
Pengantar Redaksi:
Cerpen ini dimuat pada Femina Nomor 2 Tahun 1972. "Ketika itu kami ingin memuat cerita pendek yang ditulis oleh penulis Indonesia dan kalau bisa wanita, mengingat pada Femina edisi pertama kami memuat cerpen terjemahan. Kami akhirnya memilih NH Dini," ujar Widarti Gunawan, salah satu pendiri femina dan Direktur Editorial Femina.
Widarti yang saat itu juga menjadi dosen Sastra Indonesia di Universitas Indonesia, mengetahui kalau NH Dini saat itu tinggal di Prancis karena mengikuti dinas suaminya, seorang diplomat Prancis. Untuk mendapatkan alamat dan kontak NH Dini, Widarti menemui HB Jassin, pengarang, penyunting, pendokumentasi, dan kritikus sastra terkemuka di kantornya, Lembaga Bahasa dan Budaya. "Setelah mendapat alamatnya, saya pun menulis surat permintaan stok cerpen secara untung-untungan saja. Ternyata, dibalas sekaligus menyertakan naskah cerpennya," kata Widarti.
Setelah dibaca, redaksi menyukai ceritanya. Namun ada satu hal kecil yang mengganjal, yaitu redaksi ingin mengganti nama salah satu tokohnya. Untuk itu, Widarti kembali mengirim surat ke Prancis untuk meminta izin mengganti nama salah satu tokoh tersebut. Surat balasan dari NH Dini datang dan menyatakan menyetujui keinginan redaksi, sambil berpesan honor pemuatan tidak usah dikirim ke Prancis karena biayanya terlalu mahal. Honor akan diambil langsung saat ia mudik ke Indonesia.
"Beliau biasanya tiap dua tahun sekali ke Indonesia. Kami pun akhirnya bertemu secara fisik untuk pertama kalinya saat NH Dini mengambil honorarium dan sejak itu kami berteman. Di setiap pertemuan kami biasanya makan di restoran favoritnya, yaitu resto Lembur Kuring di daerah Ciputat. NH Dini menggemari makanan-makanan khas Indonesia," kata Widarti.
Menjalin pertemanan bertahun-tahun, menurut Widarti, NH Dini itu hanya fisiknya saja yang Jawa. "Wajahnya bulat seperti wajah khas orang Jawa, caranya berpakaian juga biasa-biasa saja, tidak menonjol dan aneh-aneh. Tapi, kalau membaca tulisannya, NH Dini adalah orang yang sangat mandiri, berani dan berpikiran sangat maju. beliau juga sangat profesional," ujar Widarti. (f)

Kuhitung semua perkakas dapur yang menjadi tanggung jawabku. Terbang dengan Ana, kami berdua selalu membagi pekerjaan dengan jujur tanpa mengeluh. Sebab itulah dia kubiarkan turun mendahuluiku.
Sekali lagi kuperiksa jumlah nampan-nampan serta gelas dan piring pasangannya, sendok-garpu dim pisaunya. Lalu kuambil kopor kecilku dan kotak palang merah. Kemudian menuruni tangga.
Kulihat mereka sudah menungguku dibawah sayap. Ana kepanasan mengipas-ngipaskan sapu tangannya ke leher. Dia selalu demikian. Dalam keadaan udara macam manapun ia selalu keringatan.
Rupanja mereka tinggal menungguku. Jun, ahli radio kami dengan manis hendak mengambil kopor dari tanganku. Tetapi kutolak. Berjalan kaki di tengah lapangan hanya dengan menjinjing sebuah kotak kecil membikin aku merasa canggung.
Kami menuju ke gedung terminal yang bertingkat dua. Kali ini pesawat berhenti dekat sekali dengan pintu keluar. Deretan bagian-bagian muatan dan bea cukai kami lalui di pinggir gedung untuk menghindarkan panas matahari. Ketika mencapai kamar-kamar tunggu dan imigrasi, aku mulai berjalan dengan hati-hati. Lantai stasiun itu berkilat dan licin. Dengan sepatu dinas yang tinggi, aku terlalu biasa dengan tanah serta lantai gedung terminal di tanah air yang muram padat. Dari imigrasi, kami ke bea dan cukai. Sekadar urutan kerja dua petugas memeriksa paspor dan melayangkan pandang ke dalam bagasi kami.
lring-iringan hampir mencapai pintu keluar ketika seorang pramugari darat bergegas mendekati kami. Dipelukannya ada seberkas bunga yang dibungkus dengan kertas kaca.
”Ada pesan untuk anda,” ia menegurku dan langsung memberikan kembang yang dipegangnya.
”Untuk saja?” dengan bodoh aku bertanya.
”Ya," sahutnya, lalu sekalian menyebut namaku untuk memastikannya.
Dengan termangu aku menerima kembang itu. Selintas kubaca nama yang terselip. Tiba-tiba aku merasa seperti berada di suatu tempat yang luas dan lengang. Kakiku ringan tak merasa sesuatupun. Perlahan di dalam tubuh kuterima tikaman yang pedih yang tidak kuketahui dari mana datangnya.
”Terimakasih," sayup kudengar Ana berkata kepada pramugari tersebut.
Mobil beranjak dari depan terminal menuju ke bagian penerbangan. Kapten dan ahli radio turun untuk laporan. Sepintas lalu kujawab pertanjaan Ana, bahwa bunga itu berasal dari seorang kawan yang telah lama tidak kudengar kabar beritanya. Kemudian aku terdiam.
Dalam perjalanan ke hotel, aku tidak mencampuri percakapan rekan-rekanku. Hatiku tiba-tiba begini murung. Kupandang jalanan yang kami lalui. Kota pagoda yang manis. Sebenarnya ia tidak lebih indah dari pada kota-kota lain yang hingga kali itu kukenal. Termasuk kota-kota yang kukunjungi di tanah air.
Empat kali aku datang ke negeri ini. Setiap kali aku tak tahan untuk menguatkan pendapat, bahwa wanita-wanita di negeri ini adalah yang paling manis di seluruh Asia. Badan mereka yang ramping terbungkus dengan pantasnya oleh sarung-sarung yang tepat dan baju yang sepadan.
Cara mereka berjalan seperti melayang, halus penuh kegairahan, dan lampai. Di tepi-tepi jalan, di tempat-tempat umum yang terbuka, kulihat mereka selalu manis dan pantas. Kecuali di bagian kota dimana banyak orang-orang Tionghoa atau bangsa pendatang lain.
Umumnya yang terlihat di jalan adalah campuran dari kemolekan berbagai suku manusia. Hal yang sama tidak akan dapat ditemukan orang jika mengunjungi Filipina. Kalau ada dari mereka yang cantik atau manis, dengan cepat orang dapat menemukan pengaruh yang jelas dari darah Spanyol. Dan umumnya, hanyalah orang-orang dari tingkatan sosial yang teratas yang memiliki wanita serta gadis-gadis cantik.
Di Thailand amat berbeda. Kalau ditemukan seorang perempuan manis, tak dapat ditentukan dari mana pengaruh kemanisan itu. Semuanya melumat dengan hasil yang membentuk. Wajah bulat atau lonjong. Mala seperti buah almon maupun bulat dengan pelupuk yang sipit atau keriput. Bibir selalu tebal baik memanjang maupun mengumpul, dengan hidung yang tidak tinggi - baik melebar maupun mungil. Itu semua tidak dapat ditentukan dari mana asalnya.
Sejak kukenal kota itu, aku merasa seolah-olah dari wanita negeri inilah datangnya napas keindahan.
Dan kuraba perlahan kembang dipangkuanku. Hanya terdiri dari tiga tangkai.
Tetapi anggrek semacam itu punya mutu yang tidak murah. Susunan daun bunga yang berlapisan kaca dengan berbagal warna dan bentuk gambaran. Ketiganya benar-benar amat elok.
Sekali lagi kulihat kartu nama yang terpancang di kertas. Di baliknya tertulis huruf Thai. Untuk kesekian kalinya kueja tulisan Latin, dan sebentar aku ketakutan ketika sadar betapa arti yang kudapatkan dari sana amat penting bagiku. Nama itu kukenal. Atau aku mengenal seseorang dengan nama tersebut. Apakah ini orang yang sama?
Sampai di hotel, kami mengambil kunci kamar masing-masing. Seperti biasa, kalau kami berdua, selalu mendapat kamar bersama. Yang dinas di hotel waktu itu Ba-Thaung, tersenyum di belakang meja penerima tamu. Hidungnya yang amat kecil hampir menghilang oleh sambutannya yang hangat. Dengan serta merta dia mengenaliku.
”Kabar baik, nona?”
”Selalu baik," jawabku. ”Dan Anda? Ada sesuatu yang baru sejak singgah kami yang terakhir?”
”Mengenai saja tidak ada,” katanja, lalu meneruskan, ”Nona Koban dari UBA singgah di sini beberapa hari yang lalu. Dia menanyakan titipan dari Anda.“
Doris Koban dari Rangoon adalah kawanku sejak dua tahun ini, kegemarannya akan barang-barang perak kukenal benar. Kami berdua bertukar kiriman hasil kerajinan tangan negeri masing-masing. Kali itu aku membawa dua pasang subang dan Bali dan Jogja. Maksudku akan kukirim melalui pos di kota itu, karena pengiriman pos di tanah air biasa lambat dan tidak pasti. "Dia terbang kemana?" tanjaku kepada Ba-Thaung.
”Ke Manila. Lalu ke Jepang, Hongkong, lusa kembali ke Rangoon melalui Bangkok".
“UBA ke Manila?"
"Ya, mulai bulan ini.”
”Kalau begitu saja dapat meninggalkan bungkusan kecil untuk dia di sini.”
”Tentu saja.”
Ini berarti menghemat waktu bagiku. Kantor pos tidak terletak disamping hotel! Selain harus membayar biaya pengiriman, aku harus menyewa taksi untuk ke sana. Kalau Ba-Thaung sanggup menyampaikan titipan buat Doris, aku amat menghargainya. Sebagai ganti jerih payah, dapat kutinggalkan sedikit upah pada waktu menyerahkan kembali kunci kamar kalau aku meninggalkan hotel.
Kami menuju ke lift. Sampai di tingkat dimana kamar kami sediakan, aku berkata kepada kapten:
”Sehabis minum teh, saya tidak turut keluar nanti, Kapten."
”Cape?” tanyanya menelitiku.
”Tidak. Saya perlu menemui kawan."
”Kira-kira saja dapat memercayakan Anda kepadanya?” suaranya menyindir.
”Dia kawan lama,” itulah satu-satunya jawaban yang dapat kutemukan.
Akhirnya Kapten melihat ke arlojinya.
”Jangan terlalu malam tidurnya. Besok pagi-pagi berangkat.”
Sesudah mandi air hangat, aku termenung memandang ke jalan di bawah jendela kamar. Gerimis kecil seperti asap menitiki udara sore.
Ana telah berangkat ke kota bersama Jun. Ia tidak hentinya membuat perhitungan harga-harga emas di negeri ini. Ana adalah kawanku sekerja yang paling hemat. Tidak pemah ia terbang melalui kota ini tanpa pulang dengan membawa satu atau dua perhiasan. Itu merupakan tabungannya. Tidak seperti rekan-rekan wanita lain, Ana tidak begitu membelanjakan uangnya untuk bahan pakaian maupun alat kecantikan. Sore itu dia hampir berhasil menjeratku ke toko-toko emas lagi. Untunglah Jun juga memerlukan sebuah hadiah kecil buat isterinya.
Sebenanya, aku tidak tahu dengan jelas apa yang harus kukerjakan. Beberapa waktu bersendiri barangkali akan memberiku pikiran yang lebih tenteram. Sekali lagi aku memandang bunga ungu yang dikirim orang kepadaku. Kartu namanya telah kutanggalkan. Kertas pembungkusnya kubuka di bagian atas, tangkai kembang kucelupkan ke dalam gelas berair yang kutemukan di kamar mandi.
Besok pagi kami meninggalkan kota ini kembali menuju Jakarta. Mungkin aku akan berkesempatan singgah lagi diwaktu yang akan datang. Tetapi apa yang akan dipikirkan pengirim bunga itu jika diketahuinya aku telah menerima kiriman dan tidak datang ke alamat seperti yang dimintanya?
Mahadi. Itu adalah nama yang dapat ditemukan pada lebih dari satu orang di Indonesia. Itu dapat menjadi nama seorang buruh, seorang pembantu rumah tangga maupun seorang pegawai pemerintah yang tertinggi pun. Hatiku cemas bercampur kecut berusaha membujuk segala macam yang baik.
Tetapi pengetahuan bahwa dalam hidupku sampai waktu itu aku hanya mengenal satu nama Mahadi, membikin rasa bawah sadarku menyiksa seluruh rohani.
Akhirnya aku turun. Sebentar berdiri melihat peta kota yang tergantung di tembok dekat penerima tamu.
Tidak berapa jauh. Aku bahkan tidak perlu mengambil taksi, karena jurusan-jurusan yang banyak terlarang jika datang dari arah hotel.
Sejenak aku berdiri bercakap-cakap mengenai satu dua hal dengan Ba-Thaung dan menolak tawarannya untuk memanggilkan taksi. Lalu kuucapkan selamat malam sekalian, karena dia akan diganti dinasnya oleh penerima tamu lain yang berjaga malam. Sampai di pintu kurapatkan jas hujanku serta kubuka payung. Lalu aku keluar dari penginapan.
Angin yang membawa gerimis menampar mukaku. Dengan menyusuri jalan yang besar aku akhirnya membelok ke kiri. Gedung-gedung bioskop dan opera Tionghoa berjejeran dengan hotel-hotel kelas rendahan. Agak jauh, kelenteng yang beratap aneka warna kelihatan menjulang. Aku mulai menghitung jalan-jalan kecil beraspal yang terdapat di sebelah kananku. Menurut keterangan Ba-Thaung, alamat yang kucari tidak jauh dari sana.
Lalu aku masuk ke kampung. Di dalamnnya kelihatan sudah lama tidak diperbaiki, disana-sini aspalnya hampir menghilang sama sekali. Dengan tertunduk-tunduk menghindari lubang-lubang yang tergenang air, aku mencocokkan nomor rumah. Jauh dari mulut kampung, akhirnya aku menemukan nomor yang kucari.
Aku berhenti. Rumahnya biru muda. Nampak lebih bersih dan berbeda dengan sekelilingnya.
Kembali aku ragu-ragu. Akan masuk?
Belum kusadari keputusan mana yang hendak kuambil, kakiku telah sampai di ambang teras. Bersamaan dengan itu seorang perempuan berumur muncul dari pintu dalam, menanyaiku dengan bahasanya. Aku sebentar tertegun, tetapi segera menyahut dalam bahasa Inggris.
"Tuan Mahadi ada?“
Perempuan itu menatapku sebentar, kemudian menghilang ke dalam.
Aku meneliti sekelilingku. Pendapa kecil yang berteras dihiasi dengan tumbuhan, amat sepadan. Di pojok ada sepasang meja dan kursi-kursi rotan sederhana dan manis, seakan mengundang untuk bercanda di sana. Tepat ditengahnya terdapat tanaman air yang berdaun lembut, menurun dengan gaya yang lentik.
”Akhirnya Anda datang, " kudengar suara yang lembut berbahasa Inggris.
Aku menoleh.
Seorang wanita muda mengulurkan tangannya kepadaku. Aku selintas mengamati wajah dan tubuhnya, lalu menjabat salamnya. Agak lama tanganku dipegangnya, lalu dia menyilakanku duduk. Kursi yang kukagumi kesederhanaan serta kemanisan bentuknya kini juga kurasakan betapa tepatnya untuk diduduki.
Tak tahu bagaimana mesti membuka percakapan, dengan kaku aku melanjutkan mengamati wanita di depanku. Ia menurutiku duduk, membetulkan sarungnya. Lalu mengangkat wajah untuk menentang pandanganku.
"Kami menunggu-nunggu dengan tidak sabar. Dua bulan ini kami mengirim kembang ke lapangan udara setiap ada penerbangan pemerintah dari negeri Anda. Tetap selalu kembali ke toko, karena Anda tidak datang."
”Yang tadi, saya terima. Terima kasih."
"Biasanya baru keesokannya saya tahu sampai tidaknya kiriman bunga untuk mendapat kabarnya."
Kami terdiam masing-masing. Kutemukan kembali matanya yang besar dan bersinar dengan indahnya. Aku tiba-tiba gelisah.
"Tuan Mahadi?" tanpa kuketahui aku meneruskan kalimatku.
Wanita dihadapanku mengambil waktu untuk menjawab.
”Kakak Anda meninggal seminggu yang lalu.”
Kalimat itu diucapkan dengan perlahan dan sederhana. Tetapi aku terkejut. Suara-suara yang sejak kuterima kembang itu, kutelan serta kuhimpit dalam-dalam di bawah sadarku, kini mencuat merupakan tusukan yang tajam. Kakakku. Jadi benarlah seperti yang sedari mula kutakutkan. Dengan rasa malu yang tidak berguna, aku mengakui telah menjadi pengecut diriku sendiri.
Jadi betullah, Mahadi dalam kartu nama itu adalah Mahadi satu-satunya yang hingga waktu itu kukenal. Kakak sulungku yang selama delapan belas tahun hidup matinya menjadi teka-teki. Dia berangkat ke Purwodadi, ke Blora, ke Madiun, ke Malang dan entah kemudian kemana lagi bersama pemuda-pemuda tanah air lain yang dibentuk menjadi gerombolan Peta oleh penjajah Jepang. Hingga suatu kali dia berangkat dan tidak pernah kembali sampai meletus serta berakhirnya revolusi.
”Dia sangat ingin bertemu lagi dengan Anda,” kudengar kata wanita itu.
”Mengapa dia tidak pulang? Kami semua menunggunya. Setelah revolusi berakhir, setiap kali ada iring-iringan prahoto tentera, kami mengharapkannya muncul ke rumah. Kemudian kabar-kabar mengatakan bahwa dia meninggal. Tetapi ibu tidak pernah mempercayainya."
”Ayah Anda tidak mengharapkarnya pulang, bukan?”
Pertanyaan itu seperti kilat yang menampar kepalaku. Jadi dia mengetahuinya. Kuteliti wajah bulat panjang penuh kelembutan itu. Pandangku turun ke dadanya, dimana mataku tersangkut kepada secarik pita hitam yang disepitkan di antara kancing-kancing baju.
Istri kakakku?
Warna hitam adalah tanda berkabung. Hanya keluarga terdekat yang wajib mengenakan warna tersebut selama waktu tertentu. Kalau benar ini adalah iparku, tentulah kakakku tidak menghindarkannya dari rahasia-rahasia serta kejadian-kejadian penting dalam keluarga.
Di rumah tidak pemah ada kerukunan. Antara ibu dan ayahku tidak pernah terdapat kata sepakat. Kami tujuh bersaudara disuguhi dengan berbagai cekcok dari hari kehari. Kemudian aku bahkan mengetahui, bahwa lahirku merupakan kehadiran yang tidak dikehendaki oleh ayah. maupun ibuku. Tujuh anak! Kini pada waktu dewasa, aku masih sering bertanya-tanya sendiri bagaimana hal itu dapat terjadi di dalam keluarga yang sejauh ingatanku tidak pernah hidup damai. Semakin aku mendjadi besar, semakin kurasakan betapa kami terbagi menjadi dua bagian. Masing-masing memihak kepada ibu atau ayah.
Di dalam kepalaku terekam kedjadian yang berlangsung pada suatu malam. Umurku pada waktu itu kalau tidak salah tujuh tahun. Aku mengetahui pada masa itu bahwa negara berada dalam ancaman perang. Dua kali ibuku membangunkan kami malam-malam untuk bersiap mengungsi kekampung yang lebih jauh dari jalan besar. Setiap dari kami mempunyai bungkusan atau tas yang selalu siap untuk dibawa jika waktunya tiba untuk mengungsi.
Malam itu sesudah makan, seorang dari kakakku dan aku sendiri telah membersihkan meja makan. Kakakku mengerjakan latihan-latihan hitungan, sedang aku juga menyiapkan pekerjaan sekolahku. Tiba-tiba dari kamar tengah terdengar suara-suara keras orang yang sedang berbantah. Lalu kakakku Mahadi berlari keluar diiringi oleh ayah kami. Mereka kemudian bergelut jatuh ke lantai, bergulung hingga ke beranda depan.
Tetangga yang melihat dari rumah mereka berlarian datang untuk memisah. Itu tidak pernah kulupakan, menatap seperti gambaran yang hidup di kepalaku. Aku tidak mengetahui sebab-sebab pertengkaran mereka. Aku juga tidak pernah menanyakannya kepada siapapun, hanya aku sadar bahwa sejak waktu itulah ayahku dan kakakku Mahadi tidak saling menegur.
Aku tidak pernah menyukai ayahku. Dengan terjadinya keretakan di antara keduanya, aku dengan sendirinya memihak kepada kakakku. Yang kuingat sejak masa sadarku adalah Mahadi merupakan kepala rumah tangga kami.
Pada waktu-waktu di kampung diadakan rapat atau pertemuan untuk memutuskan sesuatu yang penting, selalu kakakkulah yang hadir mewakili keluarga guna memberikan suaranya. Ketika penjajah Jepang datang dan mulai bertindak se-wenang-wenang hendak merampas harta benda penduduk, dengan teliti kakakku memisahkan barang-barang yang dianggap berharga oleh ibuku, serta di tananmya di pojok sebuah kamar.
Aku lebih sering melihat ibuku berunding dengan kakakku mengenai segala hal, dari pada dengan ayahku. Pada waktu itu aku hanya berpikir barangkali ayahku tidak punya waktu untuk itu. Karenanya, ibu ku lebih banyak meminta pertolongan kepada Mahadi daripada kepada suaminya. Pekerjaannya sebagai juru tulis di sebuah kantor pemerintah ketika Jepang datang, merupakan kedudukan yang menimbulkan iri hati pada orang kampung kami.
Ayahku dapat terus bekerja tanpa gangguan dari pihak polisi maupun militer. Tetapi ayahku tidak tinggal lama di kantor tersebut. Sifatnya yang suka bercekcok serta mau menang sendiri mengakibatkan hilangnya pekerjaan. lalu kulihat dia tinggal di rumah. Kadanga-kadang pergi entah kemana beberapa hari. Kalau kembali, kelihatan cape dan pakaiannya kusut. Sementara itu ibuku sering seperti biasanya membuat berbagai kueh kering yang dititipkan dijual di warung Cina di pinggir jalan besar. Kadang-kadang ada pesanan kueh besar yang harus dihias rapi dan cantik. Kamu sesaudara memandangi kueh di atas meja dengan rasa ingin menyentuh, untuk menyadari bahwa itu bikinan ibu kami.
Kemudian aku mengetahui, bahwa ayahku bermain kartu dengan taruhan uang untuk mendapatkan sekadar tambahan belanja. Aku juga tahu bahwa beberapa kali ibuku mengusulkan agar dia mendirikan warung sendiri di halaman muka rumah. Tetapi ayahku selalu menjawab bahwa dia tidak mau menjadi penjual kueh. Itu pekerjaan buat orang-orang rendahan.
Mengenai hal ini, aku sering mendengar perdebatan yang terjadi antara kakakku Mahadi dan ayah. Pada waktu-waktu kami berkumpul, selalu ada kakakku yang lain yang memihak ayah lalu beberapa lainnya memihak Mahadi.
Dari hari kesehari, akhirnya aku mengerti bahwa kakakku Mahadi adalah seorang laki-laki dermawan. Hatinya sabar dan terbuka menerima perlakuan orang yang kasar maupun menyakitkan hati.
Ayah kami kehilangan pekerjaan, kakakku masih mengikuti pelajaran di sekolah menengah atas. Tetapi dengan cepat dia menemukan kerja sambilan yang dapat memberi hasil secara tetap. Beberapa dari kakakku dan aku sendiri melihat serta mengetahui hal itu. Sampai pada waktu keberangkatannya yang terakhirpun dia membuktikan kepada kami, bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kebaikan yang menimpa diri keluarga, dengan mengirimkan sekarung beras dari dusun yang baru dilaluinya.
Dari ayah, ibuku tidak dapat mengharapkan sesuatu yang tetap. Dia tidak pernah dapat tinggal lebih dari sebulan di satu pekerjaan. Sifat-sifatnya yang sombong dan banyak omong pada satu kali dapat mengelabui orang, tetapi pada kali yang lain orang tidak mempercayainnya lagi. Perbantahan mengenai banyak hal di antara ayah dan kakakku akhirnya mencapai puncaknya pada malam yang tidak akan kulupakan itu.
"Kakak Anda mengidap penyakit paru-paru warisan dari pengembaraannya di rawa-rawa sewaktu kerja paksa di Birma, di hutan-hutan Semenanjung Malaysia," wanita muda itu memulai ceritanya.
"Bagaimana dia sampai di sana?" Aku tidak dapat menahan keherananku.
"Tentara Jepang mengangkutnya dengan kapal dari salah satu pelabuhan di selatan pulau Jawa. Mereka sebanyak enam atau tujuh ribu orang. Menurut ceritanya banyak kawannya yang meninggal karena kekurangan makan serta tidak adanya pemeliharaan kesehatan. Mereka baru mengetahui bahwa Jepang telah kalah perang setelah beberapa pemuda berhasil melarikan diri dan mencapai sebuah kota.”
Tentara penjajahan semua sama sifatnya. Yang dari Jepang tidak pula terkenuali. Setelah dewasa aku sering mendengar, bahwa pada waktu pendudukan bangsa itu, pada saat-saat diperdengarkan sinyal tanda bahaya. sebenarnya tidaklah disebabkan oleh datangnya pesawat musuh yang terbang di wilayah tanah air, tetapi karena bala tentara Jepang sedang mengangkuti hasil pengumpulan minyak tanah, barang perhiasan maupun bahan makanan keluar kota atau menuju ke pelabuhan untuk diteruskan ke negeri mereka.
Kuingat bagaimana setiap kepala rumah tangga harus menyerahkan barang-barang berharga kepada kepala kampung pendudukan. Katanya itu diperlukan untuk membiayai perangnya pemuda-pemuda tanah air. Demikian memikat serta berkobarnya propaganda penjajah hingga kebanyakan penduduk menyerahkan hak milik mereka dengan patuh.
Kakakku Mahadi bersama ibuku rupa-rupanya mempunyai pikiran lain. Di pojok salah satu dari kamar kami, mereka mencukil beberapa segi lantai serta membuat lubang disana. Sebagian barang perhiasan, jam-jam tangan atau saku yang masih bagus dimasukkan di dalam sebuah setoples kaca, kemudian dikubur di lubang tersebut. Mungkin Mahadi dan ibuku tidak sendirian punya pikiran demikian. Tetapi pada waktu itu, tindakan keduanya kuanggap sebagai sesuatu yang luar biasa, yang sungguh-sungguh berani dan sekaligus menakutkan! Dan oleh karenanya pula aku semakin mengagumi serta mencintai keduanya lebih dari pada ayahku.
Kemudian hari, setelah perang dan revolusi berakhir, berkat perhiasan dan barang berharga yang disembunyikan itulah ibuku dapat membiayai tahun-tahun pertama sekolah kakak-kakakku yang lain yang sekarang menjadi insinyur pertanian, dokter gigi, dan guru pendidikan jasmani.
“Kami kawin empat belas tahun yang lalu. Anak kami tiga orang, dua laki-laki, seorang perempuan.”
Aku hampir tidak mendengarkan kawan bicaraku. Alangkah asingnya perasaanku. Tahun-tahun berlalu, kami di rumah tidak pernah menganggap Mahadi hidup, kecuali ibuku. Kalimatnya seperti ”Kelak bila kakakmu Mahadi kembali . . .” atau ”Kakakmu Mahadi tentulah gembira melihatmu demikian” dan sebagainya, menunjukkan betapa kebenaran perasaannya sebagai seorang ibu telah menguasai pikirannya. Kini aku menyadari bahwa memang selama ini ibukulah yang benar.
”Mengapa dia tidak mengirim kabar, surat atau telegram melalui kedutaan misalnya," kudapati diriku mengucapkan kalimat penyesalan.
”Selama empat tahun kakak Anda hampir terus menerus tinggal di rumah sakit. Dia bekerja digedung percetakan kepunyaan ayah saja. Keduanya berkawan baik. Selama di rumah peristirahatan penjakit paru-paru, semua biaya datang dari ayah saja. Setelah kami kawin, kakak Anda memutuskan akan menetap di negeri ini dan menjadi warga negara yang baik. Menurut katanya kemudian, itu adalah caranya untuk membalas kebaikan budi orang-orang yang selama itu melingkunginya dengan keramahan. Katanya hidupnya yang lalu sudah lewat. Dia tidak pernah menyebut sesuatupun mengenai keluarganya di negeri lain. Hingga pada suatu hari dia mengira telah melihat Anda di hotel.”
”Mengapa dia tidak menegur saja?”
”Dia ragu-ragu apakah benar Anda adalah adiknya atau bukan. Sewaktu dia meninggalkan rumah, Anda masih kecil menurut katanya. Setelah bolak-balik berulang kali, akhirnya atas anjuran saya, dia memberanikan bertanya di meja penerima tamu hotel siapakah Anda dan nama Anda sekalian. Tetapi terlambat, pesawat Anda telah berangkat. Sejak waktu itulah dia mulai bercerita mengenai keluarga di Indonesia. Berkali-kali saya usulkan agar dia meminta tolong kepada ayah saja supaya membiayai perjalanannya menengok kalian, tetapi dia menolak. Dia bahkan dengan keras melarang saja membicarakan hal tersebut kepada ayah saya.”
”Bagaimana dia hidup selama ini? Maafkan saya, tentu saja ada ayah Anda. Tetapi kakak saya yang saya kenal adalah seorang laki-laki yang tidak suka menggantungkan diri kepada orang lain. Apakah pekerjaannya'?"
“Anda benar. Oleh sifat-sifatnya yang bangga dan agung itulah ayah dan kami sekeluarga mencintainya. Kakak Anda menjadi kepala bagian gambar reklame, perencana buku, dan waktu-waktu yang lain membuat dekor teater.”
Sore itu aku tidak melihat alasan yang tepat untuk cepat kembali ke hotel. Seiain bermaksud melihat kemenakan-kemenakanku yang sore itu masih di sekolah, aku juga ingin mengetahui banyak ha] lagi mengenai segala yang terjadi di tahun-tahun terakhir. Mengenai keluarga iparku, mengenai sekolah anak-anak.
Aku harus melengkapi diri dengan jawaban yang seterang-terangnya bila ibuku menimbuniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang beraneka ragam yang telah dapat kubayangkan. Tetapi benarkah aku akan dapat menjawab seluruh pertanjaanya? Seorang tua seperti dia tidak akan mengerti mengapa Mahadi menutup dir menolak mengirim kabar ke rumah, mengingkari keluarga di tanah air. Akan dapatkah ibuku menggambarkan betapa cinta dan perhatian keluarga yang baru ditemukan di negeri asing, lebih-lebih di waktu sengsara, dapat atau sanggup menghapus kenangan dari kehidupan yang lalu?
Pada akhirnya ketika aku kembali menuju ke penginapan, hatiku menjadi bimbang. Mungkin akan lebih baik bila aku tidak mengabarkan pertemuanku dengan istri Mahadi kepada siapapun, juga tidak kepada ibuku.
Tapi berhakkah aku berbuat demikian?
Seandainya kukatakan juga, apakah yang akan dirasakan di hati ibuku pada waktu menerima kabar tersebut?
Aku sendiri tidak dapat memastikan perasaan apa yang kusimpan. Kecewa karena kakakku yang selama delapan belas tahun ini tetap hidup tetapi tidak berkirim kabar? Ya, terutama kecewa itulah yang menguasai hatiku. Dan aku mengerti kekecewaan ini tidak akan dapat disangga oleh hati ibuku yang lelah.
Seminggu yang lalu dia meninggal. Kalau saja orang dapat menarik kembali waktu, menggeser kehidupan ke arah saat yang dipilihnya.
Semalaman aku tidak tidur. Mataku berkedip dan takut bergerak, karena kuatir mengganggu Ana. Semakin hari mendekati pagi, aku semakin gelisah. Apakah yang harus kuperbuat?
Bagiku istri Mahadi merupakan wajah dari keluarganya yang mengangkat kakakku ke kehidupan yang layak dan panuh cinta. Aku tidak akan dapat melupakan keramahan rumah kecil yang baru kutemukan, penerimaan yang langsung dari masing-masing kemenakanku yang baru, kesungguhan hati perempuan yang bermaksud mengenal keluarga suaminya.
Tiba-tiba kekayaan yang baru kurasakan menyelinap di hatiku. Aku merasa kaya oleh pengetahuan bahwa di negeri itu aku memiliki keluarga. Aku bahkan pernah mempunyai seorang kakak yang selama ini menjadi model dari sifat-sifatnya yang kuhargai.
Keesokan harinya dengan mengantuk dan senyum setengah hati yang kupaksakan aku kembali menghadapi penumpang-penumpang.
Cerpen ini dimuat pada Femina Nomor 2 Tahun 1972. "Ketika itu kami ingin memuat cerita pendek yang ditulis oleh penulis Indonesia dan kalau bisa wanita, mengingat pada Femina edisi pertama kami memuat cerpen terjemahan. Kami akhirnya memilih NH Dini," ujar Widarti Gunawan, salah satu pendiri femina dan Direktur Editorial Femina.
Widarti yang saat itu juga menjadi dosen Sastra Indonesia di Universitas Indonesia, mengetahui kalau NH Dini saat itu tinggal di Prancis karena mengikuti dinas suaminya, seorang diplomat Prancis. Untuk mendapatkan alamat dan kontak NH Dini, Widarti menemui HB Jassin, pengarang, penyunting, pendokumentasi, dan kritikus sastra terkemuka di kantornya, Lembaga Bahasa dan Budaya. "Setelah mendapat alamatnya, saya pun menulis surat permintaan stok cerpen secara untung-untungan saja. Ternyata, dibalas sekaligus menyertakan naskah cerpennya," kata Widarti.
Setelah dibaca, redaksi menyukai ceritanya. Namun ada satu hal kecil yang mengganjal, yaitu redaksi ingin mengganti nama salah satu tokohnya. Untuk itu, Widarti kembali mengirim surat ke Prancis untuk meminta izin mengganti nama salah satu tokoh tersebut. Surat balasan dari NH Dini datang dan menyatakan menyetujui keinginan redaksi, sambil berpesan honor pemuatan tidak usah dikirim ke Prancis karena biayanya terlalu mahal. Honor akan diambil langsung saat ia mudik ke Indonesia.
"Beliau biasanya tiap dua tahun sekali ke Indonesia. Kami pun akhirnya bertemu secara fisik untuk pertama kalinya saat NH Dini mengambil honorarium dan sejak itu kami berteman. Di setiap pertemuan kami biasanya makan di restoran favoritnya, yaitu resto Lembur Kuring di daerah Ciputat. NH Dini menggemari makanan-makanan khas Indonesia," kata Widarti.
Menjalin pertemanan bertahun-tahun, menurut Widarti, NH Dini itu hanya fisiknya saja yang Jawa. "Wajahnya bulat seperti wajah khas orang Jawa, caranya berpakaian juga biasa-biasa saja, tidak menonjol dan aneh-aneh. Tapi, kalau membaca tulisannya, NH Dini adalah orang yang sangat mandiri, berani dan berpikiran sangat maju. beliau juga sangat profesional," ujar Widarti. (f)

Kuhitung semua perkakas dapur yang menjadi tanggung jawabku. Terbang dengan Ana, kami berdua selalu membagi pekerjaan dengan jujur tanpa mengeluh. Sebab itulah dia kubiarkan turun mendahuluiku.
Sekali lagi kuperiksa jumlah nampan-nampan serta gelas dan piring pasangannya, sendok-garpu dim pisaunya. Lalu kuambil kopor kecilku dan kotak palang merah. Kemudian menuruni tangga.
Kulihat mereka sudah menungguku dibawah sayap. Ana kepanasan mengipas-ngipaskan sapu tangannya ke leher. Dia selalu demikian. Dalam keadaan udara macam manapun ia selalu keringatan.
Rupanja mereka tinggal menungguku. Jun, ahli radio kami dengan manis hendak mengambil kopor dari tanganku. Tetapi kutolak. Berjalan kaki di tengah lapangan hanya dengan menjinjing sebuah kotak kecil membikin aku merasa canggung.
Kami menuju ke gedung terminal yang bertingkat dua. Kali ini pesawat berhenti dekat sekali dengan pintu keluar. Deretan bagian-bagian muatan dan bea cukai kami lalui di pinggir gedung untuk menghindarkan panas matahari. Ketika mencapai kamar-kamar tunggu dan imigrasi, aku mulai berjalan dengan hati-hati. Lantai stasiun itu berkilat dan licin. Dengan sepatu dinas yang tinggi, aku terlalu biasa dengan tanah serta lantai gedung terminal di tanah air yang muram padat. Dari imigrasi, kami ke bea dan cukai. Sekadar urutan kerja dua petugas memeriksa paspor dan melayangkan pandang ke dalam bagasi kami.
lring-iringan hampir mencapai pintu keluar ketika seorang pramugari darat bergegas mendekati kami. Dipelukannya ada seberkas bunga yang dibungkus dengan kertas kaca.
”Ada pesan untuk anda,” ia menegurku dan langsung memberikan kembang yang dipegangnya.
”Untuk saja?” dengan bodoh aku bertanya.
”Ya," sahutnya, lalu sekalian menyebut namaku untuk memastikannya.
Dengan termangu aku menerima kembang itu. Selintas kubaca nama yang terselip. Tiba-tiba aku merasa seperti berada di suatu tempat yang luas dan lengang. Kakiku ringan tak merasa sesuatupun. Perlahan di dalam tubuh kuterima tikaman yang pedih yang tidak kuketahui dari mana datangnya.
”Terimakasih," sayup kudengar Ana berkata kepada pramugari tersebut.
Mobil beranjak dari depan terminal menuju ke bagian penerbangan. Kapten dan ahli radio turun untuk laporan. Sepintas lalu kujawab pertanjaan Ana, bahwa bunga itu berasal dari seorang kawan yang telah lama tidak kudengar kabar beritanya. Kemudian aku terdiam.
Dalam perjalanan ke hotel, aku tidak mencampuri percakapan rekan-rekanku. Hatiku tiba-tiba begini murung. Kupandang jalanan yang kami lalui. Kota pagoda yang manis. Sebenarnya ia tidak lebih indah dari pada kota-kota lain yang hingga kali itu kukenal. Termasuk kota-kota yang kukunjungi di tanah air.
Empat kali aku datang ke negeri ini. Setiap kali aku tak tahan untuk menguatkan pendapat, bahwa wanita-wanita di negeri ini adalah yang paling manis di seluruh Asia. Badan mereka yang ramping terbungkus dengan pantasnya oleh sarung-sarung yang tepat dan baju yang sepadan.
Cara mereka berjalan seperti melayang, halus penuh kegairahan, dan lampai. Di tepi-tepi jalan, di tempat-tempat umum yang terbuka, kulihat mereka selalu manis dan pantas. Kecuali di bagian kota dimana banyak orang-orang Tionghoa atau bangsa pendatang lain.
Umumnya yang terlihat di jalan adalah campuran dari kemolekan berbagai suku manusia. Hal yang sama tidak akan dapat ditemukan orang jika mengunjungi Filipina. Kalau ada dari mereka yang cantik atau manis, dengan cepat orang dapat menemukan pengaruh yang jelas dari darah Spanyol. Dan umumnya, hanyalah orang-orang dari tingkatan sosial yang teratas yang memiliki wanita serta gadis-gadis cantik.
Di Thailand amat berbeda. Kalau ditemukan seorang perempuan manis, tak dapat ditentukan dari mana pengaruh kemanisan itu. Semuanya melumat dengan hasil yang membentuk. Wajah bulat atau lonjong. Mala seperti buah almon maupun bulat dengan pelupuk yang sipit atau keriput. Bibir selalu tebal baik memanjang maupun mengumpul, dengan hidung yang tidak tinggi - baik melebar maupun mungil. Itu semua tidak dapat ditentukan dari mana asalnya.
Sejak kukenal kota itu, aku merasa seolah-olah dari wanita negeri inilah datangnya napas keindahan.
Dan kuraba perlahan kembang dipangkuanku. Hanya terdiri dari tiga tangkai.
Tetapi anggrek semacam itu punya mutu yang tidak murah. Susunan daun bunga yang berlapisan kaca dengan berbagal warna dan bentuk gambaran. Ketiganya benar-benar amat elok.
Sekali lagi kulihat kartu nama yang terpancang di kertas. Di baliknya tertulis huruf Thai. Untuk kesekian kalinya kueja tulisan Latin, dan sebentar aku ketakutan ketika sadar betapa arti yang kudapatkan dari sana amat penting bagiku. Nama itu kukenal. Atau aku mengenal seseorang dengan nama tersebut. Apakah ini orang yang sama?
Sampai di hotel, kami mengambil kunci kamar masing-masing. Seperti biasa, kalau kami berdua, selalu mendapat kamar bersama. Yang dinas di hotel waktu itu Ba-Thaung, tersenyum di belakang meja penerima tamu. Hidungnya yang amat kecil hampir menghilang oleh sambutannya yang hangat. Dengan serta merta dia mengenaliku.
”Kabar baik, nona?”
”Selalu baik," jawabku. ”Dan Anda? Ada sesuatu yang baru sejak singgah kami yang terakhir?”
”Mengenai saja tidak ada,” katanja, lalu meneruskan, ”Nona Koban dari UBA singgah di sini beberapa hari yang lalu. Dia menanyakan titipan dari Anda.“
Doris Koban dari Rangoon adalah kawanku sejak dua tahun ini, kegemarannya akan barang-barang perak kukenal benar. Kami berdua bertukar kiriman hasil kerajinan tangan negeri masing-masing. Kali itu aku membawa dua pasang subang dan Bali dan Jogja. Maksudku akan kukirim melalui pos di kota itu, karena pengiriman pos di tanah air biasa lambat dan tidak pasti. "Dia terbang kemana?" tanjaku kepada Ba-Thaung.
”Ke Manila. Lalu ke Jepang, Hongkong, lusa kembali ke Rangoon melalui Bangkok".
“UBA ke Manila?"
"Ya, mulai bulan ini.”
”Kalau begitu saja dapat meninggalkan bungkusan kecil untuk dia di sini.”
”Tentu saja.”
Ini berarti menghemat waktu bagiku. Kantor pos tidak terletak disamping hotel! Selain harus membayar biaya pengiriman, aku harus menyewa taksi untuk ke sana. Kalau Ba-Thaung sanggup menyampaikan titipan buat Doris, aku amat menghargainya. Sebagai ganti jerih payah, dapat kutinggalkan sedikit upah pada waktu menyerahkan kembali kunci kamar kalau aku meninggalkan hotel.
Kami menuju ke lift. Sampai di tingkat dimana kamar kami sediakan, aku berkata kepada kapten:
”Sehabis minum teh, saya tidak turut keluar nanti, Kapten."
”Cape?” tanyanya menelitiku.
”Tidak. Saya perlu menemui kawan."
”Kira-kira saja dapat memercayakan Anda kepadanya?” suaranya menyindir.
”Dia kawan lama,” itulah satu-satunya jawaban yang dapat kutemukan.
Akhirnya Kapten melihat ke arlojinya.
”Jangan terlalu malam tidurnya. Besok pagi-pagi berangkat.”
Sesudah mandi air hangat, aku termenung memandang ke jalan di bawah jendela kamar. Gerimis kecil seperti asap menitiki udara sore.
Ana telah berangkat ke kota bersama Jun. Ia tidak hentinya membuat perhitungan harga-harga emas di negeri ini. Ana adalah kawanku sekerja yang paling hemat. Tidak pemah ia terbang melalui kota ini tanpa pulang dengan membawa satu atau dua perhiasan. Itu merupakan tabungannya. Tidak seperti rekan-rekan wanita lain, Ana tidak begitu membelanjakan uangnya untuk bahan pakaian maupun alat kecantikan. Sore itu dia hampir berhasil menjeratku ke toko-toko emas lagi. Untunglah Jun juga memerlukan sebuah hadiah kecil buat isterinya.
Sebenanya, aku tidak tahu dengan jelas apa yang harus kukerjakan. Beberapa waktu bersendiri barangkali akan memberiku pikiran yang lebih tenteram. Sekali lagi aku memandang bunga ungu yang dikirim orang kepadaku. Kartu namanya telah kutanggalkan. Kertas pembungkusnya kubuka di bagian atas, tangkai kembang kucelupkan ke dalam gelas berair yang kutemukan di kamar mandi.
Besok pagi kami meninggalkan kota ini kembali menuju Jakarta. Mungkin aku akan berkesempatan singgah lagi diwaktu yang akan datang. Tetapi apa yang akan dipikirkan pengirim bunga itu jika diketahuinya aku telah menerima kiriman dan tidak datang ke alamat seperti yang dimintanya?
Mahadi. Itu adalah nama yang dapat ditemukan pada lebih dari satu orang di Indonesia. Itu dapat menjadi nama seorang buruh, seorang pembantu rumah tangga maupun seorang pegawai pemerintah yang tertinggi pun. Hatiku cemas bercampur kecut berusaha membujuk segala macam yang baik.
Tetapi pengetahuan bahwa dalam hidupku sampai waktu itu aku hanya mengenal satu nama Mahadi, membikin rasa bawah sadarku menyiksa seluruh rohani.
Akhirnya aku turun. Sebentar berdiri melihat peta kota yang tergantung di tembok dekat penerima tamu.
Tidak berapa jauh. Aku bahkan tidak perlu mengambil taksi, karena jurusan-jurusan yang banyak terlarang jika datang dari arah hotel.
Sejenak aku berdiri bercakap-cakap mengenai satu dua hal dengan Ba-Thaung dan menolak tawarannya untuk memanggilkan taksi. Lalu kuucapkan selamat malam sekalian, karena dia akan diganti dinasnya oleh penerima tamu lain yang berjaga malam. Sampai di pintu kurapatkan jas hujanku serta kubuka payung. Lalu aku keluar dari penginapan.
Angin yang membawa gerimis menampar mukaku. Dengan menyusuri jalan yang besar aku akhirnya membelok ke kiri. Gedung-gedung bioskop dan opera Tionghoa berjejeran dengan hotel-hotel kelas rendahan. Agak jauh, kelenteng yang beratap aneka warna kelihatan menjulang. Aku mulai menghitung jalan-jalan kecil beraspal yang terdapat di sebelah kananku. Menurut keterangan Ba-Thaung, alamat yang kucari tidak jauh dari sana.
Lalu aku masuk ke kampung. Di dalamnnya kelihatan sudah lama tidak diperbaiki, disana-sini aspalnya hampir menghilang sama sekali. Dengan tertunduk-tunduk menghindari lubang-lubang yang tergenang air, aku mencocokkan nomor rumah. Jauh dari mulut kampung, akhirnya aku menemukan nomor yang kucari.
Aku berhenti. Rumahnya biru muda. Nampak lebih bersih dan berbeda dengan sekelilingnya.
Kembali aku ragu-ragu. Akan masuk?
Belum kusadari keputusan mana yang hendak kuambil, kakiku telah sampai di ambang teras. Bersamaan dengan itu seorang perempuan berumur muncul dari pintu dalam, menanyaiku dengan bahasanya. Aku sebentar tertegun, tetapi segera menyahut dalam bahasa Inggris.
"Tuan Mahadi ada?“
Perempuan itu menatapku sebentar, kemudian menghilang ke dalam.
Aku meneliti sekelilingku. Pendapa kecil yang berteras dihiasi dengan tumbuhan, amat sepadan. Di pojok ada sepasang meja dan kursi-kursi rotan sederhana dan manis, seakan mengundang untuk bercanda di sana. Tepat ditengahnya terdapat tanaman air yang berdaun lembut, menurun dengan gaya yang lentik.
”Akhirnya Anda datang, " kudengar suara yang lembut berbahasa Inggris.
Aku menoleh.
Seorang wanita muda mengulurkan tangannya kepadaku. Aku selintas mengamati wajah dan tubuhnya, lalu menjabat salamnya. Agak lama tanganku dipegangnya, lalu dia menyilakanku duduk. Kursi yang kukagumi kesederhanaan serta kemanisan bentuknya kini juga kurasakan betapa tepatnya untuk diduduki.
Tak tahu bagaimana mesti membuka percakapan, dengan kaku aku melanjutkan mengamati wanita di depanku. Ia menurutiku duduk, membetulkan sarungnya. Lalu mengangkat wajah untuk menentang pandanganku.
"Kami menunggu-nunggu dengan tidak sabar. Dua bulan ini kami mengirim kembang ke lapangan udara setiap ada penerbangan pemerintah dari negeri Anda. Tetap selalu kembali ke toko, karena Anda tidak datang."
”Yang tadi, saya terima. Terima kasih."
"Biasanya baru keesokannya saya tahu sampai tidaknya kiriman bunga untuk mendapat kabarnya."
Kami terdiam masing-masing. Kutemukan kembali matanya yang besar dan bersinar dengan indahnya. Aku tiba-tiba gelisah.
"Tuan Mahadi?" tanpa kuketahui aku meneruskan kalimatku.
Wanita dihadapanku mengambil waktu untuk menjawab.
”Kakak Anda meninggal seminggu yang lalu.”
Kalimat itu diucapkan dengan perlahan dan sederhana. Tetapi aku terkejut. Suara-suara yang sejak kuterima kembang itu, kutelan serta kuhimpit dalam-dalam di bawah sadarku, kini mencuat merupakan tusukan yang tajam. Kakakku. Jadi benarlah seperti yang sedari mula kutakutkan. Dengan rasa malu yang tidak berguna, aku mengakui telah menjadi pengecut diriku sendiri.
Jadi betullah, Mahadi dalam kartu nama itu adalah Mahadi satu-satunya yang hingga waktu itu kukenal. Kakak sulungku yang selama delapan belas tahun hidup matinya menjadi teka-teki. Dia berangkat ke Purwodadi, ke Blora, ke Madiun, ke Malang dan entah kemudian kemana lagi bersama pemuda-pemuda tanah air lain yang dibentuk menjadi gerombolan Peta oleh penjajah Jepang. Hingga suatu kali dia berangkat dan tidak pernah kembali sampai meletus serta berakhirnya revolusi.
”Dia sangat ingin bertemu lagi dengan Anda,” kudengar kata wanita itu.
”Mengapa dia tidak pulang? Kami semua menunggunya. Setelah revolusi berakhir, setiap kali ada iring-iringan prahoto tentera, kami mengharapkannya muncul ke rumah. Kemudian kabar-kabar mengatakan bahwa dia meninggal. Tetapi ibu tidak pernah mempercayainya."
”Ayah Anda tidak mengharapkarnya pulang, bukan?”
Pertanyaan itu seperti kilat yang menampar kepalaku. Jadi dia mengetahuinya. Kuteliti wajah bulat panjang penuh kelembutan itu. Pandangku turun ke dadanya, dimana mataku tersangkut kepada secarik pita hitam yang disepitkan di antara kancing-kancing baju.
Istri kakakku?
Warna hitam adalah tanda berkabung. Hanya keluarga terdekat yang wajib mengenakan warna tersebut selama waktu tertentu. Kalau benar ini adalah iparku, tentulah kakakku tidak menghindarkannya dari rahasia-rahasia serta kejadian-kejadian penting dalam keluarga.
Di rumah tidak pemah ada kerukunan. Antara ibu dan ayahku tidak pernah terdapat kata sepakat. Kami tujuh bersaudara disuguhi dengan berbagai cekcok dari hari kehari. Kemudian aku bahkan mengetahui, bahwa lahirku merupakan kehadiran yang tidak dikehendaki oleh ayah. maupun ibuku. Tujuh anak! Kini pada waktu dewasa, aku masih sering bertanya-tanya sendiri bagaimana hal itu dapat terjadi di dalam keluarga yang sejauh ingatanku tidak pernah hidup damai. Semakin aku mendjadi besar, semakin kurasakan betapa kami terbagi menjadi dua bagian. Masing-masing memihak kepada ibu atau ayah.
Di dalam kepalaku terekam kedjadian yang berlangsung pada suatu malam. Umurku pada waktu itu kalau tidak salah tujuh tahun. Aku mengetahui pada masa itu bahwa negara berada dalam ancaman perang. Dua kali ibuku membangunkan kami malam-malam untuk bersiap mengungsi kekampung yang lebih jauh dari jalan besar. Setiap dari kami mempunyai bungkusan atau tas yang selalu siap untuk dibawa jika waktunya tiba untuk mengungsi.
Malam itu sesudah makan, seorang dari kakakku dan aku sendiri telah membersihkan meja makan. Kakakku mengerjakan latihan-latihan hitungan, sedang aku juga menyiapkan pekerjaan sekolahku. Tiba-tiba dari kamar tengah terdengar suara-suara keras orang yang sedang berbantah. Lalu kakakku Mahadi berlari keluar diiringi oleh ayah kami. Mereka kemudian bergelut jatuh ke lantai, bergulung hingga ke beranda depan.
Tetangga yang melihat dari rumah mereka berlarian datang untuk memisah. Itu tidak pernah kulupakan, menatap seperti gambaran yang hidup di kepalaku. Aku tidak mengetahui sebab-sebab pertengkaran mereka. Aku juga tidak pernah menanyakannya kepada siapapun, hanya aku sadar bahwa sejak waktu itulah ayahku dan kakakku Mahadi tidak saling menegur.
Aku tidak pernah menyukai ayahku. Dengan terjadinya keretakan di antara keduanya, aku dengan sendirinya memihak kepada kakakku. Yang kuingat sejak masa sadarku adalah Mahadi merupakan kepala rumah tangga kami.
Pada waktu-waktu di kampung diadakan rapat atau pertemuan untuk memutuskan sesuatu yang penting, selalu kakakkulah yang hadir mewakili keluarga guna memberikan suaranya. Ketika penjajah Jepang datang dan mulai bertindak se-wenang-wenang hendak merampas harta benda penduduk, dengan teliti kakakku memisahkan barang-barang yang dianggap berharga oleh ibuku, serta di tananmya di pojok sebuah kamar.
Aku lebih sering melihat ibuku berunding dengan kakakku mengenai segala hal, dari pada dengan ayahku. Pada waktu itu aku hanya berpikir barangkali ayahku tidak punya waktu untuk itu. Karenanya, ibu ku lebih banyak meminta pertolongan kepada Mahadi daripada kepada suaminya. Pekerjaannya sebagai juru tulis di sebuah kantor pemerintah ketika Jepang datang, merupakan kedudukan yang menimbulkan iri hati pada orang kampung kami.
Ayahku dapat terus bekerja tanpa gangguan dari pihak polisi maupun militer. Tetapi ayahku tidak tinggal lama di kantor tersebut. Sifatnya yang suka bercekcok serta mau menang sendiri mengakibatkan hilangnya pekerjaan. lalu kulihat dia tinggal di rumah. Kadanga-kadang pergi entah kemana beberapa hari. Kalau kembali, kelihatan cape dan pakaiannya kusut. Sementara itu ibuku sering seperti biasanya membuat berbagai kueh kering yang dititipkan dijual di warung Cina di pinggir jalan besar. Kadang-kadang ada pesanan kueh besar yang harus dihias rapi dan cantik. Kamu sesaudara memandangi kueh di atas meja dengan rasa ingin menyentuh, untuk menyadari bahwa itu bikinan ibu kami.
Kemudian aku mengetahui, bahwa ayahku bermain kartu dengan taruhan uang untuk mendapatkan sekadar tambahan belanja. Aku juga tahu bahwa beberapa kali ibuku mengusulkan agar dia mendirikan warung sendiri di halaman muka rumah. Tetapi ayahku selalu menjawab bahwa dia tidak mau menjadi penjual kueh. Itu pekerjaan buat orang-orang rendahan.
Mengenai hal ini, aku sering mendengar perdebatan yang terjadi antara kakakku Mahadi dan ayah. Pada waktu-waktu kami berkumpul, selalu ada kakakku yang lain yang memihak ayah lalu beberapa lainnya memihak Mahadi.
Dari hari kesehari, akhirnya aku mengerti bahwa kakakku Mahadi adalah seorang laki-laki dermawan. Hatinya sabar dan terbuka menerima perlakuan orang yang kasar maupun menyakitkan hati.
Ayah kami kehilangan pekerjaan, kakakku masih mengikuti pelajaran di sekolah menengah atas. Tetapi dengan cepat dia menemukan kerja sambilan yang dapat memberi hasil secara tetap. Beberapa dari kakakku dan aku sendiri melihat serta mengetahui hal itu. Sampai pada waktu keberangkatannya yang terakhirpun dia membuktikan kepada kami, bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kebaikan yang menimpa diri keluarga, dengan mengirimkan sekarung beras dari dusun yang baru dilaluinya.
Dari ayah, ibuku tidak dapat mengharapkan sesuatu yang tetap. Dia tidak pernah dapat tinggal lebih dari sebulan di satu pekerjaan. Sifat-sifatnya yang sombong dan banyak omong pada satu kali dapat mengelabui orang, tetapi pada kali yang lain orang tidak mempercayainnya lagi. Perbantahan mengenai banyak hal di antara ayah dan kakakku akhirnya mencapai puncaknya pada malam yang tidak akan kulupakan itu.
"Kakak Anda mengidap penyakit paru-paru warisan dari pengembaraannya di rawa-rawa sewaktu kerja paksa di Birma, di hutan-hutan Semenanjung Malaysia," wanita muda itu memulai ceritanya.
"Bagaimana dia sampai di sana?" Aku tidak dapat menahan keherananku.
"Tentara Jepang mengangkutnya dengan kapal dari salah satu pelabuhan di selatan pulau Jawa. Mereka sebanyak enam atau tujuh ribu orang. Menurut ceritanya banyak kawannya yang meninggal karena kekurangan makan serta tidak adanya pemeliharaan kesehatan. Mereka baru mengetahui bahwa Jepang telah kalah perang setelah beberapa pemuda berhasil melarikan diri dan mencapai sebuah kota.”
Tentara penjajahan semua sama sifatnya. Yang dari Jepang tidak pula terkenuali. Setelah dewasa aku sering mendengar, bahwa pada waktu pendudukan bangsa itu, pada saat-saat diperdengarkan sinyal tanda bahaya. sebenarnya tidaklah disebabkan oleh datangnya pesawat musuh yang terbang di wilayah tanah air, tetapi karena bala tentara Jepang sedang mengangkuti hasil pengumpulan minyak tanah, barang perhiasan maupun bahan makanan keluar kota atau menuju ke pelabuhan untuk diteruskan ke negeri mereka.
Kuingat bagaimana setiap kepala rumah tangga harus menyerahkan barang-barang berharga kepada kepala kampung pendudukan. Katanya itu diperlukan untuk membiayai perangnya pemuda-pemuda tanah air. Demikian memikat serta berkobarnya propaganda penjajah hingga kebanyakan penduduk menyerahkan hak milik mereka dengan patuh.
Kakakku Mahadi bersama ibuku rupa-rupanya mempunyai pikiran lain. Di pojok salah satu dari kamar kami, mereka mencukil beberapa segi lantai serta membuat lubang disana. Sebagian barang perhiasan, jam-jam tangan atau saku yang masih bagus dimasukkan di dalam sebuah setoples kaca, kemudian dikubur di lubang tersebut. Mungkin Mahadi dan ibuku tidak sendirian punya pikiran demikian. Tetapi pada waktu itu, tindakan keduanya kuanggap sebagai sesuatu yang luar biasa, yang sungguh-sungguh berani dan sekaligus menakutkan! Dan oleh karenanya pula aku semakin mengagumi serta mencintai keduanya lebih dari pada ayahku.
Kemudian hari, setelah perang dan revolusi berakhir, berkat perhiasan dan barang berharga yang disembunyikan itulah ibuku dapat membiayai tahun-tahun pertama sekolah kakak-kakakku yang lain yang sekarang menjadi insinyur pertanian, dokter gigi, dan guru pendidikan jasmani.
“Kami kawin empat belas tahun yang lalu. Anak kami tiga orang, dua laki-laki, seorang perempuan.”
Aku hampir tidak mendengarkan kawan bicaraku. Alangkah asingnya perasaanku. Tahun-tahun berlalu, kami di rumah tidak pernah menganggap Mahadi hidup, kecuali ibuku. Kalimatnya seperti ”Kelak bila kakakmu Mahadi kembali . . .” atau ”Kakakmu Mahadi tentulah gembira melihatmu demikian” dan sebagainya, menunjukkan betapa kebenaran perasaannya sebagai seorang ibu telah menguasai pikirannya. Kini aku menyadari bahwa memang selama ini ibukulah yang benar.
”Mengapa dia tidak mengirim kabar, surat atau telegram melalui kedutaan misalnya," kudapati diriku mengucapkan kalimat penyesalan.
”Selama empat tahun kakak Anda hampir terus menerus tinggal di rumah sakit. Dia bekerja digedung percetakan kepunyaan ayah saja. Keduanya berkawan baik. Selama di rumah peristirahatan penjakit paru-paru, semua biaya datang dari ayah saja. Setelah kami kawin, kakak Anda memutuskan akan menetap di negeri ini dan menjadi warga negara yang baik. Menurut katanya kemudian, itu adalah caranya untuk membalas kebaikan budi orang-orang yang selama itu melingkunginya dengan keramahan. Katanya hidupnya yang lalu sudah lewat. Dia tidak pernah menyebut sesuatupun mengenai keluarganya di negeri lain. Hingga pada suatu hari dia mengira telah melihat Anda di hotel.”
”Mengapa dia tidak menegur saja?”
”Dia ragu-ragu apakah benar Anda adalah adiknya atau bukan. Sewaktu dia meninggalkan rumah, Anda masih kecil menurut katanya. Setelah bolak-balik berulang kali, akhirnya atas anjuran saya, dia memberanikan bertanya di meja penerima tamu hotel siapakah Anda dan nama Anda sekalian. Tetapi terlambat, pesawat Anda telah berangkat. Sejak waktu itulah dia mulai bercerita mengenai keluarga di Indonesia. Berkali-kali saya usulkan agar dia meminta tolong kepada ayah saja supaya membiayai perjalanannya menengok kalian, tetapi dia menolak. Dia bahkan dengan keras melarang saja membicarakan hal tersebut kepada ayah saya.”
”Bagaimana dia hidup selama ini? Maafkan saya, tentu saja ada ayah Anda. Tetapi kakak saya yang saya kenal adalah seorang laki-laki yang tidak suka menggantungkan diri kepada orang lain. Apakah pekerjaannya'?"
“Anda benar. Oleh sifat-sifatnya yang bangga dan agung itulah ayah dan kami sekeluarga mencintainya. Kakak Anda menjadi kepala bagian gambar reklame, perencana buku, dan waktu-waktu yang lain membuat dekor teater.”
Sore itu aku tidak melihat alasan yang tepat untuk cepat kembali ke hotel. Seiain bermaksud melihat kemenakan-kemenakanku yang sore itu masih di sekolah, aku juga ingin mengetahui banyak ha] lagi mengenai segala yang terjadi di tahun-tahun terakhir. Mengenai keluarga iparku, mengenai sekolah anak-anak.
Aku harus melengkapi diri dengan jawaban yang seterang-terangnya bila ibuku menimbuniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang beraneka ragam yang telah dapat kubayangkan. Tetapi benarkah aku akan dapat menjawab seluruh pertanjaanya? Seorang tua seperti dia tidak akan mengerti mengapa Mahadi menutup dir menolak mengirim kabar ke rumah, mengingkari keluarga di tanah air. Akan dapatkah ibuku menggambarkan betapa cinta dan perhatian keluarga yang baru ditemukan di negeri asing, lebih-lebih di waktu sengsara, dapat atau sanggup menghapus kenangan dari kehidupan yang lalu?
Pada akhirnya ketika aku kembali menuju ke penginapan, hatiku menjadi bimbang. Mungkin akan lebih baik bila aku tidak mengabarkan pertemuanku dengan istri Mahadi kepada siapapun, juga tidak kepada ibuku.
Tapi berhakkah aku berbuat demikian?
Seandainya kukatakan juga, apakah yang akan dirasakan di hati ibuku pada waktu menerima kabar tersebut?
Aku sendiri tidak dapat memastikan perasaan apa yang kusimpan. Kecewa karena kakakku yang selama delapan belas tahun ini tetap hidup tetapi tidak berkirim kabar? Ya, terutama kecewa itulah yang menguasai hatiku. Dan aku mengerti kekecewaan ini tidak akan dapat disangga oleh hati ibuku yang lelah.
Seminggu yang lalu dia meninggal. Kalau saja orang dapat menarik kembali waktu, menggeser kehidupan ke arah saat yang dipilihnya.
Semalaman aku tidak tidur. Mataku berkedip dan takut bergerak, karena kuatir mengganggu Ana. Semakin hari mendekati pagi, aku semakin gelisah. Apakah yang harus kuperbuat?
Bagiku istri Mahadi merupakan wajah dari keluarganya yang mengangkat kakakku ke kehidupan yang layak dan panuh cinta. Aku tidak akan dapat melupakan keramahan rumah kecil yang baru kutemukan, penerimaan yang langsung dari masing-masing kemenakanku yang baru, kesungguhan hati perempuan yang bermaksud mengenal keluarga suaminya.
Tiba-tiba kekayaan yang baru kurasakan menyelinap di hatiku. Aku merasa kaya oleh pengetahuan bahwa di negeri itu aku memiliki keluarga. Aku bahkan pernah mempunyai seorang kakak yang selama ini menjadi model dari sifat-sifatnya yang kuhargai.
Keesokan harinya dengan mengantuk dan senyum setengah hati yang kupaksakan aku kembali menghadapi penumpang-penumpang.
Pesawat menuju ke Jakarta. Ini adalah pertama kalinya selama aku kerja aku tidak ingin pulang.
*Ejaan telah disesuaikan
*Ejaan telah disesuaikan
***
NH DINI