Direbahkannya dirinya di kasur. Dipandangnya langit-langit dengan hampa. Setetes air mata bergulir dari sudut matanya. Lalu, perlahan-lahan kelopak mata itu ...
Sepertinya aku dan Arya memang sudah makin menjauh. Setiap hari, aku dan dia seperti melangkah setapak demi setapak ke arah yang berlawanan.
Pekerjaan. Pekerjaan. Pekerjaan lagi. Ingin rasanya Saras menjerit. Mengamuk kalau bisa. Se-mahal itukah waktu Arya untuknya?
Kenapa memilih kekasih seperti itu? Aku tak percaya tak ada pria lajang yang menaruh hati padamu. Kamu bisa mendapat yang lebih baik.
Ibu tak setuju. Ia menentang hubungan Saras dengan Arya. Bukan saja karena status pria itu, tapi juga karena sederet alasan lain.
Saras hanya tidak mau ambil pusing. Bagaimanapun, Petty hanyalah bagian dari masa lalu Arya. Mantan istri. Sekarang, pria itu adalah miliknya.
Bagaimana kalau dia melarang Saras berpacaran dengan Arya? Bagaimana kalau Ibu memintanya memutuskan hubungan? Lebih baik dia menunggu saat yang tepat.
Memang tak ada alasan untuk menolak Arya. Ia hampir memiliki segala yang diinginkan seorang wanita pada pria. Satu-satunya cacat mungkin karena Arya adalah s...
Bagiku, topeng ini sudah menjadi kebutuhan. Bukan untuk melakukan kejahatan, hanya semata perlindungan.
Saras ingin membanggakannya. Memamerkannya di hadapan teman-temannya. Tapi, dia malu! Apalagi, berhadapan dengan teman-temannya yang berasal dari kalangan atas