Demikian Aslimah (28) mendendangkan lagu yang dipopulerkan oleh almarhum Mbah Surip. Ia merasa bahwa lagu itu seperti tercipta untuknya. Dulu, ia memang selalu digendong ke mana-mana. Bukan karena malas berjalan, tapi karena ia terlahir tanpa sepasang kaki. Jika hanya mendengar suaranya yang riang, mungkin orang tidak menduga bahwa hidup Aslimah sangat berat. Sejak kecil  ia terbiasa menghadapi tantangan yang bahkan pernah membuatnya nyaris bunuh diri. Butuh waktu yang cukup lama baginya untuk bisa menaklukkan dirinya sendiri. Kepada femina, ia menceritakan perjuangan panjangnya.
 
SEMPAT ‘DISEMBUNYIKAN’
Aslimah terlahir dalam kondisi yang spesial. Dengan tinggi 76 cm, tubuhnya hanya sampai pangkal paha. Beberapa orang menyebutnya ‘perempuan bertubuh separuh’. Selain itu, tangan kanannya hanya memiliki telunjuk dan jempol. Karena telunjuknya tak bisa digerakkan, aktivitas sehari-hari ia lakukan hanya dengan tangan kiri.

Sejak masa kanak-kanak, bungsu dari delapan bersaudara ini sudah mencicipi berbagai kesulitan hidup. Lahir di tengah keluarga besar, kedua orang tuanya menghidupi mereka dengan hasil bertani singkong. Mereka akan sangat bersyukur jika bisa hidup pas-pasan, tapi tak jarang kehidupan menjadi sangat sulit ketika terjadi gagal panen. Aslimah tahu benar bagaimana rasanya hidup kekurangan.

Di dalam keterbatasan pengetahuan mereka, kedua orang tua Aslimah tidak tahu bagaimana membesarkan dan mendukung anak penyandang disabilitas seperti dirinya. Sebagai orang desa yang sederhana, mereka tak punya banyak informasi. Bila ada tamu datang ke rumah, orang tua dan kakak-kakak Aslimah menyuruhnya bersembunyi agar ia tak terlihat oleh tamu.

“Saya tahu, orang tua hanya berusaha melindungi saya. Mereka takut saya diejek atau dipandang rendah oleh orang lain. Tapi, cara ini justru membuat saya merasa terkucil,” ungkap wanita kelahiran Kudus, Jawa Tengah, ini, sedih. Terkadang, saking penasaran ingin melihat siapa tamunya, Aslimah akan menjulurkan leher dari pintu kamar. “Persis seperti kura-kura,” kenangnya.

Masa kecilnya menjadi  makin berat oleh miskinnya akses yang menjamin mobilitasnya. Jalanan desa yang belum diaspal dan berbatu-batu, tanjakan yang tinggi, membuatnya terpaksa bergantung pada kakak-kakaknya. Mereka ini yang akan menggendong Aslimah sehingga ia bisa bersekolah.

Ejekan dan hinaan memang bukan hal baru bagi Aslimah. Masih melekat kuat dalam kenangannya, saat ia akhirnya bisa bersekolah. Waktu itu ia baru kelas 1 SD. Untuk bisa berangkat, kakaknya menggendongnya hingga sampai ke kelas. Ia tidak keberatan menerima ejekan dari kawan-kawan di sekolahnya.
Namun, yang membuatnya tidak rela dan sakit hati adalah ketika mendengar kakaknya yang sangat mengasihinya itu mendapat ejekan dari teman-temannya. “Akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti sekolah. Saya tidak mau kakak saya dihina karena saya,” ucapnya, sedih.
 
 

 
DIJEBAK UNTUK MENGEMIS
Kerinduan untuk bersekolah terus mendesak hati Aslimah cilik yang waktu itu telah berusia delapan tahun. Tidak disangka, tawaran untuk bersekolah kembali itu datang dari saudara ipar dari salah satu tetangganya. Menurut tetangganya itu, sang ipar bersedia mengantar Aslimah ke sekolah dengan mobilnya. Hati Aslimah girang bukan main mendengar berita ini.

Namun, Aslimah menjadi sangat bingung saat mengetahui bahwa bukannya ke sekolah, ia malah diantar ke pasar. Kakak ipar tetangganya menyuruhnya duduk di pintu pasar dengan kantong plastik di hadapannya. Sebagian orang yang berjalan melewatinya kemudian memberinya uang. Sehari, ia bisa mengumpulkan sampai Rp25.000. Rupanya, Aslimah dijebak dan dipekerjakan sebagai pengemis!

Kondisi ini berlangsung sebulan tanpa sepengetahuan keluarganya. Aslimah  masih terlalu kecil untuk protes atau melawan. Ia juga takut untuk melaporkan hal ini kepada keluarganya karena diancam. Padahal, hati kecilnya berontak. Ia tak mau mengemis. Ia malu bila ada teman yang melihatnya. Suatu hari Aslimah pernah mencoba mogok, tak mau turun dari mobil. Ia beralasan sedang sakit perut. Akibatnya, Aslimah malah dimarahi. Ia pun tak berani melakukannya lagi.

Untunglah, suatu hari ada seorang kerabat yang melihatnya menangis di depan pasar. Si kerabat lalu memberi tahu kakak Aslimah. Kepada kakaknya, Aslimah akhirnya berterus terang tentang kondisinya. “Tapi Kakak jangan kasih tahu Ibu. Ibu cuma tahu aku akan disekolahkan. Nanti kalau tahu, Ibu sedih,” pesan Aslimah. Berkat campur tangan kakaknya, ‘petualangan’ mengemis Aslimah pun berakhir.

Segala kesulitan hidup ini sempat membuat Aslimah kecil putus asa dan terpikir untuk mengakhiri hidupnya. Suatu hari, ia melihat seekor kambing makan rumput. Entah bagaimana, ia sekonyong-konyong berpikir, “Mungkin kalau makan rumput, aku bisa mati.” Aslimah pun mulai melahap rumput. Makin banyak,  makin kenyang, tetapi ia tak kunjung mati. Kini, bila mengenang kejadian itu, Aslimah tertawa terbahak-bahak. “Untunglah, saya dulu tidak pintar,” kenangnya, geli.

Kegagalannya untuk mengakhiri hidup ini menerbitkan kepasrahan dalam diri Aslimah. Lambat laun, ia percaya bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik pada hamba-Nya. Keinginan bunuh diri pun tak pernah lagi hinggap di benaknya. Ia juga berusaha untuk mandiri. Sewaktu orang tuanya pergi bertani, Aslimah memasak sendiri di rumah. Saat itu, keluarga Aslimah masih memasak dengan tungku dan kayu bakar. Ketika orang tuanya tahu, mereka melarang Aslimah memasak.

“Mereka takut saya tersiram air panas atau nyemplung ke tungku,” ungkapnya, mengenai alasan kekhawatiran orang tuanya saat itu. Tetapi, setelah beberapa kali mencoba, ia bisa mengembangkan caranya sendiri. Kata kuncinya adalah, sedikit demi sedikit dan perlahan. Saat mengambil air misalnya, ia tidak langsung mengambil satu ember, tapi dengan perlahan ia memindahkan air segayung demi segayung.

“Memang pekerjaan jadi lebih lama, tetapi, toh, akhirnya selesai juga. Jadi, sejak dulu saya sudah terpikir ingin membantu orang tua, walau kondisi saya begini,” tutur Aslimah.
           
Aslimah juga kembali ke sekolah dan berhasil menamatkan pendidikan dasarnya. Setelah lulus SD di Kudus, ia mendapat tawaran dari Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKUM) untuk masuk SMP berasrama di Yogyakarta. Setelah itu ia kembali ke Kudus untuk menamatkan pendidikan di SMA.
 
 

 
BERDIRI DI ATAS ‘DUA KAKI’
Segala cara telah ia tempuh untuk memberikan akses mobilitas kepada dirinya sendiri. Salah satunya dengan kursi roda pemberian YAKUM, Yayasan Kristen tempatnya menyelesaikan pendidikan SMP di Yogyakarta. Namun, jalan ini pun menemui kebuntuan!

Pelajaran pahit ini didapatkannya saat berjam-jam menunggu bus untuk pulang ke Kudus, setelah tamat SMP. Tidak ada satu bus pun yang mau mengangkutnya. Ia berpikir, mungkin penumpang berkursi roda terlalu merepotkan bagi mereka. Sejak itu, ia lebih memilih bersandal ke mana-mana.
“Saya mengangkat tubuh selangkah demi selangkah dengan bertumpu pada tangan. Biarlah saya yang menyesuaikan diri dengan orang lain. Saya tak bisa memaksa orang lain menerima saya. Terlalu lama bila saya harus menunggu orang lain menyesuaikan diri dengan saya,” urai Aslimah, tegar.

Lucunya lagi, ke mana pun Aslimah pergi, ada saja orang yang memberinya sedekah. Aslimah selalu menolaknya secara halus. Ia tidak mau orang mengecap sosok seperti dirinya ini sebagai ‘peminta-minta’. Ia ingin disayangi, diberi kesempatan, dan bukan dikasihani.

Makin dewasa, Aslimah tak mudah sakit hati oleh ejekan. “Senyum saja. Apa susahnya?” ujarnya, ringan. Orang menghina dengan suara, sikap atau pandangan mata, tapi itu semua tak membuatnya merasa kurang. “Jadi, sebenarnya kita tak rugi apa-apa. Kalau dihina, tangan kita tidak copot, ‘kan? Anggap saja ejekan adalah bentuk ketidaktahuan,” kata Aslimah.

Semangat Aslimah untuk berguna bagi sesama diwujudkannya dengan berkunjung ke rumah sakit. Pasien-pasien di sana tidak mengenal dirinya. Tetapi, ia berharap bahwa ketika mereka melihat kondisinya, mereka akan bersyukur. Sebab, walaupun terbaring sakit, mereka memiliki anggota fisik yang lengkap.
“Saya juga selalu menyempatkan untuk ke ruang jenazah. Di sana saya yang bersyukur. Walau fisik saya seperti ini,  saya masih diberi kenikmatan hidup,” ujarnya, penuh syukur.

Keterbatasan yang selalu dirasanya dahulu, kini mulai melebur. Menjadi berguna bagi orang lain, berhasil membangun kepercayaan dirinya. Tepat di saat itulah cinta mulai menyapanya lewat kehadiran Wahyu Nugroho, pasangan jiwanya. Hati mereka terpaut melalui perjumpaan sederhana di sebuah pasar malam di Kudus.

Saat itu, Wahyu tengah berjualan boneka dari akar wangi. Tertarik pada bentuknya yang lucu, Aslimah membeli satu boneka berbentuk kodok darinya. Keesokan harinya Aslimah datang lagi untuk memesan boneka khusus, berbentuk orang tanpa kaki sedang duduk di kursi roda. Tak lupa, ia meninggalkan nomor ponsel kepada pria itu, untuk mengabarinya saat pesanan itu jadi.

Komunikasi telepon ini rupanya tak berhenti sampai di situ, tapi berlanjut. Obrolan telepon dan SMS menjadi perantara hati bagi keduanya yang terpaksa terpisah jarak, jika Wahyu harus tinggal lama di luar kota untuk menjual hasil kerajinan boneka akar buatannya. Namun, seperti sudah diduga, orang tua Wahyu tak menyetujui hubungan mereka. Sambil menunggu restu orang tua, Aslimah dan Wahyu berusaha membuktikan bahwa mereka bisa mandiri dengan usaha bersama. Aslimah pun membantu Wahyu memproduksi dan berjualan boneka akar wangi. Kemandirian ini berhasil menggugah orang tua Wahyu untuk merestui cinta mereka berdua.

“Dulu  saya ragu, apakah ada pria yang mau dengan saya. Namun,  makin dewasa, saya tak mau pusing dengan apa pun yang tidak saya miliki. Kalau soal kaki saja tidak saya pikirkan, apalagi soal suami?” ujarnya, tertawa. Rupanya, Sang Pembuat Takdir punya rencana berbeda baginya. Ia mengirimkan Wahyu sebagai jodohnya dan pasangan ini menikah pada tahun 2010.  “Alhamdulillah saya dapat Mas Wahyu yang fisiknya sempurna. Tapi, dia juga alhamdulillah mendapatkan saya. Semua ciptaan Tuhan itu sempurna,” ujar Aslimah, bahagia.

Dari pernikahannya, Aslimah mendapatkan dua gadis cilik: Aswa Naorin As Zahra (3) dan Yesha Sintya Ramadhan (4 bulan). Terbiasa mandiri, semua tugas ibu rumah tangga bisa dikerjakannya, walau perlahan-lahan. Satu hal yang tak bisa dikerjakannya yaitu menggendong anak sambil berjalan mondar-mandir. Sebagai gantinya, Aslimah membaringkan bayinya di kursi roda. Bila ingin menyusui, ia akan melakukannya sambil berbaring atau duduk.
“Dulu orang ragu, apakah saya bisa punya anak. Ternyata, kini saya punya dua anugerah yang luar biasa. Saya pernah tanya kepada Naorin, bagaimana jika kelak ada teman yang bertanya tentang kaki ibunya. Jawaban Naorin, ‘Insya Allah nanti ada jalannya.’ Sungguh saya tak mengira, anak tiga tahun bisa menjawab begitu,” tutur Aslimah, terharu.

Sekarang Aslimah  makin menikmati perannya sebagai istri dan ibu. Usaha kerajinan akar wangi juga masih dijalaninya bersama suami. Belajar pada sang suami, Aslimah mahir menciptakan boneka-boneka baru dari akar wangi. Dibantu ibu Aslimah, kini mereka telah memiliki dua lapak sewaan di Objek Wisata Mbah Marijan, Yogyakarta.

Usaha mereka kerap mengalami pasang surut, tapi Aslimah tak mengeluh. “Luar biasa kenikmatan yang telah diberikan Tuhan. Saya ingin selalu bersyukur atas apa pun,” ujarnya, dengan penyerahan diri total kepada Sang Pencipta. (f)
 


Eyi Puspita