Tanganku bergetar menerima kado kotak kecil dari Bang Iral itu. Terlebih ketika kubuka, dan kulihat di dalamnya. Sebuah cincin bilah rotan emas!
Tak bisa kupungkiri, aku bahagia. Demi Tuhan, Bang Iral menjadi orang pertama yang ingat dan memberikan selamat akan hari kelahiranku, padahal aku sendiri pu...
Aku terkaget-kaget ketika seorang wanita muda dan cantik membukakan pintu. Siapakah dia? Kekasihnyakah?
Aku buru-buru melepaskan diri, ketika kulihat wajah Nauval begitu dekat dan tengah menatapku.
Bang Iral mengacak-acak rambutku. Entah gemas, entah sayang, aku tak tahu pasti. Yang jelas, aku merasa nyaman.
Hatiku mendadak berbunga-bunga diajak Bang Iral ke Losari. Tak kusangka, laki-laki Batak yang dulu senior galak di kampusku, bahkan dinobatkan sebagai senior...
Aku hanya ingin pergi dari Jakarta. Itu saja, alasannya. Tak ada tebersit di benakku, bagaimana jika kelak aku kesepian, karena tak memiliki sanak saudara di...