Perlahan tubuhnya melorot ke lantai. Dadanya sesak seolah habis dipukul palu besar.
Kerlap-kerlip gula pasir yang terkaca di permukaan kue-kue itu seakan menjawab permintaanku.
Lukisan itu menggambarkan seorang perempuan yang tengah berdiri di tepi pantai dengan latar suasana hujan deras dan langit mendung.
Ia suka membantu dan pergi ke daerah bencana. Uangnya memang tidak banyak, tapi ia pintar.
Kami berusaha menghargai pilihan melajang Imel sebagai caranya mendapatkan kebahagiaan.
Bumbu bau peapi bersahaja saja, bawang merah dan cabai rawit, tetapi semacam puisi.
Meniti karier di ibu kota menguras pikiran dan menyita waktu sehingga mengalihkan perhatianku dari Amak dan masakannya.
Aku bersuara dan mengedipkan sebelah mata sambil membetulkan letak tali tas biola dari kulit cokelat yang dihias deretan kancing besar.
Tenggorokannya sakit, sekuat tenaga menahan agar tak ada setetes air matapun yang jatuh.