
Bagian 3
Kisah sebelumnya:
Delapan bulan hendak menikah dengan Parulian, Rian bertemu lagi dengan Tigor, pria yang ia cintai sejak masa SMA. Namun, ketika Rian mantap memilih tetap bersama Parulian, justru tunangannya itu memilih menikahi wanita lain. Justru adik Parulian, Mario, yang kemudian mendekatinya.
Tiba juga hari itu, ketika suatu hari Mario datang dengan sikap gugup. Hatiku menebak-nebak, apakah dia hendak menyatakan cinta padaku, makanya dia terlihat tak tenang begitu? Terus terang, tebakan itu membuat jantungku menjadi sibuk luar biasa.
Sekarang hari Kamis, jadi kami tak akan disela oleh kehadiran Tigor. Tiap kamis, dia memimpin kebaktian pemuda di gerejanya.
“Aku tahu, sampai sekarang kau masih akrab dengan Tigor,” katanya, membuka percakapan.
“Tapi, rupanya dia belum mengatakan apa-apa padamu, ya?” pancingnya.
Aku memandangnya dengan wajah bertanya.
“Kita sudah sama-sama dewasa. Pasti kau sudah tahu kalau aku mencintaimu.”
Aku tahu, tapi jantungku yang sejak tadi memukul-mukul tanpa irama, sekarang berpadu dengan napas yang terhenti sesaat, setelah mendengar ucapannya.
Dia mengulurkan tangannya meraih tanganku. Aku tak berdaya menolaknya.
“Tanganmu dingin,” katanya separuh berbisik. Aku tersipu, mukaku terasa panas sekali.
Malu-malu kulayangkan pandang ke wajahnya. Tiba-tiba, yang kulihat justru wajah Parulian.
Aku terperanjat. Refleks kutarik tanganku dari genggamannya. Dia tersentak kaget, lalu memandangku kecewa.
“Aku tidak bisa,” kataku cepat.
“Karena abangku?” kudengar suaranya sangat gusar.
“Ya, karena dia,” jawabku berterus terang.
“Sudah setahun lebih. Mengapa kau membuang waktumu untuk terus mengingat-ingat dia?”
Aku terbelalak mendengar jawabannya. Betapa beraninya dia.
“Abangmulah yang membuatku menyia-nyiakan waktuku!” aku berseru marah.
“Ternyata kau masih marah.”
“Ya. Aku memang masih marah. Tentu saja kau tidak akan mengerti, mengapa sampai sekarang aku masih marah. Karena bukan kau yang sudah membeli kebaya pengantin, ikut konseling pranikah. Juga bukan kau yang sakit berminggu-minggu dan tak dihargai perasaannya oleh seluruh keluargamu. Wajar kalau kau tak mengerti,” kataku marah dan pilu.
“Kami bukan tak menghargai perasaanmu. Tapi kami terpaksa. Papa dan Mama selalu mengatakan bahwa mereka bersalah padamu. Kalau memang mereka tak menyukaimu, pasti mereka tak akan mendorongku untuk mendekatimu.”
Aku malah naik pitam mendengar jawabannya. Debar cinta di jantungku berganti menjadi debar kemarahan.
“Begitu, ya?! Jadi kau mendekatiku untuk menghapus rasa bersalah orang tuamu? Bagus sekali. Lagi-lagi orang tuamu menyuruh anaknya berkorban untuk mewujudkan kemauan mereka.”
“Jangan asal bicara. Orang tuaku tidak seburuk itu.”
Aku tertawa sinis.
“Tentu tidak. Orang tuamu sangat mulia. Begitu mulia. Wajar kalau anak-anaknya ingin berkorban untuk mereka.”
“Rian, aku tahu kau sakit hati pada mereka. Tapi, mereka hanya ingin melindungi menantu mereka.”
Aku memandangnya angkuh. “Melindungi menantu mereka, atau melindungi diri mereka sendiri?! Kau sendiri, kau ingin melindungi siapa dengan mendekatiku? Orang tuamukah? Supaya aku tak lagi membenci mereka?!”
Dia memandangku dengan raut marah.
“Rian, apa pun anggapanmu tentang orang tuaku, aku tak peduli. Tapi, aku berkata jujur, aku mencintaimu dengan tulus, bukan karena suruhan orang tuaku.”
“Apa buktinya kalau kau mencintaiku?” tantangku.
“Aku.., apa maksudmu?” tanyanya ragu.
“Kau tahu aku tak menyukai orang tuamu. Apa demi aku, kau sanggup meninggalkan mereka?” dengan sinis aku bertanya.
Dia membisu. Wajahnya pilu.
“Satu hal lagi. Waktu orang tuamu meminta abangmu untuk menikahi ipar kalian, sebenarnya aku sangat berharap, kau mau menggantikan abangmu untuk menikahi dia. Aku tahu kau tidak punya pacar. Kau juga lebih tua dari iparmu itu. Tapi, kau diam saja. Kau membiarkan abangmu mengorbankan dirinya, mengorbankan aku. Dan sekarang, kau mengatakan kalau kau mencintaiku. Apa kau pantas mengatakan itu?” Air mataku bercucuran ketika mengatakan itu.
Aku sangat marah sekarang. Luka hatiku kembali terbuka.
Aku bahkan sudah tak ingat bahwa tadi aku masih jatuh cinta padanya.
Sejak hari itu, Mario tak pernah menemuiku lagi. Untunglah perasaanku kepadanya tak sedalam cintaku pada abangnya. Sehingga, hanya perlu waktu dua bulan untuk bisa benar-benar melupakannya.
Sekarang hanya tinggal Tigor.
.****.
“Kau kujemput jam lima sore.”
Karena itu aku sekarang sibuk berdandan. Lipstik merah jambu lembut, perona pipi merah jambu segar, rambut setengah disanggul, gaun sebetis warna merah jambu lembut, sepatu tiga inci, dan tas hitam-kecil. Beres sudah. Tinggal menunggu di teras.
Adikku habis-habisan menggodaku. Cinta lama bersemi kembali, katanya. Aku tersipu-sipu, tak bisa menjawab kalau sudah dia yang mengganggu. Maka, aku pura-pura tak peduli dan buru-buru berjalan ke teras. Lebih baik aku menunggu ke sana, daripada harus mendengar godaan si usil itu.
Jam lima kurang lima menit.
Sebuah pesan masuk. 0811556….… Aku terpana. Aku sungguh ingat nomor siapa itu.
“Selamat merayakan Natal, Rian. Semoga sekarang kau sudah memaafkanku.”
Semangatku langsung melorot ke titik nol. Aku duduk lemas di kursi. Hampir dua tahun berlalu, tanpa mendengar kabar apa pun darinya. Sore ini, hanya sebaris pesan darinya, tiba-tiba membuatku merindukan dirinya.
Apakah di bawah sadarku, aku masih mencintainya?
Belum sempat berpikir lama, Tigor sudah tiba di depan pagar. Aku menegakkan tubuh yang tadi sempat lunglai, berharap dia tak melihat kegundahanku. Kupasang senyum terbaik yang bisa kubuat di saat seperti ini.
“Langsung berangkat, ya?” pintanya. Aku mengangguk. Kurasakan genggamannya di jemariku. Hatiku berdebar, malu-malu kupandang dia dan dengan gemetar balas menggenggam tangannya. Dia memandangku sambil tersenyum senang.
Untuk mengajakku ke acara Natal ini, dia sudah meminjam mobil kakaknya. “Supaya rambutmu tidak rusak karena helm,” katanya kemarin waktu mengajakku.
Setelah menutup pintu mobil, dia memandangku mesra.
“Kau cantik sekali,” katanya, sambil tersenyum.
Aku memalingkan wajahku yang memerah. Tak tahan mendengar pujiannya.
Usai kebaktian, kami tak bisa segera pulang. Kulihat Tigor bersama beberapa orang, bergotong-royong merapikan kembali letak kursi, sementara beberapa orang lainnya terlihat sibuk membersihkan lantai. Aku sendiri cuma duduk saja di bangku paling belakang, sambil mengamati mereka.
Di mobil dalam perjalanan pulang.
“Mau jalan-jalan sebentar?” dia menawarkan.
“Bukan ke panti asuhan atau panti jompo, ‘kan?” tanyaku khawatir.
Dia tersenyum kecil, lalu menjawab, “Bukan. Mengapa kau bisa menduga begitu?”
“Ini malam Natal. Siapa yang tahu kau ini Sinterklas atau bukan,” ujarku menggoda, membuat dia tertawa.
Dekat sebuah taman, dia memarkirkan mobil. Kami tetap duduk di dalam mobil, membiarkan jendela terbuka, hingga angin malam masuk dengan bebas.
“Masih mau ikut denganku besok?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng. Menduga bahwa remang cahaya bisa membuatnya tak melihat gerakan kepalaku, aku akhirnya berkata, “Tidak. Aku mau ke gerejaku saja.”
Kulihat dia mengangguk, tak mencoba membujukku. Apakah dia kecewa?
Sekarang dia memandangiku. Aku jadi jengah.
“Ada apa?” tanyaku dengan suara bergetar. Dia tersenyum. Dia banyak senyum malam ini.
“Aku senang sekali,” katanya pelan. Aku menunduk malu.
“Aku sudah tak yakin bisa bertemu lagi denganmu. Tiba-tiba kau muncul begitu saja di depan mataku,” sambungnya. Aku tertawa mendengarnya.
“Waktu SMA aku memang sangat bodoh. Aku selalu berkhayal untuk mengobrol denganmu. Tapi begitu melihatmu, otakku seperti kosong, mulutku pun seperti beku, tak bisa dibuka,” dia mengenang sambil tersenyum. Aku terbahak.
“Aku sama bodohnya. Entah kau tahu atau tidak, bahwa aku pernah nyaris menabrak tiang, hanya karena gugup melewati kelasmu,” aku membuat pengakuan dengan suara pelan. Dia tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku, membuat wajahku terasa panas karena malu.
Aku sebenarnya ingin sekali ke rumahmu. Tapi, sepupumu tak pernah lagi mengajakku. Mau pergi sendiri, aku malu. Rasanya tersiksa setengah mati,” akunya setelah puas tertawa.
Aku jadi merasa geli. Sudah begitu sering kami mengobrol, tapi baru sekarang dia mau bercerita tentang perasaannya dulu.
Aku terkenang kelas konseling itu. Parulian di sampingku, Tigor di depanku. Masa itu….
“Hidup ini memang misterius,” keluhku, sambil berusaha menepis kenangan itu.
Kami diam lagi beberapa saat. Lalu dia kembali berbicara.
“Apa kau sudah bisa memaafkan dia?” pelan sekali suaranya. Mungkin dia khawatir aku marah mendengar pertanyaan itu. Tapi aku tak marah. Sudah saatnya kami membicarakan itu.
“Tadi dia mengirimiku pesan. Cuma ucapan selamat Natal, tapi aku langsung merasa sedih,” ujarku berterus terang.
Aku menanti dia mengatakan sesuatu. Tapi dia diam saja.
Aku mengembuskan napas yang sejak tadi bagai tertahan. Kulirik jam tanganku, sambil meraih telepon genggam yang berdering dari dalam tas. Sepuluh dua puluh, pasti Mamak yang menelepon, mengucapkan selamat Natal. Tanpa melihat lagi ke layar, segera kuterima telepon itu.
“Selamat Natal juga,” kataku mendahului dengan nada bercanda, sebelum suara terdengar dari seberang sana.
“Rian, selamat Natal.” Suara laki-laki di telingaku membuatku terperanjat. Jelas-jelas itu bukan suara ibuku.
Tapi, sungguh kukenal suara itu. Badanku langsung merasa gemetar. Mulutku berat untuk berucap.
“Haloo, halo… Rian.”
“Untuk apa kau meneleponku?” tiba-tiba aku bisa berbicara lagi. Ketus sekali.
“Aku mau mengucapkan selamat Natal.”
“Kau sudah mengucapkannya tadi. Itu sudah cukup.”
“Kau tidak membalasnya.”
“Tak ada yang perlu dibalas.”
“Rian, jangan sekejam itu. Kau tidak tahu bahwa selama ini aku merindukanmu.”
Aku hampir menangis mendengar ucapannya itu. Apa arti rindunya itu untukku saat ini?
“Kau… kau sudah menikah. Kau sendiri yang memilih meninggalkan aku. Kau tidak berhak lagi mengatakan itu.”
“Aku hanya ingin jujur, Rian. Aku memang masih mencintaimu,” dia terus bersikeras untuk mencurahkan isi hatinya. Aku marah dan sedih.
“Cukup! Aku tidak butuh pengakuan tololmu itu!” bentakku, sambil menutup telepon.
Di sebelahku, Tigor memandang dengan wajah gundah. Dia pasti sudah bisa menebak, siapa yang meneleponku. Aku tak tahan untuk tak menangis.
Tigor hanya duduk diam di kursinya. Ketika akhirnya tangisku reda, wajah sedih Tigor membuatku makin merasa bersalah.
“Maafkan aku,” kataku pelan.
“Aku sangat cemburu,” katanya. Suaranya terdengar putus asa.
Aku ingin meraih tangannya dan mengatakan bahwa aku menangis bukan karena aku masih mencintai Parulian. Tapi tak kulakukan. Sesuatu di dalam diriku membuatku tak mampu mengatakan itu, tanpa merasa berbohong padanya.
“Aku tidak sengaja. Mungkin aku memang belum sepenuhnya melupakan dia,” aku memilih mengakui perasaanku sebenarnya.
Kudengar napasnya berat. Tapi dia tetap diam saja, membuatku tersiksa. Sungguh lebih baik kalau dia marah dan mengatakan apa saja. Tapi dia diam saja, membuatku tak tahu harus mengatakan apa lagi.
“Lebih baik kita pulang saja. Sudah malam.” Akhirnya dia berbicara, tapi bukan sesuatu yang kuharapkan.
“Kau marah?” tanyaku pelan. Sekarang aku bisa menyentuh jemarinya. Dia tak membalas sentuhanku. Dia memandangku dengan tatapan yang tak dapat kupahami maknanya.
“Ya. Aku marah dan cemburu,” katanya datar.
“Lalu mengapa kau diam saja?” tanyaku sedih.
Dia memandangku kesal.
“Apa kau mau aku mencacimu, supaya kau tahu kalau aku marah?! Apa kau senang kalau aku mengasarimu?” tanyanya dengan suara rendah.
Tak ada lagi suara ke luar dari mulutku.
Kurasakan mobil mulai berjalan. Dia tak lagi berkata apa-apa. Sepanjang perjalanan kami diam saja. Kemesraan tadi bagai lenyap terbawa angin.
Tiba di depan rumahku, dia mengantar sampai ke teras. Tatapannya sendu.
.****.
Kalau ada yang mengatakan aku perempuan jahat, itu benar.
Kalau ada yang menyebutku tak punya pendirian, itu juga tidak salah.
Sederet sebutan lain juga masih cocok untukku: munafik, pembohong, tukang mempermainkan perasaan, penggoda suami orang…. Silakan cari lagi. Sebab semuanya memang cocok untukku.
Maka aku sekarang di sini, di salah satu bangku gerejaku yang dulu, yang sampai sekarang masih menjadi gereja yang juga dihadiri keluarga Parulian. Ini pagi hari tanggal dua puluh lima Desember. Ini hari Natal.
Tapi, jangan sangka kalau aku ke sini demi sebuah niat luhur untuk merayakan Natal dalam suasana damai, dalam kerelaan untuk memaafkan keluarga Parulian dan juga meminta maaf kepada mereka. Tidak, aku tidak sesaleh itu.
Aku ke sini semata-mata untuk melihat Parulian. Aku yakin dia ke gereja sini hari ini, makanya aku ingin bertemu dengannya. Tadi malam setelah terjaga karena mimpi, aku merasa sangat rindu padanya. Aku sungguh-sungguh tak tahan ingin melihatnya.
Dia memang ada. Sejak dia baru masuk, aku sudah melihatnya. Berbaju hijau lembut dan celana hitam. Wajahnya bersih dengan rambut pendek dan rapi. Dia datang bersama istrinya yang menggendong bayi mereka, orang tua, dan adik-adiknya. Ada Mario juga, tapi aku tak peduli. Aku tak ke sini untuk melihat dia.
Mereka duduk di baris ketiga dari depan.
Aku sendiri duduk di barisan paling belakang, selain menghindari dia, juga untuk menghindari kawan-kawan yang mengenalku. Jadi bisa kupastikan dia tak mungkin melihatku, sementara aku dapat sesuka hati melihat dia, meski cuma dari belakang saja.
Ibadah terasa panjang sekali. Duduk berdiri, duduk lagi, berdiri lagi. Lalu ada paduan suara gabungan, paduan suara ibu, paduan suara bapak, paduan suara anak, puisi anak-anak, Aduhhh.., banyak sekali, panjang sekali. Aku terkantuk-kantuk.
Usai kebaktian, aku bergegas melakukan rencanaku. Tanpa menyalam kanan kiri, aku segera pergi ke luar. Di tempat yang sudah kupilih, aku mengetik sebuah SMS.
“Kalau kau mau, temui aku di halaman belakang. Sekarang.”
Aku menunggu dengan berdebar. Dia ternyata datang.
Tahu-tahu kami sudah saling berpelukan. Aku tak tahu, apakah ada orang lain yang melihat.
.****.
Tigor….
Bagaimana dia bisa salah menilaiku? Mengapa dia bisa jatuh cinta padaku? Aku bukan perempuan yang baik, sungguh tak pantas untuk laki-laki biasa, apalagi untuk seorang pendeta.
Aku menangis dengan perasaan merana di kamarku. Aku terombang-ambing oleh perasaanku. Bagaimana bisa aku mencintai Parulian dan Tigor di saat yang bersamaan? Bagaimana bisa, aku yang baru semalam mengatakan mencintai Tigor, hari ini membuat pengakuan bahwa aku merindukan Parulian?
Bagaimana kalau Tigor tahu, bahwa perempuan yang dicintainya, mencintai suami orang? Perempuan itu memancing suami orang, untuk datang menemuinya di tempat sepi, lalu memeluk lelaki itu. Apa kata Tigor tentang perempuan seperti itu?
Entah jam berapa, ketika kudengar pintu kamarku diketuk. Rupanya aku tertidur.
“Ada Pak Pendeta,” kata adikku, setelah aku membuka pintu kamar.
Aku merasa lesu. Bagaimana aku menghadapinya?
“Temani dia dulu, ya. Aku mau mandi sebentar,” pintaku, sambil menyambar handuk.
Rupanya dia sudah di ruang tamu. Aku jadi malu dia melihatku acak-acakan sebangun tidur. Untunglah dia cuma tersenyum saja.
Di meja sudah terhidang dua gelas sirop dan sestoples kue.
“Apa kau sudah makan?” tanyanya lembut, setelah aku duduk di dekatnya.
Aku menggeleng. Makan apa? Aku bahkan tidak tahu, ini jam berapa. Kulongok pandang, di luar ternyata sudah gelap. Kulihat jam, sudah pukul tujuh rupanya.
“Aku juga belum. Mau cari makan dulu?”
“Tidak usah. Kami memasak.”
Sebentar kemudian, kami sudah menikmati nasi, lalapan dan rendang. Hidangan khas keluarga kami di hari Natal. Baru kusadari, aku sangat lapar. Terakhir kali aku makan adalah kemarin sore, sebelum berangkat ke gereja bersama Tigor.
Sambil makan, Tigor beberapa kali memandangiku. Aku pura-pura tak tahu. Aku tak berani membalas tatapannya, takut dia melihat dosa di mataku.
“Rendangnya enak,” pujinya sambil menambah nasi. Ucapannya malah membuatku makin resah. Semua makanan yang kusuap, terasa hambar di mulutku.
Aku berulang-ulang meneleponmu. Tapi tidak bisa masuk,” dia memberi tahu.
Tentu saja, sebab sepulang bertemu Parulian, telepon itu sengaja kumatikan. Aku takut kalau Parulian atau Tigor menghubungiku. Aku tak berani.
“Tadi kepalaku agak pusing. Telepon sengaja kumatikan, biar aku bisa tidur.”
Dia memandangku prihatin.
“Apa kita bisa membicarakan hal-hal yang serius sekarang?” tanyanya memecah keheningan.
Aku sudah bisa menduga ke mana pembicaraan ini menuju. Aku merasa tak bertenaga. Jantungku bagai berhenti berdetak. Mengapa harus malam ini?
“Aku juga perlu tahu, apakah setelah kau mengetahui tentang konsekuensi pekerjaanku, tentang penghasilanku, kau masih mantap untuk terus bersamaku atau tidak.” Dia masih terus bicara. Aku masih lemas juga. Tapi aku merasa harus bicara. Harus. Harus….
“Bisakah kita menunda bicara soal itu? Aku belum siap.”
Dia memandangku bingung. Tapi aku mulai mengenalnya. Aku tahu, dia tak akan memaksa.
“Kupikir, akulah yang harus menjelaskan tentang diriku. Supaya kau bisa memutuskan, kau masih ingin bersamaku atau tidak,” sambungku.
Dia memandangku heran. Aku memutuskan membuat pengakuan. Kututup wajahku dengan kedua tangan. Kusandarkan kedua siku tanganku ke atas paha. Saat ini aku merasa ingin lenyap, supaya aku tak harus membuat pengakuan ini. Supaya aku tak usah melihatnya marah.
“Tadi aku menemui dia.” Kupaksakan diriku berbicara.
Tangannya terangkat dari bahuku.
Aku tak berani mengatakan, bahwa aku berpelukan dengan Parulian. Aku takut dia tahu bahwa akulah yang menggoda Parulian. Yang kulakukan cuma menangis dan mengharapkan dia tahu sendiri, bahwa aku bukan sekadar bertemu Parulian.
Pasti dia sangat sedih melihat aku masih menangisi Parulian.
Perlahan-lahan tangisku reda. Ketika aku berhenti menangis, kulihat dia sedang memandangiku. Apa yang dipikirkannya?
“Sebaiknya kau istirahat dulu. Aku juga agak capek, biarlah aku pulang dulu.” Dia berbicara memecah keheningan.
Aku mengangguk pasrah. Aku juga tak ingin dia di sini, hanya untuk melihatku menangisi lelaki lain.
Kami berjalan tanpa suara menuju motornya di luar pagar. Di atas motor dia berkata, “Kalau tidak ada halangan, hari Jumat aku datang.” (Bersambung)
Baca juga:
Cerber: Intan yang Kucari [1]
Cerber: Intan yang Kucari [2]
Cerber: Intan yang Kucari [4]
.****
Rewinta Tampubolon