Foto: Dok. Pribadi

Dua puluh tahun menjalani bahtera pernikahan, pasangan yang mendapat julukan ‘Pengantin Olimpiade’ ini saling melengkapi sebagai pasangan kekasih, sahabat, hingga partner bisnis. Ditemui di sela-sela perhelatan Indonesia Open 2018, Susi Susanti (47), yang kini menjadi Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI (2016-2020), bercerita tentang perjalanan cintanya bersama sang suami, Alan Budikusuma (50).

Melupakan Mimpi
 
“Bisa dibilang, lebih dari setengah hidup, saya jalani bersama Alan,” ungkap Susi tersenyum, membuka percakapan siang itu. Suaranya halus, tapi ada nada tegas terasa. Ini bukan bualan belaka, karena memang keduanya sudah berpacaran sejak masih remaja, saat masih sama-sama di pelatnas bulu tangkis.
 
“Mungkin karena sering bersama, kami merasa cocok dan akhirnya pacaran,” tambah Susi, yang mengaku tertarik pada Alan karena melihat Alan memiliki sifat yang mirip dengan ayahnya: pendiam, tapi sedikit keras.

Di lapangan bulu tangkis, keduanya sama-sama tersohor sebagai pemain tunggal putra dan putri. Prestasi mereka membanggakan. Puncaknya ketika Susi dan Alan meraih medali emas pada Olimpiade Barcelona tahun 1992. Hingga mereka mendapat julukan ‘Pengantin Olimpiade’.
 
Alexander Alan Budikusuma Wiratama, memulai karier bulu tangkis sejak usia 15 tahun, saat bergabung dengan PB DJarum, salah satu klub elit pencetak atlet bulu tangkis berprestasi. Di lapangan, ia dikenal sebagai atlet yang tidak mudah putus asa dan selalu belajar dari kesalahan. Deretan prestasi mentereng pernah diraih Alan, seperti Belanda Terbuka (1989), dua kali juara Thailand Terbuka (1989 dan 1991), Cina Terbuka (1991), Jerman Terbuka (1992), Piala Dunia (1993), dan Malaysia Terbuka (1995).
 
Susi terkenal sebagai atlet yang ulet dengan kaki-kakinya yang bergerak lincah mengejar kok di lapangan. Ketika baru memulai karier profesional di bulutangkis tahun 1989, Susi langsung berhasil menyabet juara Indonesian Open dan kariernya melesat tak terbendung. Ia bahkan menjadi satu-satunya wanita yang berhasil menjuarai All England empat tahun berturut-turut (1990, 1991, 1993, 1994) dan Juara Dunia (1993).
 
Bagi Susi, menjadi pasangan dengan background sama-sama atlet ada seni dan tantangan tersendiri. Selain harus sama-sama fokus pada latihan dan prestasi, kehidupan pribadi mereka juga tersorot publik. “Ya, terkadang, kalau prestasi lagi enggak bagus, bisa saja dikaitkan dengan masalah kami berdua,” ungkap wanita bernama lengkap Lucia Francisca Susi Susanti ini.
 
Sebenarnya, jauh sebelum terkenal sebagai pencetak medali emas bulu tangkis Indonesia, pasangan ini sudah menjalin kasih. “Kami pacaran sejak tahun 1988. Status saja pacaran, tapi kami sama-sama sibuk latihan bulu tangkis,” cerita Susi, tersenyum.
 
Hubungan keduanya pun sempat ditentang berbagai pihak, termasuk orang tua mereka. Alasannya, karena mereka ingin Susi dan Alan fokus dulu mengejar prestasi di lapangan. Dasar cinta, larangan tersebut justru membuat keduanya makin semangat untuk membuktikan bahwa hubungan mereka bukan penghalang untuk meraih prestasi.
 
“Jadi, pacaran ala kami, ya, latihan di lapangan. Kadang-kadang Alan membantu saya berlatih, atau sebaliknya. Obrolan kami juga tak jauh dari bulu tangkis, lebih banyak diskusi tentang kelebihan dan kekurangan saat pertandingan. Juga soal teknik lawan,” kenang Susi.
 
Bosan? “Enggak sama sekali. Justru hal ini membuat kami makin dekat dan saling memahami karakter masing-masing,” tambah Susi.

Apa yang dikhawatirkan banyak orang di awal hubungan mereka, tak terbukti. Pasangan ini justru makin menunjukkan kematangannya dengan berbagai prestasi di lapangan bulu tangkis. Yang paling fenomenal adalah ketika tahun 1992, dua emas Olimpiade Barcelona Indonesia mereka persembahkan.
 
Lima tahun setelah Olimpiade Barcelona, ‘Pengantin Olimpiade’ ini pun benar-benar naik ke pelaminan. Keduanya menikah pada 9 Februari 1997 setelah sembilan tahun lebih berpacaran. Usai menikah, niatnya mereka masih akan konsentrasi di dunia bulu tangkis, tapi garis hidup berkata lain.
 
Beberapa bulan setelah menikah, Susi dinyatakan hamil. Inilah momen terberat dalam kehidupan Susi. Saat itu, ia tengah berlatih keras untuk persiapan Asian Games 1998. Pasalnya, sepanjang karier bulu tangkisnya dan puluhan gelar yang ia raih, hanya emas Asian Games yang belum pernah ia menangkan.
 
“Ini jadi semacam mimpi terbesar saya. Jadi, ketika dipastikan hamil, saya merasakan kebimbangan yang sangat besar, meneruskan kehamilan atau mengejar obsesi,” kisah wanita kelahiran 11 Februari 1971 ini, menerawang ke masa itu.
 
“Saat itu keputusan memang ada di tangan saya. Alan dan orang tua saya memberikan kebebasan saya untuk memilih. Saya pertimbangkan segala sesuatunya, benar-benar tidak mudah. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk gantung raket dan meneruskan kehamilan,” katanya, yakin. Keputusan yang kemudian mengubah jalur hidup keduanya.
 
 
 

Foto: Dok. Pribadi

Menjadi Rekan Bisnis

Kini, setelah lebih dari dua dekade menjalani hidup bersama, Susi dan Alan mengaku makin matang sebagai pasangan suami-istri. Apalagi, sekarang mereka dikaruniai tiga anak: Laurencia Averina, Albertus Edward, dan Sebastianus Frederick. Kini, trofi yang mereka kejar adalah menjadi orang tua terbaik untuk ketiga buah hati mereka. “Perubahan hidup kami setelah memiliki anak memang besar. Yang paling saya rasakan, dari tiap hari menjalani kehidupan di lapangan, tiba-tiba saya harus diam di rumah selama kehamilan dan hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga,” ungkap Susi.

Belum lagi, mereka juga harus memikirkan apa yang harus dilakukan untuk melanjutkan hidup. “Memang, saat masih menjadi atlet profesional, kami sudah memiliki investasi di bidang properti. Namun, setelah berhenti menjadi atlet, bergantung hidup pada hal tersebut tidak cukup. Hingga akhirnya kami memilih untuk berbisnis,” kata Susi. Ia tak ingin merasakan pengalaman atlet-atlet lain yang hidupnya terpuruk setelah tak lagi berkarier.

Salah satu usaha Susi adalah membuka toko baju anak-anak di ITC Mega Grosir Cempaka Mas, Jakarta. Selain itu, Susi bersama Alan mendirikan Olympic Badminton Hall di KelapaGading, Jakarta Utara, sebagai gedung pusat pelatihan bulu tangkis. Beberapa tahun belakangan, Susi bersama temannya juga membuka tempat pijat khusus olahraga bernama Fontana. “Ide bisnis ini berawal ketika banyak yang bertanya apakah saya punya kenalan terapis profesional untuk cedera saat olahraga. Kami pun melihat peluang bisnis di sana. Sekarang Fontana sudah punya sembilan cabang,” kata Susi, senang.

Tumbuh dengan mental sebagai atlet yang lekat dengan target dan bagaimana mencapainya, prinsip hidup ini pula yang terus mereka pegang. “Beda dengan Alan, dia lebih santai, sedangkan saya bisa dibilang lebih ngototan, dalam hal ini mungkin fokus dan disiplin untuk komitmen target yang ingin dicapai,” kata Susi.

Perbedaan ini justru menjadi pelengkap keduanya sebagai rekan bisnis. “Jadi, kalau Alan jalannya sudah mulai ‘pelan’, saya yang ribut. Sebaliknya, kalau saya terlalu ‘ngebut’, Alan yang akan mengingatkan,” ungkap Susi. Termasuk ketika mereka memilih untuk mengembangkan bisnis raket bulu tangkis dengan merek Astec (Alan-Susi Technology) pada pertengahan tahun 2002. “Indonesia memiliki prestasi yang bagus di bulu tangkis, tapi belum ada satu pun produk bulu tangkis yang diproduksi di dalam negeri,” kata Susi.

Diakui mereka, membangun bisnis ini dari nol tidak mudah. Mereka harus merasakan jatuh bangun. Pengalaman pribadi mereka saat menggunakan berbagai merek raket internasional menjadi bekal dalam merancang produk raketnya.

Usaha mereka yang tak pernah setengah-setengah ini membuahkan hasil. Selain sudah ekspor ke luar negeri, seperti Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia, Korea, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, rencananya tahun ini produk Astec akan dipasarkan di salah satu toko retail olahraga terbesar di Indonesia di bawah bendera PT Mitra Adi Perkasa (MAP). “Ini suatu kebanggaan bagi kami, karena produk ini mengandung unsur nama kami berdua, Alan- Susi,” katanya, tersenyum.
 
 


Butuh Komitmen

Apakah pasangan ini sudah puas? Ternyata, masih banyak mimpi yang ingin mereka raih dalam fase hidup mereka kini. Dalam hal membesarkan anak-anak misalnya, pasangan yang meraih penghargaan Bintang Jasa dari pemerintah Republik Indonesia --karena berjasa luar biasa terhadap nusa dan bangsa pada bidang atau peristiwa atau hal tertentu di luar bidang militer-- ini punya prinsip yang sama. Keduanya tak ingin anak mereka terjun sebagai atlet.

“Tak dipungkiri, hingga saat ini kehidupan sebagai atlet di Indonesia terbilang belum menjanjikan. Benar-benar harus jadi juara dulu untuk bisa berhasil. Padahal, juara itu hanya satu dari ribuan orang. Seorang atlet harus memiliki target, komitmen, dan memiliki kemauan kuat untuk menang,” kata Susi, tegas.

Hal tersebut tidak ia lihat dalam diri anak-anaknya. “Mereka punya bakat. Tapi, bakat saja tidak cukup, kalau niat mereka untuk jadi atlet masih on off. Tidak bisa setengah-setengah, karena tidak akan ke mana-mana jadinya,” jelas Susi, yang bersama Alan menanamkan hal-hal positif seorang atlet kepada anak-anaknya, seperti memiliki target dan usaha untuk mencapainya, hingga yang terpenting soal sportivitas.

Kini yang mereka kejar untuk ketiga anaknya adalah menyekolahkan mereka setinggi-tingginya. Demi meraih hal tersebut, Susi dan Alan harus rela berjauhan dengan kedua anaknya yang sekolah di Eropa dan Australia. “Yang bungsu rencananya akan menyusul kakaknya ke Australia tahun ini,” kata Susi.

Kasih sayang dan komitmen diakui Susi dan Alan menjadi landasan hubungan mereka untuk bertahan. Ibarat pertandingan bulu tangkis, seorang atlet yang berada di tengah pertandingan harus dapat menjaga semangat, menghilangkan rasa bosan, juga harus rela kehilangan kesenangan pribadinya untuk sebuah tujuan.

“Di rumah, kami pasangan suami-istri, tapi di luar rumah, kami bisa menjadi teman, juga rekan bisnis. Semua peran tersebut menghilangkan rasa bosan dalam hubungan ini,” ungkap Susi.

Prinsip keduanya, keluarga adalah prioritas. Layaknya pernikahan, ketika masalah datang dan memicu pertengkaran, maka yang menjadi solusi adalah bagaimana pertengkaran tersebut tidak berdampak pada anak-anak. Bukan lagi ego pribadi orang tua. Walaupun diakui Susi, terbiasa tumbuh dengan mental atlet yang cenderung enggak mau kalah, komunikasi menjadi hal penting dalam hubungan mereka.

“Tidak bisa kalau diam-diam saja, semua harus dibicarakan dengan baik dan jelas. Karena, kalau enggak, ujung-ujungnya bisa miskom dan berantem,” kata Susi.

Kebersamaan juga menjadi cara keduanya menjaga cinta dalam keluarga. “Walaupun sekarang kami dan anak-anak juga tinggal terpisah, saat ada liburan, kami saling kunjung. Ini momen yang selalu kami tunggu,” kata Susi.

Kisah cinta legenda bulu tangkis Indonesia ini belakangan juga dilirik oleh sineas tanah air. Rencananya, tahun ini film biopic tentang hubungan cinta dan prestasi Susi dan Alan segera beredar di layar lebar. Karakter Susi akan diperankan oleh Laura Basuki, sedangkan Dion Wiyoko akan memerankan Alan. Soal film biopic-nya ini, Susi berkomentar singkat, bahwa ia merasa senang dan bangga. (f)

Baca Juga:

Achmad Zacky & Diajeng Lestari, Merawat Cinta dan Membesarkan e-commerce Bersama
Atalia Praratya, Mengimbangi Langkah Gesit dan Cepat Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil
Kisah Cinta Eko Supriyanto, Koreografer Pesta Pembukaan Asian Games 2018