Banyak teman, kerabat jauh, bahkan orang yang baru saja kenal menyebut Nate alias Nathalie Mercado Haryanto memiliki fisik unik. Sepasang mata berbentuk sipit. Lola, neneknya dari pihak ibu adalah Tsinoy alias Chinese Pinoy, Tiongkok-Filipino.

Lantas bola matanya cokelat muda. Itu karena Eyang Putri, neneknya dari pihak ayah adalah keturunan Belanda - Solo. Rambutnya hitam tebal, mirip abang-abangnya dan ayahnya.

Cuma, kulitnya berbeda dibandingkan Jon Jon, alias Jonathan, abangnya nomor satu, maupun Anthony atau Ton Ton, abangnya kedua. Mereka berkulit kuning bersih, seperti kedua orang tua mereka. Nate berkulit serupa Lola, beliau menyebutnya mirip kuah bulalo: cokelat menuju bening alias tidak keruh.

Petang ini, Nate berkunjung ke klinik dokter gigi di bilangan Jakarta Barat. Sejak beberapa hari, rasa nyeri muncul di pipi atas kiri sehingga aktivitasnya mengunyah menjadi lambat.

Seperti diduga, Nate menjumpai pandangan ‘aneh’ dari beberapa pasien yang sudah mengantre. Mungkin dia dikira warga keturunan seperti mereka, tetapi selalu terpapar sinar matahari intensitas tinggi.
Seseorang menanyainya, “Asal kamu mana?”

Sejatinya Nate keberatan karena konteksnya pribadi. Tetapi mengingat etika, ia menjawab, “Bahay Tsinoy,” alias rumah Tiongkok-Filipino, nama sebuah museum warga keturunan di Intramuros, Manila. Terdengar beberapa gumam tanda tidak mengerti. Nate menaikkan kedua bahunya, lalu meraih majalah di ruang tunggu untuk ia baca.
 
 


Semua ini gara-gara Papi dan Mami, batin Nate. Papi dikirim kantornya untuk penugasan di Manila, sekaligus melanjutkan pendidikan. Di sana beliau berjumpa Mami dan mereka menikah, lalu memiliki tiga buah hati.

Saat Nate berusia lima tahun, tugas Papi selesai dan ia memboyong keluarganya ke Jakarta. Kecuali Nate, yang ditinggal di rumah Lola buat menemani neneknya yang ngelangut karena Lolo --sebutan untuk kakek-- meninggal.

Sejak itulah Nate menjadi cucu kesayangan Lola. Neneknya mengurusi pendidikannya, memantau kesehatannya, dan mereka menjadi sahabat tak terpisahkan, sampai Lola wafat ketika Nate berusia 15 tahun. Itulah saat ia kembali ke Indonesia dan mesti membiasakan diri untuk ditanyai soal ‘keunikan’ fisiknya.

Saat bepergian ke India, ia kerap disangka Ladagspa, orang-orang Ladakh di Pegunungan Himalaya. Tetapi di Ladakh sendiri, ia dikira Nepali. Di Kamboja disangka orang Burma, dan sebaliknya. Toh, hal itu ia rasakan wajar, karena negara- negara tadi cukup jauh dari Indonesia atau Filipina.

Namun, mendapati komentar di tanah air sendiri, Nate ingin berteriak, “Aku iki wong Jawa!” dengan ‘o’ bulat menggantikan ‘a’ dalam kata Jawa.
 
 


Berada di ruang tunggu dokter gigi mengantar kenangan Nate kepada Lola. Terutama saat sang nenek mengantarnya untuk perawatan orthodontic braces. Pasang kawat alias behel, karena susunan giginya di bagian atas centang perenang.

Lola tahu, kehadiran behel membuat Nate kesulitan menikmati potongan daging dalam bulalo, masakan andalannya. Beliau lalu mengakali dengan menambahkan banyak tulang sapi, sehingga Nate bisa memilih makan sumsum saja, dengan cara diisap pakai sedotan. Tanpa perlu susah payah mengunyah daging.

Nate sering melihat betapa neneknya telaten memasak bulalo. Tidak jarang dalam jumlah besar, karena tetangga, kenalan, sampai anggota keluarga besar memesan khusus. Kalau orang sudah jatuh cinta
pada bulalo, biasanya sulit dilupakan.

Kalau sudah begini, Lola mempekerjakan katulong atau pembantu yang bisa diupah mingguan. Setelah katulong mencuci bersih daging sengkel dan tulang yang masih berisi sumsum, Lola akan merebus bahan-bahan itu sampai mendidih, lalu mengerok habis semua lemak di bawah air mengalir.

Kemudian dijerang lagi dan proses diulang, sampai ketiga kalinya baru dipindahkan ke panci bertekanan tinggi dan dijerang bersama air.

Lola membubuhkan lada, bawang merah, bawang putih, garam, gula, dan patis—benar, mirip petis Indonesia. Setelah daging empuk, ditambahkan potongan jagung muda, pok choy, serta labu siam.

Sembari mengaduk bulalo, Lola berkata kepada Nate, “Perlu waktu dan kesabaran untuk membuat bulalo yang sedap. Kalau orang sudah jatuh cinta pada bulalo, biasanya sulit dilupakan.”
 
 


Pak dokter memberi tahu Nate bahwa lubang di giginya terbentuk akibat bergesernya susunan geligi yang menyebabkan celah. Selain ditambal, di depan geraham belakang perlu dibuatkan gigi tiruan. Masing masing di bagian kiri dan kanan atas.

“Tak perlu yang permanen, cukup model lepasan saja,” kata beliau sembari menjelaskan jenis-jenisnya secara detail.

Gadis itu tercenung. Gigi palsu juga identik dengan Lola. Saat-saat awal ia hidup berdua dengan neneknya, beliau terkadang masih terisak bila terkenang Lolo, lalu membaca Alkitab untuk mendoakan suaminya. Namun, ada kesibukan lain yang neneknya tak pernah lupa: Lola selalu meluangkan waktu khusus tiap pagi dan malam untuk memasang serta melepas gigi palsunya.

Saat bercermin berdua di pagi hari, Lola memberi tahu Nate soal ‘gigi artistik’ bahwa beliau ingin selalu tampil menarik, tidak kempot pun terlihat tua apalagi tampak merana sejak ditinggal Lolo. Kehadiran gigi palsu membangun rasa percaya diri neneknya.

Karena itu, saat sang nenek menjumpai susunan gigi Nate tidak keruan, tanpa tunggu waktu beliau membawanya ke dokter gigi di Makati, bagian dari Metro Manila. Saat gigi palsu Lola tak digunakan, selalu direndam dalam cawan beling berisi larutan khusus. Hal yang membuat mata Nate dan Ton Ton—kedua abangnya sesekali datang di saat sekolah libur—memandangi tanpa berkedip.

Hanya Jon Jon yang menganggapnya biasa, katanya, “Karena pada akhirnya di hari tua semua orang akan punya hubungan khusus dengan gigi palsu.” Lalu ia menakut-nakuti, “Awas, gigi palsu Lola akan menyemburkan air, bila kalian terus-menerus memelototinya!”
 
 

Gadis itu membuka pintu kediaman orang tuanya, hampir bersamaan sang ibu menyongsong.

“Semoga Mami tidak masak hari ini,” kata Nate, sembari mengangsurkan tas plastik suam-suam hangat.

“Hindi ako masak today, lang,” kata ibunya dalam ‘adukan’ bahasa Filipino, Indonesia, dan Inggris sekaligus. Artinya: “Aku tidak masak hari ini.”

“Apa ini, Anak Maaliit?” lanjutnya. Meski Nate sudah dewasa dan bekerja sebagai desainer freelance untuk media cetak dan online, sang ibu tetap menyebut dia dengan panggilan sayang ‘Anak Kecil’.

“Sup tulang sumsum sapi,” jawab Nate, sambil melongok meja kerja di mana Papi berkutat. Saat pensiun, beliau berkata ingin melawan kepikunan dengan membaca. Itulah yang dilakukan ayahnya saat ini.
Digamitnya Papi menuju meja makan.

“Oh, bulalo Betawi,” kata ibunya, sembari mendekap tas plastik itu. Bersama sang ayah, mereka duduk di meja makan. Sudah tiga tahun Jon Jon memilih bekerja di Solo, sekaligus untuk mengenal akarnya dari pihak bapak mereka. Sedang Ton Ton hari itu mendapat tugas shift malam di pabrik tempatnya bekerja.

“Tidak seenak buatan Lola, tetapi aku kangen bulalo, jadi kubeli selesai periksa di dokter gigi,” cerita Nate, sembari mengunyah perlahan. Antara menjaga tambalan baru di gigi serta upaya mencari-cari sensasi cita rasa yang mendekati bulalo buatan sang nenek. Sayangnya, tidak berhasil ia temukan.

Kedua orang tuanya menanyakan hasil pemeriksaan gigi dan Nate mengabarkan, sekitar dua minggu lagi akan dipasang dua gigi palsu mungil.

“Rupanya dulu ada gigi berlubang di kiri dan kanan atas yang dicabut,” jelas si putri bungsu. “Dan setelah perawatan merapikan gigi selesai, celah tidak menutup sempurna, walau bila dilihat sepintas tidak tampak.”

Kedua orang tuanya mengangguk-angguk. “Papi jadi ingat cerita Jon Jon, katanya kau dan Ton Ton menaruh perhatian begitu besar pada gigi palsu Lola,” kata ayahnya, tersenyum.
 
 

“Ah, Lola,” giliran ibunya bersuara. Pandangan beliau menerawang. “Beliau menerima pesanan membuat bulalo, agar punya kesibukan sepeninggal Lolo, juga untuk mengumpulkan uang bagi perawatan gigimu.”

“Bagaimana, Mi?” pinta Nate agar perkataan ibunya lebih diperjelas.

“Sebenarnya, Lola bisa membeli gigi palsu model bridge atau implant agar tak lelah buka-pasang tiap saat,” urai Mami. “Namun, ia memilih tipe lepasan yang biayanya jauh lebih rendah, sehingga uang pensiun Lolo bisa dihemat dan digunakan untuk hidup Lola bersamamu.”

Nate menutup sendok-garpu di mangkuk, dan lebih berkonsentrasi dengan penjelasan Mami.

“Saat melihat pertumbuhan gigimu tak keruan, beliau ingin senyum kamu lebih manis ditambah susunan gigi lebih bagus. Lola lantas menelepon Mami dan berkata akan mengurusmu ke dokter gigi. Saat Mami berkata bahwa kondisi keuangan kami kurang bagus sehingga sulit mengirim biaya perawatanmu, Lola berkata beliau akan membiayai seluruhnya. Itulah saat di mana Lola membuka usaha menerima pesanan membuat bulalo untuk menambah pemasukan. Semuanya buat kamu, Anak Maaliit. Lola menyayangi Nate, lebih dari Lola merindukan Mami.”

Nate tenggelam dalam diam. Kedua tangannya memilin-milin serbet. Air matanya perlahan turun. Ini pertama kali dia mendengar relasi antara bulalo, Lola, dan giginya.

Wajar bila Nate belum pernah menjumpai bulalo bercita rasa seperti buatan Lola. Karena, segala pengorbanan --termasuk upaya memasarkan masakan ini demi biaya perawatan gigi sang cucu-- dan kasih sayang terhadap Nate menjadi bumbu khusus bulalo-nya. Lola yang berbagi kesamaan warna kulit dan bentuk mata dengannya memang seorang perempuan luar biasa. (f)

Catatan:
* Sup kuah bening berbahan daging sengkel dan tulang
kaki sapi yang masih berisi sumsum.
** Nenek, dalam bahasa Filipino.

***


Ukirsari
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/