Foto: Dok. Femina Media


Di tahun kedua kolaborasi komunitas Wanita Wirausaha Femina, Commonwealth Bank dan Center for Inclusive Growth – Mastercard, workshop kewirausahaan Wise Women Entrepreneur Masterclass kembali hadir di Bandung pada Sabtu, 6 September 2019 bertempat di ballroom hotel Serela Riau Bandung.
 
Workshop setengah hari yang membahas tema Membuat Laporan Keuangan bersama Arresto Ario, Business Transformation Adviser, Commonwealth Bank dan Rissa Ria Maryani, Bandung City Manager Tokopedia yang membawakan materi pengenalan mendalam bagaimana aturan main di marketplace, termasuk bagaimana membaca selera buyer dan konsumen.
 
Dengan drescode kuning, peserta workshop mulai berdatangan sejak pukul 08.00 pagi.

“Kami sering mendengar, ibu-ibu pebisnis UKM masih sering mencampur uang pribadi dan perusahaan dalam satu rekening. Ini adalah salah satu alasan mengapa kami memiliki program edukasi keuangan buat wanita bernama Women Investment Series (WISE). Padahal kian banyak wanita yang mampu menghasilkan pendapatan dari berbisnis di rumah,” kata Alveinia Winata, Internal Communication & Community Egagement Specialist Corporate Communication Commonwealth Bank.
 
Salah satu pembahasan dalam aplikasi WISE yang bisa diunduh secara gratis di Google Play dan Play Store adalah cara mengatur keuangan, termasuk membuat laporan keuangan bisnis yang gampang dan sederhana.
 

Foto: Dok. Femina Media

Yang Penting Mencatat Semuanya
 
Pencatatan keuangan sering dipandang sebagai hal yang ribet dan memusingkan. Sehingga akhirnya ditunda-tunda. Hal ini diamini oleh sebagian besar peserta workshop. Caecilia misalnya, wanita pelari yang mulai berbisnis jus lemon ini mengaku pencatatan keuangannya amburadul. “Sudah nggak terlalu paham bagaimana caranya, juga nggak rajin sih...,” ujarnya sambil tertawa malu.
 
Karena itu, Ario, demikian panggilan akrab Arresto Ario, pun memberikan pemahaman mengapa pencatatan keuangan itu penting. “Yang penting adalah bagaimana kita membuat sesederhana mungkin tapi berguna buat kita. Kalau ditanya, apakah bisnis kita sudah untung? Jangan sampai bingung menjawabnya dan malah bertanya balik...untung ngga yaaa,” ujar Ario, disambut tawa peserta.
 
Berikut ini yang harus diperhatikan saat bicara laporan keuangan usaha:
1/ Pencatatan Transaksi: Ini adalah hal yang paling sederhana, mencatat. Apa yang dicatat? Pengeluaran dan Pemasukan (Penjualan). Semua yang berkaitan dengan transaksi dicatat.
 
Di Penjualan, yang dicatat ada penjualan tanggal berapa, siapa customer-nya, bayar lunas atau hutang, juga keterangannya apa: misalnya cicilan 3 bulan.

“Pencatatan juga membuat kita mengetahui siapakah pelanggan kita dan apa kesukaan masing-masing. Misalnya, si Ibu A paling suka hijab warna kuning. Kalau ada barang baru, kita bisa akan menawarkan kepada dia. Seorang pelanggan kalau ditawari secara personal pasti akan senang,” kata Ario.


 
Setelah melakukan pencatatan, kita akan bisa membuat anggaran. Dulu ketika kita memulai usaha, kita sering tidak tahu berapa biaya yang akan dikeluarkan tiap bulan? Tapi dengan mencatat kita jadi tahu, misalnya fluktuasi yang terjadi tiap bulan. Dengan pencatatan yang rutin, kita bisa membuat anggaran.
 
“Dengan memiliki anggaran, kita bisa melakukan efisiensi. Misalnya, kita jadi tahu kalau biaya transpor makin mahal. Dengan melihat hal ini, maka harus dilihat misalnya tidak belanja tiap hari,” urai Ario.
 
2/ Laporan laba rugi
Kalau punya usaha, pasti ingin untung. Tapi dengan melihat pencatatan ternyata rugi, lihat catatan apakah ada yang salah. Oh ternyata, belanja modalya terlalu besar. Atau biaya gaji staf terlalu banyak, karena sudah menggaji 4 orang sementara hasil penjualan belum sampai ke total gaji pegawai. Mungkin kita tidak perlu 4 orang, tapi cukup 2 orang saja.
 
Dengan demikian, memiliki anggaran bisa bikin prioritas. Semua pencatatan yang kita buat itu kemudian digunakan untuk membuat laporan laba rugi. Kalau untung lanjutkan, kalau rugi, ganti strategi.
 
3/ Neraca
Apa saja yang ada dalam neraca? aset, hutang, kekayaan. Intinya, neraca untuk mengetahui kita punya kekayaan itu berapa.
 
Selain itu, Ario juga menekankan pentingnya pemilik bisnis untuk menggaji diri sendiri. Hal ini yang ternyata belum banyak dilakukan oleh peserta. Ketika diminta tunjuk tangan siapa yang sudah melakukannya, dari 100-an peserta, ternyata tak sampai 10 orang yang tunjuk tangan.
 
Menurut Ario, menggaji diri sendiri, selain memang hak kita yang sudah bekerja siang malam bahkan kadang lupa hari libur, juga membuat seorang pengusaha mengetahui kondisi sebenarnya keuangan bisnisnya. Bisa saja, ketika gaji pemilik tidak dibujetkan, maka bisnis terlihat menguntungkan, padahal ketika jumlah gaji dimasukkan ke dalam pencatatan, ternyata impas saja dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan.
 
“Saya tidak bisa memberikan secara pasti berapa jumlah gaji seorang pemilik, saran saya sebaiknya kita banyak-banyak survei ke luar kira-kira berapa gaji yang layak untuk kriteria pekerjaan yang Anda lakukan, ujar Ario.
 

Foto: Dok. Femina Media
Membaca Selera Konsumen
 
Rissa Ria Maryani dan Helmi Mubarok dari Tokopedia mengisi sesi kedua workshop setengah hari ini. Rissa membuka sesi dengan menunjukkan betapa potensialnya pasar Indonesia yang memiliki jumlah pendudukan terbesar keempat di dunia. “dan 70 persen dari penduduk Indoneia memiliki ponsel, 51 persen menggunakan internet, 49 persen penetrasi perbankan, dan 5 persen penetrasi e-commerce. Dengan demikian bisa dikatakan kalau saat ini penjualan secara online sedang hits,” ujarnya.
 
Tokopedia sendiri, saat ini sudah memiliki 90 juta pengguna per bulan, 97 persen kecamatan di Indonesia sudah terjangkau. “Ada 6,2 juta penjual di Tokopedia,” sambung Helmi. Sementara, pembelinya adalah 55,96 persen adalah pria dan 44,04 persen wanita.
 
Rissa pun berbagi sifat-sifar marketplace:
1/ memiliki market yang jauh lebih besar daripada offline, bisa dari seluruh indonesia.
2/ dapat dikunjungi konsumen selama 24 jam
3/ tidak perlu buka toko atau bayar sewa gedung
4/ jangkauan pengiriman luas
5/ dapat dilakukan dari rumah.
 
Lalu, apa yang diinginkan pembeli? “Barang berkualitas, karena masih ada perasaan insecure dari konsumen, usahakan pengiriman lebih cepat lebih bagus. Harga juga harus kompetitif, karena akan terpampang di online. Dan yang tak kalah penting adalah harus ada promonya, tidak berbeda dengan toko offline yang memerlukan promosi. Karena itu, tambahkan biaya promosi dalam penentuan harga produk Anda,” saran Rissa.
 
Helmi dan Rissa pun membocorkan perilaku konsumen Tokopedia:
1/ Selalu balaslah pertanyaan pembeli dengan cepat, karena peluangnya 90 persen untuk menjadi transaksi. Reply chat as soon as possible, lebih dari 3 jam tidak dibalas maka akan mencari penjual lain.
 
2/ Menerima order secepat mungkin. Dalam 6 jam tidak diterima oleh penjualnya, maka akan ditinggal dan lekaslah mengirim resi secepat mungkin kurang dari 24 jam agar pembeli tenang.  “Selain itu, ketika penjual tidak memproses order, tidak upload receit dan pengiriman produk, maka marketplace akan membatalkan pesanan. Ujung-ujungnya akan berpengaruh terhadap rating toko Anda,” ujar Rissa. (f)

Baca Juga:
Andalkan Facebook Untuk Pemasaran Produk

5 Hal Penting Dalam Memanfaatkan Facebook Untuk Bisnis

Femina Bekerja Sama Dengan Facebook Akan Gelar Workshop di 5 Kota