
Foto: Dok. 123RF

Banyak sebutan lain untuk susu jenis ini, yakni susu segar atau susu murni. Dalam bahasa Inggris, ada juga yang menyebutnya full fat milk dan whole milk. Sesuai namanya, susu full cream memiliki kandungan lemak paling banyak di antara jenis susu lainnya, yakni sekitar 3%.
Karena kandungan lemaknya yang tinggi, susu full cream memiliki aroma susu lebih kuat dibanding jenis susu lainnya. Rasanya yang creamy cocok digunakan untuk membuat saus dengan bahan dasar susu, seperti béchamel.

Lebih dikenal dengan nama susu nonfat atau susu tanpa lemak.Dibuat dari susu yang dihilangkan kandungan lemaknya. Namun, residu lemak susunya boleh tersisa maksimum 0,5%.
Digunakan sebagai bahan dasar susu atau keju tanpa lemak atau untuk mengurangi kandungan lemak dalam sajian berbahan dasar susu. Cocok dikonsumsi untuk Anda yang sedang menghindari lemak.

Sebutan lainnya adalah susu semi skim. Serupa dengan pembuatan susu skim, jumlah lemak susu dikurangi menjadi 1%-2%.

Susu evaporasi adalah susu murni yang melalui proses pemanasan atau penguapan (evaporasi) hingga 60% kadar airnya berkurang. Kadar lemaknya pun menjadi lebih tinggi, yakni sekitar 7%.
Memiliki konsistensi yang lebih kental daripada susu segar, dan warnanya kecokelatan. Setengah gelas susu evaporasi mengandung gizi yang setara dengan satu gelas susu murni. Masa simpan susu evaporasi lebih lama dibandingkan susu segar, karena kandungan airnya lebih sedikit.
Jarang yang mengonsumsi susu evaporasi secara langsung, biasanya dijadikan bahan campuran dalam makanan. Dalam kuliner Barat, susu ini sering digunakan untuk membuat hidangan penutup atau hidangan yang dibakar.

5/ SUSU KENTAL MANIS
Dibuat dengan menambahkan gula pada susu evaporasi hingga kadarnya mencapai sekitar 64%.Selain pemanis, gula berfungsi sebagi pengawet untuk menghindari pembusukan akibat mikroorganisme pada susu.
Lemak ditambahkan untuk menghasilkan rasa yang lebih milky atau creamy. Lemak bisa berasal dari lemak hewani atau lemak nabati. Banyak digunakan untuk hidangan manis tradisional.

Dinamakan demikian karena proses pengawetan yang menggunakan metode UHT (ultra high temperature), yakni susu dipanaskan hingga suhu 135o-150o C dan segera didinginkan hingga suhu 4o – 5o C.
Proses UHT menghancurkan seluruh kuman atau mikroorganisme, termasuk bakteri patogen. Memiliki kandungan dan fungsi, warna, rasa dan tampilan yang sama dengan susu segar. Namun, umur penyimpanannya lebih lama. Praktis karena tidak membutuhkan lemari es untuk menyimpannya.

Susu yang melewati proses pasteurisasi untuk membunuh mikroorganisme yang membahayakan bagi kesehatan. Susu pasteurisasi lebih tahan lama daripada susu segar, tapi tidak seawet susu UHT, karena hanya sebagian jasad renik pembusuk turut tereliminasi.
Karena bukan termasuk susu yang awet, susu ini masih memerlukan suhu rendah (maksimum 10o C) untuk menyimpannya.

Susu bubuk dibuat dengan cara mengeringkan susu cair. Susu dikeringkan menjadi bubuk supaya memiliki usia simpan yang lebih lama tanpa perlu menyimpannya dalam lemari es.
Susu bubuk bisa dibuat dari susu full cream, low fat, dan nonfat. Susu ini kerap digunakan untuk adonan roti dan kue kering karena berbentuk bubuk. (f)
Baca Juga:
Kenali 8 Jenis Pisang, ini Gaya Olah yang Cocok!
8 Kiat Sukses Membuat Black Forest Cake