
FOTO: DOK. FEMINA, instagram@ AtaliaPR, @ridwankamil
Sosoknya dikenal follower Ridwan Kamil (47), Wali Kota Bandung yang baru saja terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat periode 2018 - 2023, sebagai 'Si Cinta'. Kemesraan Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, dengan sang istri, Atalia Praratya (45), juga kerap bikin baper followers keduanya.
Mereka pasangan muda populer tak hanya di Jawa Barat, tapi juga di Indonesia. Di mana pun Kang Emil berada, Si Cinta dengan setia menemani. Yang menarik, tak hanya sebagai pendamping, Atalia tampak aktif di masyarakat, mendukung peran suaminya dengan membuat berbagai program untuk wanita dan keluarga.
Bagaimana kekompakan pasangan nomor satu di Jawa Barat ini? Simak lanjutkan membaca ke halaman berikut.
MENDAPAT KEPERCAYAAN
Saat menikah dengan Ridwan Kamil, 21 tahun lalu, Atalia mengaku seperti memasuki dunia yang berbeda. Saat itu Emil tengah merintis kariernya sebagai arsitek muda, dunianya penuh dengan ide kreatif. Di lain sisi, Atalia yang lulusan jurusan hubungan internasional ini justru merasa sangat tidak kreatif.
"Tapi rupanya, perbedaan itulah yang justru membuat kami saling melengkapi. Ibaratnya, Kang Emil itu otak kanan, saya lebih ke otak kiri," ceritanya, membuka percakapan dengan femina usai membuka acara Wise Women Entrepreneur Masterclass yang diselenggarakan komunitas Wanita Wirausaha Femina dan Commonwealth Bank di Bandung, Juli lalu.
Setelah menikah dan sempat berpindah-pindah negara mengikuti karier Emil, pasangan ini kembali ke Indonesia pada tahun 2002. Saat itu keduanya sepakat berkolaborasi membesarkan bisnis perusahaan arsitek milik Emil, PT Urbane Indonesia, yang terus berkembang sampai sekarang, yang diawaki sekitar 70 arsitek.
"Saat itu Kang Emil lebih banyak di eksternal, bertemu klien, sedangkan saya mengurus kegiatan internal perusahaan sebagai direktur administrasi dan keuangan,” ungkap Atalia, yang ketika itu juga sudah akrab dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan, seperti LSM Cipta Dewi yang bergerak dalam bidang seni budaya.
Dengan latar belakang seperti ini, tak heran jika setelah Emil akhirnya terjun ke politik dan terpilih sebagai Wali Kota Bandung periode 2013 - 2018, Atalia tak ragu terjun langsung ke masyarakat, berdampingan dengan langkah suaminya.
Apa yang dilakukan Atalia pun berhasil mencuri perhatian warga. Apalagi, harus diakui, tidak banyak istri pemimpin daerah yang bisa dengan luwes masuk ke masyarakat dan menggerakkan mereka untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Dari track record yang ada, Atalia mampu melakukan hal tersebut dengan baik.
Di lain sisi, Emil sangat terbuka mengungkapkan rasa cinta dan kekagumannya pada sosok sang istri yang selalu ia panggil dengan sebutan Si Cinta itu. Unggahan-unggahan lewat akun Instagram @ridwankamil yang kini sudah memiliki 8,4 juta followers menjadi cara berkomunikasi yang khas dari Emil untuk menjangkau warga. Popularitas pasangan ini di media sosial tak dipungkiri juga turut berperan mendekatkan Si Cinta pada warga Bandung. Keduanya punya panggilan akrab: Kang Emil dan Teh Cinta (Teh dari kata Teteh - Red), khas urang Sunda.
“Warga Bandung itu senang curhat, bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Kami sudah terbiasa dengan itu. Niat kami menjalani semua ini semata-mata untuk ibadah, sehingga dijalani dengan ikhlas dan dinikmati. Santai saja,” katanya sambil tertawa, menanggapi berbagai komentar di akun Instagram milik suaminya yang jumlahnya bisa ribuan untuk satu unggahan. Apalagi jika itu unggahan tentang dirinya, Si Cinta.
Atalia mengakui, saat ia mulai memasuki kehidupan sebagai istri wali kota, ada perasaan ragu, karena bagaimanapun dunia ini berbeda lagi dengan lingkungan yang ia tekuni sebelumnya sebagai pengelola perusahaan. Kepemimpinan butuh contoh, dan bagi Atalia keseriusan Emil mengurus warga akhirnya memicu Atalia untuk tergerak berperan lebih aktif.
“Saya paling senang bertemu orang. Ada kebahagiaan tersendiri ketika saya bisa berbagi. Hal ini pula yang membuat apa yang saya lakukan tidak menjadi beban, walaupun jadwal kami berdua menjadi padat,” katanya.
Sebagai suami, Kang Emil cukup terbuka tentang masalah-masalah menyangkut pekerjaannya sebagai wali kota. “Dia suka curhat soal masalah warga kepada saya. Dan biasanya, apa yang tidak bisa ia kerjakan, saya diminta untuk mengerjakannya. Mungkin ia lebih nyaman mendisposisikan pekerjaan yang kebetulan cocok untuk saya. Sementara saya juga dengan senang hati melakukannya,” katanya.
Ia mengakui bahwa kepercayaan yang diberikan suaminya meningkatkan kepercayaan dirinya untuk dapat maju dan tampil dalam masyarakat. “Ketika saya berada di mana pun, saya merasa, suami saya saja percaya saya mampu, berarti saya bisa mengerjakannya.
Hal ini membuat saya percaya diri,” katanya. Dengan apa yang ia lakukan kini dan perannya sebagai istri Wali Kota Bandung yang sama-sama menjalankan tugas untuk melayani warga Bandung, ia merasa lebih banyak masyarakat yang terangkul.
Etos bekerja bersama-sama ini membuat Atalia tidak ingin setengah-setengah agar hasilnya pun maksimal. Maka, ia berusaha meningkatkan kemampuannya dengan berbagai cara. Banyak belajar menjadi kata kunci Atalia untuk bisa mengimbangi langkah cepat dan gesit Emil.
Ia mengaku belajar secara autodidak, dari membaca, menonton televisi, hingga belajar dari bertemu banyak orang dan tentu saja bertukar pikiran dengan suaminya. Baginya, pengalaman adalah guru. “Jadi, saya paling hobi ikut kegiatan seminar, pelatihan, atau workshop, terutama di awal-awal Kang Emil menjabat sebagai wali kota. Kalau ada kesempatan, saya senang datang dan belajar," tambahnya.
Tahun lalu, Atalia menyelesaikan kuliah S-2 jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Pasundan, Bandung. bekal ilmu baru ini juga menguatkan langkah Atalia berkiprah dalam masyarakat.
"Bagi saya, sosok suami itu perannya paling besar dalam membentuk istrinya menjadi mandiri. Pria yang seharusnya mengasah kemampuan istrinya sebagai wanita agar lebih moncer, istilahnya,” katanya, tertawa.
JAM KELUARGA
Bagi Atalia dan Emil, kolaborasi kerja membuat mereka kompak. "Kang Emil selalu berkata, ‘Saya tidak bisa kalau tidak ada Teteh, karena kita satu tim. Kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri,'" kata Atalia. Alasan ini pula yang membulatkan tekadnya untuk mengikuti suaminya dan tidak jalan sendiri menjadi politikus, walaupun dalam pilkada lalu, dalam survei-survei di Jawa Barat elektabilitasnya cukup tinggi sebagai calon Wali Kota Bandung.
Selama ini, menurut Atalia, Emil memosisikan dirinya bukan sebagai wanita yang berada di belakangnya , tapi justru pada posisi yang sejajar. “Jadi wanita hebat itu bukan wanita yang berada di belakang laki-laki, tapi wanita yang bersama-sama berjuang dengan laki-laki untuk mencapai kesuksesan bersama,” katanya.
Sebagai istri pejabat, tantangan terbesar yang ia hadapi saat ini adalah bagaimana menghadapi gosip dan berita hoax yang semuanya berasal dari persepsi, bukan fakta. “Kalau Kang Emil sendiri, sih, sudah legowo. Saya awalnya sempat galau, tapi ia menguatkan saya. Katanya, ‘Siap menjadi istri gubernur, menjadi istri pejabat, berarti enggak boleh baperan,'" katanya, dsambil tertawa.
Fokus kegiatan Atalia saat ini adalah bidang kesehatan dan disabilitas. “Mimpi yang mulai saya wujudkan beberapa bulan belakangan ini adalah membina anak-anak penyandang disabilitas, memberikan mereka pekerjaan. Saya ingin lebih banyak membuat orang-orang mandiri dengan apa yang bisa saya lakukan,” jelasnya, yakin.
Selain itu, Atalia juga aktif mengembangkan forum sehat, termasuk di dalamnya pariwisata sehat. Misalnya, sosialisasi untuk tidak membuang sampah dan merokok sembarangan, dan menjadikan Bandung kota yang sehat.
“Semua dimulai dari para wanitanya, bagaimana mereka menurunkan kebiasaan sehat kepada keluarga, suami dan anak-anak. Kalau ibu sudah peduli pada kesehatan, biasanya akan menular,” katanya, semangat.
Memiliki segudang kegiatan, Atalia mengaku tetap mengutamakan keluarga sebagai prioritasnya. “Saya punya komitmen bahwa bagi seorang ibu yang utama adalah keluarga, anak dan suami," katanya.
Dulu ia pernah sangat sibuk, hingga mendapat sindiran dari Emil. "Kata Kang Emil, ‘Teteh, bagaimana kalau kita berganti peran. Teteh cari duit, saya di rumah.' Wah... saya langsung gimana gitu rasanya,” cerita Atalia.
Sejak saat itu, ia mulai belajar membagi waktunya. Caranya, ia menjadwalkan kegiatan sosial dan pribadinya hanya sampai sore. Menjelang waktu magrib, ia sudah di rumah. "Dengan cara ini, anak-anak tidak akan kehilangan figur ibu dan ayah di rumah,” katanya.
Pasangan ini juga menyiasati waktu bersama anak dengan menetapkan jam keluarga. "Biasanya, Sabtu atau Minggu, setelah zuhur sampai magrib, kami kumpul bersama lengkap. Jam keluarga ini menjadi penyeimbang kesibukan kami,” kata ibu dari Emmeril Kahn Mumtadz (19) dan Camillia Laetitia Azzahra (14) ini.
Tidak ingin menambah pikiran Emil, Atalia selalu berusaha menyelesaikan sendiri dahulu semua masalah-masalah di rumah. “Selama saya bisa mencari solusi sendiri, saya tidak ingin membebani Kang Emil. Kasihan dia sudah punya banyak masalah dan beban,” kata wanita yang mengaku senang menjalani multiperan ini, meski untuk itu ia harus siap jadi super women.
Kini, dengan posisi baru Ridwan Kamil, sebagai Gubernur Jawa Barat, pasangan ini mengaku harus siap bekerja bersama lebih kompak karena makin banyak warga yang harus mereka bahagiakan. “Kang Emil sudah berpesan, kalau sekarang kami fokus pada warga Bandung, nanti akan ada 27 kota dan kabupaten yang semuanya membutuhkan perhatian yang sama.” (f)
Mereka pasangan muda populer tak hanya di Jawa Barat, tapi juga di Indonesia. Di mana pun Kang Emil berada, Si Cinta dengan setia menemani. Yang menarik, tak hanya sebagai pendamping, Atalia tampak aktif di masyarakat, mendukung peran suaminya dengan membuat berbagai program untuk wanita dan keluarga.
Bagaimana kekompakan pasangan nomor satu di Jawa Barat ini? Simak lanjutkan membaca ke halaman berikut.
MENDAPAT KEPERCAYAAN
Saat menikah dengan Ridwan Kamil, 21 tahun lalu, Atalia mengaku seperti memasuki dunia yang berbeda. Saat itu Emil tengah merintis kariernya sebagai arsitek muda, dunianya penuh dengan ide kreatif. Di lain sisi, Atalia yang lulusan jurusan hubungan internasional ini justru merasa sangat tidak kreatif.
"Tapi rupanya, perbedaan itulah yang justru membuat kami saling melengkapi. Ibaratnya, Kang Emil itu otak kanan, saya lebih ke otak kiri," ceritanya, membuka percakapan dengan femina usai membuka acara Wise Women Entrepreneur Masterclass yang diselenggarakan komunitas Wanita Wirausaha Femina dan Commonwealth Bank di Bandung, Juli lalu.
Setelah menikah dan sempat berpindah-pindah negara mengikuti karier Emil, pasangan ini kembali ke Indonesia pada tahun 2002. Saat itu keduanya sepakat berkolaborasi membesarkan bisnis perusahaan arsitek milik Emil, PT Urbane Indonesia, yang terus berkembang sampai sekarang, yang diawaki sekitar 70 arsitek.
"Saat itu Kang Emil lebih banyak di eksternal, bertemu klien, sedangkan saya mengurus kegiatan internal perusahaan sebagai direktur administrasi dan keuangan,” ungkap Atalia, yang ketika itu juga sudah akrab dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan, seperti LSM Cipta Dewi yang bergerak dalam bidang seni budaya.
Dengan latar belakang seperti ini, tak heran jika setelah Emil akhirnya terjun ke politik dan terpilih sebagai Wali Kota Bandung periode 2013 - 2018, Atalia tak ragu terjun langsung ke masyarakat, berdampingan dengan langkah suaminya.
Apa yang dilakukan Atalia pun berhasil mencuri perhatian warga. Apalagi, harus diakui, tidak banyak istri pemimpin daerah yang bisa dengan luwes masuk ke masyarakat dan menggerakkan mereka untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Dari track record yang ada, Atalia mampu melakukan hal tersebut dengan baik.
Di lain sisi, Emil sangat terbuka mengungkapkan rasa cinta dan kekagumannya pada sosok sang istri yang selalu ia panggil dengan sebutan Si Cinta itu. Unggahan-unggahan lewat akun Instagram @ridwankamil yang kini sudah memiliki 8,4 juta followers menjadi cara berkomunikasi yang khas dari Emil untuk menjangkau warga. Popularitas pasangan ini di media sosial tak dipungkiri juga turut berperan mendekatkan Si Cinta pada warga Bandung. Keduanya punya panggilan akrab: Kang Emil dan Teh Cinta (Teh dari kata Teteh - Red), khas urang Sunda.
“Warga Bandung itu senang curhat, bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Kami sudah terbiasa dengan itu. Niat kami menjalani semua ini semata-mata untuk ibadah, sehingga dijalani dengan ikhlas dan dinikmati. Santai saja,” katanya sambil tertawa, menanggapi berbagai komentar di akun Instagram milik suaminya yang jumlahnya bisa ribuan untuk satu unggahan. Apalagi jika itu unggahan tentang dirinya, Si Cinta.
Atalia mengakui, saat ia mulai memasuki kehidupan sebagai istri wali kota, ada perasaan ragu, karena bagaimanapun dunia ini berbeda lagi dengan lingkungan yang ia tekuni sebelumnya sebagai pengelola perusahaan. Kepemimpinan butuh contoh, dan bagi Atalia keseriusan Emil mengurus warga akhirnya memicu Atalia untuk tergerak berperan lebih aktif.
“Saya paling senang bertemu orang. Ada kebahagiaan tersendiri ketika saya bisa berbagi. Hal ini pula yang membuat apa yang saya lakukan tidak menjadi beban, walaupun jadwal kami berdua menjadi padat,” katanya.
Sebagai suami, Kang Emil cukup terbuka tentang masalah-masalah menyangkut pekerjaannya sebagai wali kota. “Dia suka curhat soal masalah warga kepada saya. Dan biasanya, apa yang tidak bisa ia kerjakan, saya diminta untuk mengerjakannya. Mungkin ia lebih nyaman mendisposisikan pekerjaan yang kebetulan cocok untuk saya. Sementara saya juga dengan senang hati melakukannya,” katanya.
Ia mengakui bahwa kepercayaan yang diberikan suaminya meningkatkan kepercayaan dirinya untuk dapat maju dan tampil dalam masyarakat. “Ketika saya berada di mana pun, saya merasa, suami saya saja percaya saya mampu, berarti saya bisa mengerjakannya.
Hal ini membuat saya percaya diri,” katanya. Dengan apa yang ia lakukan kini dan perannya sebagai istri Wali Kota Bandung yang sama-sama menjalankan tugas untuk melayani warga Bandung, ia merasa lebih banyak masyarakat yang terangkul.
Etos bekerja bersama-sama ini membuat Atalia tidak ingin setengah-setengah agar hasilnya pun maksimal. Maka, ia berusaha meningkatkan kemampuannya dengan berbagai cara. Banyak belajar menjadi kata kunci Atalia untuk bisa mengimbangi langkah cepat dan gesit Emil.
Ia mengaku belajar secara autodidak, dari membaca, menonton televisi, hingga belajar dari bertemu banyak orang dan tentu saja bertukar pikiran dengan suaminya. Baginya, pengalaman adalah guru. “Jadi, saya paling hobi ikut kegiatan seminar, pelatihan, atau workshop, terutama di awal-awal Kang Emil menjabat sebagai wali kota. Kalau ada kesempatan, saya senang datang dan belajar," tambahnya.
Tahun lalu, Atalia menyelesaikan kuliah S-2 jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Pasundan, Bandung. bekal ilmu baru ini juga menguatkan langkah Atalia berkiprah dalam masyarakat.
"Bagi saya, sosok suami itu perannya paling besar dalam membentuk istrinya menjadi mandiri. Pria yang seharusnya mengasah kemampuan istrinya sebagai wanita agar lebih moncer, istilahnya,” katanya, tertawa.

JAM KELUARGA
Bagi Atalia dan Emil, kolaborasi kerja membuat mereka kompak. "Kang Emil selalu berkata, ‘Saya tidak bisa kalau tidak ada Teteh, karena kita satu tim. Kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri,'" kata Atalia. Alasan ini pula yang membulatkan tekadnya untuk mengikuti suaminya dan tidak jalan sendiri menjadi politikus, walaupun dalam pilkada lalu, dalam survei-survei di Jawa Barat elektabilitasnya cukup tinggi sebagai calon Wali Kota Bandung.
Selama ini, menurut Atalia, Emil memosisikan dirinya bukan sebagai wanita yang berada di belakangnya , tapi justru pada posisi yang sejajar. “Jadi wanita hebat itu bukan wanita yang berada di belakang laki-laki, tapi wanita yang bersama-sama berjuang dengan laki-laki untuk mencapai kesuksesan bersama,” katanya.
Sebagai istri pejabat, tantangan terbesar yang ia hadapi saat ini adalah bagaimana menghadapi gosip dan berita hoax yang semuanya berasal dari persepsi, bukan fakta. “Kalau Kang Emil sendiri, sih, sudah legowo. Saya awalnya sempat galau, tapi ia menguatkan saya. Katanya, ‘Siap menjadi istri gubernur, menjadi istri pejabat, berarti enggak boleh baperan,'" katanya, dsambil tertawa.
Fokus kegiatan Atalia saat ini adalah bidang kesehatan dan disabilitas. “Mimpi yang mulai saya wujudkan beberapa bulan belakangan ini adalah membina anak-anak penyandang disabilitas, memberikan mereka pekerjaan. Saya ingin lebih banyak membuat orang-orang mandiri dengan apa yang bisa saya lakukan,” jelasnya, yakin.
Selain itu, Atalia juga aktif mengembangkan forum sehat, termasuk di dalamnya pariwisata sehat. Misalnya, sosialisasi untuk tidak membuang sampah dan merokok sembarangan, dan menjadikan Bandung kota yang sehat.
“Semua dimulai dari para wanitanya, bagaimana mereka menurunkan kebiasaan sehat kepada keluarga, suami dan anak-anak. Kalau ibu sudah peduli pada kesehatan, biasanya akan menular,” katanya, semangat.
Memiliki segudang kegiatan, Atalia mengaku tetap mengutamakan keluarga sebagai prioritasnya. “Saya punya komitmen bahwa bagi seorang ibu yang utama adalah keluarga, anak dan suami," katanya.
Dulu ia pernah sangat sibuk, hingga mendapat sindiran dari Emil. "Kata Kang Emil, ‘Teteh, bagaimana kalau kita berganti peran. Teteh cari duit, saya di rumah.' Wah... saya langsung gimana gitu rasanya,” cerita Atalia.
Sejak saat itu, ia mulai belajar membagi waktunya. Caranya, ia menjadwalkan kegiatan sosial dan pribadinya hanya sampai sore. Menjelang waktu magrib, ia sudah di rumah. "Dengan cara ini, anak-anak tidak akan kehilangan figur ibu dan ayah di rumah,” katanya.
Pasangan ini juga menyiasati waktu bersama anak dengan menetapkan jam keluarga. "Biasanya, Sabtu atau Minggu, setelah zuhur sampai magrib, kami kumpul bersama lengkap. Jam keluarga ini menjadi penyeimbang kesibukan kami,” kata ibu dari Emmeril Kahn Mumtadz (19) dan Camillia Laetitia Azzahra (14) ini.
Tidak ingin menambah pikiran Emil, Atalia selalu berusaha menyelesaikan sendiri dahulu semua masalah-masalah di rumah. “Selama saya bisa mencari solusi sendiri, saya tidak ingin membebani Kang Emil. Kasihan dia sudah punya banyak masalah dan beban,” kata wanita yang mengaku senang menjalani multiperan ini, meski untuk itu ia harus siap jadi super women.
Kini, dengan posisi baru Ridwan Kamil, sebagai Gubernur Jawa Barat, pasangan ini mengaku harus siap bekerja bersama lebih kompak karena makin banyak warga yang harus mereka bahagiakan. “Kang Emil sudah berpesan, kalau sekarang kami fokus pada warga Bandung, nanti akan ada 27 kota dan kabupaten yang semuanya membutuhkan perhatian yang sama.” (f)
Baca Juga:
Romantisme Unik Kim Kardashian dan Kanye West
Kisah Cinta Eko Supriyanto, Koreografer Pesta Pembukaan Asian Games 2018
Kisah Cinta Audy Item & Iko Uwais