Foto: 123RF, Caesaria Naila Asri, Dok. Kir


Pengalaman menjalani proses melahirkan yang tidak menyenangkan sempat membuat Dyah Pratitasari (36) mengalami trauma. Tak ingin wanita lain mengalami hal yang sama, wanita yang biasa disapa Prita ini pun bertekad menjadi doula. Baginya, pekerjaan ini bagai 'malaikat' bagi wanita yang sedang berjuang untuk sebuah kehidupan baru.

Profesi Baru, Peran Lama
Melahirkan adalah proses alamiah yang dialami wanita. Peristiwa mengantarkan kehidupan baru ini bisa dianggap momen yang sakral.  Rangkaian proses penciptaan kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga persalinan, tidaklah mudah. Masih banyak wanita yang belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk melewatinya dengan tenang dan senang. Tak sedikit juga wanita yang mendapat pengalaman kurang menyenangkan saat hamil dan melahirkan. Berawal dari adanya panggilan hati untuk mendampingi, membimbing, dan mempersiapkan fisik dan emosi si ibu baru inilah profesi doula lahir. 

"Bayangkan, saya pernah bertemu seorang ibu yang baru melahirkan dan bayinya meninggal dunia. Tubuh dan perasaannya sakit tak terkira. Saat itu, pasangan mungkin tak cukup untuk menenangkan hatinya. Sepulang dari rumah sakit, si ibu juga harus melihat pakaian atau kamar yang telah disiapkan untuk si bayi. Pastinya akan sedih sekali. Ketika itu, si ibu menolak untuk dikunjungi siapa pun,” cerita Prita.

Kondisi emosi ibu ini juga bisa makin buruk jika lalu mengalami baby blues. Dalam kondisi seperti inilah Prita hadir lewat kata-kata menguatkan dan menghibur. Terkadang tanpa kata, hanya sekadar ada di sampingnya, untuk mendengarkan atau sekadar mengusap sayang punggung ibu yang sedang berduka luar biasa itu. Bertindak sebagai sahabat yang peduli adalah peran penting seorang doula.

Ia pernah mendampingi seorang ibu yang hamil di luar nikah. “Ia diusir dari rumah, tidak mendapatkan support sama sekali dari keluarga dan sempat berniat menggugurkan kandungannya,” katanya, prihatin. Beruntung ia sempat mengenal wanita ini sebelumnya di komunitas Gentle Birth untuk Semua (GBUS). Sebuah wadah belajar nirlaba, berbagi dan saling mendukung di antara para ibu, yang didirikannya tahun 2011.

Tanpa berharap imbalan, Prita menawarkan diri menemaninya saat melahirkan, menggantikan posisi keluarga yang biasanya memberi dukungan kekuatan bagi calon ibu. "Ini salah satu pengalaman paling berkesan. Bayangkan jika ia harus melahirkan sendiri. Saya merasa bersyukur dipercaya terlibat dalam perjalanan sakralnya. Saya belajar mengenai banyak hal saat itu,” ujarnya penuh syukur.

Pekerjaan ini di mata Prita tak sekadar profesi. Ia memang terkadang mendapat imbalan, tetapi menjadi doula adalah sebuah panggilan, tugas
yang datang dari rasa kemanusiaan. Profesi ini terbilang baru, sehingga belum banyak yang tahu. Di Indonesia, doula awalnya berkembang di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, sejak 5-10 tahun lalu. Meski istilah doula baru dikenal di Indonesia, namun peran pendamping ini sudah lama ada, meski tidak menjadi profesi seperti saat ini. 

"Pendamping dari pihak keluarga yang menemani memang bisa jadi tempat bertanya, memberi support dan ketenangan pada ibu baru yang sedang transisi dari lajang menjadi ibu. Bedanya, pendamping tersebut tidak dibekali ilmu dan keterampilan seperti doula,” tutur Prita.

Kata doula diambil dari bahasa Yunani, yang memiliki arti pelayan perempuan. Doula bertindak sebagai sahabat yang menjadi tempat bertanya seputar kehamilan dan persalinan, hingga menemani sang ibu pada saat persalinan dan di hari-hari awal setelah kelahiran anak. Secara  profesional, peran doula adalah menemani dan membantu ibu sejak usia kehamilan 36 minggu hingga 2 jam setelah bayi lahir (postpartum). Doula yang memiliki kompetensi sebagai konselor menyusui dapat membantu ibu di masa awal setelah persalinan atau masa menyusui.

"Doula juga berperan dalam memberikan informasi yang utuh dan berimbang, terkait bagaimana menjalani proses kehamilan yang berkualitas dan proses persalinan yang aman dan sehat sehingga ibu dan bayi selamat. Juga dukungan secara psikis dan kebutuhan personal lainnya. Tujuan pendampingan ini semata agar ibu lebih siap secara fisik dan psikis, merasa nyaman,” papar Prita.

Di luar negeri, profesi ini sudah diakui sebagai profesi yang profesional dan bersertifikat. Bahkan mereka bekerja sama dengan perusahaan asuransi. Di Indonesia doula belum diakui secara profesional. Pengetahuan yang didapat doula profesional diperoleh dari DONA, organisasi internasional yang memberikan training dan sertifikat kepada doula di seluruh dunia. Siapa pun bisa menjadi doula, meski tidak memiliki latar belakang pendidikan medis. Doula bukan tenaga medis, karenanya doula tidak memberikan tugas-tugas klinis maupun memberikan saran medis atau mendiagnosis kondisi kliennya.

(Selanjutnya: Sempat Trauma Melahirkan)
 
 


Foto: Caesaria Naila Asri, Dok. Kir

Sempat Trauma Melahirkan

Ketertarikan Prita pada profesi doula didasari oleh pengalamannya sendiri. Setelah menikah Prita yang berasal dari Semarang harus pindah ke Jakarta mengikuti suami. Prita yang langsung hamil harus menjalani masa kehamilannya seorang diri. “Hal yang saya rasakan saat itu, saya merasa sendirian. Tidak punya teman berbagi karena teman-teman dalam lingkar pergaulan masih asyik kuliah, main, dan belum ada yang menikah,” ungkap Prita, yang menikah dan hamil di usia 23 tahun.

Bertanya kepada ibu dan mertua pun terasa kurang memuaskan baginya. Suami tidak tahu apa-apa tentang kehamilan. Puncaknya, suatu hari ia mendapati ada lendir bercampur darah yang menjadi tanda awal persalinan. Prita panik luar biasa. “Saya langsung minta suami untuk mengantar ke rumah sakit. Ternyata itu masih bukaan awal. Jadi saya disuruh pulang dan kembali kalau kontraksinya sudah 5 menit sekali. Sampai rumah, saya merasakan kontraksi makin sering. Saya kembali ketakutan dan dm minta buru-buru diantar ke rumah sakit. Ternyata masih bukaan satu juga. Jadi kami terus bolak-balik sampai suami kesal,” kisah Prita tertawa bercampur sedih mengingat minimnya pengetahuan dirinya mengenai proses persalinan saat itu.

Karena bukaannya ‘tak juga bertambah’, dokter akhirnya menawarkan induksi. “Saat itu, saya tidak tahu induksi itu seperti apa, apa manfaatnya, kapan sebaiknya diberikan, bagaimana risiko, serta cara menyiasatinya. Yang saya tahu biar lahirannya cepat saja. Ternyata rasanya ‘luar biasa’,” aku Prita.

Alhasil, lantaran tidak siap secara fisik dan mental, sepanjang kontraksi ia menangis, tak kuasa menahan rasa nyeri hebat. Saat itulah seorang suster 'menegurnya' , "Lho, sudah mau jadi ibu, kok, nangis, sih…?" Di situ Prita mengaku merasa tambah down. ”Dalam kondisi kepayahan, perkataan itu membuat saya merasa tidak dipahami dan didukung,” kisahnya. Bukan teguran yang Prita inginkan saat itu, tapi penguatan dalam bentuk kata-kata afirmatif, atau setidaknya dukungan sesederhana  menggenggam tangan saja tanpa perlu berkomentar apa pun.

“Melihat saya begitu lemah, kesakitan, dan muntah-muntah, suami pun ikut menangis. Jadinya, kami berdua trauma dengan proses melahirkan,” imbuh Prita.

Cukup lama Prita dan suami menahan diri untuk tidak memiliki anak lagi karena masih dibayangi trauma. Ia harus memendam naluri keibuannya ketika melihat bayi-bayi lucu. “Saat itu saya benar-benar sudah yakin tidak akan mau lagi melahirkan,” katanya.


(Selanjutnya: Perjalanan Jadi Doula)
 
 


Foto: Caesaria Naila Asri, Dok. Kir


Perjalanan Menjadi Doula

Jalan hidup membawanya pada cerita yang berbeda. Sebelum terjun menjadi doula, Prita adalah seorang jurnalis kesehatan. Profesi wartawan kesehatan yang ia jalani pada 2005-2013 memberinya banyak kesempatan untuk belajar dan bertemu narasumber yang membukakan pikirannya. Seakan takdir menjawab kegamangannya, tahun 2010 Prita mendapat kesempatan untuk mewawancarai Robin Lim, bidan asal Amerika yang bermukim di Bali dan berdedikasi membantu persalinan warga kurang mampu di kliniknya, Bumi Sehat, di Ubud, Bali.

Di sana ia bertukar pikiran dengan ibu Robin dan menyaksikan bagaimana proses melahirkan alamiah lewat filosofi gentlebirth yang selama ini tidak ia ketahui. Prita melihat seorang ibu yang melahirkan dalam posisi jongkok di lantai. Berdasarkan penelitian, jongkok mampu membuka 28-30 persen jalan lahir.

Ada juga bidan yang menanyakan "Ibu mau ditemani siapa?" Prita kaget mendengarnya. Sebab, sepengetahuannya, yang menentukan siapa yang boleh menemani si ibu itu dokter atau suster. Jawaban yang ia dapat membuatnya terkesiap. “Melahirkan adalah proses sakral si ibu, jadi dialah yang berhak menentukan dengan siapa ia merasa nyaman ditemani. Ternyata ada banyak hal yang tidak saya ketahui dan tidak saya alami dalam persalinan saya sendiri,” ujar Prita.

Persepsi kita masih banyak disetir cerita berdasarkan pengalaman orang lain, bahkan adegan sinetron, di mana melahirkan cenderung digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan, menyakitkan, dan membuat panik. Lebih banyak pengalaman tidak enaknya. “Sementara di klinik ibu Robin, saya melihat para bidan tidak menangani ibu seperti dalam kondisi darurat. Semua terlihat tenang, santun, sekaligus memperlakukan proses persalinan sebagai sesuatu yang sakral,” ujarnya. 

Pelajaran yang ia petik dari kunjungannya ke klinik Bumi Sehat bahwa persalinan pada dasarnya adalah proses alamiah. Ia begitu terpesona. Setelah pertemuannya dengan Ibu Robin Prita banyak menggali informasi tentang kehamilan dan persalinan. Dari proses pembelajarannya, ia mengenal adanya profesi doula.

Hatinya kian mantap untuk menjadi pendamping ibu seperti para bidan dan relawan pendamping persalinan yang dilihatnya di klinik Bumi Sehat yang begitu berempati. Prita mulai sering mengikuti pelatihan konselor menyusui dan mendampingi persalinan dari berbagai organisasi.

Tahun 2014 Prita mulai menjalankan profesinya sebagai doula profesional. Dalam prosesnya berburu ilmu, ia mendapati dirinya hamil anak kedua. “Saat itu saya merenung. Barangkali Tuhan memang sengaja memberikan waktu kepada saya agar belajar dulu. Kini, setelah diberi kesempatan belajar lagi, saya merasa lebih percaya diri dan siap untuk melahirkan lagi,” katanya. Jarak antara anak pertamanya, Velma (12), dengan anak kedua, Jose (6), cukup jauh, 6,5 tahun.

Ia mengakui, momen hamil ini menjadi saatnya mempraktikkan semua ilmu yang telah dipelajarinya selama ini. Seperti memberdayakan diri sepanjang kehamilan, menerapkan pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat, rutin beryoga, berlatih teknik-mengelola proses persalinan, serta cara menyusui yang benar. Berbeda dengan proses melahirkan anak pertama, pada kelahiran anak kedua ia memilih dilakukan di rumah, ditemani sang suami, Irwan Zam Zam (37). Ia benar-benar merasakan pengalaman melahirkan yang indah. Pengalaman yang intim.

Setelah kelahiran anak kedua dan merasakan banyak manfaat dari proses pembelajarannya, Prita makin yakin untuk terjun secara full time sebagai doula. Pekerjaan doula menuntutnya untuk siap on call kapan pun. “Jam kerja saya memang ajaib. Bisa tengah malam atau dini hari dipanggil ketika ada ibu yang akan melahirkan. Saya juga pernah terpaksa meninggalkan suami yang sedang demam di rumah karena pekerjaan,” katanya, tertawa. Beruntung sang suami mendukung sepenuhnya. Jika ia sedang bertugas, suaminya mengambil alih tugas di rumah dan menjaga kedua anaknya.

Hingga kini, hampir 100 ibu yang telah didampinginya. Hampir 90% telah mengenal Prita sebelumnya. Biasanya dari lingkaran pertemanan, kelas yoga kehamilan, serta kelas persiapan persalinan. Selebihnya dari referensi mulut ke mulut, media sosial, komunitas yang ia dirikan, maupun rekomendasi dokter kandungan.

“Kebanyakan ibu-ibu yang pernah saya bantu menjadi seperti kakak-adik. Kami masih meneruskan silaturahmi. Mungkin karena jalinan
ikatan emosional itu sudah terbentuk,” ucap Prita, senang.(f)


Baca juga:
Perjuangan Patricia Ayu Menepis Keterbatasan Akibat Penyakit Autoimun yang Dialami
Kisah Sejati: Sejak Anak Kami Divonis Talasemia, Keluarga Kami Semakin Dekat
Kisah Sejati: Mengatasi Perbedaan Pendapat Demi Kesembuhan Anak dari Penyakit Langka