Bagian 2
Cerita Sebelumnya:

Delapan bulan hendak menikah dengan Parulian, Rian bertemu lagi dengan Tigor, pria yang ia cintai sejak masa SMA. Tigor yang diduga Rian juga menyimpan cinta tak terucap, kini seorang pendeta. Hati Rian terjerat ke cinta masa lalu sehingga memutuskan untuk bertanya langsung ke Tigor, mengapa lelaki itu tidak pernah mengucapkan cinta kepadanya.
 
 
Pohon mangga itu, aku yang menanam.

Pohon rambutan itu juga. Keduanya tumbuh di halaman depan rumah tipe 45 yang dibeli calon suamiku. Kukatakan padanya, bahwa aku ingin agar kami dan anak-anak kami kelak, bisa bercengkerama di bawah rindang pepohonan buah tersebut, sambil memetik sesuka hati buah-buahnya.

Pagar besi rumah bermotif bunga mata hari itu, juga aku yang memilihnya.
Rumah itu masih kosong, tapi sudah bisa ditempati kapan saja. Dindingnya sudah dicat biru lembut,  dapurnya sudah dilengkapi wastafel cuci piring. Teras depan sudah ditambah keramiknya. Semua sudah lengkap. Tinggal dimasuki saja.

Tapi apa arti semuanya itu sekarang?
Ya, aku tak akan pernah menjadi penghuni rumah itu. Mimpiku untuk hidup dan membesarkan anak-anakku di situ, sekarang tinggal kenangan. Laki-laki yang selalu kusebut sebagai calon suamiku itu, ternyata tidak akan membawaku sebagai pengantinnya, untuk menempati rumah itu. Dia memilih perempuan lain. Kakak iparnya sendiri!

Setelah anak tertua mereka meninggal, kedua orang tua calon suamiku resah melihat menantu perempuan yang sedang mengandung cucu pertama mereka. Dalam adat kami, nama yang diberikan kepada cucu pertama, sekaligus akan menjadi nama baru yang dipergunakan untuk memanggil kakek dan neneknya.  Rupanya orang tua calon suamiku takut, jika sang menantu menikah lagi dengan lelaki lain dan membuat terputus hubungan antara cucu pertama dengan kakek dan neneknya. Keputusan lalu diambil, sang menantu harus tetap menjadi menantu selamanya. Caranya, calon suamiku harus menikah dengannya.
 
 


Sekarang aku tahu, mengapa seminggu lalu, tiba-tiba calon suamiku mengirimiku sebuah pesan, “Kalau kau melihat orang tuamu dan aku sedang tergantung di tepi jurang, sedang kau hanya bisa menyelamatkan salah satu di antara kami, siapa yang akan kau pilih?”

Aku tertawa waktu menerima pesan itu. Lalu setelah berpikir asal-asalan, kujawab juga. “Aku pasti memilih orang tuaku. Sebab sudah kulihat bahwa jurang itu tidak terlalu dalam. Jadi kalaupun kau jatuh, kau cuma kesakitan saja, tidak sampai mati. Tidak mungkin kubiarkan orang tuaku yang jatuh. Mereka sudah tua, nanti tulang-tulangnya patah.”

Aku merasa ditipu oleh keluarganya. Sebulan setelah kematian Abangnya, orang tuanya meminta agar rencana pesta pernikahan kami ditunda. Sebab tak pantas jika mengadakan pesta pernikahan, padahal baru saja mengalami kemalangan. Aku dan seluruh keluargaku maklum. Pernikahan kami ditunda sepuluh bulan. Lama sekali memang, tapi tak mengapa. Obrolan kami hanya mengenai itu saja. Tak ada tanda bahwa mereka akan membatalkan pernikahan, tak terlihat niat mereka untuk memisahkan kami berdua. 

Aku tidak tahu, apa yang sudah dikatakan kedua orang tuanya, sehingga dia memilih menikahi iparnya. Aku juga tidak tahu, apakah iparnya juga menyetujui pernikahan itu. Tapi rupanya, setelah hatinya mantap untuk mengikuti kemauan orang tuanya, barulah dia datang ke tempatku. Dia datang bukan untuk berdiskusi, bukan untuk memintaku menolong memecahkan masalahnya, tapi hanya untuk memberitahuku. Keputusan yang sudah diambilnya. 

Dia pasti tahu, bahwa aku akan sangat tergoncang, karena itu dia sengaja menemuiku di rumahku. Memang aku pingsan setelah mendengar bahwa dia akan menikahi iparnya. Ketika sadar, kudapati diriku sudah berada di atas tempat tidur di kamarku. Dia duduk dengan mata sembab di sampingku, tangannya sibuk memijati kepalaku.
 
 


Biasanya aku senang kalau dia memijatku seperti itu. Tapi sekali ini, aku merasa sangat marah kepadanya. Dengan kasar, kutepiskan tangannya dari kepalaku. Bersamaan dengan itu, aku tak mampu menahan sedu sedanku.

Aku menangis dengan keras. Kutelungkupkan wajah ke bantal, supaya orang tidak mendengar jeritanku. Jeritan seorang perempuan yang dihancurkan hatinya oleh orang yang sangat dicintainya. Oleh lelaki yang sampai beberapa waktu lalu, masih dianggap sebagai calon suaminya.

“Rian, maafkanlah aku,” kudengar dia berkata.
Aku tak bisa menjawabnya. Aku ingin memakinya, menghujaninya dengan semua kata-kata kejam, tapi tak sepatah suarapun ke luar dari mulutku. Hanya air mataku yang meleleh sangat deras, sampai mataku menjadi sulit untuk dibuka. 

“Aku memilih membiarkanmu jatuh dan menyelamatkan orang tuaku. Sebab seperti yang kau katakan, jurang itu tidak dalam. Kau memang akan kesakitan, tapi kau tidak akan mati,” katanya lagi.

Tangis bisuku berganti dengan sedu sedan. Namun aku tetap tak punya kata untuk diucapkan, meski mulutku sudah mampu untuk bersuara. Rupanya kesedihan hatiku terlalu berat untuk disampaikan lewat kata-kata.

Dia bicara entah apa lagi. Entah apa lagi, aku sungguh-sungguh tidak ingat. Yang aku ingat aku terus saja menangis. Menangis sampai jam dua pagi, ketika dia pamit pulang. Dan terus menangis, sampai dari mesjid di dekat jalan, aku mendengar suara adzan subuh.

Setelah itu, aku demam tinggi…
 
.*****.
 
 

 
Syukurlah aku tinggal serumah dengan adikku.

Dialah yang mengurusku selama aku sakit. Katanya, berulang kali aku mengigau. Menjerit-jerit, menangis keras, membuat dia panik dan ikut-ikutan menangis.

Aku tak pernah bercerita pada adikku, mengapa aku bisa sakit. Tapi pasti dia sudah tahu, karena di hari ke empat aku sakit, bekas calon suamiku datang dengan wajah gundah. Rupanya adikku yang meneleponnya, setelah dia curiga, mengapa sampai tiga hari aku sakit, dia belum datang juga menjengukku.

Sayangnya dia datang bukan lagi sebagai calon suamiku. Aku menolak dijenguk olehnya. Aku menjerit mengusir dia pergi dari kamarku. Kudengar dia menangis, memanggil namaku dengan penuh sesal. Tapi apa guna tangisannya itu sekarang, setelah dia mengabaikan teriakanku minta tolong dan membiarkanku jatuh ke dalam jurang?

Adikku akhirnya sadar, sesuatu yang buruk sudah terjadi.

Malam itu demamku semakin tinggi, sampai-sampai kupikir aku akan membeku karena aku merasa begitu kedinginan. Adikku memanggil dokter yang tinggal di dekat rumah untuk memeriksaku. Obat yang kuminum membuatku tertidur, meski tetap terjaga sebentar-sebentar. Ketika aku terbangun kembali di siang hari, aku melihat Mamak duduk di sampingku.

“Mak..,” panggilku lemah.

Mamak membungkukkan badan untuk memelukku. Dia menemaniku menangis.

Di pelukan Mamak, aku merasa begitu tentram. Aku bagai kembali menjadi anak kecil yang mengadu ke pelukan Ibuku. Kubasahi bajunya dengan air mataku. Aku terus menangis sampai puas, sampai aku kelelahan dan tertidur di pelukannya. 

Begitu Mamak datang, barulah aku mau makan. Bubur sumsum dan gula merah cair, makanan yang selalu dibuatkannya untukku kalau aku sakit.
 
.****.
 
 

Sore itu aku duduk di teras kecil rumah kami, menunggu adikku selesai membuat pisang goreng.  Mamak sedang mandi.

Sebuah mobil terlihat berhenti di depan pagar rumah kami. Darahku bergolak. Tubuhku melemas. Aku kenal mobil itu. Belum sempat memulihkan tenaga, kulihat bekas calon suamiku dan orang tuanya, sudah berdiri di depan gerbang. Bahkan sesaat kemudian, kusadari mereka sudah berdiri di depanku.

Mataku beradu pandang dengan mata bekas calon suamiku.

Air mataku langsung mengalir.

Tiba-tiba Ibunya menangis sambil memelukku. Apa yang ditangisinya? Penderitaankukah? Bukankah dia yang menyebabkannya? Aku merasa dipeluk oleh Yudas. Dia memelukku, tapi dia mengkhianatiku.

Mamak yang baru selesai mandi, terperanjat ketika melihat mereka. Buru-buru dipersilahkannya mereka masuk dan mengambilkan tisu untuk mengeringkan air mataku.

“Eda, maafkanlah kami.” Ibu bekas calon suamiku berkata kepada Mamak, sambil menangis.

Mamak sudah tahu semuanya. Dia juga terluka hati dan kecewa. Setelah rencana pernikahan kami ditunda, dia sibuk membatalkan pesanan gedung, memberitahu pendeta dan serikat marga, bahwa pernikahan kami diundur. Dan sekarang, dia kembali harus memberitahu kepada semua famili dan kenalan, bahwa ternyata aku tak jadi menikah.  Betapa malunya dia.

Tapi apa jawaban Mamak, yang sudah mengecap pahit dan manis kehidupan ini?

“Sudahlah, Eda. Rupanya mereka memang tidak berjodoh. Apa yang mau dikatakan lagi. Sekarang kita doakan saja, supaya siapapun jodoh mereka, mereka bisa bahagia.”

Mamak tak marah-marah. Padahal kuharapkan dia berempati denganku. Mewakiliku memaki mereka, menghina mereka, membuat mereka merasa bersalah seumur hidup. Sungguh tidak ada makian, tidak ada kemarahan. Yang ada hanyalah memaafkan. Mamak memilih memaafkan mereka. Aku memilih tak berbicara sepanjang pertemuan itu. Aku marah pada Mamak, aku merasa dia juga turut mengkhianatiku.

Malam itu, aku demam lagi. Padahal sebelumnya, aku sudah mulai sembuh.
.****.
 

Tigor…

Kudapati SMS bertuliskan namanya di telepon genggamku. “Bolehkah aku datang ke rumahmu?”  Dia pasti sudah mendengar kejadian yang kualami ini. Tapi dari mana dia bisa mendapat nomor teleponku?

Tak kubalas SMS-nya. Dia meneleponku, tak kuangkat. Aku tak ingin bertemu dengannya, aku tak ingin berbicara dengannya.

Hari Sabtu. Aku, Ibu dan adikku duduk santai di ruang tamu.

“Besok kita sudah bisa ke gereja, ya?” tanya Ibuku.

Aku tak menjawab. Mereka menunggu.

“Iya. Sudah sebulan kau tidak ke gereja,” akhirnya adikku yang menjawab.

“Aku tidak ikut. Aku masih sakit.”

Aku tidak berbohong. Demam di badanku memang sudah sembuh, tapi jauh di hatiku, aku terluka parah, sangat parah! 

.****.
 
 

 
Parulian Naarga Pane…

Dulu nama itu begitu manis terdengar. Seribu kali lebih merdu daripada suara Andrea Bocelli. Dulu aku selalu tersenyum setiap menyebut namanya, ketika sedang berkhayal sendiri, ketika sedang menggodanya, ketika ingin memanggilnya dengan nama lengkapnya.

Sekarang, air mataku pasti berlinang setiap mendengar atau mengingat nama itu. Nama itu kini menjadi pembangkit duka, pemanggil derita, pengingat nasib buruk. Karena itu, kuputuskan untuk menghapus namanya dari daftar di telepon genggamku.

Tapi aku hafal nomor teleponnya di luar kepala. Sehafal namanya, tanggal lahirnya, hobinya, mimpi-mimpinya. Otakku juga merekam detil wajahnya yang beralis tebal dan berlesung pipi, biarpun semua fotonya telah kubakar. Bagaimana menghapus semua ingatan itu dari kepalaku?

Sekarang semua hal bisa membuatku menangis. Mendengar erangan anak kucing yang ditinggal induknya, melihat gerimis dari balik jendela, tanpa sengaja mendengar lagu sedih di radio, semuanya membuatku mengeluarkan air mata. Apalagi kalau kulihat kebaya kuning gading dan songket yang sudah kusiapkan untuk pernikahanku, aku bisa tersedu-sedu sampai berjam-jam, membuat adikku akhirnya memutuskan untuk menyingkirkan kedua benda itu dari kamarku.
Beberapa hari lagi dia akan menerima pemberkatan nikah.

Di hari-hari itu, aku semakin sering memecahkan gelas dan piring. Tanpa sengaja sebenarnya. Benda-benda itu seakan terlepas begitu saja dari genggamanku. Ibuku cemas, adikku sangat khawatir. Akhirnya aku dilarang membantu mereka di dapur. Menyapu rumahpun aku belum boleh. Kata mereka aku masih belum sehat benar. Jadi sepulang dari susah payah berkonsentrasi di kantor, aku hanya boleh langsung mandi, makan dan istirahat.

Sebenarnya aku tidak butuh istirahat. Aku hanya butuh dia, Parulian Naarga Pane, untuk menemaniku seperti dulu, menghapus air mataku dan mengatakan kalau dia akan menikahiku. Aku ingin dia membawaku sebagai istrinya, menempati rumah yang pagarnya bercat kuning. Menemaniku memupuk pohon mangga.
 
 


Setiap malam aku tak berani tidur. Sebab kalau aku tidur, aku akan terbangun di hari yang berbeda. Hari yang baru, yang semakin dekat dengan hari pemberkatan pernikahannya. Aku tak boleh tidur, sebab aku harus mencegah bergantinya hari.

Mataku jadi berkantung hitam. Wajahku suram dan tubuhku mengurus. Begitu banyak yang sudah kukorbankan untuk mencegah berlalunya hari, tapi perlawananku itu tak cukup kuat.

Dan hari itu memang akhirnya tiba. Kubayangkan dia berdiri menghadap pendeta di depan altar. Memegang tangan perempuan lain, memasukkan cincin di jari perempuan lain, berjanji setia sampai mati dengan perempuan lain.

Hari itu, aku ingin mati saja…

Aku bermimpi melihat istrinya mati. Aku berdiri di tepi peti matinya, melihat dia berkebaya pengantin, terbaring dihias bunga-bunga lily dan mawar. Aku melihat dia menangisi istrinya, sementara aku berdiri di sampingnya sambil tertawa-tawa. Aku merasa senang, karena dia akan kembali menjadi milikku. 
 
Waktu terbangun, aku merasa sangat berdosa. Aku berdoa minta ampun. Aku memang sangat mencintai dia dan sangat menderita karena ditinggal olehnya. Tapi sedikitpun tak terbersit di pikiranku, untuk mengharapkan kematian istrinya. Sungguh, jauhlah itu dariku, mengharapkan kebahagiaanku di atas kematian istrinya.

Mimpi itu memang tak berulang. Tapi selama berminggu-minggu, mimpiku selalu menyertakan dia. Aku berada di dasar jurang, sementara dia tertawa-tawa memandangiku dari tebing; aku hanya terbengong-bengong melihat dia menjerit-jerit terbawa arus sungai yang deras, dan entah apa lagi. Banyak sekali mimpiku. Aku kelelahan, aku merasa nyaris gila. Aku meratap dalam doaku, memohon agar aku diberi kemampuan untuk melupakan dia. Untuk melanjutkan hidupku dengan gembira.

Akhirnya perlahan-lahan mimpiku berubah. Aku mulai bisa tersenyum, sudah bisa bercanda-canda dengan Mamak dan adikku, sudah bisa memasak lauk kesukaan Mamak.

Terasa berat memang. Delapan bulan sudah berlalu, ketika genap sebulan penuh, aku tak lagi bermimpi tentang dia.

.****.
 
 

Hibiscus Rosasinensis alias kembang sepatu. Tiba-tiba aku jadi rajin menyebutkan nama itu, setelah membaca novel ‘Mekar Karena Memar’ yang menyebut-nyebut nama bunga itu. Apalagi karena bunga itu tumbuh tinggi dan kokoh di halaman rumah kontrakanku yang kecil, membuatku merasa dekat dengan tokoh utama novel itu. Di bawah lindungan bunga itulah, di suatu sore yang sejuk, untuk kesekian kali kupanjatkan doa meminta pemulihan dari segala rasa sakitku.  

Saat itulah Tigor datang. Hatiku berdebar melihatnya. Aku baru saja mengucapkan ‘Amin’ dan tiba-tiba dia datang. Secepat inikah doaku dijawab? Diakah yang akan membantuku sembuh dari luka hatiku? Aku jadi gugup, sampai lupa mengajaknya duduk. Dia turut berdiri di sampingku dan baru duduk ketika adikku muncul di teras dan bertanya mengapa kami tidak duduk. 

Kami duduk di teras. Kulihat dia rapi sekali. Aku bertanya-tanya di hati, apakah dia serapi itu demi mengunjungiku? Kalau ya, hmm.., terus terang, aku merasa senang. 

“Dari mana kau tahu rumahku?” tanyaku setelah kami diam beberapa saat.

“Dari pendeta di gerejamu.”

Kembang sepatu bagai mekar juga di hatiku, mendengar bahwa dia berani menghubungi pendeta kami, hanya untuk meminta alamatku.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya lagi.

“Kau sudah datang ke sini. Simpulkanlah sendiri,” jawabku ketus, membuatnya tertegun sebentar. Aku menyesal.

“Sepertinya pertanyaanku tadi, salah ya?” suaranya lembut bertanya, menggugah rasa bersalahku. Aku memandangnya malu.

“Aku minta maaf, tidak mudah bagiku untuk menerima keadaan ini,. Aku senang kau kunjungi.”

Senyumnya merekah ketika mendengar baris terakhir kalimatku. Kulihat matanya bercahaya riang memandangku, membuatku tak sanggup menahan semburat merah di wajahku. Mengapa pula aku jadi begini?

Dia mulai bercerita, aku mendengarkan saja. Pengalamannya sebagai pendeta muda, perasaannya ketika pertama kali berkhotbah di depan jemaat, lalu beralih ke cerita masa kecilnya.

Hampir jam delapan malam ketika dia pamit. Setelah menutup pintu gerbang, dia berhenti sebentar dan berbicara sangat pelan,
“Apakah aku boleh mengunjungimu lagi?”

Aku tak bisa menahan senyum mendengar pertanyaannya itu. Kuanggukkan kepala. 
Kulihat sinar bintang di kedua matanya.
 
****
 
 

Petang di hari Sabtu nampak cantik sekali. Membuatku enggan diganggu oleh  dering telepon genggam. Kubiarkan saja sampai dering itu berhenti, tapi setelah berhenti, sesaat kemudian dering itu mengganggu lagi.

Siapa? Mataku memandang nomor tanpa nama yang muncul di layar telepon. Bukan Tigor, karena aku sudah menyimpan nomor teleponnya.

“Aku Mario, Kak…”

Otakku bekerja cepat, berusaha mengingat siapa Mario, di antara semua orang  yang kukenal. Cuma ada satu, tapi dia bukan kawanku. Untuk apa dia meneleponku?

“Sudah lama kita tidak bertemu. Aku ingin tahu kabarmu.”

Begitu? Tentu saja kita lama tidak bertemu. Bahkan selama-lamanya tidak akan bertemu lagi. Sebab tidak ada lagi alasan untuk itu.

Dia mencoba mengajakku bicara sampai lima menitan. Aku menjawab pendek-pendek. Akhirnya dia putus asa, lalu menyudahi teleponnya. Aku lega.
Sialnya. Besok siangnya, dia kembali meneleponku. 

Aku bahkan belum sempat mengganti baju yang kupakai ke gereja. Ibuku sudah pulang ke kampung halaman. Jadi sekarang aku tinggal berdua lagi dengan adikku.

“Aku sedang sendirian di rumah, sepi sekali. Bolehkah kita bertemu?”

Aku terheran-heran mendengarnya.

“Mau menemaniku nonton film?”

Aneh sekali, ajakan itu ke luar dari mulutnya. Aku tak percaya. Tapi tak ada salahnya pergi bersamanya. Anggap saja sedang pergi dengan teman.
Kami bertemu di depan bioskop. Ada film komedi yang sedang diputar. Film itu memang luar biasa lucu. Aku tertawa sampai perutku terasa pegal, dan ke luar dari dalam gedung dengan perasaan puas.

“Mau makan dulu?” tanyanya. Aku menggeleng. Sekarang jam setengah delapan malam. Aku mau pulang saja.

Dia mengantarku pulang. Di depan rumah, kulihat sebuah motor diparkir. Di teras kudapati adikku sedang berbincang dengan seseorang. Aku salah tingkah.

“Hai, Tigor. Sudah lama? Kenalkan, ini Mario. Mario, ini Tigor.”

Mereka bersalaman. Saling tersenyum, saling mengobrol. Entah cuma saling basa-basi, tapi percakapan mereka bertahan sampai satu jam lebih.

Selama itu, sebentar-sebentar perutku terasa mulas.
 
.****.
 

Aku tak mampu menolak pesonanya. Aku sudah berjuang, tapi aku tak sanggup. Dia begitu memikat, membuatku tak berdaya.
Aku masih bersedih setiap mengingat Abangnya. Aku masih sakit hati, setiap mengingat orang tuanya. Aku masih berkebaktian di gereja lain, supaya tak bertemu dengan seluruh keluarganya. Tapi anehnya, di saat yang sama, aku malah terpikat olehnya. Mungkin sebenarnya aku sudah gila.

Dia semakin terbuka tentang perasaannya.

“Apa kau tahu kalau aku lebih tua setahun darimu?” tanyanya lewat telepon.

“Tahu.”

“Mengapa kau biarkan aku terus-menerus memanggilmu Kakak?”

“Kau yang memilih memanggilku begitu. Aku cuma membebaskanmu mengerjakan pilihanmu.”

“Baiklah. Sekarang, kau mau kupanggil apa?”

“Dipanggil Kakak sebenarnya tidak jelek. Aku hanya punya satu adik, jadi masih bisa ditambah lagi.”

“Tapi aku lebih membutuhkan seorang  kekasih dari pada seorang kakak.”

Aku tak menjawab apa-apa lagi, tapi wajahku terasa hangat.

Di saat yang sama, aku juga kembali terpesona oleh Tigor.

Dulu aku memang tidak mengenalnya. Tapi sekarang aku tahu banyak tentang dirinya. Matanya yang bersinar lembut, ternyata cerminan dari kelembutan hatinya. Sikapnya tenang dan menentramkan. Di dekatnya aku merasa dimanjakan. Sebanyak apapun ceritaku, dia selalu mendengarkan dengan serius. Jika aku sedang uring-uringan, dia selalu berhasil menenangkanku.

Mario bagai pemburu yang mengejarku. Aku senang dikejar-kejar begitu.

Tigor bagai pohon rindang yang menudungiku. Aku tentram berteduh di bawahnya. Mario membangkitkan kenakalan masa kecilku. Aku bergairah karena itu.
Tigor menuntunku menuju kedewasaan yang lebih matang. Aku tenang karena itu.

Ahhh… (Bersambung)
 


Baca juga:
Cerber: Intan yang Kucari [1]
Cerber: Intan yang Kucari [3]
 
Rewinta Tampubolon
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/