
Ana Halozan (19) gagal berkompetisi dalam Miss Universe 2015 karena mengalami kejang-kejang yang menyebabkan sebelah wajahnya lumpuh. Namun, keberanian dan ketabahannya telah memenangkan hati banyak orang dan meyakinkan mereka bahwa dialah Miss Universe sejati!
Steve Harvey, pembawa acara Miss Universe ke-64 berdiri di panggung dan mengumumkan, “Gadis ini mengira ia telah kehilangan kesempatan, tapi sebenarnya tidak. Mari kita persembahkan momen ini untuk mewujudkan impiannya berjalan di panggung Miss Universe. Kita sambut, Miss Universe Slovenia!”
Tepuk tangan bergemuruh. Penonton yang memenuhi auditorium The AXIS, Planet Hollywood, Las Vegas pun berdiri menyambut finalis asal Slovenia, Ana Halozan. Di panggung, seorang gadis berambut cokelat, berjalan anggun dalam balutan gaun merah menyala. Ia melambaikan tangan dan melemparkan kecupan jauh pada hadirin yang bersorak-sorai.
Dari kejauhan, Ana memang tampak baik-baik saja. Namun, begitu sorot kamera mendekat, bibir merahnya terlihat mencong dengan sebelah mata yang mengecil. Malam itu, Miss Universe tahun sebelumnya, Paulina Vega, menghampiri Ana dan menyerahkan buket bunga padanya, memeluknya dan membuat Ana merasa malam itu begitu sempurna.
Ana mungkin tak memenangi mahkota Miss Universe malam itu, tapi aura cantik dan percaya diri yang terpancar dari dalam dirinya berhasil menebarkan kharisma dan pesona ratu sejagad yang sesungguhnya. Ia jelas-jelas menunjukkan mental seorang juara. Ana membuktikan bahwa ia menjalani hidup sesuai prinsipnya. “Kita tidak dilahirkan sebagai pemenang. Kita tidak juga dilahirkan sebagai pecundang. Namun, kita dilahirkan untuk memilih,” ungkapnya tegas.
Insiden yang menimpa Ana terjadi beberapa hari sebelum perhelatan Miss Universe. Saat itu, Ana sedang mencuci rambut di kamar mandi. Tiba-tiba, ia mengalami kejang seperti serangan epilepsi. Serangan ini menyebabkan Ana jatuh dan kepalanya menghantam lantai. Ketika teman sekamarnya, Miss Slovakia Denisa Vysnovska menemukannya, Denisa melihat darah mengalir dari hidung Ana.
Ketika tersadar, Ana sudah berada di rumah sakit. Dokter memeriksa Ana dan menjalankan CT scan. Ana mengalami kelumpuhan di wajah sebelah kanan. Kepalanya luka, sekitar matanya lebam. Namun dokter meyakinkan Ana bahwa kondisinya akan pulih dan wajahnya akan kembali seperti semula. Tentu saja, Ana harus bersabar karena kesembuhannya memerlukan waktu. Menurut Ana, peristiwa ini terjadi karena faktor kelelahan. Ia baru saja menempuh perjalanan selama 23 jam dari Slovenia ke Las Vegas.
Awalnya, Ana sangat terpukul dengan peristiwa ini. Terutama setelah sekian lama mempersiapkan diri. Ia membawa dua kopor penuh berisi pakaian dan sepatu, termasuk sembilan gaun malam kreasi desainer Vesna Sposa yang rencananya akan dipakai pada malam final Miss Universe, serta pakaian nasional Slovenia.
Ana juga juga rajin melakukan persiapan fisik selama beberapa bulan sebelum datang ke Las Vegas. Ia berlatih setiap hari dengan personal trainer. Awalnya, Ana sangat terpukul oleh kondisinya. “Bagaimana mungkin hal ini terjadi pada saya? Kesalahan apa yang telah saya lakukan di masa lalu hingga saya harus mengalami peristiwa ini?” tutur Ana, emosional.
Ana lebih terkejut lagi ketika mendengar ia tak bisa mengikuti perhelatan Miss Universe. Pihak penyelenggara telah memutuskan bahwa terlalu berbahaya bagi Ana untuk mengikuti ajang Miss Universe dalam kondisi seperti ini. Mereka juga mengatakan agar Ana sebaiknya beristirahat dan tak usah datang menonton pada malam itu.
“Saya datang ke sini seperti finalis-finalis lainnya, kemudian impian saya buyar dalam sekejap. Saya telah berusaha sebaik mungkin, tetapi inilah yang terjadi. Sekarang kalian bilang, saya tak bisa menghadiri acara Miss Universe. Apa kalian bercanda? Saya harus hadir!” tegasnya.
Ana membuktikan ucapannya. Atas seizin dokter, Ana datang di malam pemilihan Miss Universe, 20 Desember 2015 lalu. Ana mengaku tak berharap bisa tampil di panggung. Ia hanya ingin menghadiri ajang itu agar perjuangannya selama ini tak sia-sia. Karena itu ia sungguh tak menyangka diberi kesempatan untuk tampil dan berjalan di panggung.
“Wow, apakah ini benar-benar saya? Inikah saya yang sedang berjalan di panggung Miss Universe? Tidak mungkin. Ini tidak mungkin...” ungkap Anda dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun televise, mengulang rasa tidak percayanya waktu itu.
Simak di laman selanjutnya: Terus Menginspirasi

TERUS MENGINSPIRASI
“Apa yang tidak membunuhmu, hanya akan membuatmu lebih kuat”. Ana berhasil membuktikan ungkapan yang mengiring foto wajahnya yang mengulas senyum di akun instagram miliknya.
Kini bibirnya sudah tidak miring lagi! Ana mengisi masa pemulihannya dengan aktif berolah raga. Cara ini efektif memompakan hormon bahagia endorphin, membuat dirinya lebih bugar dan tetap positif dalam mengejar karier modeling.
Ana tidak pernah lari dari rasa sakit dan kekecewaan yang menggempurnya pasca insiden itu. Baginya, penghayatan terhadap segala masalah hidup justru membantunya mendapatkan perspektif hidup yang lebih baik. “Segalanya berubah ketika kita membuka diri terhadap berbagai kemungkinan dan percaya bahwa rencana Tuhan adalah yang terbaik,” ungkapnya, tersenyum.
Ana Halozan lahir pada 19 April 1996 di Slovenske Konjice, Slovenia. Saat masih duduk di sekolah dasar, ia mulai berlatih ski dan olahraga ini pun menjadi salah satu passion-nya. Meski demikian, cita-cita terjun ke dunia modeling lah yang menjadi hasrat terbesarnya.
“Ana selalu memiliki impian besar. Bila ada gagasan di kepalanya, tak ada yang bisa menghentikannya,” kata ibu Ana, Mojca Marovt, yang segera terbang dari Slovenia ke Las Vegas untuk menemani putrinya setelah insiden itu.
Menjadi model Slovania paling sukses. Kalimat impian yang cukup pendek itu dalam kenyataannya harus mengarungi perjalanan yang tak semudah pengucapannya. Setelah tamat SMA, Ana hijrah ke Milan, Italia, untuk mengejar mimpinya berkarier di dunia modeling. Setelah tiga bulan menetap di Italia, ia kembali pulang kampung dan kuliah di Commercial School, Maribor, Slovenia.
Kesibukan di dunia pendidikan tidak mampu meredam cita-cita wanita bertinggi tubuh 182 cm ini untuk menjadi model terkenal. Dan impian itu berhasil ditebusnya pada 3 Oktober 2015, saat Ana dinobatkan menjadi Miss Slovenia yang mewakili negaranya di ajang Miss Universe. Salah satu hadiahnya adalah beasiswa sebesar €20,000 untuk belajar di Zagreb School of Economics and Management.
“Semua orang berkata pada saya, ‘kamu pasti sedih karena tidak bisa mengikuti acara pemilihan Miss Universe. Namun saya jawab, jangan menangisi saya karena saya tidak apa-apa. Tak usah cemas. Saya pasti bisa mengatasi hal ini’,” tutur Ana.
“Saya kira Ana akan pulang ke Slovenia setelah agak pulih. Namun pihak penyelenggara Miss Universe menghubungi saya. Ternyata Ana bertekad untuk tetap melakukan pemotretan. Saya merasa mendapat kehormatan memotretnya,” ucap Fadil.
Dukungan untuk Ana mengalir dari berbagai penjuru, termasuk dari Dokter Fema Aquino – Shah yang merawat Ana. “Saya bertemu Miss Slovenia dalam kesempatan yang tidak menyenangkan. Namun saya tak menyangka seorang ratu kecantikan bisa sebaik dan serendah hati dia. Dialah ratu kecantikan sejati!” ungkap Dokter Ferma. Ia yakin bahwa Ana bisa pulih lagi dalam waktu cepat.
Ucapan sang Dokter ini jelas melambungkan semangatnya. “Jika seorang dokter dari Las Vegas berkata seperti ini, saya benar-benar merasa Tuhan bersama saya. Let’s do it! I’m back!” kata Ana. Tidak sedikit yang dibuat kagum oleh semangat Ana, salah satunya. Miss Singapura 2002, Nuraliza Osman. "Ketika
Ana muncul di panggung, semua orang di auditorium berkaca-kaca. Kami tergugah oleh kekuatannya,” ujar Nuraliza.
Rekan sesama finalis, Miss Singapura 2015 Lisa Marie White berkata, “Saya tadinya tidak mengetahui insiden Miss Slovenia, tetapi kini saya amat mengagumi dan menghormati Ana. Saya senang ia diberi kesempatan untuk tetap tampil di ajang Miss Universe.” Demikian juga
Ketegaran Ana berhasil menginspirasi orang-orang yang pernah mengalami serangan kejang yang sama. Di laman Facebook Ana, mereka menuliskan pesan-pesan penyemangat. “Ana, kamu tidak sendirian dalam perjuangan ini. Saya juga pernah mengalami kejang. Kamu berani dan menginspirasi kami,” ungkap Melinda Wagner, wanita yang pernah mengalami sakit yang sama.
Seorang pengagum lain, Malissa Lincoln Mcgregor, juga mengalami kejadian serupa. Wajah kanannya lumpuh sejak berusia 17, dan kini usianya 44 tahun. “Mulai sekarang saya akan lebih sering tersenyum sepertimu. Kepercayaan dirimu telah mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan,” ungkap Malissa.(f)
Eyi Puspita