Isyana Sarasvati bersama Paduan Suara Al-Izhar; Meutia Hatta Swasono didampingi putranya, Tan Sri Zulfikar Yusuf; Maudy Koesnaedi, narator utama Rumah. Foto: Dok. Yayasan Meutia Hatta, Dok. Femina


Seandainya Rahmi Hatta masih hidup, Februari lalu sang ibu bangsa yang bersahaja itu baru saja merayakan hari jadi ke-100.

Wafat di tahun 1999, satu abad usia Rahmi Hatta jadi momentum bagi keluarga besar Yayasan Meutia Hatta untuk mengenang sosok perempuan yang pernah mendampingi Proklamator Kemerdekaan sekaligus Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta.

Berbagai bentuk cinta Rahmi Hatta diterjemahkan ke dalam beberapa aktivitas Satu Abad Rahmi Hatta sejak Juli 2026, memadukan fashion, seni, diskusi, hingga kegiatan sosial. Sosok Rahmi Hatta pun hadir dalam perspektif yang lebih dekat dengan masyarakat dan generasi masa kini.
 

Cinta pada fashion dan wastra

Dibuka dengan afternoon tea talk show pada 1 Juli 2026 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, para narasumber yang terdiri atas Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, Dr. Dewi Motik, M.A., M.Si., serta Prilly Latuconsina membahas nilai intelektualitas, kesederhanaan, dan keteladanan yang diwariskan Rahmi Hatta serta relevansinya bagi perempuan Indonesia.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan pameran koleksi busana pribadi Rahmi Hatta. Semasa hidupnya, perempuan berdarah Jawa-Aceh ini selalu tampil elegan, dengan sentuhan wastra Nusantara. 

Sebagai pencinta fashion dan berstatus sebagai istri orang nomor dua di Indonesia pada saat itu, Rahmi Hatta sangat bersahaja dan menolak menggunakan fasilitas negara demi kepentingan pribadi. 

Iwan Fals membawakan dua lagu, salah satunya Ibu; Puteri Indonesia dan None Jakarta Barat membawakan koleksi busana Rahmi Hatta. Foto: Dok. Yayasan Meutia Hatta

Salah satu kisah ikonik adalah keputusannya untuk menabung dari uangnya sendiri demi bisa membeli mesin jahit dan membuat busana yang diinginkannya.
 

Cinta yang menguatkan

Satu acara menjelang puncak perayaan Satu Abad Rahmi Hatta berlangsung di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, yang jadi saksi pernikahan massal Ikatan Cinta bersama 34 pasangan.

Prosesi berlangsung khidmat dan penuh suasana kekeluargaan. Kehadiran kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Yayasan Meutia Hatta menerjemahkan nilai kepedulian Rahmi Hatta dalam bentuk yang langsung dirasakan masyarakat.

Sebagai istri seorang proklamator, Rahmi Hatta memiliki kisah cinta yang penuh perjuangan. Mohammad Hatta, yang bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka, menikahinya tiga bulan setelah proklamasi kemerdekaan.

Mas kawinnya adalah buku karya Hatta berjudul Alam Pikiran Yunani, yang ditulisnya ketika diasingkan ke Digul, Papua.

Beda usia lebih dari dua dekade tidak membuat Rahmi Hatta menjadi istri yang manja. Ia mendukung tugas Hatta di pemerintahan, dan dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, dan sangat peduli terhadap pendidikan karakter bagi generasi muda. 

Cinta Rahmi Hatta-Mohammad Hatta saling menguatkan, dan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, serta antiberkelit dari aturan juga ditanamkan kepada anak-anak mereka.

Selain nikah massal, Yayasan Meutia Hatta menghadirkan aksi donor darah, layanan pembuatan paspor, serta ruang bagi pelaku UMKM untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
 

Cinta pada seni

Puncak acara Satu Abad Rahmi Hatta adalah Fashion Performance Art bertajuk Rumah, dipentaskan di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, 5 September silam.

Jika acara pembuka mengajak publik mengenal warisan Rahmi Hatta melalui dialog dan koleksi personal, Rumah menerjemahkan perjalanan tersebut melalui bahasa panggung yang dinamis, disutradarai dramawan dan pegiat teater senior, Wawan Sofwan.

Unsur fashion menjadi bagian penting dalam Rumah. Koleksi busana pribadi Rahmi Hatta hadir di atas panggung, diperagakan oleh Top 4 Puteri Indonesia serta Abang None Jakarta Barat.

Babak rangkaian tari kreasi karya Rosmala Sari Dewi jadi tontonan menyegarkan yang indah. Foto: Dok. Yayasan Meutia Hatta

Semasa hidupnya, Rahmi Hatta mencintai kesenian, terutama tarian tradisional. Di panggung Rumah, babak tarian kreasi dengan koreografi karya Rosmala Sari Dewi adalah bagian terbaik yang menyatu dengan konsep pertunjukan.

Para penari dalam kostum penuh warna berbagai daerah seperti menyatu dengan tiap lagu dari seluruh Indonesia. Dari ujung Barat sampai Timur, babak tari kreasi dalam Rumah seakan menitipkan pesan persatuan.

Gerakan penuh energi dari para penari ditutup tarian Reog Ponorogo, yang menguarkan suasana magis, namun juga jenaka dan penuh simbol.

Dengan narator utama Maudy Koesnaedi, Rumah dimeriahkan sejumlah musisi lintas generasi, seperti Isyana Sarasvati, Vicky Mono, Aqi Singgih, Audrey, Iwan Fals (dua lagu saja), hingga Paduan Suara Al-Izhar. Hadir juga Prilly Latuconsina sebagai narator menjelang akhir acara. (f)

Baca juga:
Semangat Kepahlawanan Martha Christina Tiahahu Bakal Tampil di Selebrasi 170 Tahun Ursulin Indonesia
Disney’s The Lion King Live in Concert: Simba, Savana, dan Simfoni
17 Tahun Teater Abnon Jakarta, Dedikasi untuk Budaya Betawi