
Selama dua puluh lima tahun Darini hidup dengan suami yang gemar
menyiksa dirinya secara fisik. Belakangan laki-laki terhormat itu pun
merendahkan harga dirinya sebagai istri: bercinta dengan orang lain di depan matanya.
Petugas di kantor itu segera mengenalinya. Wanita seperti dia cepat diingat orang. Walaupun badannya tidak tinggi, tetapi kulitnya terang berkat darahnya yang campuran. Ibunya sendiri tidak cantik. Ayahnyalah yang tampan. Maka Darini, setengah Jawa setengah Belanda, memiliki penampilan yang lebih dari lumayan.
“Bapak sudah menunggu, Bu,” kata seorang petugas satpam begitu melihatnya.
Percakapan dengan Hakim Pengadilan Agama lancar, karena pejabat tersebut telah membaca ‘sejarah hidup’ Darini yang diserahkan kira-kira sepuluh hari lalu.
“Anda hebat. Bisa tahan sampai dua puluh lima tahun,” demikian pujian Hakim kepada Darini, lalu dilanjutkan “Barangkali, wanita-wanita lain, kalau mengalami kejadian yang sama, sudah lari sejak dulu.”
Laki-laki itu menunjukkan rasa simpatinya. Darini senang mendengarnya. Meskipun dia tidak yakin bahwa omongan pejabat itu delapan puluh persen benar. Karena Darini menduga, banyak istri yang tetap tinggal bersama suami walaupun diperlakukan secara tidak semena-mena.
“Saya membaca sampai selesai berkas Anda tanpa istirahat. Ini betul-betul seperti novel saja.”
Kali itu Darini terpaksa membuang muka, khawatir Hakim akan melihat warna semburat merah yang menandakan emosinya. Dia tidak tahu apa yang bisa dikatakan sebagai tanggapan baik tersebut.
"Dengan berkas seperti ini, tidak akan ada kesulitan. Perceraian mudah Anda dapatkan.”
Bagus. Darini semakin senang.
“Berapa lama?”
“Normal saja.”
“Tiga bulan?”
“Barangkali kurang. Tapi, yaaa, maksimum begitulah, tiga bulan.”
Itu memang jangka waktu yang dia perkirakan. Sementara sambil menunggu, dia menyelesaikan revisi disertasinya yang harus secepatnya dikirim ke Universitas Antwerpen, Belgia. Untuk menjadi doktor saja antre. Harapannya, saat menerima panggilan maju mempertahankan disertasinya itu di luar negeri nanti, urusan cerai sudah usai. Dengan begitu dia bisa merasakan kegagahan menyandang gelar, tanpa suami yang munafik, yang selalu membanggakan istri namun bersikap kebalikan dengan pelecehan serta penghinaannya.
Tetapi, Darini harus berpikir baik-baik tentang nama yang akan dipakainya setelah perceraian. Apalah arti sebuah nama, demikian kata seorang pujangga Inggris. Bagi Darini, besar sekali arti nama itu. Dia harus mengambil keputusan nama siapa yang akan dicantumkan, nama keluarga bekas suami ataukah nama ayahnya.
Ya, barangkali dia akan menggunakan nama orang tuanya saja di belakang namanya sendiri.Tetapi, orang tidak akan melihat hubungannya dengan anak-anaknya. Ketiganya sedang menuntut ilmu. Pada suatu hari kelak, mereka akan berkarier. Sekarang pun, di paspor mereka sudah digunakan nama keluarga yang sama seperti ayah mereka. Jika orang melihat persamaan nama di belakang Doktor Darini dengan anak-anaknya, sekurang-kurangnya orang itu akan menanyakan apa hubungan mereka.
Rasa bangga punya anak yang berhasil apakah hanya sah dipunyai si ayah saja? Ibu anak pun berhak berbahagia dalam hal itu. Di negeri Barat, dalam sejarah Budaya atau politik, selalu nama kedua orang tua disebut dan dilibatkan. Tak pernah dilupakan, misalnya, peran ibu pelukis Renoir atau Descartes dalam kesuksesan putra atau putri mereka. Di Indonesia, ibu-ibu dimasabodohkan. Disebut namanya saja pun tidak. Selalu ayah saja yang mendapat nama baik.
Ah, sungguh sulit memutuskan! Akhirnya, Darini harus menentukan juga. Baiklah. Demi anak-anak dan rasa kebanggaannya terhadap mereka, dan hanya demi itu, Darini akan menggunakan dua nama keluarga. Di belakang namanya sendiri dicantumkan nama keluarga bekas suami, disambung dengan nama ayahnya.
“Bapak sudah menunggu, Bu,” kata seorang petugas satpam begitu melihatnya.
Percakapan dengan Hakim Pengadilan Agama lancar, karena pejabat tersebut telah membaca ‘sejarah hidup’ Darini yang diserahkan kira-kira sepuluh hari lalu.
“Anda hebat. Bisa tahan sampai dua puluh lima tahun,” demikian pujian Hakim kepada Darini, lalu dilanjutkan “Barangkali, wanita-wanita lain, kalau mengalami kejadian yang sama, sudah lari sejak dulu.”
Laki-laki itu menunjukkan rasa simpatinya. Darini senang mendengarnya. Meskipun dia tidak yakin bahwa omongan pejabat itu delapan puluh persen benar. Karena Darini menduga, banyak istri yang tetap tinggal bersama suami walaupun diperlakukan secara tidak semena-mena.
“Saya membaca sampai selesai berkas Anda tanpa istirahat. Ini betul-betul seperti novel saja.”
Kali itu Darini terpaksa membuang muka, khawatir Hakim akan melihat warna semburat merah yang menandakan emosinya. Dia tidak tahu apa yang bisa dikatakan sebagai tanggapan baik tersebut.
"Dengan berkas seperti ini, tidak akan ada kesulitan. Perceraian mudah Anda dapatkan.”
Bagus. Darini semakin senang.
“Berapa lama?”
“Normal saja.”
“Tiga bulan?”
“Barangkali kurang. Tapi, yaaa, maksimum begitulah, tiga bulan.”
Itu memang jangka waktu yang dia perkirakan. Sementara sambil menunggu, dia menyelesaikan revisi disertasinya yang harus secepatnya dikirim ke Universitas Antwerpen, Belgia. Untuk menjadi doktor saja antre. Harapannya, saat menerima panggilan maju mempertahankan disertasinya itu di luar negeri nanti, urusan cerai sudah usai. Dengan begitu dia bisa merasakan kegagahan menyandang gelar, tanpa suami yang munafik, yang selalu membanggakan istri namun bersikap kebalikan dengan pelecehan serta penghinaannya.
Tetapi, Darini harus berpikir baik-baik tentang nama yang akan dipakainya setelah perceraian. Apalah arti sebuah nama, demikian kata seorang pujangga Inggris. Bagi Darini, besar sekali arti nama itu. Dia harus mengambil keputusan nama siapa yang akan dicantumkan, nama keluarga bekas suami ataukah nama ayahnya.
Ya, barangkali dia akan menggunakan nama orang tuanya saja di belakang namanya sendiri.Tetapi, orang tidak akan melihat hubungannya dengan anak-anaknya. Ketiganya sedang menuntut ilmu. Pada suatu hari kelak, mereka akan berkarier. Sekarang pun, di paspor mereka sudah digunakan nama keluarga yang sama seperti ayah mereka. Jika orang melihat persamaan nama di belakang Doktor Darini dengan anak-anaknya, sekurang-kurangnya orang itu akan menanyakan apa hubungan mereka.
Rasa bangga punya anak yang berhasil apakah hanya sah dipunyai si ayah saja? Ibu anak pun berhak berbahagia dalam hal itu. Di negeri Barat, dalam sejarah Budaya atau politik, selalu nama kedua orang tua disebut dan dilibatkan. Tak pernah dilupakan, misalnya, peran ibu pelukis Renoir atau Descartes dalam kesuksesan putra atau putri mereka. Di Indonesia, ibu-ibu dimasabodohkan. Disebut namanya saja pun tidak. Selalu ayah saja yang mendapat nama baik.
Ah, sungguh sulit memutuskan! Akhirnya, Darini harus menentukan juga. Baiklah. Demi anak-anak dan rasa kebanggaannya terhadap mereka, dan hanya demi itu, Darini akan menggunakan dua nama keluarga. Di belakang namanya sendiri dicantumkan nama keluarga bekas suami, disambung dengan nama ayahnya.
“Kamu selalu merasa lebih pandai, ya. Merasa paling pandai sendiri!” Karyono berteriak.
Waktu itu mereka sekeluarga berada di dalam kendaraan bermerek, di jalan tol Jagorawi, akan kembali ke Bogor. Sejak awal perjalanan, Karyono berusaha mendahului mobil yang ada di depannya.Sesuai dengan sifatnya, Karyono selalu menjalankan kendaraan ekstra cepat, juga tidak mau bila orang lain meluncur di hadapannya. Dia harus yang paling depan.
engan suaranya yang amat biasa, perlahan dan halus, Darini mencoba mengingatkan bahwa jalan licin, baru hujan deras. Jarak Jakarta-Bogor tidak terlalu jauh. Tidak perlu tergesa-gesa. Sebetulnya Darini dan anak-anak ingin cepat pulang begitu acara makan siang di rumah kakak Karyono selesai. Namun si suami dan ayah itu mungkin merasa malu bila menyetujui permintaan istri serta anak-anaknya. Dia bersikeras menonton pameran mobil-mobil baru, karena Karyono selalu mengganti kendaraan pribadinya dengan merek yang paling bergengsi.
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya ...
Belum sempat Darini menyelesaikan kalimatnya, satu tamparan, disusul satu lagi datang dari samping. Anak terkecil menjerit. Yang sulung berseru,
Ada apa sih, Papa? Mengapa tiba-tiba Mama dipukul?”
“Diam! Apa kamu juga mau, ya. Ini, rasakan ...!”
Tangan kanan tetap memegang kemudi, yang kiri terulur ke belakang, menjangkau, meraih, hendak menarik kepala Si Sulung. Anak-anak yang waktu itu masih duduk di bangku SD menjadi ribut. Semua bertindihan memojok untuk menjauhi tangan bapak yang sedang kehilangan akal itu. Sebentar kendaraan oleng. Meleot ke kanan, berombak ke kiri. Anak yang paling kecil menjerit lagi. Lalu mobil berhenti.
“Kamu keluar! Sana! Keluar!” Karyono menghardik sambil mendorong-dorong Darini keluar dari kendaraan.
"Papaaa ..., kenapa Papa jahat kepada Mamaaa ...”
Darini terhuyung keluar. Mobil berjalan lagi.
Jalan basah. Hujan masih turun. Jaket Darini berada di dalam mobil. Sekarang dia mendekapkan kedua tangan di dada, berdiri di tepi jalan . Dia belum sadar apa yang terjadi. Kepalanya pusing terkena hantaman suaminya.
Peristiwa itu hanya salah satu dari pengalaman padat yang menggambarkan bagaimana lelaki bergelar Doktor Insinyur itu memperlakukan dirinya sebagai istri. Laki-laki yang dalam pergaulan terlihat selalu ramah, tersenyum, merunduk-runduk sopan itu menjadikan istri dan anak- anaknya objek pelampiasan ‘kejantanannya’. Biasanya, setelah memukul, beberapa saat berselang, sementara si korban masih menangis, karena sakit dan terhina, suami dan ayah itu datang memeluk-meluk membelai-belai. Lalu katanya, suaranya biasa, tanpa nuasansa penyesalan.
“Aku ini, ‘kan seperti Bima. Aku suka marah, suka memukul, tapi hatiku sangat baik. Sudah, diam. Aku cinta kepadamu.”
Sebagai bukti kebenaran kata-kata itu, di ruang tamu, terpampang sehelai lukisan batik murahan tapi berbingkai ratusan ribu rupiah, menggambarkan tokoh wayang tersebut sedang bergulat dengan seekor naga di tengah samudra. Lalu kepada siapa pun yang datang, tidak pernah terlupakan dia berkata,
“Itu simbol saya. Saya ini seperti Bima,” sambil mulutnya meringis, kepalanya terangguk-angguk, Karyono menatap sang tamu.
Dan bagi orang-orang yang mengenal dia sebagai pemukul istri, dia bukan Bima. Bukankah Pandawa itu hanya memukul orang yang bersalah, tidak sombong atau pun tidak semena-mena. Di dalam hati, tamu yang kenal betul siapa dirinya berbisik sendirian: “Kamulah Rahwana, si Muka Sepuluh, karena kamu bisa tersenyum-senyum selagi hatimu dihuni ulat.”
Amit-amit! Darini muak jika mengingat kembali semua itu.
Celakanya, itulah suami pilihannya sendiri. Waktu itu Karyono baru kembali dari Amerika, meraih gelar doktor termuda Indonesia lulusan negeri. Darini baru saja ditinggal kawin pemuda yang selama setahun mengencani dia. Karyono belum botak. Pandai bicara lagi! Keruan Darini cepat terpikat.
Foto besar perkawinan adat Jawa masih tergantung pada dinding ruang tamu. Itu menjadi saksi ratusan kali pertengkaran, yang aslinya hanyalah berupa perbantahan tak seimbang. Menjadi saksi ratusan pukulan serta teriakan si pengantin lelaki kepada pasangannya yang kemudian memberinya tiga anak manis-manis. Ruang tamunya ala Amerika, dengan bar penyekat yang menghubungkan dapur. Maka jika berkali-kali suami itu memukul kepala sang istri dengan alat dapur sampai patah pun, foto itu tetap ‘mengawasi’.
Anehnya, selama dua puluh lima tahun, Darini tidak pernah merasa malu kalau ketahuan orang bahwa suaminya ringan tangan. Pada masa awal hidup bersama, mereka tinggal di kompleks perumahan dosen. Tentu saja mulut pembantu merupakan corong berita yang ampuh. Seluruh kampung mengetahui, namun kesopananlah yang menahan ibu-ibu untuk tidak bertanya mengapa muka Darini tembam bengkak. Atau apa yang dialami wanita dokter yang dosen itu sehingga sebelah matanya berbalur biru-hitam seperti bekas benturan.
Namun sebaliknya, di luar orang-orang yang bersangkutan, berita menjalar dari kampung ke kampus, ke seluruh fakultas, universitas, hingga seluruh kota mengetahui. Karyono? Yang Insinyur Doktor mana? Oooh, itu, yang suka memukuli istri.
Demikianlah, ‘tukang pukul istri’ melekat menjadi predikat Karyono. Juga kalau orang-orang menyebut nama dokter Darini. Siapa dia? Yang mana? Orang biasa menjawab,” Itu lho, wanita cantik putih yang sering kelihatan mukanya bengkak karena sering dipukuli suaminya!”
Tentu saja macam-macam reaksi rekan atau kawan sepergaulan. “Masya Allah! Wanita cantik dan pintar seperti dia, sudi-sudinya hidup bersama monster seperti Karyono! Dasar laki-laki sialan!”
Ibu Darini sendiri tidak mampu mempengaruhi anaknya. Pernahkah dengar seorang ibu intelek mengajarkan kepada anaknya yang dua kali lipat inteleknya agar minta cerai? Ya, ini, ibunya Darini.
“Cerai saja. Kita urus semua. Kamu pulang ke kota kami, buka praktek, lalu ambil spesialisasi. Kamu masih muda. Pasti banyak lelaki layak yang akan mencintai kamu.”
Cintanya kepada anak-anaknyalah yang membikin dia terus berumah tangga dengan ‘si monster’ itu. Yang sulung laki-laki. Sifatnya banyak seperti ibunya. Dibentak atau disuruh apa saja oleh Si Ayah, dia menurut, dia diam. Atau, kalau kesal, pergi dari hadapan ayahnya.
Anak kedua juga lelaki. Tapi aduuuh, anak ini amat sangat peka. Sedikit-sedikit hatinya tersinggung. Apabila dia disuruh-suruh atau disalahkan pada hal memang dia berkelakuan baik, dia membantah. Inilah yang fatal. Maka dengan begitu mudah.. plek.. tangan Karyono mendarat di kepala anaknya.Apalagi bila hatinya yang gelap sedang kecewa di kantor. Dia paling gemar menjadikan istri dan anaknya sebagai pelampiasan ulah orang di kantor atau di jalanan.
Sampai anak kedua kuliah sekali pun, Karyono tidak ragu maupun sungkan meneruskan kebiasaan main pukul.Dari waktu ke waktu para pembantu berharap, mereka berbisik-bisik, “Cepatlah datang hari di mana anak-anak itu berbalik, ganti menggampar ayah mereka !”
Anak bungsu perempuan. Tampaknya ini disayang-sayang oleh Karyono. Tetapi anak ini melihat dan menyaksikan betapa sayang-sayang itu entah kapan akan mendadak berubah menjadi pukulan yang menyakitkan serta menghina. Maka, tanpa hasutan, Darini yakin bahwa anak-anak merasa lebih dekat dengan ibunya daripada dengan ayahnya.
Begitu anak ketiga lahir, Darini nyaris tidak disentuh lagi oleh suaminya. Kebetulan waktu itu, kebahagiaan Darini memang tidak tergantung pada tempat tidur. Dia bersama anak-anaknya merundingkan kegiatan apa yang akan dilaksanakan selama liburan sekolah, kapan mencoba makanan di warung Tegal yang baru buka. Ia juga melanjutkan kuliahnya dan mendapatkan gelar yang lebih tinggi, mendapatkan kedudukan lebih tinggi di kantor konsultan. Itulah isian hidupnya.
Darini menjalani kehidupannya tanpa menghiraukan ketidakacuhan suaminya kepadanya. Lalu, pada suatu siang, Karyono pulang membawa salah seorang mahasiswanya. Mereka makan siang sekeluarga. Dan begitu saja, pemuda itu menjadi pelanggan. Datang sore, datang siang, bahkan pagi untuk berangkat bersama ke kampus . Dan setiap saat ketika bersama keluarga, mulut Karyono hanya dipenuhi cerita tentang mahasiswanya yang ganteng itu.
Darini cantik, hebat di bidangnya, tetapi dia juga ‘bodoh’. Dia tidak memiliki kepekaan emosional untuk membaca suasana. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Sampai pada suatu siang, di tempat yang terang benderang dan dilihat anak-anak, Karyono membelai-belai tengkuk mahasiswanya, si ganteng itu. Darini sendiri tidak merasakan cemburu selagi melihat suaminya membetulkan sikap duduknya, tanpa memperlihatkan rasa sungkan atau bersalah.
Terang-terangan Karyono telah membongkar keasliannya, siapa dia yang sesungguhnya. Dua anak lelakinya saling berbisik. Darini mendengar bisik-bisik itu. Dia bukannya sedih. Dengan besar kepala dia berkata kepada diri sendiri, “Aku akan menyembuhkan dia.”
Tapi Darini bukan psikiater. Dalam beberapa hal, sebenarnya, malahan dia juga memerlukan bantuan ahli jiwa buat dirinya, buat batin dan nuraninya yang selama ini bagaikan budak suaminya. Ia tidak kuat, dan akhirnya dia melangkahkan kaki ke pengadilan agama, saat menjelang ia dan Karyono merayakan poerkaeinan perak. Ya, predikat janda, yang dulu ditakutinya, ternyata memberikannya kebebasan luar biasa.
Darini baru mengerti kenikmatan bercinta setelah bertemu dengan seorang lelaki lain.
“Dia luar biasa. Dia menakjubkan. Dia memanjakanku dengan perilaku bercinta yang tidak bisa kau bayangkan. Pendek kata, laki-laki yang berbuat demikian, pasti mencintaimu,” dengan penuh semangat Darini memberitahu teman-teman dekatnya.
Dan bila Darini mempunyai teman dekat, pasti jumlahnya melebihi hitungan jari di tangan dan kaki.
Revisi disertasi dikerjakan sambil berpacaran. Demikian gencar dan dahsyat hubungan mereka. Darini mendekati usia setengah abad, namun tidak tampak tua. Wanita zaman sekarang kelihatan tua pada umur tujuh puluh. Wajah Darini tambah bersinar dan berseri. Dia bahagia karena cintanya. Tetapi, mungkin karena pengaruh cinta kelakuannya menjadi kemanja-manjaan. Bila orang bertemu dia kebetulan bersama anaknya perempuan, si mahasiswi itulah yang tampak lebih dewasa daripada Sang Ibu.
Darini juga lupa sikap rendah hati. Dia menjadi suka menyombongkan diri, terlebih setelah ia bergelar doktor. “Saya baru saja pulang dari Italia. Hanya empat hari. Itu adalah ceramah paling mahal. Untuk mendengarkan omongan saya dua jam, mereka mau mengeluarkan uang sebegitu banyak. Hebat ,ya!”
Sebaliknya, kualitasnya sebagai dokter nyaris menguap, sebab dia menjadi kurang sabar mendengarkan. Sedangkan pasien datang bermaksud menyampaikan keluhan. Padahal Darini harus mendapatkan uang, terus mencari uang guna membiayai gaya hidup yang turut berubah. Entah disengaja atau tidak, kini dia bergaya serba mewah.
Walaupun perceraian sudah beres, tetapi pembagian harta diatur oleh bekas suami.Sementara berbahagia dengan gaya hidup baru, petir seperti menyambar Darini di siang hari: si pacar keliling Amerika bersama wanita lain. Wanita yang masih berstatus punya suami punya anak! Robohlah semua angan-angan yang dia bentuk akan dikerjakan bersama kekasihnya. Runtuhlah bangunan idaman yang telah dia pastikan akan terwujud.Tidak, ternyata laki-laki yang lebih muda itu tidak mencintainya dengan tulus.
Apa kekeliruannya maka kekasih meninggalkannya?
Darini tidak menyadari, bahwa terbebas dari Karyono, tidak ada lagi orang yang memerintah dan mengatur, “kamu harus begini atau begitu”. Darini-lah yang sekarang mengatur, memerintah, dan menyuruh-nyuruh orang lain.Bukan hanya kepada bawahan.Terhadap teman, apa lagi kekasih, Darini sering kali lupa bertenggang rasa maupun bersopan-sopan.
Dan selama itu, kekasihnya mengalami bagaimana perilaku Darini sehari-hari. Lelaki itu merasa bahwa Darini terlalu ‘memiliki’-nya. Darini bersikap bagaikan lintah terhadap sang pacar. Dia melekat erat sehingga laki-laki itu sesak bernapas. Dia kekurangan ruang gerak, padahal laki-laki itu bukan orang yang suka kebebasannya dibatasi.
Darini penasaran, masakan tidak ada laki--laki yang mencintainya? Bukankah ia masih cantik? Banyak orang yang mengatakan begitu. Ia harus mendapatkan ‘cintanya yang hilang’.Setiap kali bertemu dengan seorang lelaki yang menarik hatinya, di seminar, kongres, ceramah-ceramah, Darini tanpa sungkan mendekat. Dan itu diteruskan sampai menelepon ke rumah atau tempatnya menginap. Sampai-sampai melalui sambungan internasional sekalipun.
Terlalu kentara dia tunjukkan harapan ingin menemukan pacar atau bahkan suami baru. Para wanita di lingkungannya, seorang demi seorang merenggangkan hubungan. Khawatir kalau-kalau suami mereka dipikat. Hanya beberapa temannya yang tahu banyak tentang Karyono, sedih melihatnya, dan menyesali mengapa Darini harus bertahan sekian lama menghadapi suami penyiksa. Kenapa harus menunggu sampai kawin perak, ketika jiwa telah semakin memar?
***
NH Dini
NH Dini