Ibumu adalah Sri Winih, wanita Jawa yang telah menjadi ladang semaian cinta ayahmu.
Segalanya terasa ringan seperti tiada beban. Winih sudah pergi. Istriku tidak lagi menawar pada Sang Waktu.
Akhirnya, kami putuskan untuk melangsungkan pernikahan di Solo. Pertimbangannya adalah agar Winih sekaligus bisa berpamitan dengan sebanyak mungkin kerabat d...
Di situ bibir Winih mengatup. Bergetar. Dan, di sudut matanya yang terpejam, air matanya membutir. Aku menggenggam tangannya.
Yah, tak salah lagi! Kusambut tangannya. Dan, ketika telapaknya membuka aku beranikan untuk menggenggamnya. Seperti ada aliran listrik mengejutkan tangan kami.
Pintu terbuka. Seorang suster kulit putih muncul dan menyalamiku. Aku bingung. Di mana Winih?
Onie, pernahkah ayahmu bercerita tentang hal yang sama? Siapa Sri Winih, yang membuat ayahmu terdiam dalam kecipak air Bengawan Solo ini?
Ah, ya, sahabat! Kita adalah sahabat, Onie. Hanya sahabat! Di mana ikatan kita bangun dari kesetaraan rasa dan kesamaan nasib. Apa lagi yang kuinginkan?
"Aku lebih tahu tentang Bengawan Solo daripada Sungai Rhein, aku lebih menikmati sego liwet dengan areh daripada roti dengan keju, aku bahkan lebih bisa berb...
Kebersamaan kami bermula dari persahabatan kedua orang tua kami, tepatnya ayah kami.