Dia ingat-ingat lagi, apa yang membawanya ke sini? Ke pinggiran Jakarta yang tidak seindah gambar di televisi?
Hilmar tak pernah surut harapan untuk bisa membuka pintu hati Putti, meski ia tahu harapan itu tipis.
Cinta Hilmar telah menumbuhkan sayap di punggungnya sehingga ia bisa terbang tinggi.
Kerap cinta datang pada saat yang tak tepat. Kadang terlambat, kadang terlalu cepat.
Perempuan itu juga harus sadar diri bahwa Bungo punya hak menentukan jalan hidup sendiri.
Ketika kesedihan dan kebimbangan datang pun, pecel semanggi buatan Ibu bisa menjadi obat segala murung.
Dengan menabur benih semangat ke anak-anak ini, Nur Azmi mengobati dirinya sendiri.
Hari-hari Dokter Damar kian sepi. Hidupnya hanya berputar di rumah sakit, klinik, dan pasien.
Tiap kali membuatnya, akan kupastikan, sekarang hanya tentang rasa, bukan lagi tentang kenangan.
Betapa indahnya sebuah usaha untuk terus menitiskan, mempertahankan diri. Untuk tetap hidup. Untuk tetap ada. Untuk tetap setia.