu telah meremukkan tulang leher belakang Airin di beberapa bagian, yaitu di cervical 4, 5, 6, menyebabkan trauma yang menyerang saraf motorik dan sensoriknya.
“Tidak hanya lumpuh dari dada sampai ujung kaki, saya juga tidak bisa merasakan apa-apa. Saya tidak bisa merasakan dinginnya air, semilir angin atau gesekan rambut saya sendiri di kulit tubuh,” cerita Airin, pilu.
Melihat kondisi Airin, dokter memutuskan untuk melakukan operasi pemasangan pen hari itu juga. Menurut dokter, kemungkinan keberhasilan operasi ini hanya 15 persen, mengingat kondisi Airin yang begitu lemah dan demam tinggi, padahal ini termasuk operasi besar yang memakan waktu 8 jam. Mendengar ini, papa Airin, David, langsung shock dan membentur-benturkan kepalanya ke lantai. Namun, ia tidak punya pilihan lain, sebagai ayah dan kepala keluarga, ia pun menandatangani surat izin operasi itu.
MENJAGA NYALA HARAPAN
Airin menghabiskan sekitar satu setengah bulan di rumah sakit. Selama kurun waktu ini, kondisinya turun naik. Ia beberapa kali demam tinggi, bahkan pernah sampai kejang dan menggigit lidah sendiri. Menjadi langganan ICU, Airin pernah koma dua hari dengan bermacam selang terpasang di tubuh. anak ke-2 dari tiga bersaudara pasangan David dan Susianty ini.
Airin masih mengingat trauma rasa sakit yang mendera tubuhnya saat itu. “Karena kondisi yang sangat lemah, saya tak bisa batuk sekuat tenaga untuk mengeluarkan dahak. Akhirnya dokter menyedot dahak itu dengan selang section pump yang dimasukkan dari hidung. Ketika selangnya dicopot, ya, Tuhan... sakitnya. Air mata saya sampai mengucur,” tutur Airin. Kejadian ini membuatnya trauma dengan rumah sakit.
Hanya ada dua pilihan baginya saat itu: terus mendorong diri untuk bisa pulih, atau tenggelam dalam kesedihan dan frustrasi, membuat perjuangan papa dan mamanya sia-sia. Papanya bekerja lepas di bidang pemasaran, sedangkan mamanya peracik obat herbal di toko obat Tionghoa milik keluarga besar mereka. Selama Airin di Jakarta, otomatis tenaga, pikiran, waktu, dan dana mereka terkuras. Sebab, biaya pengobatan Airin selama di Jakarta tidaklah sedikit.
Mengingat pengorbanan yang dilakukan oleh orang tuanya ini, Airin mencoba melawan rasa sakit. Seperti saat ia harus belajar duduk, seperti anak kecil lagi. “Duduk bukan hal yang mudah. Tiap gerakan membuat perut saya seperti diaduk-aduk, mual sekali. Ketika badan saya dibalikkan, dunia serasa berputar kencang,” ceritanya. Namun, ia harus tetap menelan pil pahit, saat dokter mengungkapkan fakta bahwa seumur hidup ia harus bergantung pada kursi roda.
“Perkataan dokter ini tidak melemahkan saya. Sebaliknya, saya masih sangat optimistis. Saya pikir, ‘Ah, ini hanya masa pemulihan yang panjang. Saya pasti akan sembuh!’ Sebelumnya saya sudah pernah jatuh dari sepeda, motor, bahkan kecelakaan mobil juga. Jadi, kali ini saya pasti akan baik-baik saja seperti sebelumnya,” kata Airin saat itu, yakin.
Suatu kali, orang tuanya terpaksa mengatakan bahwa mereka sudah tidak memiliki dana untuk meneruskan pengobatan dan perawatan Airin di rumah sakit. Meski belum pulih seratus persen, Airin dibawa pulang oleh keluarganya. Saat keluar dari rumah sakit, leher Airin sudah bisa menoleh ke kanan dan kiri, walau tak sampai jauh ke belakang. Kedua lengannya pun bisa digerakkan, tetapi jemarinya tak berfungsi. Tubuh hingga kakinya lumpuh dan mati rasa.
Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, rupanya Airin masih belum bisa buang air sendiri. Padahal, kateter yang selama ini membantunya buang air kecil, sudah dilepas. Perutnya terasa begah dan ia pun uring-uringan. “Saya kembali dilarikan ke rumah sakit untuk dipasangi kateter dan akhirnya bisa buang air kecil sampai satu liter!” ungkapnya.
Pengobatan alternatif menjadi solusi keluarga untuk mengupayakan penyembuhan Airin. Mulai dari totok, akupunktur, bahkan sampai berkonsultasi ke orang pintar pernah mereka jalani. Namun, kondisi Airin tak kunjung membaik. “Ada saudara yang berbaik hati membawakan rekam medis saya untuk dikonsultasikan kepada dokter di Singapura dan Australia. Tetapi, mereka pun angkat tangan dan memberi jawaban sama, ‘Maksimalkan saja hidupnya,’” kenang Airin, tersenyum kecut.
Kepulangannya ke Jambi justru membuat api harapannya makin redup. Puncaknya, ketika seorang ahli akupunktur memvonis Airin takkan bisa sembuh. Dinding pertahanannya pun runtuh. Ia menangis sejadi-jadinya. “Selama beberapa waktu saya depresi dan mengunci diri di rumah. Saya tak mau keluar. Rambut saya berantakan. Saya tak peduli baju apa yang saya pakai. Jika dimandikan, saya histeris. Saya juga tidak berani bercermin. Kenapa Tuhan mengizinkan saya melalui semua ini?” jeritnya saat itu.
Hatinya makin pilu saat mendengar bahwa kekasihnya berselingkuh. Namun, beban terberatnya adalah ketika ia mengetahui bahwa papanya ketahuan telah menikah lagi dengan wanita lain. “Ini menjadi masa-masa terberat dalam hidup saya. Sudah jatuh, tertimpa tembok pula! Saya merasa tak ada yang sayang pada saya,” ungkap Airin, yang saat itu didera frustrasi. Selama bertahun-tahun setelah itu, Airin mogok bicara dan bertemu dengan papanya.
Beberapa kali ia bertekad bunuh diri dengan membentur-benturkan bagian belakang kepalanya ke dinding, tapi selalu ketahuan oleh mamanya yang langsung menariknya menjauhi tembok. “Saya coba menggigit lidah, tapi kesakitan sendiri. Saya mogok makan seharian. Tapi, mendengar Mama menangis, saya tak tega. Percobaan bunuh diri saya gagal lagi. Di antara semua itu, wajah Mama yang telah mengembalikan saya pada kesadaran bahwa ada yang mengasihi saya tanpa syarat,” ungkapnya.
MASIH ADA JALAN
Tahun 2005 menjadi titik balik kehidupan Airin. Hal ini terjadi saat ia mengikuti sebuah kebaktian di gereja. Saat itu, seorang penyandang tunanetra, Priskilla Jully, menceritakan pengalaman hidupnya bangkit dari keputusasaan. Priskilla menderita tunanetra sejak lahir, tapi tidak sibuk meratapi nasib. Daripada hanya memikirkan diri sendiri, ia malah mendirikan yayasan di Semarang yang membina 100 penyandang disabilitas.
“Apabila ada orang yang butuh bantuan, Priskilla langsung turun tangan. Saya benar-benar terinspirasi olehnya. Kalau dia bisa, saya juga pasti bisa,” tutur Airin. Semangatnya bangkit lagi. Ia mulai rajin membaca buku, majalah, dan Alkitab. Ia juga mulai berlatih memakai gadget untuk berkomunikasi. Karena jemarinya tak berfungsi, ia menekan keypad ponsel dengan tulang yang menonjol di pangkal ibu jari, dekat pergelangan tangan. Airin gembira karena bisa mengobrol dengan teman-teman lamanya lagi.
Setahun kemudian, setelah kedua orang tuanya memutuskan berpisah, mamanya memboyong Airin ke Jakarta. Mereka tinggal dari satu tempat kos ke tempat kos lain. Kakak Airin, Andi, juga di Jakarta, tetapi mereka tinggal terpisah. Sementara adik Airin, Vitalia, sejak kecil sudah diasuh oleh keluarga tantenya. Di Jakarta, Airin ingin sekali bekerja, tetapi tak tahu harus bekerja apa. Syukurlah, pada tahun 2007, jalannya terbuka. Ia bertemu dengan Ratnawati Sutejo, pendiri Yayasan Precious One yang melatih dan membuka lapangan pekerjaan bagi para tunarungu.
Dari Ratna, Airin mendapat pekerjaan menerjemahkan buku bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Sebagai modal bekerja, Airin dibekali laptop yang harus dicicilnya sampai lunas. Hingga tahun 2015, Airin aktif bekerja sebagai penerjemah. Tak hanya dari Precious One, kesempatan juga datang dari tempat-tempat lain. Tak kalah dengan orang kantoran, kesibukannya ini bahkan pernah membuatnya begadang dari pagi sampai pagi lagi.
Selain sebagai penerjemah, Airin mulai merintis bisnis online sebagai dropshipper. Ia tak perlu menyetok dan mengirim produk. Ia hanya perlu membuat akun toko online di media sosial, mempromosikan barang dagangan dan mengumpulkan pesanan. Si produsen akan mengirim pesanan kepada pembeli sesuai data yang diterima dari Airin. Kini ia menambah bisnis dengan berjualan cokelat dan kue-kue secara online juga.
Dunia Airin makin terbuka lebar ketika ia memasang koneksi internet yang lebih kencang. Berkat teknologi, ia bisa berkomunikasi dengan Skype, memiliki teman ngobrol dari luar negeri, memanfaatkan game online Second Life untuk belajar bahasa Inggris, bahkan mengikuti kelas online secara gratis dari Christian Institute on Disability di Amerika. Ia mempelajari psikologi dan teologi yang ilmunya dapat diterapkan untuk merawat orang berkebutuhan khusus.
Bekal ilmu yang dipelajarinya melalui online ini membukakan kesempatan pelayanan baru di gereja yang dijalaninya sejak tahun 2010. Airin menjadi mentor bagi 10 anak muda tunadaksa. Mereka bertemu tiap bulan untuk saling belajar dan berbagi pengalaman hidup. Airin juga sering memberikan kesaksian dalam acara-acara gereja. Bagi Airin, semua ini membuat hidupnya jauh lebih berwarna dan makin semangat. Pikir Airin, kalau ia down, bagaimana dengan anak-anak ini?
Proses panjang yang dilalui Airin perlahan-lahan membuatnya menerima diri sendiri seutuhnya. “Dulu saya malas keluar rumah karena risi dijadikan tontonan. Jika kursi roda saya lewat, banyak kepala menoleh untuk memperhatikan saya. Mereka bengong memandangi saya, tetapi tak berani bertanya atau menyapa. Namun kini bila ada yang memandangi, saya cukup melempar senyum,” paparnya, tertawa.
Terkadang, ada yang berani bertanya, “Kamu kenapa? Stroke, ya?” Bukannya terganggu, kesempatan ini justru dipakainya untuk mengedukasi orang lain dengan menjelaskan apa yang terjadi padanya. “Setidaknya, mereka akan mengingat saya jika kelak melakukan perbuatan berbahaya, seperti mengebut, menyetir sambil mengantuk atau naik motor tanpa helm. Jangan sampai ada orang yang bernasib seperti saya,” urai Airin, tersenyum.
Semua kegiatannya ini ikut memompa kepercayaan dirinya. Ia tidak mengurung diri, tapi membuka diri dalam lingkungan pergaulan yang positif, baik dengan teman di tempat kos, gereja, maupun sesama penyandang disabilitas yang aktif bekerja. Bahkan, salah seorang teman lamanya dari Jambi kembali menghubunginya, dan memberanikan diri untuk melamarnya! “Tentu saja, suatu hari nanti saya ingin menikah seperti orang-orang. Hanya, saat ini saya masih membuka diri untuk hubungan pertemanan. Yang jelas, siapa pun nanti jodoh saya, harus bisa menerima diri saya apa adanya,” ungkapnya, bijak.
Selain berdamai dengan diri sendiri, setelah 6 tahun hidup terpisah dan tidak berkomunikasi, Airin kembali melapangkan hatinya untuk memperbaiki hubungan pribadinya dengan papanya. Pada tahun 2012, saat papanya dirawat di rumah sakit karena diabetes, Airin datang menjenguk. “Saya sedih melihat tubuh Papa yang kurus dimakan penyakit,” ungkapnya. Di momen inilah hati keduanya terbuka, dan komunikasi pun terjalin kembali. “Papa tanya, apa saya tak kangen padanya. Saya katakan, saya kangeeen... sekali,” kenang Airin, dengan mata berkaca-kaca. Ia lega, pada tahun yang sama bisa melepas kepergian papanya untuk menghadap Tuhan dalam damai dan hati ikhlas.
Kini Airin menjalani hidup yang tenang bersama mamanya. “PR saya adalah terus-menerus berlatih mengendalikan emosi. Kadang-kadang saya kehilangan kesabaran karena ingin melakukan sesuatu dengan cepat, tapi terhalang kondisi fisik,” ungkap Airin, yang bersama mamanya membiayai kehidupan mereka dengan bekerja keras. “Prinsip saya, pantang meminta, karena meminta hanya membuat saya merasa kerdil,” tekan Airin.
Ia merasa sangat bersyukur dikaruniai seorang mama yang baginya adalah seorang pejuang kasih. Wanita inilah yang dengan sabar merawat dan membantunya sehari-hari. “Biarlah saya jalani hidup ini selangkah demi selangkah, menebas rintangan satu demi satu,” tekad Airin, yang berencana untuk menjalani terapi cedera tulang belakang sebagai bagian dari usahanya untuk meningkatkan kondisi fisik dan kemandiriannya.(f)
Eyi Puspita (Kontributor – Jakarta)