Mendengar nama Srikandi, hal pertama yang muncul di benak Anda mungkin adalah sosok ksatria wanita. Bayangan Anda tidaklah salah. Meski ada beragam versi cerita tentang Srikandi, sosok Srikandi dikenal sebagai wanita tangguh yang tidak ragu membela kebenaran dan kehormatan kerajaannya, sekaligus dikenal sebagai wanita yang lembut dan penyayang keluarga. Tidak heran, sosoknya pun dijadikan simbol kekuatan tokoh wanita.
Selama ini, tidak banyak cerita wayang yang mengangkat kisah pejuang wanita. Namun pada 25 Februari di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, penggemar wayang dapat menyaksikan cerita perjuangan Srikandi, di Pagelaran Wayang Orang Srikandi Nekat yang diadakan oleh Yayasan Cita Prasanna. Menurut Sinta Roosdiono, Produser dan Ketua pagelaran Srikandi Nekat, mereka mengangkat lakon Srikandi karena ia merupakan simbol kekuatan wanita. Srikandi memiliki keinginan mencapai sesuatu yang lebih dari yang lain, dan keluar dari kebiasaan seorang wanita. Selain itu, melalu pagelaran ini, Cita Prasanna juga bermaksud untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya Indonesia, salah satunya wayang.
“Kami ingin menunjukkan kalau berbudaya itu keren. Sesuai namanya Srikandi Nekat, pagelaran ini dikemas sedikit berbeda dengan wayang orang pada umumnya. Ada elemen seni tari, seni peran, seni musik, dan seni fashion, di mana kami berkolaborasi dengan desainer Anne Avantie untuk memadukan busana wayang orang dengan busana kekinian. Kami ingin memberikan gambaran kepada kalangan millennial kalau wayang orang itu tidak harus kuno, tapi bisa mengikuti perkembangan zaman,” ujar Sinta saat membuka acara Srikandi Nekat.
Pagelaran ini menceritakan kisah Srikandi, yang sejak kecil hobi memanah. Ia pun minta izin kepada kedua orangtuanya, Prabu Drupada dan Desi Gondowati, untuk berguru kepada Arjuna, yang memiliki kesaktian dalam memanah. Srikandi bertekad untuk menggunakan keahliannya bertarung demi menjaga keutuhan kerajaan Pancala dan membela kebenaran.
Seiring berjalannya waktu, tumbuh rasa cinta antara Srikandi dan Arjuna. Namun, ia tidak mau begitu saja menikah dengan Arjuna. Srikandi pun mengadakan sayembara, bahwa siapa pun prajurit wanita yang bisa mengalahkan dirinya, maka prajurit tersebut berhak menentukan jodoh untuk Srikandi.
Tidak hanya menceritakan kisah pencarian cinta Srikandi, pagelaran ini juga memperlihatkan perjuangan Srikandi, dibantu oleh beberapa prajurit wanita lainnya, saat menaklukkan raja dan prajurit lain yang ingin menguasai kerajaan Pancala. Pada akhirnya, Srikandi dan prajuritnya dapat membela kehormatan kerajaan pancala.
Pagelaran wayang Srikandi Nekat ini dimeriahkan oleh penampilan beberapa selebritas dan figur publik. Ada Maudy Koesnadi sebagai Dewi Sembrodo, istri Arjuna, Senk Lotta sebagai Soelastri, salah satu pejuang wanita dari Kesatrian Madukara, Nikita Mirzani sebagai Sulamjari, istri ke-7 Bagong, Ivy Batuta yang memerankan prajurit dari Tiongkok, Indra Bekti yang menjadi pelamar Srikandi dari India, hingga Bambang Pamungkas yang memerankan Raden Lesmono Monokumoro.
Seperti yang diungkapkan Sinta, pagelaran ini memang berbeda. Selama 2,5 jam penonton tidak hanya disuguhkan busana para tokoh yang unik dan elegan, tapi juga disertai dialog kekinian dan humor yang mengundang tawa. Misalnya, saat Gareng bertanya kepada Raden Lesmono Monokumoro (Bambang Pamungkas) mengenai alasan seorang pesepak bola bermain wayang orang. Raden Lesmono pun mengutip dialog terkenal dari film Dilan 1990, dengan jawaban berikut.
“Menjadi pesepak bola itu berat. Aku takkan kuat, lebih baik jadi wayang orang,” jawabnya yang membuat penonton tertawa.
Atau, ada momen saat Srikandi (Dessi Mulasari) meminta izin kepada orangtuanya untuk menjadi murid Arjuna. Sang ayah alias Prabu Drupada memberikan respons ini.
“Duh, Arjuna itu ganteng. Nanti kamu digosipkan dan akan timbul hoax.”

Tentunya, masih banyak adegan-adegan kocak lainnya yang mengocok perut. Seperti saat Arjuna minta izin kepada istrinya, Dewi Sembrodo untuk menikah lagi. Kakak lelaki Dewi Sembrodo mengungkapkan pertidaksetujuannya dengan kata-kata lucu, karena Arjuna sudah memiliki banyak istri. Atau, saat para pelamar Srikandi berdatangan dari berbagai penjuru. Ada pelamar dari India—di sinilah momen Indra Bekti menunjukkan kepiawaiannya melawak. Begitu juga, ketika Ivy Batuta membawa perwakilannya dari Tiongkok untuk melamar Srikandi—mereka tiba-tiba berubah menjadi vampir yang melompat-lompat seperti di drama kolosal Tiongkok.

Apakah Anda sudah siap untuk menjadi srikandi nekat berikutnya? (f)
Foto: Vini Damayanti
Baca juga:
Namarina Persembahkan Land of Oz
Operet Aku Anak Rusun, Kisah Persahabatan Beda Suku Budaya
Kelompok Paduan Suara Anak Indonesia Raih Juara Umum Kompetisi Tingkat Dunia di Spanyol