Foto: 123RF
 
Secara geografis, Asia Tenggara dikelompokkan sebagai kawasan yang memiliki kekayaan alam, kearifan lokal, dan kebudayaan yang masih serumpun. Ini juga berlaku  pada karakter masakan Asia Tenggara yang tidak jauh berbeda satu dengan lainnya.
 
Meski begitu, pengaruh negara tetangga, pendatang dari Tiongkok, dan bangsa Eropa juga turut terlibat dalam memperkaya hidangan di tiap-tiap negara. Mereka membudidayakan dedaunan, seperti dill dan peterseli, yang kemudian akrab di beberapa dapur negara Asia Tenggara.

Ragam daun berpengaruh pada rasa dan aroma sajian yang memberi ciri khas pada hidangan Asia Tenggara. Selain daun pandan dan daun jeruk yang akrab di dapur Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand,  dan Myanmar, dedaunan ini adalah ciri khas  masakan di dapur Asia Tenggara.   

Klik page number di bawah ini untuk menemukan jenis-jenisnya.

Baca juga:

Para Ratu Dapur Wajib Tahu: 17 Dedaunan Khas Asia Tenggara, Dari Dill, Miana, Hingga Basil (Part 1)

Para Ratu Dapur Wajib Tahu: 17 Dedaunan Khas Asia Tenggara, Dari Jintan Hingga Daun Kari (Part 3)

 

 

6. Mint (Mentha sp)

Ada dua jenis daun mint yang banyak digunakan di Asia, yaitu peppermint (Mentha piperita) dan spearmint (Mentha spicata). Peppermint memiliki rasa dan aroma menthol yang lebih tajam dibandingkan jenis spearmint. Aromanya yang menyegarkan kerap digunakan sebagai wewangian untuk teh selain khasiatnya yang mampu meredakan sakit perut.

Spearmint biasa digunakan untuk masakan dan minuman. Spearmint juga kerap ditemukan dalam isian lumpia dan taburan pada hidangan sup di Thailand dan Vietnam. Di dapur India, daun mint  digunakan untuk membumbui pepes ikan.  
 

 

 

7. Diêp cá
(Houttuynia cordata)
Bentuk daunnya seperti sekop dengan aroma unik seperti perpaduan mint dan gurih ikan. Oleh  karena itu,  lebih dikenal dengan nama fish mint. Tanaman ini juga dibudidayakan sebagai tanaman hias. Di Vietnam, daun ini dikonsumsi seperti lalapan untuk daging atau ikan bakar, dimasukkan ke dalam lumpia, atau sebagai pelengkap sup.

 
 

 

8.  Pegagan
(Hydrocotyle asiatica)
Daun berbentuk tapak kuda ini asli dari Myanmar. Sangat populer digunakan sebagai bahan obat-obatan di India sehingga disebut Indian pennywort leaves. Di Myanmar, daun ini digunakan dalam hidangan salad myn khwa ywet thoke. Selain salad, juga jadi bahan taburan untuk sup, atau sebagai lalapan. Di Thailand, daun ini dibuat jus, menjadi minuman segar bai bua bok. Di Indonesia, pegagan lebih akrab sebagai tanaman obat-obatan.

 

9. Ketumbar
(Coriandum sativum)
Disebut juga cilantro. Daun yang beraroma kuat ini sangat umum di hampir semua dapur di negara Asia Tenggara sebagai campuran masakan dan taburan. Di Indonesia, daun ketumbar populer digunakan pada masakan peranakan Cina Pontianak. Cita rasa dan aromanya yang tajam dan menyengat langsung memberi rasa dominan pada hidangan.

Semua bagian tanaman ini dapat digunakan, mulai dari akar, biji, daun, hingga batangnya. Di dapur Thailand, akar ketumbar digunakan untuk membuat bumbu dasar kari hijau dan untuk kaldu atau sup, terutama untuk kaldu seafood pada hidangan tom yum. Tanaman yang berasal dari bagian tropis Amerika Tengah ini juga tidak pernah absen dari meja saji di dapur Cina dan India.
 

 

10. Adas
(Foeniculum vulgare)
Biji tanaman adas selalu hadir dalam resep kari atau nasi berempah. Di dapur Gorontalo, bunga adas atau denggu-denggu merupakan satu dari 33 jenis bumbu dalam kua bugis. Proses pembuatan minyak telon juga melibatkan biji dari tumbuhan yang juga dikenal dengan nama fennel ini. Daun dari tanaman yang masih sekerabat dengan wortel ini biasanya dimakan segar dan dijadikan  isian dalam sprill roll di hidangan Vietnam.  

Hidangan ikan lele dalam dapur Vietnam kerap menyertai daun ini di dalamnya untuk menyamarkan aroma amis. Di Indonesia bagian barat, tanaman ini banyak dibudidayakan di Jawa Barat dan Jawa Timur. Bunganya banyak mengandung madu, sehingga tanaman ini dibudidayakan dekat peternakan lebah madu. (f)