Bagian 1
 
Delapan bulan lagi aku akan menikah. Jadi, saat ini aku adalah calon pengantin yang sedang sangat bahagia.

Di gereja kami ada aturan,  tiap jemaat yang hendak menikah  wajib mengikuti konseling pranikah selama enam bulan. Namun, karena pendeta kami sedang ada beberapa kesibukan di  tiap hari Minggu siang, beliau mendaftarkan kami untuk mengikuti konseling di gereja pusat.   

Gereja itu bercat kuning gading, dengan kubah bergaya barok. Lokasinya yang tak terlihat dari jalan utama  membuat kami harus berputar-putar jalan beberapa kali, untuk bisa menemukan gereja itu.

Untungnya, meski sudah kesasar-sasar, ternyata kami masih bisa tiba lima belas menit lebih cepat daripada jadwal. Di kantor gereja, kami bertemu dengan seorang perempuan yang dengan ramah mengantarkan kami ke ruang konseling. Ternyata, baru kami berdua yang datang.  Pemberi konseling juga belum ada. 

Ketika kami berbincang sambil mengisi waktu, seseorang masuk. Tampan, berkulit kulit cokelat dan tubuh atletis. Kami berkenalan dan mulai mengobrol. Ternyata dia datang sendirian, karena calon istrinya sedang menghadiri arisan keluarga dan akan datang terlambat. 

Beberapa saat kemudian, datang orang berikutnya. Menyandang tas hitam, berbaju putih dan rapi sekali. Begitu melihat kami, dia langsung menyapa, “Syaloom.”  Mulutku sudah membuka untuk membalas sapaannya, ketika terpandang dengan jelas olehku, raut wajah orang itu. Mendadak suaraku hilang. Darahku bagai berhenti mengalir. Seluruh tubuhku pucat bergetar. 
 
 


Memang sebelas tahun sudah berlalu. Tapi aku sangat yakin, biarpun lewat seribu tahun, begitu bertemu dengannya, aku pasti akan tetap bisa mengenalinya. Di mana pun, memakai apa pun, setua apa pun.…
Dia berbicara lagi, tapi aku sudah tak bisa mendengar dengan jelas, apa yang diucapkannya. Yang bisa kudengar hanyalah degup jantungku yang dipalu begitu keras. Lalu dia duduk di bangku depan, menghadap ke arah kami. Ternyata, dialah yang akan memberi konseling. 

Aku merasa sangat gugup. Kutundukkan wajah sedalam mungkin, agar dia tak bisa melihat, betapa pucat wajahku. 

Aku terkejut ketika sebuah tepukan mampir di bahuku. Rupanya calon suamiku yang melakukannya.
“Kau kenapa? Bapak Pendeta bertanya siapa namamu,” bisiknya dengan nada heran.

Belum pulih kagetku karena tepukan di bahuku tadi, aku  makin terkejut mendengar ucapan calon suamiku barusan. Bapak Pendeta?

Selama sepuluh tahun aku kelelahan mencarinya. Hari ini, setelah tanpa sengaja menemukannya, ternyata aku harus memanggilnya Bapak Pendeta. Refleks kuangkat wajah, memandang ke arah Bapak Pendeta itu.

Pasti hanya beberapa detik berlalu, ketika mata kami bertemu dan dia menyadari bahwa dia mengenalku. Aku yakin itu, sebab mulutnya memang tak mengatakan apa-apa, tapi wajahnya berubah, matanya berubah. Wajah kami menjadi sama, mata kami menjadi sama. Wajah orang yang merindu, mata orang yang merindu.

Sayang hanya sebentar kesamaan itu. Dia lebih mampu menguasai diri. Dia kembali tenang, seperti sebelum melihatku. Wajahnya berubah, matanya berubah. Aku terluka.

Sampai konseling bubar, pendeta itu tidak menanyakan ulang, siapa namaku.
 
 


Calon suamiku bertanya apakah aku mengenal pendeta itu dan kujawab “Ya.” Dia bertanya apakah aku pernah jatuh cinta pada pendeta itu, makanya aku terus-menerus pucat dan gelisah, juga kujawab “Ya.” Dia gusar mendengarku.

“Mengapa kau tidak pernah cerita?” gugatnya.
“Aku tak merasa perlu menceritakan itu.”
“Tapi aku menceritakan semua pacarku padamu.”
“Ya, itu kalau pacar. Dia tak pernah menjadi pacarku.”

Calon suamiku tercengang.
“Kupikir aku cinta pertamamu.”

“Itu jelas tidak mungkin. Aku bertemu denganmu waktu umurku dua puluh delapan tahun. Sudah pasti sebelum itu, aku sudah pernah jatuh cinta pada pria. Dialah pria itu. Bedanya denganmu, aku hanya jatuh cinta, tapi tidak berpacaran dengannya.”

“Lalu kalau kau tidak pernah berpacaran dengannya, mengapa biarpun sebelas tahun sudah berlalu, kau masih mengingat dia?” suaranya jelas penuh cemburu.

Aku menggelengkan kepala. Tak ingin kujelaskan apa-apa tentang itu, sebab itu tentang perasaan yang bagi orang lain, akan terlihat sebagai konyol, aneh atau tolol. Lagi pula, pertemuan kembaliku dengan cinta masa laluku, terasa begitu mengejukan bagiku.  
 
 


Namanya Tigor. Tinggi, kurus, dengan wajah oval berhias kacamata. Begitulah selalu yang kuingat tentang dia, pujaan hatiku sejak masa SMA.

Kukenal dia melalui sepupuku, yang juga satu sekolah denganku. Suatu hari dia  mengajak Tigor,  teman sebangkunya, berkunjung ke rumahku  untuk membantu memperbaiki radio, yang meski sudah berhari-hari diutak-atik, tak juga mengeluarkan bunyi. Ternyata, dia hanya butuh waktu lima belasan menit, untuk membuat radio itu berbunyi. Entah bagaimana dia melakukannya, aku tak tahu. Yang jelas aku takjub setengah mati dan berulang-ulang mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia membalasnya hanya dengan senyuman, tanpa menambahinya dengan kata-kata lain.

Aku sudah melupakan jasanya memperbaiki radioku, ketika beberapa minggu setelah itu, aku merasa ada orang yang sedang mengamat-amati aku di sekolah. Aku tidak ingat persis bagaimana aku bisa tahu. Yang jelas, suatu hari aku tahu bahwa dialah pelakunya.

Aku ingat, sejak menyadari bahwa dialah yang sering mencuri-curi pandang, aku selalu berdebar-debar, dan kakiku terasa berat untuk dilangkahkan,  tiap kali melintasi kelasnya menuju kelasku. Biasanya aku akan menundukkan kepala dalam-dalam, sebab aku malu kalau sampai menegakkan wajah, dan mendapati dia sedang memandangiku. Pernah suatu pagi aku begitu gugup, ketika dari gerbang sekolah aku sudah melihat dia duduk di teras kelasnya. Hampir kutabrak sebuah tiang, hanya karena aku tak sanggup mengangkat kepala, pada saat melintasi kelasnya. Rasanya malu luar biasa. Kubayangkan dia terbahak melihat kegugupanku itu.

Lalu suatu hari, kami sama-sama lulus SMA.
Saat mengambil ijazah, itulah hari terakhir aku melihatnya. Dia berdiri sendirian di bawah akasia, terlihat berani memandangku sambil tersenyum ragu-ragu. Aku sedang duduk bersama kawan-kawan, menanti nama kami dipanggil petugas tata usaha sekolah. Aku masih segugup biasanya, tapi hari itu mencoba berani membalas pandangannya. Waktu itu aku sangat berharap, bahwa sekali ini dia akan  menghampiriku, walau hanya sekadar bertanya, “Kau akan melanjutkan ke mana?” Sayangnya, itu tak pernah terjadi. Dia tetaplah hanya seorang pengagum dari jauh, yang tak pernah mencoba untuk berbuat yang lebih dari sekadar mencuri pandang.

Saat itu aku tak tahu, bahwa aku juga berhak untuk lebih dulu menyapanya, lalu mengatakan bahwa aku jatuh cinta padanya. Satu pilihan yang ternyata harus kubayar dengan penyesalan selama bertahun-tahun.

Di depan sekolah, ketika sedang menunggu angkutan umum, aku melihatnya menaiki angkot. Dengan mata berair, kupandangi sosoknya yang kurus untuk terakhir kali. Ketika angkot itu berjalan perlahan, dia menoleh ke belakang melalui kaca dan mata kami saling bertatapan. Aku ingin sekali melambaikan tangan, menyuruh dia turun dari angkot, supaya kami bisa bicara. Tapi keberanianku tak cukup.

Aku lalu masuk universitas dan bertemu dengan lebih banyak lagi lelaki. Beberapa kali aku jatuh cinta. Sayangnya, kehadiran mereka tak mampu mengenyahkan ingatanku kepadanya. Jadilah, di saat aku jatuh cinta pada pria-pria itu, aku juga tetap terkenang-kenang kepadanya. Alhasil, aku tak juga berpacaran dengan seorang pria pun. Sebab, ketika dibanding-bandingkan, hatiku tetap memilih untuk hanya mencintai dia, bukan pria lain. Bahkan walaupun sampai saat itu, dia tidak riil terlihat mataku, dan hanya hadir dalam angan dan pengharapanku saja. 

Itulah awalnya mengapa akhirnya kuputuskan untuk menganggap diriku sebagai kekasihnya. Biarpun dia tak tahu, aku memutuskan untuk setia kepadanya dan menunggu dengan sabar hari pertemuanku dengannya. 

.***.
 
 

Meski terasa lambat, sepuluh tahun berlalu sudah.

Pencarianku selama itu, belum juga membuahkan hasil. Dia tak ada di  tiap pertemuan alumni, dia tak aktif di milis alumni. Facebook juga tak memunculkan wajahnya. Dia tak pernah kutemui di bus, di jalan, di mal, ataupun di rumah sakit.

Ketika kutanya sepupuku, dia menjawab tidak tahu, itu pun setelah habis-habisan meledekku sebagai korban cinta terpendam. Bertanya kepada kawan-kawan, aku malah balik ditanya, “Tigor? Yang mana, ya? Dulu jurusan apa? Waktu kelas satu, kelas satu berapa?” Kawan akrabku sendiri malah meledek, “Pasti dia bukan orang yang tampan. Makanya tidak ada orang yang kenal.”  Habislah sudah.

Usai sepuluh tahun lewat tiga bulan, aku bertemu dengan seorang pria. Hatiku yang telah putus harapan untuk bertemu dengan Tigor, akhirnya bergetar melihatnya. Semangatku bergolak bila di dekatnya. Aku tahu, akhirnya aku jatuh cinta pada lelaki selain Tigor. Lelaki itu juga mencintaiku. Maka kami memutuskan berpacaran dan setahun kemudian kami siap untuk menikah. 

Aku sudah pernah mendengar dari teman-teman yang lebih dahulu menikah, materi yang akan disampaikan dalam konseling pranikah. Yang tak pernah kudengar adalah bahwa seseorang yang pernah dicari dengan susah payah selama sepuluh tahun, bisa tiba-tiba menampakkan wujudnya dalam sebuah kelas konseling. Terlihat tepat pada saat aku berhenti mencarinya. Muncul pada suatu waktu, ketika aku tak lagi berharap untuk bertemu dengannya.    

.***.
 
 

Tiap hari sekarang berjalan lambat. Terlalu lambat. Aku ingin cepat bertemu Minggu sore, supaya aku bisa menghadiri kelas konselingku.

Calon suamiku  makin sering meneleponku. Pasti dia takut kalau aku jadi mendua. Pikiranku memang bercabang sekarang. Aku mencintai calon suamiku, tapi aku juga merindukan bertemu dengan pendeta itu.
Ternyata, bukan dia yang memberi konseling minggu ini. Aku gundah, tapi calon suamiku lega.

Minggu ketiga juga bukan dia, juga bukan pemberi konseling di minggu kedua. Rupanya, ada empat pendeta berganti-ganti  tiap minggu. Aku hampir meledak rasanya.
Bulan kedua minggu pertama. Akhirnya gilirannya tiba lagi.

Dia tak gugup, tak gelisah, tapi menghindari melihat ke arahku. Malah calon suamiku yang gelisah dan bolak-balik mencolek tanganku, yang sibuk mengotori kertas dengan coretan pulpen. Sepanjang diskusi, aku merasa otakku hampa dan telingaku tersumbat. Mulutku terkunci rapat, meski suara-suara di sekitarku begitu riuh bertukar pendapat. Satu-satunya yang kurasakan bekerja adalah jantungku yang terus-menerus berdetak tak beraturan, bahkan kadang-kadang seakan hendak melompat keluar dari tubuhku.

Cepat sekali waktu berlalu. Kelas konseling akhirnya usai. Dia akhirnya berlalu setelah mengucapkan, “Sampai jumpa di pertemuan berikutnya.”  Dari balik punggung calon suamiku, aku memandang kepergiannya dengan pilu. 

Pasti aku sebenarnya masih mencintai dia. Sebab, setelah bertemu kembali dengannya, aku tak sanggup berhenti memikirkan dia. Mimpi-mimpiku hampir semuanya tentang dia. Dia memanggil-manggilku, aku melihatnya menikah dan entah apa lagi. Aku merasa berdosa pada calon suamiku. Aku tahu, aku sudah menduakan dia. Tapi, aku tak mampu untuk tak terkenang-kenang  pada Tigor. Aku bingung. Aku sedih.

Seperti ada bom yang hendak meledak di jantungku. Membuatku tak tahan untuk tak menemui dia. Kali ini, aku tak akan berdiam diri seperti dulu. Sudah saatnya untuk aktif, mencari tahu apakah dia masih cinta padaku atau tidak.

Hari Rabu, aku menelepon kantor gereja itu. Kudapat informasi  bahwa dia berpiket di kantor  tiap hari Selasa dan Kamis. Jantungku bergetar. Jadi aku akan bertemu dengannya besok.

Jam dua belas siang di esok harinya, aku datang ke kantor gerejanya.  Kudapati dia sedang duduk membaca. Ada seorang lain yang juga duduk di situ. Jelas kulihat dia terkejut melihatku. Aku sendiri gemetar dan tiba-tiba menyesal atas kenekatanku. Tapi, semua sudah telanjur.

“Pak Pendeta, bolehkah bicara berdua saja?” Aku bertanya pelan, supaya dia tak mengenali getar dalam suaraku. 
“Tentu. Kita ke dalam saja,” katanya, sambil menunjuk ke ruangan lain.
Kami duduk berhadapan dipisahkan meja. Aku mulai merasa bermimpi. Aku berjuang menguasai gejolak hatiku. Kubulatkan tekad. Hari ini semua harus selesai.
“Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” Suaranya canggung dan resmi. Aku sedih dan benci mendengarnya. Tak tahukah dia, bahwa saat ini aku hanya ingin mendengar pernyataan cintanya yang tertunda sekian lama?
“Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk mencarimu,” ujarku tanpa basa-basi.
Dia tercengang. Mukanya memerah.
“Apa kau sudah menikah?” kejarku lagi. Dia menggeleng. Tak mengatakan apa-apa. Mataku mengejar kedua matanya, tapi dia selalu menghindari bertatapan langsung.
“Aku mencarimu di reuni, di situs alumni. Aku menanyai semua kawan-kawanku tentang dirimu. Aku menanyai sepupuku. Tapi, tak ada satu orang pun yang tahu. Ternyata kau di sini, Pak Pendeta,” kataku sedih.
“Apa kau pernah mencariku?” Aku bertanya lagi, memuaskan rasa ingin tahuku.
Dia mulai memandangku, kurasakan matanya sesedih mataku, wajahnya selelah wajahku. Tapi, tak dikatakannya apa-apa.

“Kau tidak mau bicara denganku, ya? Sebentar lagi aku menikah. Aku hanya ingin tahu, apakah selama sepuluh tahun itu, aku cuma menjadi orang bodoh yang bertepuk sebelah tangan dan membuang waktu dengan sia-sia,” sambungku putus asa. Aku mulai menangis.
 
 


Dia tetap diam saja. Matanya tak lagi memandangku. Aku menangis makin sedih. Mungkin dia tak tahan mendengarnya, makanya dia kemudian berbicara,
“Kau sudah akan menikah sekarang. Lebih baik kau lupakan saja semua yang sudah berlalu.”
“Aku ke sini tidak untuk mendengar nasihatmu. Aku butuh jawaban jujurmu, biar aku bisa merasa tenang,” sergahku, memutus ucapannya.
“Tidak ada yang harus dijawab. Sebab, dari dulu sampai sekarang pun, di antara kita tak pernah ada apa-apa,” tuturnya, dengan suara datar.
Aku terpukul mendengar ucapannya. Teganya dia mengatakan itu.
“Kalau begitu, mengapa kau gelisah saat bertemu lagi denganku?” tantangku marah. “Aku datang ke sini, sudah tak berpikir soal harga diri atau gengsi lagi. Sebab aku hanya ingin tahu yang sebenarnya.”
“Kalaupun aku pernah menyukaimu, itu hanya rasa suka anak SMA. Kupikir, itu tak perlu dikenang-kenang lagi,”  katanya, dengan nada tegas.  
“Oh, iya. Aku memang berlebihan, menganggap cinta monyet itu sebagai cinta sejati. Makanya, selama sepuluh tahun  aku terus-menerus mengingatmu. Tapi, aku tak malu mengakui itu kepadamu. Sebab aku yakin, tak ada yang salah di situ,” balasku berapi-api di antara air mataku.
“Tiap hari selama sepuluh tahun, aku tak berhenti berharap, bahwa aku akan bertemu denganmu di jalan, di gereja, atau di mana saja. Sekarang aku sudah bertemu denganmu, tapi rupanya supaya aku sadar bahwa aku cuma bermimpi,” lanjutku dengan hati pilu.

Dia memandangku, aku balas memandangnya marah. Namun, tiba-tiba aku mengenali sinar matanya, yang kulihat ketika kami masih SMA dulu. Aku terpaku, lalu kulihat matanya berkaca-kaca. Aku terperanjat. Tak kusangka dia akan begitu. 
“Itu memang cinta masa SMA.  Tapi, sejak saat itu sampai sekarang, aku belum sepenuhnya melupakanmu,” suaranya berat dan lambat, membuat pengakuan yang telah kutunggu selama sepuluh tahun. 
Aku menangis lagi. Sepuas hati,  makin keras dan pilu. Alangkah kejamnya nasib, mempermainkan dua orang yang saling mencintai, dengan cara seperti ini. Siapakah yang diuntungkan, jika kami tak berjodoh? Apa masalahnya, sehingga kami tak bisa bertemu sejak dulu?

Dia diam saja. Tak menenangkanku, tak memegang tanganku. Padahal, aku ingin dia memelukku, mengatakan bahwa dia mencintaiku dan sangat sulit baginya melewati begitu banyak tahun, tanpa sekali pun bertemu denganku. 

Aku memandangnya dari sela air mataku. Dia bersandar ke kursi sambil memejamkan matanya. Aku ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya. Adakah dia sedang berjuang untuk memintaku meninggalkan calon suamiku, atau hendak mengatakan supaya aku melupakannya saja?

Dia tak mengatakan apa-apa. Badannya tetap bersandar. Matanya tetap terpejam. Tangannya terlipat di atas meja. Begitulah posisinya sampai aku pulang.

.*******.
 
 

“Disangka batu biasa, ternyata intan.”
Ini sama sekali bukan tentang jual beli batu permata. Bukan! Tapi, aku merasa bahwa aku seperti orang yang sedang menemukan dua bongkah batu dan sedang menimbang-nimbang, yang manakah di antara dua batu itu yang merupakan intan yang sebenarnya.  

Manakah yang sungguh-sungguh intan? Tigor, atau calon suamiku? Aku tak mau salah bertindak, mengambil yang kusangka intan, tapi ternyata cuma batu biasa. 

Belakangan ini, aku  makin lesu dan pucat. Biarpun calon suamiku berusaha menyenangkan hatiku, dengan mengajakku rekreasi ke sana-sini, semuanya tak mampu mengembalikan gairah hidupku.

“Apa kau sudah tak mencintaiku lagi?” tanya calon suamiku suatu siang. Kami sedang berada di atas perahu kecil di sebuah danau. 

Wajahnya terlihat muram. Kualihkan pandang ke tepi danau, agar tak melihat kesedihannya. Mataku mengamati pohon-pohon yang meski tumbuh rapat di pinggir danau, tak mampu mencegah mata hari menyusup di sela-sela dedaunan dan membuat air danau terlihat berkilauan. Alangkah miripnya dengan keadaanku saat ini, ketika ‘pagar cinta’ dari calon suamiku, tak sanggup membentengiku dari  kehadiran Tigor, sehingga aku kembali jatuh cinta padanya dan lupa bahwa sebentar lagi aku akan menikah.

“Apa yang ada padanya yang tak ada padaku? Apa keistimewaannya, sehingga kau menghabiskan sepuluh tahun untuk mencari dia? Dan sekarang begitu kau bertemu dia, kau berbuat seolah-olah tak pernah mencintaiku?!” Gugatnya lagi dengan suara tinggi.

Dia marah. Sekarang aku menundukkan pandang, mengamati air danau yang bergelombang kecil, karena dayung yang digerak-gerakkan oleh calon suamiku. Bagiku, ucapannya barusan menjadi ungkapan dari sakit hatinya, melihat perubahan sikapku. Aku pasti sudah membuatnya menderita. Tapi aku juga sedang merasa sangat menderita. Karena itu, kuputuskan untuk diam saja, mengabaikan keingintahuannya. Bukan saat ini aku akan menjawab, tapi nanti, setelah aku tahu pasti, yang mana intan yang kucari itu. 
 
.******.
 
 

Kelas konseling. Minggu pertama, bulan ketiga.
Tigor lagi….
Setelah menemui dia di kantor gereja ini, aku belum berjumpa dengannya lagi. Pertemuan waktu itu berakhir begitu saja. Tigor tetap diam bersandar dan aku akhirnya pergi setelah satu jam menangis di depannya. Tak ada tukar-menukar nomor telepon atau alamat.

Calon suamiku memang orang baik. Meski waktu di danau dia sangat marah padaku,  ternyata dia tak mengabaikanku. Tiap hari dia tetap rutin menelepon, meski hanya sekadar mengatakan bahwa dia sedang capek, atau akan bermain bulu tangkis dengan temannya.

Ternyata ada juga gunanya aku menemui Tigor. Sebab sekarang, meski jantungku masih berdebar tak beraturan, aku sudah berani melihat ke arahnya.

Dia menyapa kami semua. Semua membalas sapaannya, termasuk aku, untuk yang pertama kali. Calon suamiku sampai memalingkan wajah untuk melihatku. Pasti dia tak menyangka bahwa aku sekarang berani membalas sapaan Tigor.

Tigor membuka bukunya, lalu Alkitabnya. Kami juga membuka buku dan menunggu dia memberi tahu kami ayat Alkitab yang harus kami baca.
“Sekarang kita akan berdiskusi tentang Perbedaan Antara Laki-laki dan Perempuan.”

Dia berhenti setelah mengucapkan kalimat itu, mengambil pena dari saku bajunya, lalu menulis di bukunya.
Aku terperangah. Aku baru tahu dia menulis menggunakan tangan kiri….

Seperti ada yang membangunkanku dari tidur lelap. Aku tak mengerti menjelaskannya, tapi aku yang tadinya tertidur, sekarang sudah terbangun. Dunia yang tadi gelap, sekarang menjadi terang benderang.
Aku baru tahu dia kidal…. Pengetahuan ini menyentakku.

Sepuluh tahun mencarinya, sepuluh tahun merindukannya. Sore ini baru tersadar, aku mencintai apanya? Aku merindukan apanya? Aku tak mengenal dia sedikit pun. Aku tak tahu apakah dia bisa mengucapkan seluruh abjad tanpa cacat, aku tak tahu dia suka makan apa, hobinya apa, di mana rumahnya, apakah dia lebih suka memakai kaus dibandingkan kemeja, apa pekerjaan orang tuanya, apa yang membuat dia marah, apa yang dia lakukan di waktu senggangnya. Sungguh, aku tak tahu sedikit pun, sebab aku memang tak mengenal dia!

Sebaliknya, setahun bersama calon suamiku membuatku sangat banyak tahu tentang dia. Aku tahu dia lebih suka makan telur dibandingkan daging, dia selalu merasa geli kalau telinganya dibisiki, dia pernah jatuh dari motor yang membuat tempurung lututnya retak, dia anak kedua dari lima bersaudara, dia bisa sangat senang hanya karena aku membuatkan kue bolu untuknya, dia marah kalau melihat orang bermalas-malasan, dia tak menganggap lelaki menangis sebagai tanda ketidakjantanan. Yah, aku mengenal dia, aku masih bisa menyebutkan deretan  hal lain, yang membuktikan bahwa aku mengenalnya.

Kesadaran itu ternyata bagai tangan yang mengangkat seluruh beban yang kupikul selama ini. Mendung yang selama ini menutupi cahaya wajahku, terusir oleh kuatnya dorongan angin kesadaran. Aku bisa tersenyum lepas, aku merasa bebas.
 
.****.
 
 

Usiaku dua puluh sembilan tahun lewat beberapa bulan. Selama masa hidupku ini,  tempat terjauh yang pernah kudatangi adalah Banyuwangi. Itu pun karena aku diajak teman sekelasku waktu kuliah dulu, untuk berlibur di rumahnya di sana. Kami pergi mendaki Gunung Raung, lalu melihat-lihat pembuatan ikan kaleng di Muncar.

Abang calon suamiku  tinggal di Banyuwangi dan bekerja di salah satu perkebunan di sana. Dua setengah tahun yang lalu, dia menyunting perempuan dari sana. Aku belum pernah bertemu dengannya. Sebab setahun terakhir ini, dia belum pernah pulang. Jadi, aku hanya mengenal orang tua calon suamiku dan ketiga adiknya. Sedangkan wajah Abang dan iparnya kukenal melalui foto keluarga mereka yang dipajang di ruang tamu.

“Nanti kalau kita jadi bulan madu ke Bali, kita singgah di Banyuwangi. Tiap hari kita berangkat ke Bali dari situ, jadi tidak perlu sewa hotel. Biar hemat,” calon suamiku pernah berkata begitu untuk menggodaku.

Suatu pagi di hari Minggu, calon suamiku meneleponku. Abangnya sakit, entah sakit apa. Rumah sakit di sana tak bisa mengenali penyakitnya dan dia kemudian meminta agar dirawat di rumah sakit di Jakarta. 

Pulang gereja, aku bergegas menuju rumah sakit. Di tengah jalan, di atas bus yang sedang berhenti karena lampu merah, calon suamiku kembali menelepon. Abangnya sudah meninggal lima belas menit yang lalu.

Ketika aku tiba di teras ruangan ICU rumah sakit itu, kudapati seluruh keluarga mereka sedang menangis. Aku melihat seorang perempuan yang kukenali sebagai ipar calon suamiku, menangis menjerit-jerit dalam pelukan calon ibu mertuaku. Air mataku turut menetes ketika melihat kesedihannya.

Dalam seluruh teriakannya, aku mendengar kesengsaraan dan keputusasaan. Aku tak mengerti, mengapa  perempuan secantik dan semuda itu, harus menjadi janda. Apa masalahnya, kalau dia dan suaminya, bisa hidup bahagia sampai tua?

Calon suamiku juga terus-menerus menangis. Tapi, dia harus mengurus administrasi rumah sakit. Kutemani dia mengurus segala sesuatunya. Dan setelah satu jam lewat, akhirnya semua urusan itu selesai. (Bersambung)
 
 ***
Rewinta Tampubolon
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/