Foto: shutterstock
Banyak informasi beredar seputar 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV) membuat nyali siapapun ciut. Apalagi di media sosial dan WAG pun dibumbui video dan gambar-gambar yang bikin makin merinding, seperti orang-orang yang berjatuhan di jalanan secara tiba-tiba.
Kota Wuhan yang disebut sebagai pusat dan asal virus berasal, saat ini dikunci dari dunia luar. Akses untuk keluar masuk kota di Tiongkok Tengah itu ditutup rapat. Bagaimana mereka yang berada di dalam kota yang terkunci itu?
“Per 23 januari lockdown kota diberlakukan, semua transportasi umum ditutup. Karena berdekatan dengan imlek, rata-rata kita sudah menyetok logistik,” ujar Patmawaty Taibe lewat webinar yang digelar aplikasi Zoom Selasa, 29 Januari 2020 terkait 2019-nCoV. Ia adalah mahasiswa program doctoral psikologi di Central China Normal University, Wuhan. Ia mengatkan, ada 250 WNI di Wuhan, dimana 97 orang di antaranya adalah pelajar.
Momentum imlek biasanya kota-kota memang menjadi lebih sepi, tapi dalam kondisi normal, kota akan kembali ramai dalam tiga hari setelah imlek. Namun kini, seminggu setelah imlek, di jalanan Wuhan hanya melintas satu dua mobil saja. Orang pun nyaris tak terlihat, kecuali di supermarket.
“Sangat jarang kami melihat Wuhan sesepi ini. Hingga saat ini kebutuhan logistik makanan masih bisa terpenuhi dan tidak ada yang sakit. Kami tetap menunggu kemungkinan evakuasi karena semakin banyak korban. Semula kami tenang karena sadar ini demi menghambat penyebaran virus, tapi kini kami, mahasiswa baik Indonesia dan negara lain, sudah menjadi khawatir karena kita tidak tahu sampai kapan lockdown ini berlakukan,”ujar wanita yang biasa disapa Eva ini.
Untuk menjaga kesehatan, pemerintah memang melarang masyarakat untuk keluar rumah, jika tidak ada keperluan mendesak. Selain karena tidak leluasa membeli makanan di luar, Eva dan teman-temannya juga berusaha untuk masak makanan sendiri untuk meyakinkan kebersihannya. Ia juga bercerita, mahasiswa yang tinggal di asrama, terus dipantau. Mereka wajib melaporkan suhu tubuhnya setiap malam, jika ada yang naik di atas suhu normal akan ada koordinator di tiap lantai yang akan memantau.

Foto: shutterstock
Menanggapi banyaknya kabar yang simpang siur di tanah air, Eva dan mahasiswa yang berada di Tiongkok, terutama Wuhan merasa perlu mengabarkan kondisi terus menerus ke Indonesia. Apalagi di tanah air banyak beredar video (hoaks) terkait virus novel corona, yang menyeramkan dan membuat panik, munculnya sentimen negatif, dan lain sebagainya.
Ia juga mengaku sedih, beberapa mahasiswa yang muncul mendapat komentar seperti agar tidak usah kembali dari Tiongkok, "Nanti bawa virus!". Komentar yang diakuinya memberi beban pada mental ia dan warga negara Indonesia di Wuhan semakin berat. Untungnya ia juga banyak mendapat dukungan morel.
Ia juga mengaku sedih, beberapa mahasiswa yang muncul mendapat komentar seperti agar tidak usah kembali dari Tiongkok, "Nanti bawa virus!". Komentar yang diakuinya memberi beban pada mental ia dan warga negara Indonesia di Wuhan semakin berat. Untungnya ia juga banyak mendapat dukungan morel.
Menurut Eva secara makanan saat ini mereka cukup memiliki persedian. Mereka juga mendapat bantuan dari KBRI dalam bentuk transferan dana kepada setiap mahasiswa untuk pembelian logistik selama 7 hari. “Namun selain itu kami masih butuh masker yang layak untuk mencegah virus. Ini susah kami dapat karena apotek tutup, beli online juga tidak bisa karena jasa pengiriman juga tertutup saat ini, butuh obat dan vitamin untuk menjaga stamina tubuh,” ujarnya.
Mewakili WNI di Wuhan, ia berharap untuk bisa kembali ke Indonesia. Keluar dari situasi yang menegangkan, yang secara psikologis membuat panik dan cemas karena tidak tahu kapan ini akan berakhir. Ia berharap bisa dievakuasi. Sejauh ini info yang ia dapatkan adalah mahasiswa Wuhan, jika dievakuasi akan diterbangkan ke Tiongkok bagian Selatan untuk karantina sebelum terbang dan dikarantina di rumah sakit di Jakarta.
Sementara itu Susi Safitri, mahasiswa di Nanjing, kota yang berada 500 km dari kota Wuhan, menyampaikan pemerintah kota Nanjing menerapkan aturan yang menenangkan masyarakat, seperti wajib memaki masker saat keluar rumah dan berada di tempat ramai seperti stasiun. Jika tidak memakai masker tidak boleh masuk ke fasilitas umum. Termasuk bagi pengguna kendaraan pribadi.
Pemerintah Tiongkok juga menutup tempat yang memungkinkan orang banyak seperti tempat wisata dan bioskop. Pemerintah Nanjing menetapkan hari kerja baru dimulai tanggal 8 Februari 2020. Sementara perkuliahan pada 17 Februari 2020, tapi pengumuman ini bisa berubah sewaktu waktu mengikuti perkembangan.
Pemerintah Tiongkok juga menutup tempat yang memungkinkan orang banyak seperti tempat wisata dan bioskop. Pemerintah Nanjing menetapkan hari kerja baru dimulai tanggal 8 Februari 2020. Sementara perkuliahan pada 17 Februari 2020, tapi pengumuman ini bisa berubah sewaktu waktu mengikuti perkembangan.
Susi menyampaikan agar masyarakat dan keluarga di Indonesia tidak khawatir karena pelajar Indonesia di Nanjing tidak mengalami kekurangan makanan. Pelajar juga terus diingatkan agar mematuhi tindakan pencegahan penyebaran virus corona. Ia optimis virus corona akan bisa ditangani. (f)