Tak bisa dihindari, sebagian orang justru menjadikan mudik sebagai ajang pamer materi atau keberhasilannya merantau di ibu kota.
Potret bertetangga masa kini di perkotaan, mengapa solidaritas warga hanya muncul jika sedang terjadi bencana?
Saat kota kehilangan solidaritas, masihkah ia bisa disebut kota?